
Ray hendak pergi dari Felleschrya usai berbincang dengan Amadea. Tetapi, langkahnya terhenti di saat ia mendengar suara seruan Lev yang sepertinya berasal dari danau.
Tanpa celingak-celinguk, Ray langsung bergegas ke arah suara seruan Lev yang barusan didengar olehnya.
Saat Ray sudah tiba di dekat danau, alangkah terkejutnya ia yang melihat El sudah akan tenggelam di dalam air. Tanpa berpikir apapun lagi, Ray langsung melesat dan menceburkan dirinya ke dalam danau yang berukuran lumayan besar.
Kakinya Ray berayun-ayun di dalam air. Tak seperti kelihatan di luar, danau Felleschrya sangat dalam dan juga luas walaupun arusnya tenang. Ray tidak memedulikan baju seragamnya yang basah dari atas hingga ke bawah. Ray membuang air yang masuk ke hidungnya. Tangannya menyingkirkan daun-daun yang menghalanginya dari El.
"Tuan Ray...!?" Kaget Lev yang melihat Ray bertindak nekat tanpa pikir panjang.
"El... El...!!"
Di kejauhan beberapa meter, Ray melihat ada sosok berbaju hitam tengah berada di dalam air. El hendak jatuh ke dasar air perlahan-lahan.
Ray pun langsung menyelam dan berenang menuju ke arah El. Ia selalu siaga saat menyelamatkan El yang berada dalam bahaya.
Malam yang panjang itu pun berakhir.
***
...-El's Room-...
...-6:46 AM-...
El terbangun dengan syok. Napasnya terengah-engah sewaktu tubuhnya terduduk. Anak yang terperban di sebelah mata itu memegang dadanya sejenak, berusaha untuk menenangkan napasnya.
El tergelak ketika ia menyadari bahwa di sampingnya, ada Ray yang tengah tertidur di pangkuannya. Kedua mata El terbuka lebar. Dia merasa tak bisa menggerakan tangan kanannya karena digenggam oleh Ray.
Senyum kecil El merekah. Pelan-pelan, ia melepaskan tangannya dari genggaman anak yang seumuran itu dengannya.
Ray membuka matanya. Ia menggerakkan wajahnya dan mengucek-ngucek matanya. Ketika melihat El, wajah Ray tampak terkesima.
"El, syukurlah... Bagaimana keadaanmu?"
"Ray. Terima kasih ya, sudah menyelamatkanku kemarin malam..."
"Ya..."
Keheningan menggentayangi ruangan itu selama beberapa detik. Sebelum akhirnya El yang memecah suasana hening tersebut. Ia tersenyum.
"Padahal sudah beberapa lama, tapi kau selalu saja bisa menyelamatkanku tepat waktu. Rasanya, aku banyak menyusahkanmu."
Mendengar kalimat-kalimat El, Ray langsung mengernyitkan keningnya dengan geram.
"Maksudnya menyusahkan?"
El hanya menjawabnya dengan sebuah kekehan kecil. Ray tampak begitu cemas melihat wajah El yang pucat dan lesu. Ia akan meminta izin pada orangtuanya untuk menjaga El sepanjang hari ini.
Akan tetapi, rencana Ray dipatahkan begitu saja ketika El melontarkan perkataannya.
"Ray, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Sejak kemarin...kau pasti lelah kan."
Ray menggeleng-geleng. "Aku akan merawatmu di sini."
"Tidak... Segeralah pulang sebelum tuan dan nyonya Frederick mengkhawatirkanmu."
"El..."
El memalingkan wajahnya dari Ray. Berwajah datar. "Aku minta tolong kali ini saja, turuti aku..., ya Ray?"
Ray menatap El sepersekian detik. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kau takut aku berusaha menelitimu El...? Tenang saja, aku-"
"Ray... Sampai kapan mau menuduhku seperti ini? Aku hanya mengkhawatirkanmu."
Ray pun berdiri. Wajahnya terlihat kecewa.
"Kalau itu maumu...yasudah. Tapi, kau membuatku kecewa." Kata Ray sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan El.
El menatap kepergian sahabat terdekatnya dengan murung. Ia pun menunduk, merenungi nasibnya sendiri. Memegang dahinya dan memejamkan matanya. Sebuah nasib buruk karena ia tiba-tiba teringat kejadian tadi malam. Saat-saat ia hampir tenggelam di danau Felleschrya yang besar.
Semalam, ia begitu panik seraya berusaha menaikkan wajahnya ke air. Ia mengayun-ngayunkan kedua kakinya di air, berharap bisa terus mengapung. Kenyataannya nihil, El sama sekali tidak bisa berenang.
Saat berada di tengah situasi seperti tadi malam, El selalu teringat kejadian masa lalunya yang buruk... Itulah hal yang menjadi alasan mengapa ia tak mau lagi berusaha untuk bisa berenang di dalam air. Jantung El berdetak kencang saat ia teringat situasi yang dialaminya kemarin itu.
Wajah ayahnya yang membiarkannya tenggelam menghantuinya. Membuatnya berteriak-teriak meminta pengampunan dari pria itu.
"Ayah, apakah mata ibu juga berwarna sama sepertiku? Wah... Apakah itu yang membuat ayah menyukai ibu?!"
BYURRR
Pria yang pemarah dan tak bisa mengontrol emosinya itu mencemplungkan anak yang tak bisa berenang itu begitu saja ke dalam air...
El berhasil memunculkan wajahnya ke udara setelah hampir kehabisan napas di dalam air. Dengan panik, ia langsung bernapas berkali-kali. Merasa dirinya telah di ambang kematian. Namun, yang didapati olehnya bukanlah sosok ayah yang panik melihat dirinya tenggelam. Akan tetapi, malah terlihat sosok dingin Raja yang berdiri di atas tanah tanpa bergeming sedikitpun, ia menatap El dengan segala amarah yang terpendam jauh di lubuk hati.
Raja menggumamkan sesuatu, tapi suaranya sama sekali tak bisa terdengar oleh El. Telinganya sudah penuh dengan suara cipakan air yang diakibatkan oleh seluruh anggota tubuhnya yang berusaha untuk tetap mengapung. Lagi-lagi, El tak berhasil mengapung dan kembali terpendam...ke dalam air.
"Tuan... Tuan muda!!!"
El masih ingat jelas bagaimana detik-detik peristiwa itu terjadi. Selesai diselamatkan, rasa takutnya pun masih menjalar di seluruh tubuhnya. Perasaan takutnya dulu, menghantuinya sekarang.
El memegang dadanya yang berdetak kencang, menatap kakinya dengan mata yang terbuka lebar. Mata kirinya yang diperban memang tak bisa melukiskan rasa takutnya. Tetapi, ekspresi wajahnya bisa menggambarkannya.
Tok tok tok
Wajah El langsung mendongak, melihat pintu yang diketuk itu. Ia pun menjawab, "Ya, masuk."
Lev melangkah masuk ke ruangan El dengan sedikit menundukkan wajahnya.
Ia berdiri di sisi ranjang milik El, menatapnya dengan cemas. "Tuan muda, anda tidak kelihatan baik-baik saja..."
"Bagaimana... Ray sudah pulang?"
"Ya...barusan tuan Ray telah dijemput oleh Mr dan Mrs. Frederick."
El pun mengangguk dengan wajah yang tenang. Ia malah tampak memikirkan Anabelle walau yang saat ini kondisinya tidak baik adalah El. Ia teringat oleh suatu rencana yang telah ia perintahkan pada Lev.
"Lev, bagaimana dengan Raja? Sesuai kataku, semalaman Raja pasti tidak keluar dari kamar kan?"
"Benar tuan muda. Sampai saat ini yang mulia sepertinya masih tertidur pulas di ruangan Lady Eugenie."
Jawaban Lev membuat perasaan El sedikit lega. Ia mengangguk.
Anak berwajah pucat itu baru saja ingin menanyakan sesuatu lagi. Namun, Lev terlalu peka untuk mengetahui apa yang akan dikatakan oleh El.
"Subuh tadi, saya sudah menyalutkan birainya dengan sebuah pelapis yang warnanya sangat mirip dengan lapisan aslinya, tuan."
Lev bahagia karena hal yang ia lakukan dapat membuat El mengeluarkan senyuman, walaupun hanya sebuah senyuman tipis. Ia terdiam sembari menatap El. Padahal, baru saja kemarin ia terbaring. Sekarang El harus ada di ranjangnya lagi.
Sejak El kecil, Lev merasa bahwa anak seperti El sama sekali tak berhak untuk menderita. Jadi ia harus melakukan apapun yang ia mampu untuk El. Termasuk, meracuni sang Raja dengan obat tidur. Sungguh, sampai saat ini pun Lev tidak bisa mengendalikan tangannya yang gemetar saat memikirkan dosanya kemarin malam. Lev memejamkan matanya dan menenangkan hatinya sejenak. Berusaha agar tangannya berhenti gemetar. Ia melakukan ini terpaksa, sungguh hanya ini yang bisa dia lakukan untuk tuannya.
"Oke... Kau boleh pergi dan...satu lagi."
Lev menoleh pada El. Anak itu menatap ke arah lain, dan...matanya terlihat suram dan kesepian.
"Seharian ini aku hanya akan bersama Anabelle."
"Maaf?"
"Oh... Suaraku kurang jelas...?" Tanya El dengan suara yang lemah, namun masih bisa terdengar oleh Lev.
Sebenarnya Lev ingin membantah kembali keputusan El...
Namun ia tak kuat rasa melihat kondisi El sekarang. Ia berarti harus membatalkan niat Gelasya yang ingin menjenguk El ya...
"Ah, tidak. Saya mengerti tuan."
Lev mengangguk sebelum akhirnya menghormat kepada El. Wajah Lev kembali berbalik sebelum ia melangkah keluar.
"Oh ya, tuan muda. Sepertinya kabar bahwa anda sakit sudah menyebar. Para petinggi dan rakyat banyak mengirimkan anda bingkisan dan bunga, barang semacam itu."
***
Sore harinya...
Anabelle langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar El begitu pintunya sudah dibukakan oleh Lev. Wajah Anabelle terlihat khawatir, tapi ia terpaksa menghentikan langkahnya ketika Lev memanggilnya.
Wajah Anabelle mendongak, menatap Lev di sampingnya.
"Nona... Tolong rawat tuan dan buatlah tuan El tersenyum..."
Beberapa saat, Anabelle terdiam. Matanya terbelalak karena pertama kalinya Lev meminta tolong dengan baik padanya seperti ini...
Lev tersenyum kecil ketika Anabelle mengangguk-ngangguk dengan yakin.
"Ya...tuan Lev. Aku akan membuat El seperti itu."
Wajah El terlihat berseri-seri ketika akhirnya ia melihat Anabelle lagi. Ia mendudukkan tubuhnya, mempersilahkan agar Anabelle duduk di atas kasur bersama El.
Dengan ragu-ragu, Anabelle pun duduk di pinggir kasur. Lalu sedikit memutar tubuhnya agar bisa menghadap El.
Anabelle mengerutkan keningnya, memandang El dengan cemas. Lalu ia bertanya, "El..apakah kamu baik-baik saja?"
Beberapa saat, El terdiam. Entah mengapa ada sebuah perasaan yang berbeda saat gadis kecil di depannya ini mengkhawatirkan dirinya dengan tulus.
Senyum El merekah. "Wah...aku dikhawatirkan oleh Ann lho."
Anabelle langsung menoleh. Kedua matanya terkesima mendapat sebuah senyuman yang sangat menghangatkan hati dari El. Senyuman El...mengingatkan Anabelle akan malaikat penolong yang selalu hadir di mimpinya. Lalu juga, dahulu ibunya juga memiliki senyuman yang mirip dengan El.
Rasanya, El seperti bukan manusia nyata. Manusia pun, pasti akan terlihat sisi noda dalam dirinya kan. Namun, sampai saat ini Anabelle sama sekali tak melihat setitikpun noda dari pangeran di depannya ini.
Gadis itu juga sebenarnya ragu karena memiliki pemikiran seperti ini, karena sebenarnya... Anabelle merasa belum melihat sisi El yang asli. Ia takut untuk mengetahui apakah sosok malaikat yang ditunjukkan oleh El saat ini...adalah dirinya yang asli tanpa dibuat-buat.
Karakter El masih terasa abu-abu baginya.
"Aku sungguh baik-baik saja. Apalagi aku sekarang sudah bisa bertemu denganmu, Ann." Kata El dengan wajah yang cerah.
Mata Anabelle terpaku lagi pada manik biru lautan yang El miliki. Berapa kali pun dilihat, manik biru tersebut masih saja terlihat indah. Tapi...kenapa yang sebelah lagi selalu disembunyikan... Bukannya mata itu pasti semua sama saja karena ditakdirkan untuk sepasang?
Anabelle tidak mengerti.
Padahal baru semalam El tampak ketakutan dan tak berdaya, tapi belum sampai malam lagi pun, El sudah tampak berenergi lagi. Anabelle mengangguk dan tersenyum. Ia tahu betul kalau ini adalah hal yang baik. Tetapi kalau mengingat kejadian kemarin...rasanya Anabelle harus bersyukur karena bisa langsung melihat senyuman El lagi.
"AAAKH..."
"Ayah tolong... Ayah tolong selamatkan aku...!!"
"Jang-Jangan biarkan aku mati..." Rintih El sambil menangis tak sadarkan diri.
Anabelle sedikit menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia masij merenungkan pikirannya tentang El. Jantungnya berdegup dengan lebih cepat dari biasanya, tak kuat rasa melihat tangisan El kemarin. Apa...ternyata perlakuan ayahnya El lebih buruk dari yang ia kira...? Sampai-sampai El bisa meneriakkan namanya dari masih di air sampai ke daratan. Setidaknya, El terus ketakutan seperti itu sebelum Ray menyerukannya agar kembali sadar.
Anabelle berhenti melamun ketika El mengambil tangannya. El menatapnya dengan wajah yang sedikit dimiringkan.
Kedua alis Anabelle sedikit terangkat. Ia mengurungkan niatnya untuk menanyakan sesuatu tentang El karena takut...kalau El bisa terluka lagi.
El terdiam beberapa saat, lalu menghela napas panjang.
"Hmm. Kelihatannya kau sungkan terbuka padaku ya, Ann? Kalau begitu, apa aku saja ya yang terbuka lebih dulu padamu?"
Gadis bernetra abu-abu itu langsung merasa gugup. Ia mengambil kembali tangannya dan ia... bingung harus mengatakan apa.
Tatapan El terpaku pada Anabelle. Membuat Anabelle ingin memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia gugup sekali karena tiba-tiba El berperilaku seperti ini...
"Ann, kau tahu... Kamu...sangat mirip dengan adikku."
El mengangguk kecil sesaat. "Dari penampilan, gelagat dan cara bicara pun, kamu persis sekali dengan Zora..."
"Adik El...?"
"Ah, bukan adik kandung. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri yang harus kulindungi."
Anabelle sedikit menggerakkan kepalanya. Ia pun bicara dengan ragu-ragu, "Lalu...sekarang dia di mana...?"
"Sudah tidak ada." Jawab El dengan wajah datar.
Anabelle menelan ludahnya dengan getir. Kesedihan... Memang El tak menunjukkannya secara gamblang, tapi Anabelle bisa merasakan. Anabelle bisa merasakan kesedihan dari suara El yang mengatakan kebenaran mengenai gadis yang bernama Zora.
Gadis berambut cokelat gelap tersebut merutukki kelakuannya sendiri. Ia memejamkan matanya dengan penuh rasa bersalah. Lagi-lagi, seperti ini. Lagi-lagi suasananya sama seperti saat Anabelle menanyakan perihal ibunya El.
"Tidak usah merasa bersalah atau bagaimana Ann. Selama ada kamu yang menggantikan sosok Zora, aku...yakin aku baik-baik saja."
Anabelle tergelak kaku. "Menggantikan!? E-El, aku-"
"Hmm. Yah, kau tidak mau jadi adik kecilku ya Ann. Memang, pasti kau takut ya...padaku dan juga ayahku."
Anabelle memelas ketika El menunjukkan raut kecewa. Ia, tidak mau malaikatnya merasa sedih atau kecewa sedikitpun. Akan tetapi, kata 'menggantikan' itu, Anabelle merasa ia tidak pantas untuk hal tersebut.
Namun, bila ia bisa melakukan sesuatu demi El bahagia, ia akan melakukannya. Agar El tak merasakan rasa kesedihan, Anabelle akan melakukan apapun. Malaikatnya itu, Anabelle harus mempertahankan senyum milik El.
"Tidak El...! Aku tidak...merasa takut...pada El. Aku juga sangat ingin kok, menjadi sosok adik yang baik bagi El..!"
El tersenyum dan merespon, "Kau harus tahu seberapa senangnya aku mendengar jawabanmu, Ann."
Pembicaraan mereka terhenti ketika pintu ruangan dibuka begitu saja oleh seorang anak perempuan.
El langsung berdiri dan menutupi Anabelle yang duduk di belakangnya. Ia terkejut saat Gelasya berjalan dari pintu yang jaraknya beberapa meter untuk ke kasurnya El.
Gadis yang memakai setelan gaun berwarna ungu gelap yang panjangnya sampai sebetisnya itu tengah memegang sebuah keranjang berisi ragam buah-buahan.
Wajahnya terlihat cemas ketika melihat El.
"El, aku-"
"Aku yakin Lev sudah bilang kalau aku hari ini tak menerima tamu...?" Kata El dengan wajah ramah yang mendekati datar.
Wajah jutek Gelasya tak seperti biasanya. Kali ini gadis tersebut terlihat kaget.
"El, kau...menganggapku tamu seperti yang lainnya...?"
El menghela napas.
"Gelasya. Kalau aku bilang tak ingin dikunjungi siapapun, tak ada pengecualian untuk itu."
Alis Gelasya ia turunkan, ia pun memegang sebuah hiasan kelopak mawar yang ia selipkan di dekat telinganya. Sekarang ini, gadis itu tengah merasa kesedihan. Mengapa El tak bereaksi bahwa ia masih menyimpan bunga mawar yang El petikkan untuknya waktu berusia tujuh tahun...? Bunga itu...sampai saat ini tidak layu dan sedang Gelasya kenakan. Apakah El...tak mengingatnya dan malah mengusirnya?
"Aku sengaja datang ke sini karena kukira kau bakal menyambutku seperti biasanya. Tapi, sekarang kamu kenapa?"
El menunduk beberapa saat. Ia kembali menatap Gelasya dengan gestur yang tegap, sedangkan di depannya Gelasya sudah kehilangan semangatnya lebih dulu.
El tersenyum. "Ya, aku berterima kasih karena kau mengunjungiku, Gelasya. Tapi kita bisa bersama lain kali kan."
"Enggak. Tidak bisa..."
Anabelle merasa, dari belakang sosok El sedang tenang dan santai menghadapi gadis yang waktu itu Anabelle takuti karena gelagatnya yang tidak ramah. Akan tetap manik abu Anabelle menemukan bahwa tangan El sedang terkepal erat.
Alisnya mengernyit. Anabelle bingung, karena sepertinya...El bergelagat yang tak sesuai dengan perasaannya. Ia mungkin terlalu sok tahu, tapi...ia selalu melihat El seperti itu.
El lagi-lagi tersenyum. "Aku meminta tolong padamu agar segera kembali, Gelasya."
"Tunggu..."
Gelasya merasa curiga saat melihat ada seseorang yang sedang duduk di belakangnya El. Dengan cepat, ia berjalan ke samping El dan benar saja. Gelasya terkejut saat melihat anak gadis yang ia temui di Felleschrya kemarin.
Anabelle langsung getir seketika. Ia sedikit memundurkan badannya ketika dihujami segala kekesalan dari Gelasya.
"Apa ini? El, kau membuangku dan bersama dengan gadis yang asalnya tak diketahui ini?
Saat Gelasya ingin lebih mendekatinya, El langsung melangkah ke depan Anabelle dan menghalangi Gelasya menyentuh Anabelle.
"Ini tak ada hubungannya denganmu."
Gelasya terlihat emosi di tempatnya. "Kau aneh El!!
Wajah El sudah terlihat jengkel. Ia tidak bisa lagi sabar menghadapi sahabat di depannya itu.
"Aku rasa kamu yang lebih aneh. Gelasya, kau tak perlu marah hanya karena kubilang kita bertemu lain kali kan?"
Gelasya menaikkan alisnya. Ia pun sedikit menggelengkan kepalanya ke samping.
"Sebelum itu, biarkan aku melihat gadis yang kau prioritaskan ini. Dia bukan bangsawan kan, El?"
Lagi-lagi El menghalangi Gelasya dari Anabelle. Membuat Anabelle hanya bisa terdiam kaku di belakang El.
"Aku menolak. Kali ini, aku benar-benar tak bisa menoleransi sifatmu yang seenaknya... Jadi tolong, kembalilah...ya? Kamu bisa mengerti kan. Aku...berbicara dengan sangat baik padamu."
Kedua mata Gelasya menatap El dengan tatapan yang tak percaya. Tubuhnya sedikit bergetar. Gadis itu pun merasa bahwa tindakannya sekarang ini begitu memalukan. Padahal, ia hanya ingin El terbuka padanya. Masa setelah persahabatannya yang terjalin selama bertahun-tahun, El bisa begini padanya?
Karena malu dan tak ingin lagi bertatapan dengan El, Gelasya langsung membuang wajahnya. Ia berbalik dan melangkah ke arah pintu dengan tergesa-gesa.
Anabelle sedikit menjauhkan tubuhnya dari El. Setelah melihat kepergian Gelasya, ia menoleh pada El dan memasang wajah yang cemas.
"El, apa tidak apa...? Glasya sepertinya...terluka kan."
Sekali lagi, Anabelle merasa bahwa kehadirannya ini sangat salah dan menambah lagi orang yang terluka karenanya. Kalau sudah begini, apa yang harus ia lakukan?
Ia ingin sekali mengusulkan agar ia mundur saja untuk berada di Avergaille. Akan tetapi, Anabelle sudah berjanji kalau ia akan mengisi posisi Zora untuk El...
"Tidak apa. Gelasya memang sejak dulu seperti itu, tapi dia akan baik-baik saja. Ann tidak perlu khawatir kok."
Kemudian, Anabelle menangkap sesuatu yang sepertinya Gelasya jatuhkan saat berjalan tadi.
"El, itu...sepertinya milik Glasya? Maksudku Gelasya..."
"Oh, sebentar."
El pun melangkah menghampiri sebuah benda merah yang Gelasya jatuhkan. Ia mengambilnya, lalu menatap tangkai bunga mawar yang sudah digenggam di tangannya. Lelaki itu pun kebingungan. Gelasya membawanya, atau ia mengenakan ini di rambutnya sebagai hiasan?
Ia mengernyitkan keningnya. Tak lama, wajah bingungnya berubah menjadi terkejut karena mengingat suatu kenangan yang sudah sangat lama terjadinya.
Matanya kembali memandang mawar yang indah serta harum tersebut. Masa sih, bunga ini yang waktu itu ia berikan pada Gelasya?
***
...-Sapphire Palace-...
...-Celeste's Balcony-...
...-00:38 AM-...
Celeste sedang merenung sambil duduk di atas pagar balkonnya. Cahaya malam adalah satu hal yang paling ia sukai. Sejak dulu ia percaya bahwa peri malamlah yang membuat sang fajar bersembunyi dan membuat kegelapan itu hadir. Tapi, cercahan fajar itu tak kunjung hilang dan malah membentuk bintik-bintik cahaya di langit yang gelap. Keharmonisan itulah yang Celeste sukai. Ia tertawa di dalam hatinya. Padahal ia sudah dewasa, tapi masih suka percaya pada mitos yang diceritakan leluhurnya itu.
Kesibukkan pikirannya membuatnya tak sadar bahwa ada seorang pria yang sudah menemaninya untuk duduk di sisi pagar yang lain. Pria itu berdeham, membuat Celeste langsung menoleh ke arahnya.
"Oh Levi! Sejak kapan kau datang."
"Baru."
Celeste sedikit meringis mendengar jawaban Levi yang begitu singkat dan juga jelas.
Levi berambut abu-abu gelap, serupa dengan warna maniknya. Wajahnya dingin dan menyeramkan untuk ditatap. Ia menaikkan satu kakinya dan menyandarkan tangannya pada lutut kaki yang ia naikkan.
"Jadi, pangeran tampaknya makin akrab."
"Dengan gadis pungut itu!?"
Melihat Levi yang mengangguk, Celeste meringis kesal. "Cih, aku sudah tak peduli lah. Apapun yang ingin dilakukan pangeran, masa bodoh."
Levi langsung menoleh pada Celeste. Jarak pagar balkon yang beberapa meter jauhnya itu mengharuskan Levi menatap dengan Celeste dari kejauhan. Levi menunjukkan ekspresi datar.
"Kau tak boleh masa bodoh seperti itu."
"Habis bagaimana? Levi, kau pasti merasa kan. Sekarang semakin susah untuk mengawasi dan memata-matai pangeran. Dia semakin dijaga ketat saja...!"
Levi menghela napas. Ia kembali mendongakkan wajahnya menatap langit malam yang penuh dengan bintang.
"Moodmu sedang buruk ya... karena Raja sial itu?"
"Fuh...sepertinya iya. Masa dia memelototiku hanya karena aku berniat menyentuh pangeran, memangnya putranya itu orang suci ya? Menjengkelkan kalau semakin kupikirkan."
Levi menggeleng-geleng. "Pangeran sekaligus malaikat. Mungkin bisa dikatakan orang suci."
Wajah kesal Celeste mendadak berubah menjadi wajah yang terkesima. Ia membayangkan Rajanya itu di kepala. Lalu tertawa kecil.
"Hmm, Raja termuda sepanjang sejarah. Dia...tampan juga."
"Celeste."
"Hehe, aku bercanda. Bercanda!"
"Kelihatannya kau tak memiliki informasi penting untuk diberikan. Jadi, aku pamit." Kata Levi sambil berdiri.
"Ya-ya, sana. Sampai jumpa. Sampaikan salamku pada yang mulia."
Levi menoleh pada Celeste, tatapannya terasa sendu. Kemudian ia pun mengangguk kecil.
Tubuh manusia Levi yang tinggi dan berisi itu pun menjelma menjadi seekor burung elang berbulu hitam keemasan. Burung itu pun mulai mengepakkan sayapnya dengan lebar. Lalu ia pun terbang menuju ke puncak langit dan melintasinya dengan bebas. Sambil terbang, burung itu mengeluarkan suara kicauan yang ganas. Membuat binatang apapun di malam itu bisa bergetar ketakutan mendengar suara predatornya.
Celeste menatap elang gagah yang sudah melintasi langit malam tersebut. Wajahnya kembali termenung dan ia menggumam, "Tapi aku jujur saat bilang bahwa Raja muda itu tampan..."
***
...-End of Chapter 17-...
Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️