
Gadis itu tersenyum saat melihat langit yang terbentang di cela jendela kamarnya yang usang. Suara burung berkicau juga ia dengar. Ia merasa asing saat mendengarnya ,ia mengira alam memanggilnya untuk keluar saat mendengar suara tersebut.
Langitnya begitu terang. Saking terangnya dapat memberikan sedikit penerangan pada ruang kamarnya yang suram. Gadis kecil tersebut sedikit menyipitkan matanya akan cahaya matahari yang menusuk langsung penglihatannya.
Jadi seperti ini ya dunia luar itu.
Ia memejamkan matanya. Membayangkan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Harum bunga yang menusuk hidungnya. Hanya membayangkannya saja dapat membuat dirinya merasa hangat. Sayang sekali ia tidak bisa merasakan hal tersebut secara langsung.
Dia tersenyum kecil. Jarang sekali ia bisa merasakan sinar matahari serta udara segar seperti ini. Keadaan seperti ini baginya adalah langka.
Tiba-tiba dia mendengar samar-samar suara langkah kaki ,langsung ia buru-buru menutup tirainya kembali. Dengan gemetar ,ia menggerakkan tubuhnya untuk berbaring di kasurnya. Dengan gerak cepat ia juga menarik selimutnya.
Krreek
Gadis itu memejamkan matanya dengan paksa. Gawat kalau ia ketahuan tidak berbaring di atas ranjangnya.
Akan tetapi ia terkejut saat tangannya ditarik hingga tubuhnya terbangun paksa. Wajah wanita dengan kantung mata tebal mendekati mukanya.
Gadis itu bergidik ngeri saat melihat wanita yang ia anggap sebagai ibunya tersebut.
Mata wanita paruh baya itu sedikit melihat ke atas ,mendapati bahwa tirai jendelanya yang sedikit terbuka ,ia kembali menatap sinis gadis kecil yang terduduk di atas ranjang dengan tubuh miring.
Ia menjambak rambut panjang gadis kecil itu sampai wajahnya mendongak ke belakang. Wajahnya memperlihatkan aura kemarahan. Dengan sedikit mendongak ,matanya memelototi gadis itu.
"Siapa yang bilang kau boleh melihat ke luar !"
Gadis itu langsung memejamkan matanya ketakutan. Ini salahnya karena menutup tirainya kurang rapat. Tapi kenapa ...
Ia tidak mengerti mengapa ibunya bisa semarah ini hanya karena ia sedikit membuka jendelanya untuk melihat pemandangan luar yang sangat minim tersebut.
Sekarang jantungnya berdebar sangat cepat akibat didera rasa takut yang berlebih. Dia merasa sangat ketakutan ,ia hanya berharap jika Tuhan bisa mencabut nyawanya saat ini. Wajah ibunya yang ia lihat ini sangat menyeramkan bagaikan bentuk rupa iblis.
"Ma...af..."
Wanita itu langsung menyeringai ,memperlihatkan ekspresi wajahnya yang kejam.
"Sekali lagi kudapati kamu melanggar ,tak ada makanan untuk lima hari."
Glek
Gadis kecil itu langsung merasa sangat getir. Ia lebih baik mati daripada tidak makan dalam waktu selama itu.
Wanita tersebut meliriknya saat ia memegang tangannya ,menenggelamkan wajahnya di atasnya.
"Jangan..."
"Ampuni aku. Jangan biarkan aku kelaparan."
Permohonan ampunnya hanya dibalas dengan kekehan kecil. Saat itu juga wanita itu melangkah untuk keluar dari kamarnya.
Gadis itu tentu tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Tentu ia tak boleh melakukan apapun.
Gadis itu kembali berbaring ,ia menarik selimutnya kembali sampai tubuhnya tertutup ke leher.
Tidak nyaman.
Kasur yang ia tiduri sudah usang. Apa warnanya pun sudah tak jelas sekarang. Bau yang tercium juga tak sedap.
Sesekali wanita kejam yang mengasuhnya tersebut membersihkan lantai dan dinding rumahnya. Tapi tidak dengan kasur serta pakaiannya.
Ia juga tak mengetahui apa maksud dia. Apa tujuannya menyuruhnya berbaring setiap harinya. Dia sendiri juga ingin sekali pergi keluar.
Dia ingin kembali merasakan seperti apa dunia luar. Seperti apa itu dikelilingi bunga serta pepohonan segar. Setiap hari ,ia hanya berbaring di ruangan yang suram serta redup tanpa aktivitas.
Gadis itu tidak bisa lagi menghitung sudah sejak kapan dirinya hanya berbaring seperti ini saking lama waktunya. Tidak adakah...sosok yang menyayangi dan mencari akan dirinya...?
Sambil memikirkan itu ,ia menangis dalam diam. Dengan memegang selimut menggunakan kedua tangannya ,ia menutupi bagian mulutnya dan terus terisak.
***
"Heheh. Hahahaha !"
Wanita paruh baya yang mengenakan daster putih sampai ke lutut itu tertawa menyeringai saat melihat putrinya melalui tembok kamarnya yang terdapat cela kecil berbentuk bulat.
Matanya mengintip untuk mengetahui apa yang dia lakukan di kamarnya. Tentu yang didapati dari gadis itu adalah dirinya yang tengah berbaring dengan menyedihkannya.
Semua pintu dan jendela rumahnya dikunci rapat-rapat sehingga rumah berukuran kecil tersebut terkesan suram akibat suasananya yang begitu gelap. Ia tidak suka jika ada cahaya matahari ataupun lampu menerangi rumahnya. Suasana kelam begini lebih membuatnya nyaman.
Wanita itu kemudian berjalan menghampiri sebuah foto yang terpajang di dinding dapur. Ia mengitari meja makan untuk melihat foto yang tergantung.
Dia menggaruk-garuk lehernya saat sudah berdiri di depan foto berbingkai. Lalu memutar-mutar kepalanya dengan geram. Ia mengeluarkan tawa menyeringainya lagi ,membuat siapapun yang mendengarnya tidak merasakan sesuatu yang lucu telah terjadi ,tetapi sesuatu yang menggetirkanlah yang terjadi.
"Tidak berguna !!"
Sedetik kemudian ,foto berbingkai tersebut sudah berada di lantai ,bingkainya pecah berkeping-keping.
Ia yang telah membantingnya ,merasa puas seketika. Wanita itu tersenyum lebar membentuk sebuah seringaian. Kemudian tertawa terbahak-bahak tidak peduli sepegal apa rahangnya.
Wanita tidak waras itu tertawa beberapa lama sambil menatap pecahan foto yang ia jatuhkan ke tanah.
Kemudian setelah sudah puas tertawa ,dia meninggalkannya dan pergi menyisir rambutnya yang berantakan seperti orang gila. Sepertinya bukan 'seperti' yang patut digambarkan tetapi memanglah ia seseorang yang gila. Siapapun akan menganggapnya begitu jika melihat perilakunya saat ini.
Wanita itu membuka gembok pintu rumahnya ,berjalan keluar. Tak lupa ia menutup pintunya kembali setelah berada di luar rumah.
Terdapat segerombol ibu paruh baya seumurannya di dekat supermarket beberapa meter dari rumahnya. Mereka tengah berbincang-bincang ria.
Seperti biasa ,ia kembali melakukan kegiatan sehari-harinya.
"Mrs Sally. Bagaimana kabarmu ?" Tanya salah satu dari kelompok ibu tersebut.
Sally hanya tersenyum miris. Membuat mereka merasa iba melihat raut wajahnya.
"Tak begitu baik ,Mrs Gita. Anak saya sakit. Makanpun belum. Saya seperti ingin gila melihat anak saya menderita."
Seketika Gita dan orang di sekitarnya merasa kasihan. Ia bingung mengapa temannya Sally bisa tiba-tiba seperti ini setelah tak bertemu sekian lama.
Gita memegang pundak Sally. Membuat Sally menoleh ,menatap tangan yang memegang pundaknya.
"Memang suami kamu di mana ?"
"Dia...pergi merantau meninggalkan kami berdua. Ia tak pernah kembali lagi ,walau anaknya sakit pun dia tak peduli."
Sally mulai mengeluarkan tangisnya. Air matanya mengucur deras di pipi. Ia segera menghapusnya kembali.
"Kasihan sekali anakku. Aku tak peduli kalau aku kelaparan ,yang penting hidup anakku tercukupi."
Gita tambah merasa iba mendengar pernyataan dari temannya itu. Kemudian ia membuka tas tangannya ,mencari-cari sesuatu.
Sesudah itu ia mengeluarkan segepok uang ,lalu menyodorkannya pada Sally dengan wajah yang masih menunjukkan rasa kasihan pada Sally.
Dengan sungkan Sally mengambil uang tersebut. Lalu ia menempelkan kedua telapak tangannya ,berterima kasih.
"Terima kasih."
Ia terkesiap saat teman-teman Gita yang lainnya juga menyodorkan uang untuknya dengan jumlah berbeda-beda. Yang paling banyak memberi adalah Gita.
Tetap ,ia mengambil uang itu satu-satu dari empat orang.
"Terima kasih banyak..."
Gita mengangguk sambil tersenyum ramah. "Semoga anakmu lekas sembuh."
"Ya. Aku beli bahan makanan dulu ya semua."
Lalu Sally segera berjalan memasuki supermarket. Dengan uang yang dibilang sangat banyak jumlahnya.
"Sally kasihan sekali ya.
"Kamu lihat tampangnya ,sangat tak beraturan."
"Tentu. Mengurusi anak sakit tentunya menguras tenaga."
Gita hanya termenung di tengah obrolan teman-temannya.
"Biar begitu juga. Dulu dia temanku yang rendah hati dan periang." Ujarnya kemudian.
***
"Kikikikikik."
Sally terkekeh-kekeh melihat barang belanjaan yang ia letakkan di atas meja. Ia mengusap-usap wajahnya yang kusam. Kepalanya bergoyang-goyang ke samping.
Di tangannya ia memegang setumpuk uang yang tersisa usai berbelanja. Jika ia hitung ,jumlahnya masih cukup banyak. Cukup untuk kebutuhannya selama satu bulan.
Ia tertawa lagi dengan terbahak-bahak. Tak peduli jika tulang rahangnya lelah akibat mulutnya yang terus terbuka lebar.
"Sangat mudah meminta belas kasihan orang ! Aku hanya jalan keluar untuk berbasa-basi dan uang datang padaku segini banyak !"
Sally mengibas-ngibaskan uang yang berada di tangannya. Lalu ia menggeser-geser lembar demi lembar untuk menghitung seberapa banyak jumlahnya.
"Lapar..."
Ia mengernyitkan keningnya saat mendengar suara keluhan dari gadis kecil itu. Bagaimana kalau ada yang mendengar suara anaknya !?
"Dasar ,anak sialan itu !"
Dengan geram Sally memukul kedua sisi meja dengan tangannya. Napasnya sedikit lebih cepat untuk mengontrol amarahnya sejenak.
Sally memutar bola matanya dengan malas. Dengan cepat ,ia bangkit dari duduknya dan menyiapkan makanan seadanya di atas piring.
Sally berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan piring di tangannya. Menyuruh anak gadisnya bangkit dari baringannya.
"Jangan teriak seperti tadi ,anak bodoh. Ini hukuman untukmu." Ujar Sally sambil menyerahkan piring kecil padanya.
Gadis itu memandang piring yang disodorkan padanya. Tak ada daging ,tak ada roti. Hanya ada sedikit sayur-sayuran serta buah apel yang sudah akan membusuk. Terlihat dari warna bagian atasnya yang sudah kecokelatan.
"Cuma ini ,jangan minta lebih !"
Gadis itu segera mengambil makanan untuknya dengan terpaksa. Mau tak mau. Daripada perutnya terus keroncongan meminta makanan untuk dicerna. Tak ragu ia mencomot sayuran itu dengan tangannya ,memasukkan ke mulutnya dengan lahap. Mengabaikan perawakan sayur itu yang tak segar.
Pahit
Raut wajahnya berubah akibat rasa amat pahit yang dirasakannya. Ia memejamkan matanya erat-erat ,tidak tahan dengan rasa makanan yang dimakannya.
Ia sama sekali tak mengharapkan makanan yang sangat lezat maupun makanan yang manis layaknya yang dimakan oleh anak seumurannya.
Setidaknya ,makanan yang diberikan padanya layak dimakan. Walaupun rasanya tak enak. Makanan yang dilahapnya saat ini sungguh tak layak untuk dimakan. Seperti sudah berhari-hari ditelantarkan hingga membusuk. Ia lebih baik memakan roti keras seperti biasa daripada buah dan sayuran yang hendak membusuk ini...
Sally mengangkat dagu gadis kecil itu dengan satu jari telunjuknya yang kehitaman. Serta kukunya yang panjang berwarna hitam serupa menusuk kulit sang gadis. Membuat gadis kecil tersebut sedikit meringis karena merasa kepedihan di kulitnya yang mengalami ketajaman kuku ibu kejamnya.
Gadis kecil itu mulai membuka matanya usai menelan makanannya. Bibir Sally yang merah kehitaman terbuka.
"Kau..." Ucapnya yang mengatakan sepotong kata sambil memelototi putri kecilnya.
"ingat baik-baik. Kau adalah sumber uangku. Jadi ,aku tak akan membiarkanmu mati."
Ia membuka mulutnya lebih lebar. Menampilkan gigi kuningnya. Gadis kecil itu langsung bergidik melihat tampilan ibunya yang semakin menyeramkan untuk dilihat.
"Jangan ,kau coba-coba kabur dariku." Peringatnya lagi dengan suara yang dingin bagaikan es. Seakan-akan dia sedang berbicara dengan seorang tahanan yang mencoba untuk melarikan diri.
Setelah itu ,dia langsung melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Tetapi ,suara parau gadis kecil itu membuatnya kembali menghentikan langkah kakinya.
"Apa aku...tak boleh pergi ke luar bahkan hanya untuk sekali saja..."
Sally langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat ,matanya melotot menatap gadis kecil itu yang duduk tak berdaya dengan piring di pangkuannya.
Lalu raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. Matanya celingak-celinguk dengan getir. Gadis kecil itu seakan linglung saat melihat ibunya sendiri bertingkah seperti itu. Tak seperti biasanya.
Sally kembali berjalan mendekati gadis itu. Ia mencengkeram kedua pipi puterinya tanpa ampun hanya dengan empat jarinya.
Ia tak berhenti mencengkeram sehingga gadis itu merintih saat kuku tajam Sally menusuk pipinya yang kecil. Gadis itu tak kuasa menahan tangisnya sendiri. Rasanya sakit dan pedih.
"Apa kau bilang !? Pergi ke luar ? Jangan mimpi ! Kau harus tetap di sini demi bertahan hidup."
Apa maksudnya itu ?
Gadis itu sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan ibunya. Dengan dia yang dikurung seperti ini ,dirinya dapat bertahan hidup ? Memangnya sekejam apa keadaan di luar sana sampai ia tidak aman jika pergi keluar rumah suram ini. Tapi kepalanya sama sekali tidak bisa mengingat saat-saatnya dulu. Tidak mungkin kan sejak datang ke dunia ia sudah dikurung seperti ini...
Dia sendiri merasa kegetiran yang hebat di dalam hatinya. Apakah seumur hidupnya...ia akan selalu dikekang seperti ini. Seumur hidupnya ,dia tidak akan pernah melihat dunia luar seperti yang diidamkannya selama ini.
Dan lagi ,wanita kejam itu terlihat aneh sekarang. Tubuhnya sekilas terlihat seperti gemetar. Ia menutupi hal itu dan langsung melangkah keluar dari kamar sang gadis.
Sambil menitikkan air mata ,gadis itu terus melahap makanannya sampai habis. Dia sangat mengasihani dirinya sendiri saat ini.
Gadis itu tak memedulikan air matanya dan menggigit buah apelnya tanpa kesusahan. Rasanya memang sangat-sangat buruk ,bisa membuat perutnya sakit. Tapi apa daya ,dia tak kuasa menahan lapar. Rasa di lidah pun tidak jadi masalah kan apabila perutnya sudah kelaparan setengah mati.
Ia sama sekali tak ingat ,apa yang terjadi sehingga dia dikurung sekarang ini. Dia juga tidak ingat ,di mana ayahnya ,sedang apa dia ,apakah ayahnya masih ingat akan dirinya.
Hal yang terpenting sekarang ,dia harus bisa mendapatkan bantuan untuk mengakhiri nasibnya yang malang.
Jika hidupnya seperti ini terus ,lebih baik dia menyakiti dirinya sendiri dan naik ke pangkuan Tuhan di atas sana.
***
...-End of Part 1-...
Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️