Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
19| Fall into a Trap



"Kyaaa!!!! I-Ibu maaf...jangan...pukul aku lagi.."Teriak anak itu dengan suara parau yang meminta belas kasihan.


Bukannya berhenti membuat gadis itu kesakitan, wanita langsung mencekik sang gadis dengan sekuat tenaga. Kuku yang tajam serta kotor tersebut menusuk leher si gadis di saat tangan wanita itu mencekiknya.


"Jika kau berteriak lagi, aku akan benar-benar menusuk lehermu." Ancam sang ibu dengan suara yang terdengar serak dan menakutkan.


Kedua mata gadis kecil tersebut ketakutan, wajahnya dipaksa mendongak karna tercekik oleh ibunya. Lalu ia memejamkan kedua matanya, tidak tahan karena kehilangan napasnya.


"Iy-Iya... Le-Lepaskan,....aku ti-tidak akan....ber...teriak lagi..."


Dalam sekejap, cekikan atas lehernya pun terlepas. Gadis itu langsung terbatuk-batuk dan bernapas dengan sekuat tenaganya. Ia sedikit menaikkan matanya. Rasa takut langsung menjalar ke seluruh permukaan tubuhnya ketika melihat wajah ibunya yang seperti iblis saking kejamnya.


Bagaimana caranya...agar ibu tidak menyiksaku lagi...?


~~


"Ayah aku ti-tidak bisa... Tanganku sakit..." Keluh sang anak sambil menahan tangisnya. Ia menyerahkan sebuah pedang pada seorang pria yang sedang duduk sambil memangku seekor kucing berbulu hitam.


Pria berpakaian rapi itu pun meletakkan kucing hitam ke atas lantai dan ia langsung mengambil pedang yang diserahkan oleh sang anak.


Anak berambut hitam yang sedang menyeka air matanya itu langsung terdiam mematung ketika sang ayah dengan cepat menggerakkan pedangnya ke dekat lehernya.


Tangannya yang sedang kesakitan terlupakan seketika. Matanya terpaku menatap pria di depannya yang sedang mengedepankan badannya untuk memandanginya.


"Suatu saat, kau akan dibunuh seperti ini kalau bersikap lemah."


Aku tidak akan benaran dibunuh kan...


Ayah tidak akan mungkin membunuhku kan...


Aku harus mengikuti semua yang ayah inginkan...supaya ayah bisa menyayangiku...


***


"Levi. Pas sekali kau datang sekarang."


Selesai mengepakkan sayapnya di udara, sang elang pun langsung bertengger di atas sebuah dinding pendek yang ditaruh berbagai macam vas bunga di sekitarnya.


Tak lama kemudian, keluarlah asap hitam di depan Celeste. Dalam sekejap, muncullah Levi yang berjongkok di atas dinding berukuran pendek itu. Ia menangkup wajahnya dengan sebelah tangannya, memandangi Celeste dari kejauhan.


"Kau lagi bersantai?" Tanya Levi dengan suara yang terdengar datar.


Celeste segera berjalan untuk menghampirinya. Sedikit terkekeh dan berkata, "Hei-Hei. Aku bukannya bersantai. Eh tapi bisa dibilang bersantai sih? Hehehe..."


"Celeste."


Celeste langsung mengerucutkan bibirnya dan bertampang melas. Ia meluruskan rambut panjangnya yang dikuncir. Dengan suara yang diimut-imutkan, Celeste berkata, "Kalau kau seperti ini terus, tak ada cewek yang mau denganmu lho. Kau terlalu serius."


Levi menatap Celeste beberapa lama, mulutnya sedikit terbuka. Sesaat, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit terkejut. Tetapi kemudian ia menutup mulutnya kembali dan mengembalikan ekspresi wajahnya seperti biasa lagi.


"Lalu kenapa? Aku tak butuh perempuan."


Wajah melas Celeste pun berubah menjadi kesal. Matanya sedikit melotot sambil menatap Levi.


"Jarang sekali aku mendengar pria bicara begitu? Bahkan Raja kejam itu pun memiliki anak lho."


"Seorang Raja memang wajib memiliki keturunan. Kalau aku, tidak perlu."


"Hahaha. Aku tak habis pikir tentang siapa sebenarnya ibunya pangeran...?! Masa sih ada yang bisa jatuh cinta pada Raja itu...hihi."


Menikmati sejenak hembusan angin malam, Levi menatap langit-langit dengan wajah yang sendu. Poni abunya dihembus-hembuskan oleh angin.


Celeste yang menatap pemandangan Levi itu sedikit terpukau. Biasanya tampang Levi memang selalu suram dan tak bersahabat. Kebanyakkan orang memang akan takut saat menatapnya. Tapi tepat saat ini, Celeste tak melihat sosok menyeramkan itu dari Levi. Ia berhenti bernapas ketika menatap sosok Levi yang sedang memandangi langit malam. Mata kelamnya terlihat sendu, wajahnya pun terkesan kesepian.


Gadis berambut ungu tersebut kembali bernapas ketika Levi menghembuskan napasnya dengan kasar. Tak juga memalingkan wajahnya dari langit malam.


"Kau berpikir harus jatuh cinta dulu ya baru bisa memiliki keturunan. How naive~"


"Kenyataannya...bukannya seperti itu?"


"Sudahlah. Ini bukanlah hal yang penting untuk dibicarakan. Hal yang ingin kutanya, kenapa kau di sini dan tak mengawal dia?"


Celeste melangkah dan duduk di sisi Levi. Ia pun memutar tubuhnya untuk bisa memandangi langit malam yang dipenuhi dengan bintang. Kakinya yang menggantung pun sedikit ia goyang-goyangkan.


"Sekarang ini, Raja sedang bersama pangeran dan Celeste diusir karena pangeran tak menyukai kehadiran Celeste." Jelas Celeste dengan menirukan nada seperti narator.


***


Glek


Anabelle tak bisa lebih lama lagi menatap sang Raja. Seakan melihat wujud sebuah iblis, sekujur Anabelle tengah dilanda ketakutan yang mendalam.


Saat ini ia sedang berlutut di hadapan ayahnya El. Entah apa yang akan terjadi kepadanya, yang pasti ia sangat merasa tegang karena kehadiran Raja yang terasa begitu nyata.


Namun, tatapannya bergeser ke arah El yang sedang berdiri mendampingi sang pimpinan. El juga sedang menatapnya dengan wajah yang cemas.


Entah mengapa saat mengingat masih ada El di sisinya, Anabelle bisa lebih bernapas dengan lebih lega. Ia percaya pada El. Ia percaya bahwa El akan melindunginya dan...ia tak yakin apakah dirinya bisa melindungi El.


Suasananya begitu hening. Tak ada seorang pun di sana yang berani mengeluarkan kata-kata. Situasi ini diciptakan oleh tak lain dan tak bukan merupakan sang Raja.


Arch telah berdiri di depan sang Raja sambil mengulurkan sebelah tangannya, menunjukkan sebuah sosok pimpinan yang telah duduk di atas singgasana.


"May i present you, the heart of this Avergaille Kingdom, King Alaric the Second." Tutur Arch dengan suara yang lantang dan tegas.


Di samping Anabelle, Mrs. Amadea berdiri dengan sikap yang tenang. Dengan gemulai, ia membungkuk dan sedikit mengangkat kedua sisi gaunnya.


"Salam, yang mulia Raja."


Anabelle yang melihat sikap yang ditunjukkan oleh sang kepala pelayan pun merasa terkagum. Ia pun berusaha untuk menirunya, maka ia berdiri. Tubuhnya langsung membungkuk dan tangannya mengangkat kedua sisi gaunnya itu.


Suasana ruangan kerajaan emas tersebut membuat Anabelle sedikit menyipitkan matanya lantaran silaunya pancaran sinar barang-barang dan lampu di sana. Semuanya...berkilauan dab terasa kuat walau dipegang erat sekalipun. Di istana ini, tak sekalipun Anabelle bisa tak terpukau karena keindahan dan kemewahan tempat ini...


Lagi-lagi, mata Anabelle tertuju pada El. Ia tak terlalu sengaja untuk menatapnya, tapi entah mengapa matanya selalu bergerak untuk menatap El. Itu membuat hatinya...merasa tenang.


Anabelle sedikit tergelak ketika Arch berjalan ke depannya El dan memutuskan untuk berdiri di sana. Menghalangi Anabelle untuk bertemu pandang dengan El.


"Jadi sebenarnya, dirimu itu siapa?" Tanya Raja Alaric sambil melipat salah satu kakinya pada kakinya yang lain.


Anabelle terkesiap. Jantungnya tak bisa berkompromi dengan pikirannya yang menyuruhnya untuk tenang. Raja pasti bertanya padanya kan... Mulutnya terbuka..., ia akan bicara walau tubuhnya tak bisa berhenti gemetar.


"Na-Nama sa...ya... A-Anabelle, yang mulia....."


Mendengar kalimat yang diucapkan Anabelle dengan sangat gagap, kedua mata hitam Raja itu terbuka sedikit lebar.


Mengira bahwa Raja itu akan segera kesal, El langsung berjalan ke depan Arch, lalu menatap ayahnya dengan hormat. Berusaha untuk tetap bersikap tenang, El pun berkata, "Yang mulia. Anabelle memang baru beberapa hari di sini dan belum dilatih dengan cukup. Maka itu sikapnya mungkin tidak seperti yang anda kehendakki..."


Anabelle menaikkan wajahnya, wajah lugunya itu merasa sangat begitu tak berdaya. Apakah El...sedang membelanya di depan ayahnya? Tapi mengapa ia tak seperti bicara dengan ayahnya melainkan seperti sedang berbicara pada atasannya.


Tidak El... Tolong jangan lakukan hal yang dapat membuatmu dalam bahaya... Batin Anabelle dengan wajah yang penuh rasa bersalah.


"Apa kau bisa diam dan tak memotong pembicaraanku?" Tanya Raja Alaric dengan tatapan yang angkuh.


"Aku bukan berniat memotong-"


"Rupanya kini kau berani padaku ya, El?"


"Yang mulia. Ini adalah kesalahan saya sebagai kepala pelayan karena tak bisa mendidik nona Anabelle dengan baik..." Kata Mrs. Amadea dengan wajah yang pasrah.


Melihat kedua orang di sisinya yang mengalami kesulitan, sendirian Anabelle memikul bebannya tersebut. Ini terasa salah... Mengapa ia hanya bisa berdiri diam tanpa bisa melakukan sesuatu...


Dirinya...begitu menyedihkan.


El tak sanggup lagi melawan ataupun bertemu pandang dengan ayahnya. Hatinya menyuruhnya untuk mundur dan menurut saja, daripada ia disiksa lagi... Ia tak mau itu.


Tetapi kemudian seekor anjing putih berlari dari pintu masuk dan menghampiri El.


Charity menjulurkan lidahnya begitu ia berlari. Namun ketika sudah berdiri di sisinya El, lidahnya pun berhenti ia keluarkan.


El menengok ke bawahnya, tersenyum kecil ketika melihat Charity nya yang datang untuk melindunginya sesuai dengan tugasnya.


Charity merupakan satu-satunya hewan yang diperbolehkan untuk keluar masuk di istana. Tentu ia dibersihkan dua kali sehari dan dididik untuk buang air di tempat yang telah disediakan.


Kini, Charity tengah berdiri menghadap sang Raja dengan waswas. Ia terus mengawasinya agar tuannya tetap dalam keadaan baik-baik saja. Seperti biasanya, keberadaan Charity itu menurunkan rasa takut yang dimiliki El.


Ia merasa, Charity akan selalu melindunginya apapun yang terjadi. Sejak dulu, Charity memang ditakdirkan untuk dilahirkan demi melindunginya. Gonggongan Charity waktu itu pun, menyadarkan orang-orang kalau ada bahaya yang menuju pada El.


El mengikuti gestur Charity. Ia pun berdiri tegap menghadap ayahnya. Menatapnya dengan wajah yang tegas.


"Ayah, Anabelle adalah gadis yang tak tahu rumah serta orangtuanya. Aku akan sangat berterima kasih kalau ayah mengizinkannya untuk bisa tinggal di istana Emerald..."


"Saya menolak akan hal yang diajukan tuan muda." Ujar Lev sambil menundukkan kepalanya dengan hormat pada Raja Alaric.


El langsung menoleh pada Lev, memandangnya dengan terkejut. Ia berwajah kalem walaupun sedang menahan kekesalan yang terpendam di dalam hatinya.


Namun ia tetap diam dan menunggu untuk Lev memberikan semua kata-kata yang ingin ia keluarkan.


Dengan jenuh, sang Raja duduk menyandar di atas singgasananya, ia meletakkan siku tangannya pada gagang kursi. Kemudian menempelkan wajahnya pada tangan yang ia kepalkan.


"Berdebatlah sementara di sini aku memerhatikan kalian."


Lev meluruskan tangannya di depan pinggangnya. Merasa bahwa ia berlaku tidak sopan sejak tadi.


"Maafkan saya yang mulia. Saya tidak bermaksud untuk berdebat dengan tuan muda. Tapi menurut saya, nona Anabelle tidak pantas untuk menjadi bagian dari kerajaan anda."


Melihat Raja Alaric yang tetap duduk dengan tenang tanpa bicara sepatah kata pun, Lev pun akhirnya kembali mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.


"Kalau anda berkenan, bolehkah saya menjabarkan dosa-dosa yang dilakukan nona Anabelle, wahai baginda Raja?"


"Katakan."


Seketika di tempatnya El berwajah kalem sambil memasang sedikit senyuman di wajahnya. Berbeda dengan Anabelle. Ia tak bisa menahan ekspresinya itu.


Dosa?


Ya, pasti semua kesalahan-kesalahan yang ia lakukan selama ini disebut dosa ya...


Lev berdeham sebelum ia mengatakan alasan-alasannya. "Beberapa hari yang lalu, nona Anabelle bersikap seperti pengkhianat karena telah menolak atas kekuasaan yang tuan Raja miliki atas semua rakyat. Lalu, nona Anabelle juga memecahkan patung dewi Athena yang difavoritkan oleh yang mulia. Intinya, gadis itu hanya bisa membuat istana anda kotor dan merusakkan fasilitas-fasilitas anda. Dia juga mencurigakan karena identitas dan asal usulnya tidak diketahui, yang mulia."


Raja Alaric menegakkan tubuhnya. Ia melirik Lev dan berkata, "Itu semua yang dilakukan olehnya?"


Jujur saja, selama ini dia sudah tahu semua itu. Apalagi mengenai El yang berusaha untuk menutupi semuanya itu. Tapi sepandai apapun tupai melompat, lama kelamaan dia akan jatuh juga.


"Cukup usir saja dia. Mungkin El hanya sedang bosan hingga mencari mainan baru. Dia hanyalah sebuah lalat yang dengan nakalnya merusak sebuah hidangan. Sebelum dia diusir, telanjangi dan biarkan dia tersesat di hutan."


"Ayah! Kau tak boleh melakukan itu!" Seru El dengan wajah yang geram. Napasnya menderu dengan lumayan kencang. Tatapan matanya terlihat marah bagaikan serigala yang sedang lapar.


"Apa?" Ancam sang Raja sambil menatap El dengan dingin.


"Ayah, tak seharusnya ayah memercayai seseorang yang meracunimu dengan obat tidur sehingga ayah menjadi sulit untuk bangun."


Seketika, jantung Lev terasa berhenti berdetak. Kedua matanya terbuka lebar. Ia menatap El tanpa bisa berkata-kata sedikitpun.


...----------------...


...-End of Chapter 19-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️