
Ren malah semakin mengamati Anabelle. Gelagatnya terlihat mencurigakan di mata Ren. Apalagi ,ia belum pernah melihat Anabelle sebelumnya. Gaunnya memang cantik ,ia terlihat mewah. Namun ,mengapa ia seperti terus saja tergagap-gagap di sebelahnya El ?
Setelah Ren mengatakan siapa El di istana ini pun ,ia malah semakin gugup dan menjadi getir saat menatap El.
"Ah ,sudahlah Ren. Tidak perlu menjadi yang paling mengerti tentang pangkatku."
El menatap Anabelle yang sudah mulai terlihat kegetiran di tempatnya. Ia mengira bahwa gadis itu ketakutan terhadap Ren. Tidak heran ,karena pembawaan Ren memang lebih serius dan jutek dibandingkan El. Apalagi ,sejak tadi Ren tampak menganalisa Anabelle dari kaki hingga ke kepala.
"Anabelle. Perkenalkan ,ini-"
Ren langsung mengulurkan tangannya pada Anabelle. Sambil tetap memasang wajah serius dan tidak bersahabatnya ,ia pun berkata ,"Sereno ,adiknya El."
Sungguh memalukan bagi Sereno apabila perlu ada orang yang memperkenalkannya dengan orang baru. Lebih baik ia menggunakan tangan dan mulutnya sendiri kan.
Anabelle malah diam membatu di tempat. Tidak membalas tangannya Sereno ,ia malah terus saja tergelak kaku.
Sereno menatap Anabelle dengan terheran-heran. Bangsawan mana sih yang tidak mengetahui tata cara berkenalan dengan orang baru ? Ia bertanya-tanya di dalam hatinya dan sedikit mengernyitkan keningnya.
Sereno pun sedikit berdecih. Ia sedikit menunduk dan menaikkan matanya untuk menatap Anabelle ,menunggunya untuk balas memperkenalkan diri.
"Halo ? Dari kerajaan mana kamu berasal ?" Tanya Sereno yang sudah mulai lelah melihat gelagat menyebalkan yang ditunjukkan oleh gadis di hadapannya.
El sudah mulai khawatir saat dilihatnya Anabelle kehabisan kata-kata. Sepertinya ia sangat ketakutan melihat Sereno yang terus saja memaksanya bicara.
"Ren ,sudahlah. Ia belum bisa berkenalan denganmu. Dan juga, Anabelle bukan bangsawan."
Ren pun menghela napas dan menarik kembali tangannya. "Aku mengerti ,jadi dia anak pembantu di sini ya."
Anabelle masih saja terkejut akan fakta bahwa Ren merupakan adiknya El. Apa itu artinya...ia pangeran juga ,mengetahui bahwa dia anaknya Raja.
Namun ,gelagat dan perlakuan Ren sangat jauh berbeda dibandingkan El. Nada bicaranya tidak seramah El. Wajahnya pun juga tidak sehangat dan seramah El. Di mata Anabelle ,Ren tampak menakutkan...
Bahkan untuk balas berbicara dan berjabat tangannya saja Anabelle pun tidak berani. Anabelle sangat getir. Mengapa bisa gadis gelandangan sepertinya bisa tiba tiba berada dengan dua orang anak Raja seperti ini...
"Yah ,dia bukan anak pembantu juga. Kamu tidak perlu tahu kok ,Ren."
Sesudah mengatakan apa yang hendak dikatakannya ,El kembali berdiri di sebelah Anabelle dan merangkul pundaknya. Seakan tidak membiarkan Ren menyelidiki Anabelle lebih lanjut.
Ren mengernyitkan keningnya pada El. Menatap El dengan sedikit meringis.
"Tunggu ,jadi apa maksudmu El ? Lalu dia siapa hingga bisa berada di sini ?"
"Ren..." Ujar El yang sudah mulai lelah akan pertanyaan-pertanyaan yang Ren terus lontarkan kepadanya. Sejujurnya ,El paling tidak menyukai berhadapan dengan pewawancara yang terus saja menanyainya sesuatu.
Ren memegang pundak El. Ia menatap El dengan wajah yang sungguh-sungguh, kemudian berkata ,"El. Kau tidak merencanakan sesuatu yang melanggar peraturan kan ? Kau tahu kan kalau Raja-"
"Aku mengetahuinya ,sangat jelas. Maka itu aku akan memikirkannya nanti..."
Anabelle hanya bisa menunduk kaku dengan perasaan yang tidak bisa ia kendalikan. Di satu sisi ,ia mengagumi El dan ingin tinggal bersama dengannya ,berbahagia. Namun di sisi lain ,Anabelle mengetahui fakta bahwa El ialah seorang dari pangkat yang sangat tinggi. Selain itu ,ia juga memiliki adik yang dari gelagat dan tampangnya saja sudah terlihat menyeramkan bagi Anabelle.
Dengan kata lain ,Anabelle menjadi segan dan sedikit tidak berani pada El.
El berniat membawa Anabelle pergi dari sana. Sebelum itu ,Ren kembali mengatakan ,"Nanti ? Sungguh ,El. Bukan berarti kamu bebas melakukan sesuatu di saat Raja pergi-"
Namun di saat Ren belum selesai mengatakan perkataannya, sebuah suara panggilan seorang wanita terdengar dari belakang Ren.
"Anakku Sereno !!"
Sedetik setelah mendengar suara wanita yang memanggil Ren itu ,El langsung memegang tangan Anabelle dan membawa gadis itu ke belakangnya. Walaupun Anabelle tidak seluruhnya tersembunyi di belakang El ,tetapi posisinya itu cukup untuk menutupi sosok Anabelle yang jauh lebih pendek dibandingkan El.
El sedikit menolehkan wajahnya ke belakang ,kemudian ia pun berbisik ,"Tolong jangan katakan sesuatu ,Ann. Sebentar saja ya."
Anabelle sedikit terkejut akan posisinya tiba-tiba yang disembunyikan oleh El. Ia mengangguk dan balas berbisik ,"Ba-Baik El."
Ren langsung menoleh ke belakang. Menatap ibunya yang sudah berjalan menghampiri dirinya. Wanita tersebut merupakan seorang gadis berambut pirang yang terlihat sudah menjadi seorang wanita paruh baya. Ia mengenakan sebuah gaun panjang yang berwarna hitam dengan sedikit campuran kemerahan. Riasan wajahnya terlihat sedikit tebal ,namun bentuk wajahnya cantik.
Anabelle sedikit mencuri pandang untuk melihat sosok yang menghampiri Ren dan El. Kemudian kembali menggeser kepalanya di balik lehernya El. Anabelle masih saja terkesiap di tempatnya. Ia menatap bagian belakang tubuh El dengan tak bergerak. Lalu mendongakkan wajahnya dan melihat tampak rambut El yang hitam pekat dan juga terlihat halus. Anabelle menahan tangannya untuk tidak menyentuh rambut tersebut ,walaupun sebenarnya ia sangat ingin menyentuhnya.
Baru kali ini ia berada begitu dekat dengan tubuh El yang bahkan ia bisa merasakan bau El di hidungnya. El begitu harum ,wanginya membuat suatu ciri khas pada indra penciuman Anabelle. Apakah seorang anak pemimpin memang semuanya seharum ini...? Anabelle menggeleng sedikit, ia berhenti mendongak dan tetap melihat bagian punggung El.
Sesudah sang wanita sampai ke sebelah Ren ,Ren berkata ,"Oh ,ibu."
El menatap wanita yang Anabelle pikir ibu dari El dan juga Sereno. Kemudian sedikit menundukkan kepalanya.
"Mrs Agathe."
Di belakang ,Anabelle langsung sedikit membuka mulutnya. Ia bingung akan mengapa El tidak memanggil wanita yang bernama Agathe itu dengan sebutan ibu seperti Ren memanggilnya. Mrs ? Bukankah itu sebutan yang sama seperti El memanggil pelayan waktu tadi...?
Agathe merangkul Sereno ,ia sedikit membungkuk kepada El. "Sore El." Sapanya sambil tersenyum.
"Sore ,Mrs."
"Astaga, El... Semakin hari kamu benar-benar semakin tampan ya ,El !"
El masih berdiri tegap untuk menyembunyikan Anabelle. Ren pun yang melihat dan mengetahui hal itu ,hanya bisa diam dan malah menghadap Agathe. El sedikit menaikkan tangannya ,menyentuh lehernya.
"Hahaha ,sepertinya Ren malah lebih tampan dibandingkanku kok."
Ren langsung berdecih. Ia memalingkan wajahnya dari El ataupun Agathe. Semua orang yang melihat El pun menyadarinya ,gennya itu sempurna tanpa cela. Jika ingin membandingkan tampak wajah pun ,Ren mengetahuinya jelas kalau dia kalah jauh dibandingkan El.
"Bagaimana dengan ayahmu El ? Apakah ia masih bertugas di luar ?"
"Ya. Beliau masih di Xanchior. Aku tidak tahu tepatnya kapan ayahku pulang."
"Oh begitu. Baiklah. Kalau begitu Sereno ,ayo bantu ibu memilih gaun untuk ke pesta dansa nanti malam."
"Hmm ,aku lagi ? Baiklah."
"Yuk. Kalau begitu kami pamit dulu ya ,El." Kata Agathe sembari membungkuk.
El tersenyum ,sedikit menundukkan kepalanya dan berkata ,"Baiklah ,hati-hati di jalan."
"Huh ,seperti kami mau pergi ke mana saja El." Ujar Ren sedikit terkekeh.
Agathe pun tertawa sembari menepuk pundak Ren. Kemudian ia menatap Ren dan sedikit menggeleng. "Hei kamu ini. Itu merupakan suatu etika. El sudah dididik sejak kecil seperti itu ,bukankah begitu El ?"
Di kalimat terakhirnya ,Agathe sedikit menoleh pada El. Membuat El kembali tersenyum. Ia pun sedikit menaikkan pundaknya.
"Etika atau bukan ,aku memang tetap akan seperti itu."
Ren melihat tingkah laku El yang bisa tetap tenang meskipun ada gadis yang disembunyikan di belakangnya sejak tadi. Ia sedikit bergeming ,menaikkan alisnya.
Ia pun menggeleng dan menuntun ibunya untuk pergi dari sana. "Selamat tinggal El."
Menunggu sampai kedua orang itu pergi dari tempat itu ,El pun bergerak dan berbalik menghadap Anabelle yang langsung terperanjat.
El tersenyum miring. Ia bertanya ,"Ann ,mengapa kau menyentuh rambutku ?"
El menanyakannya pada Anabelle setelah dirasakan olehnya terdapat sebuah sentuhan pada rambutnya setelah Ren dan Agathe berbalik dari sana.
"E-Eh ,iya... Maaf ya El... Apakah hal itu dilarang ?"
"Hahaha ,tidak juga sih. Aku hanya sedikit terkejut."
Anabelle menatap El dengan sedikit malu-malu. Namun ,matanya lagi-lagi menuju ke rambut El. Ia menatap poni El yang jatuh ke dahinya ,terlihat tertata sampai ke alisnya.
"Ha...bis rambutnya El terlihat halus."
"Halus ?"
El hanya terkekeh sambil menyentuh rambutnya sendiri dengan tangannya. Ia jarang memerhatikan tampang fisik dirinya sendiri ,jadi ia tidak begitu menyadari bahwa rambutnya memang memiliki tekstur yang sehalus itu. Sejak dahulu ,ia diajari untuk selalu memerhatikan dan mementingkan penampilan. Penampilan yang dimaksud adalah pakaiannya. Pakaiannya haruslah selalu terlihat rapi dan bersih. Maka itu El lebih senang saat ia dipuji penampilannya yang rapi dan tertata dibandingkan wajah tampan atau yang lainnya.
"Yuk Ann. Apa kamu mau kuantar ke kamarmu ?" Tanya El dengan ramah seperti biasanya.
"I-Iya...El..."
El lebih senang memanggil Anabelle dengan sebutannya yang ia buat dengan sendirinya. Ia memanglah selalu seperti itu. Dirinya tidak terlalu menyukai jika harus memanggil utuh nama seseorang ,apalagi jika nama tersebut sedikit panjang seperti milik Anabelle dan Sereno.
Ia lebih dominan akan membuat panggilannya sendiri pada mereka. Seperti nama Lev ,diapun juga pertama kali dipanggil seperti itu olehnya.
El pun meraih tangan Anabelle ,kemudian menatapnya sejenak. Anabelle dengan gerakan refleks memundurkan wajahnya dari El begitu ia merasa jaraknya mulai menipis dari keadaan awalnya.
Wajah datar El berubah menjadi tersenyum seusai menatap Anabelle beberapa saat.
Ia menggandeng tangan Anabelle ,menuntunnya untuk berjalan bersamanya. Mereka pun kembali bersama melintasi hari petang yang sejuk kala itu. Anabelle hanya bisa terdiam kaku sembari mengikuti langkah El. Hal menjadi sedikit berbeda ketika ia mengetahui bahwa El merupakan orang super penting di tempat yang ia pijak saat ini.
Anabelle merasa ragu untuk menjawab pertanyaan El. Ia sebenarnya tidak ingin menanyakan langsung karena...ia bisa terlihat terlalu ingin tahu urusan orang lain ,apalagi orang lain itu adalah El.
Tetapi ,sekarang ini kan El yang menanyakan lebih dahulu. Jadi ,tidak ada salahnya bagi Anabelle untuk mengetahui secercah mengenai kehidupan El.
"I-Iya... Aku semp..at bingung... mengenai wanita tadi juga..."
El mengangguk bangga ,sedikit memejamkan matanya. Kemudian ia membuka matanya kembali dan berkata ,"Sudah kuduga. Kau memang memiliki sifat ingin tahu akan segalanya kan Ann."
Anabelle sedikit memiringkan wajahnya. Memang benarkah kalau ia memiliki sifat seperti itu...? Entahlah ,ia kan hanya merasa penasaran...
"Ren dan aku memang memiliki ayah seorang Raja. Namun ibu kami berbeda."
"Me-Mengapa bisa seperti itu El ?"
Alis El mengerut. Anabelle langsung ikut berhenti di tempay ketika El menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. El menoleh pada Anabelle ,sedikit menggerakkan kepalanya. "Hal sesimpel itu pun kamu tidak mengerti ?"
"Ma...af ,El..."
"Ah, maafkan aku Ann jika aku terkesan sok pintar di hadapanmu. Hmm ,bagaimana menjelaskannya. Intinya aku dan Ren hanya satu ayah ,tetapi tidak satu ibu."
Anabelle membulatkan bibirnya. Tampaknya ia paham dengan perkataan El tersebut. Dengan wajah yang polos dan penasaran ,ia bertanya pada El ,"Berarti tadi itu ibunya Ren kan ,El ? Lalu...di mana ibunya El ?"
Seketika itu juga ,tubuh El langsung menegang. Ia menunjukkan ekspresi yang sedikit berubah.
Anabelle menjadi kaget saat melihat gelagat El yang kembali berbeda. Seperti saat Anabelle memecahkan patung tadi pagi. Namun, tidak sampai separah itu.
El tetap berusaha untuk terlihat tenang ,ia menahan kakinya yang sedikit bergetar selama beberapa saat.
Wajahnya pun menoleh ke kiri dan ke kanan. Kemudian kembali menatap Anabelle. Menangkup tangan mungil Anabelle.
Gadis itu hanya bisa terdiam bingung. Tanpa beralih ,mata abunya terus saja menatap El.
"Dia sudah tidak ada ,Ann."
Anabelle tidak berani menanyakan apapun lagi. Dia hanya ingin menunggu El yang menyelesaikan perkataannya.
"Dan lagi... Tolong jangan menanyakan atau membicarakan tentang ibuku ya...Ann."
"O-Oh ,itu dilarang ya. Ma-Maafkan aku ,El."
"Tidak apa. Lebih tepatnya ,tidak terlalu baik membicarakan orang yang sudah tidak ada di dunia ini ,Ann."
"O-Oh ,baiklah El..."
El sedikit menggelengkan kepalanya sembari menuntun Anabelle untuk berjalan kembali bersamanya. Ia haruslah melatih Anabelle lebih lagi agar kepercayaan dirinya meningkat dan rasa gugupnya bisa musnah.
Jika ayahnya melihat Anabelle yang sekarang ,tentu semua kata-kata hinaan yang bisa dilontarkan olehnya. Cara bicara Anabelle yang gagap pastilah membuat Raja itu kesal. Namun ,hal tersebut wajar karena Anabelle merupakan seorang gadis yang bahkan belum seharipun menetap di istana. Pastilah ia hanya seorang gadis desa biasa yang tidak mengerti apa-apa tentang kerajaan. Ia saja tidak mengetahui soal Raja ataupun identitas El sendiri.
Setelah menelusuri Felleschrya yang begitu luas wilayahnya ,akhirnya El berhasil membawa Anabelle ke ruangan yang sudah direncanakan sebagai kamar tidurnya.
Kamar Anabelle sedikit terpisah dari gedung Emerald. Pintunya pun kecil ,tidak terlalu besar. Kamarnya terlihat sangat sederhana. Pemandangan di luar kamar tersebutlah yang akan menakjubkan bagi Anabelle.
Bayangkan saja jika di pagi hari setelah bangun tidur ,Anabelle membuka pintunya dan matanya pun dimanjakan dengan pemandangan indah danau Felleschrya. Udara pagi hari yang sejuk kupu-kupu yang berterbangan serta suara burung-burung yang berkicau.
El yakin sepenuhnya kalau Anabelle akan menyukai tempat yang sekarang ini dia pijak.
El membuka pintu kamar Anabelle dan berjalan selangkah memasukinya. Kemudian Anabelle pun ikut melangkah masuk ketika El mengulurkan tangannya ,mengisyaratkan agar Anabelle masuk ke dalam untuk melihat kamar itu bersama dengannya.
"Ann ,cobalah menginap beberapa hari di sini jikalau engkau mau. Setelah itu ,kamu boleh memutuskan apakah ingin tinggal di sini untuk selamanya."
"Eh ,selamanya ?!"
El sedikit memonyongkan bibirnya. Kemudian mengangguk dengan ragu. "Apakah aku salah bicara ?"
"Memang kamu ingin menetap di mana selain di sini ?"
"O-Oh ,oke... Kamu bener ,El..."
"Benar ,Ann."
Anabelle tidak mengerti di mana letak perbedaan dari kata yang diucapkannya dengan perbaikan dari El barusan. Menurutnya ,hal itu sama saja selama lawan bicaranya mengerti maksud yang ia katakan. Tetapi ,Anabelle yakin bahwa El lebih tahu banyak dibandingkan anak kecil sepertinya.
Lalu El berjalan selangkah lagi memasuki kamar Anabelle. Ia menunjuk sebuah ranjang yang berukuran besar terletak di sebuah ujung ruangan. Ranjang tersebut berwarna putih dengan corak kehijauan yang menghiasi setiap tepinya. Terdapat tirai yang menutupi bagian luar ranjang tersebut ,sehingga orang tidak bisa melihat jelas bagian dalam kasurnya.
Di sebelah ranjang ,terdapat sebuah lemari kabinet kecil yang tersusun rapi tiga buah. Di atasnya ,terdapat beberapa vas bunga dan beberapa bingkai yang tidai ada satupun foto di dalamnya.
Di sampingnya lagi, ada sebuah lemari yang cukup besar berisikan gaun-gaun, aksesori ,maupun perlengkapan lainnya. Dan itu semua adalah barang-barang ciri khas wanita.
Kamar ini seperti sudah sengaja didesain untuk ditempati oleh seorang perempuan. Gaunnya pun lengkap ,dari mulai ukuran yang kecil sampai ukuran yang lumayan besar.
Di dalam kamar itu ,ada banyak lagi perabotan lainnya yang turut mengisi ruangan. Seperti pajangan yang meliputi pahatan maupun patung. Serta lukisan-lukisan khas istana yang terpajang di sekitar dinding.
Pada saat El membuka pintu yang terletak di pojok ruangan ,tepatnya di samping lemari kayu besar tadi , kamar mandilah yang terlihat di sana.
Tak lain dan tak bukan ,kamar mandi tersebut berciri khas hijau muda. Kamar mandinya pun lengkap. Mulai dari bak yang berukuran lumayan besar ,rasanya ukurannya mirip-mirip dengan bak mandi yang Anabelle pakai tadi siang. Bak berendam tersebut berada di sisi paling pojok ruangan dengan shower yang tertata di atasnya. Tirai hijaunya terbuka lebar sehingga Anabelle bisa melihat kondisi bak kosong tersebut.
Terdapat juga sejenis wangi-wangian di tengah-tengah ruangan ,terkumpul di sebuah rak. Di dalam rak tersebut ternyata juga berisikan peralatan mandi. Mulai dari handuk ,kain lap ,sabun dan sebagainya.
Ada satu lagi pintu di ujung sudut ruangan yang membuat perhatian Anabelle teralihkan.
Pintu tersebut berbeda dibandingkan pintu kamar dan pintu kamar mandinya. Padahal ,pintu kamar dan pintu kamar mandi tadi hampir mirip dan tak jauh berbeda bentukkannya.
Tetapi ,pintu yang ia lihat sekarang ini tampak berbeda. Ada sebuah simbol hati berwarna merah muda menghiasi bagian atasnya. Warnanya bukanlah putih bercampur hijau. Namun putih bercampur dengan merah muda.
"El...? Di sana ada apa ?" Tanya Anabelle yang menunjuk ke arah pintu merah muda.
El menoleh ,melihat pintu yang ditunjuk oleh Anabelle. Ia pun berkata ,"Di sana hanya sekadar ruang ganti dan perpustakaan ,Ann."
"Ohh..."
El menghela napas ,sedikit tersenyum. Kemudian ia melangkah dari kamar mandi mewah tersebut. Anabelle tergelak saat El membuka pintu, menampakkan hari yang sudah mulai menggelap.
"Kupikir ini sudah waktunya kamu beristiraha ,ya Ann." Kata El dengan senyum yang terlihat meneduhkan mata.
"E-El...!" Panggil Anabelle dengan panik ketika ia tahu bahwa El akan meninggalkannya kembali.
Anabelle melihat ke sekeliling kamar yang tidak terlalu terang lampunya. Sehingga di malam hari ,kamar tersebut terkesan agak gelap. Hal ini mengingatkannya akan temoat tinggalnya sebelum ke istana Avergaille ini. Dan entah mengapa ,bulu kuduknya merinding. Ia takut saat mengetahui akan sendirian lagi di tempat gelap ini.
"A-Apa yang harus aku la...kukan ,El ..?!"
El menatap Anabelle ,wajahnya khawatir.
"Apa maksudmu Ann ? Kamu hanya perlu tidur di sini sampai esok. Kita bisa bertemu lagi besok pagi."
"El ,a-aku takut. Kenapa E-El harus pergi ?"
"Ann, tempatku memang bukan di sini... Aku tidak bisa menemanimu selama dua puluh empat jam penuh. Jika kamu butuh sesuatu ,kau bisa menarik bel di sana."
Di tembok ruangan ,memang ada sebuah tali berwarna kuning keemasan yang di terhubung pada lonceng di ruangan pelayan lain.
El hendak mengatakan sesuatu pada Anabelle. Tetapi ia langsung membatalkannya begitu ia melihat ekspresi Anabelle yang masih saja ketakutan.
Sesungguhnya ,El tidak begitu mengerti bagaimana cara untuk menenangkan gadis dalam posisi seperti saat ini. Memangnya apalagi yang bisa ia lakukan sekarang ini...?
Menemaninya di Emerald ? Tentu tidak akan bisa. Membawa Anabelle ke istana lain ,tidak mungkin juga. Menyatukan ruangan Anabelle dengan pelayan lain...El tidak terlalu mengindahkan keputusan tersebut. Tetapi ,ia terpikir suatu cara.
Anabelle tetap saja terdiam kaku di tempatnya. Memandang El dan tempat di sekitarnya bergantian ,ekspresinya tampak getir.
Tiba-tiba ,di depan pintu muncul seorang Lev yang sudah sedikit membungkuk seraya meletakkan tangan kanannya di dada. Tangannya memakai sarung tangan yang putih. Cocok dengan warna rambutnya yang putih pirang.
Seragamnya berwarna putih bercorak silver. Semuanya diukir dengan rapi dan indah. Anabelle sedikit terpana. Pelayan El saja pakaiannya semewah itu ,bahkan terlihat sama mewahnya dengan milik El.
"Selamat malam ,tuan muda. Ini sudah waktunya anda kembali ke istana."
Anabelle langsung terkesiap ,rasanya semua bulu kuduknya berdiri sejenak.
Apakah ia akan benar-benar ditinggalkan sendiri di kamar gelap yang membuatnya begitu takut...?
***
...-End of Chapter 10-...
Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️