
"Kau tak boleh sendirian... Biarkan aku menemanimu. Walau di jurang kegelapan sekalipun, aku tetap akan bersamamu..."
"Aku tak peduli! Mau dia mati atau sendirian pun... Dia, sama sekali tidak penting bagiku."
**
Seharusnya, sekarang ini Raja sudah bangun kan.
El berusaha untuk tetap tenang dan tidak gentar. Namun, hal itu sulit untuk dilakukan. Apalagi, ia malah berpapasan dengan pria yang dia takutkan itu saat sedang ingin mengambil buku dari perpustakaan.
Begitu ia melihat ayahnya hendak berjalan melewatinya, dengan cepat El langsung bersembunyi di balik tembok yang dikelilingi oleh patung emas dan pajangan lain.
Jantungnya berdetak begitu kencang. Sampai ia sendiri pun bingung mengapa ia bersembunyi dari ayahnya sendiri. Lagipula, bukan ia yang meracuni ayahnya kemarin. Seharusnya...dia tidak takut tapi...ia tak punya sedikitpun keinginan untuk berhadapan langsung dengan pria itu. Seharusnya Raja itu mengira ia hanya kelelahan kan...
"Yang Mulia. Kabarnya dua hari lalu tuan muda sempat hampir tenggelam. Apakah anda tak berniat mengunjunginya?"
El terdiam sembari menyimak pembicaraan yang terjadi di depannya. Sambil tetap menjaga posisinya, wajahnya terlihat tegang. Sedangkan di tempat lain, mimik wajah Raja itu terlihat dingin.
"Tidak."
Arch, sekretaris Raja tersenyum canggung sembari tetap mengikuti di belakang Raja.
"Tenggelam ya. Biar dia mati sekalian saja."
El terkesiap. Mati ya... Inginnya sih begitu, tapi ada misi yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
Firasat El menyuruhnya agar segera pergi dari tempat itu. Hatinya mengatakan ia akan lebih sakit hati lagi jika terus mendengarkan pembicaraan yang seharusnya tak ia dengarkan. Ia memejamkan matanya beberapa saat. Masih lebih baik jika musuhnya yang mengatakan hal demikian, tapi malah satu-satunya keluarganya lah yang melontarkan kalimat kejam seperti itu.
Ia meringis sembari melangkah ke sisi yang berlawanan dari sisi ayahnya berjalan. Memangnya, ada anak yang lebih menderita daripadanya ya?
Sebelum benar-benar menghilang dari sana, El lagi-lagi mendengar suara ayahnya.
"Sepertinya aku benar-benar lupa waktu... Sungguh ceroboh aku bisa beristirahat seharian kemarin."
"Tak apa, yang mulia kan tubuhnya masih muda. Tidak bagus jika anda terlalu memaksakan diri anda."
***
...-Felleschrya-...
...-10:11 AM-...
Pagi hari itu, matahari yang menyinari Felleschrya membuat suasananya menjadi hangat. Namun, Pohon-pohon yang ada di sana menutupi sebagian sinar matahari, membuat kondisinya tak sepenuhnya terang. Angin-angin yang meniupi dedaunan membuat siapapun yang berada di sana mendengar suara gemerisik daun. Anginnya sejuk, bertiup dengan irama yang seperti melantunkan nada.
ini adalah satu-satunya Anabelle bersinggah sehari-hari. Ia tak merasa seperti dikurung atau apapun di sana. Karena pemandangannya pun juga sangat menakjubkan. Wilayah istana Emerald juga sangat luas untuk dijelajahi, walau tak bisa sembarangan.
Terlepas dari suasana yang menyejukkan hati, kerisihan yang dirasakan Anabelle pun tak bisa berbohong. Semua hal yang El tak katakan langsung kepadanya...terus berlinang di kepalanya. Mengenai kehadirannya yang mengganggu, mengenai hubungan El dengan ayahnya dan mengenai kepergian Zora...
Rasanya, kehidupan El tak sesimpel yang Anabelle kira sebelumnya. Ia kira El adalah anak yang sepertinya seumuran dengannya. Maka kehidupannya pun selayaknya anak biasa saja. Tapi, kenyataannya tak seperti itu.
"Sedang memikirkan apa?" Tanya El yang entah darimana muncul di samping Anabelle. Membuat Anabelle terkejut karena tak menyadari hal itu lantaran sibuk melamun.
"El." Sapa Anabelle sambil tersenyum.
Mata El teralih pada gelang platina yang terlingkar di pergelangan tangan Anabelle. Itulah benda yang membuat El bisa mengetahui nama Anabelle saat gadis itu pertama kali datang.
Namun, El menyadari bahwa tak hanya ada nama yang tertera di sana.
"Ann, sepertinya ada tulisan lain pada gelangmu."
"Ah?"
Anabelle pun langsung menatap gelangnya, ia pun sedikit mengangkatnya agar El bisa melihatnya lebih jelas. Kemudian Anabelle setengah memutar gelangnya agar barisan tulisan lain bisa terlihat.
1986
"El, ada apa di sana?"
Wajah El sedikit kaget ketika membaca tulisan tersebut. Ia menatap Anabelle dan berkata, "Ann..! Ternyata usiamu tiga tahun lebih muda dariku."
"Wa-Wah... Ka-Kakak?" Tanya Anabelle dengan tampang polosnya.
Padahal baru saja kemarin El menjadikan Anabelle sebagai adiknya secara tak langsung. Namun, ternyata betul ya usianya lebih muda beberapa tahun dari El. Walau sebenarnya Anabelle tidak mengerti sih, bagaimana El bisa tahu hal itu hanya dengan melihat angka yang tertulis di gelangnya.
El tertawa kecil dan menyahut, "Panggil seperti biasa saja Ann. Aneh sekali rasanya jika aku dipanggil itu."
"Ba-Baiklah..."
"Ann, apa kau ingin bertukar suatu rahasia denganku?"
"Ra-Rahasia?"
Anabelle sedikit ternganga. Memangnya ia mempunyai rahasia apa yang bisa diceritakan? Ia merasa hidupnya hanyalah sebuah kehampaan yang tak berujung habisnya. Meski sekarang ia sudah bertemu dengan malaikatnya, hidupnya pun tetap saja tak berguna.
"Tapi El...sejujurnya a-ku tidak pu-punya rahasia apapun untuk diceritakan..."
"Ada lho Ann."
Anabelle langsung menoleh, menatap dengan penuh tatapan yang bertanya-tanya.
"Dari awal saja, Ann sudah sangat misterius. Kenapa kamu bisa sendirian, tak ingat nama maupun tempat tinggalmu... Pasti, ada sesuatu tentang orangtuamu kan?"
Sesaat, Anabelle terdiam kaku. Suara yang terdengar hanyalah suara gemerisik daun dan juga suara angin yang sesekali bertiup.
"Ah, aku minta maaf jika aku terlalu lancang."
"Tidak El..."
Walau Anabelle baru bertemu dengan El beberapa hari, entah mengapa ia sudah memercayai El. Terlepas dari isi hati dan tujuan El yang sebenarnya, Anabelle merasa El akan selalu ada untuknya sebagai kakaknya. El...adalah malaikat yang tak bisa ia temukan lagi.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk menceritakan kehidupan sebelum ke Avergaillenya kepada El. Mulai dari ia yang ingat terakhir kali melihat sinar matahari adalah saat berusia empat tahun. Setelah itu, ia hanyalah berbaring di atas kasur kumuh yang baunya sudah tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Sekalinya diberikan makanan pun, hanya sisa-sisa dan makanan busuk yang tak layak dikonsumsi. Semua itu, dilakukan oleh orang yang merupakan ibu kandungnya sendiri. Walaupun sebenarnya Anabelle tak yakin, ia itu benar ibu kandungnya atau bukan.
Biarpun begitu, ia masih mengingat sosok ibunya di mimpinya yang seperti malaikat. Mungkin saja kan, dahulu memang ibunya seperti itu sosoknya. Ia sendiri pun tak tahu mengapa ibunya menjadi seperti itu. Atau jangan-jangan...roh jahat yang mengambil sosok itu dari Anabelle...
Usai mendengar sepanjang cerita Anabelle yang dia ceritakan dengan lancar tanpa ada hambatan, El malah tertawa penuh kepedihan. Tindakan El tersebut membuat Anabelle melongo tak mengerti. Apakah El benar-benar tertawa setelah mendengarkan jalan ceritanya yang penuh dengan kesuraman, atau mungkin...
"Tak kusangka Ann. Nasib kita pun sama."
"E-El..."
Anabelle seketika berempati karena El berbicara dengan ekspresinya yang seperti riang, namun suaranya terdengar parau.
El, bernasib sama seperti Anabelle? Bagaimana itu mungkin?
Dari kehidupan keduanya saja sudah jauh berbeda kan. Anabelle adalah gadis menyedihkan yang tak terurus, sedangkan El adalah seorang anak sempurna yang penuh kebahagiaan.
Dengan wajah tegas, Anabelle langsung memegang pundaknya El. Lalu ia berkata, "El, apa...ka-kau selama ini mengenakan topeng kebahagiaan yang bukan milikmu...?"
Mata biru El membesar. Ia terkejut karena tindakan tiba-tibanya Anabelle. Tetapi yang membuatnya lebih terkejut adalah perkataan yang dilontarkan Anabelle kepadanya.
Topeng Kebahagiaan?
Memangnya, selama ini ia memakai topeng?
Tidak! Semua yang ia lakukan adalah tulus untuk orang lain.
El mendengus, merasa jengkel. Tapi kemudian ia tersenyum manis pada Anabelle.
Anabelle merasa gugup. Ia tiba-tiba merasa sangat malu karena bersikap seenaknya begini pada El.
Gadis itu pun langsung melepaskan tangannya dan kembali menjauhkan tangannya dari El.
"Maaf El, aku tidak...bermaksud kok."
Anabelle menempelkan kedua ibu jarinya dengan gugup. Bodohnya ia karena menyimpulkan El seperti itu hanya karena perkataan El yang menyatakan nasibnya sama dengan Anabelle. Anabelle mengerucutkan bibirnya. Padahal bisa saja kan...hal yang dimaksud El adalah kedua orangtuanya yang sama-sama tidak lengkap. El bilang ibunya sudah tidak ada di dunia ini, ayahnya Anabelle pun juga... Ia sering mendengar ibunya mengoceh tentang ayah iblis yang meninggalkan mereka di dunia fana ini.
El tersenyum dan berkata, "Jadi, ada hal dari diriku yang kau penasaran, Ann?"
Anabelle sedikit tergelak. Apa boleh ia menanyakan semua dari El yang ia sangat tidak mengerti? Kalau bisa, ia sama sekali tak ingin menyinggung perasaan El. Tetapi El bilang, mereka ini sedang bertukar rahasia kan.
"Aku...sebenarnya bingung kenapa El terus memanggil ayahnya El saat tenggelam dua hari yang lalu... Aku juga, tidak mengerti mengapa El menyembunyikan mata indah El yang lain itu... Dan juga..."
Anabelle pun berhenti bicara seketika. Ia ragu untuk melanjutkan ucapannya tersebut. Saat ia menoleh, El sedang memandangi Anabelle dengan wajah yang terheran-heran.
"Indah?"
"Ya El... Sejak pertama kali bertemu dengan El di dekat air terjun, aku selalu mencuri pandang untuk melihat mata El yang menyerupai warna air di danau Felleschrya..."
"Ben...arkah?"
Kedua alis Anabelle sedikit mengerut. Mengapa El tak merasa bahwa matanya sendiri indah?
Padahal, manik Anabelle sendiri hanya berwarna abu-abu yang terkesan kelam. Namun, manik El berwarna biru terang, bercahaya di tengah kegelapan. Apa, mata malaikat memang warnanya seperti itu?
El masih saja terdiam. Ia memegangi sebelah matanya dengan tak percaya. Sejak dulu, ayahnya selalu mengatai kalau matanya sangatlah jelek dan tak layak untuk dipandang. Makanya...El harus selalu mengenakan penutup yang sebenarnya sangat tak nyaman untuk dikenakan. Melihat dunia hanya dengan satu mata, tidaklah menyenangkan.
Bahkan, saking buruknya matanya itu, ayahnya pernah mengancam ingin mencangkok bola manik tersebut. Akan tetapi saat ini seseorang mengatainya indah, entah mengapa El pun merasa begitu aneh.
Anabelle memandang El dan memegang kedua lengannya, memaksa El agar bertatapan dengan El.
Kemudian Anabelle memastikan lagi penglihatannya pada satu manik El yang terlihat. Tak lama kemudian, ia pun berkata, "Benar kok El, a-aku tidak berbohong saat mengatakan mata El sangat indah. Makanya...aku berharap bi-bisa melihat keduanya..."
El tersenyum sarkas. Ia mengulurkan tangannya dan melepaskan tangan Anabelle dari lengannya. Ia memasang senyumnya, mengabaikan jantungnya yang saat ini berdetak sangat kencang.
"Kau tak lagi bisa memujiku seperti itu kalau aku menunjukkan mata kiriku."
Anabelle sedikit membuka mulutnya. Merasa bingung di hadapannya El. Memangnya, hal apa yang bisa menghancurkan keindahan sebuah mata? Asalkan mata itu tak kelam dan berkantung sepertinya, ia anggap pasti warnanya indah.
"Aku pasrah karena kau tak mungkin mengerti, Ann." Kata El dengan senyuman miring.
Mata Anabelle berada pada pipi kemerahan El yang sedikit tembam. Lalu tatapannya terangkat pada penutup mata El yang perlahan-lahan dilepaskan oleh El. Hati Anabelle entah mengapa merasa begitu antusias saat ia akan bisa melihat pasangan permata yang selalu bersembunyi.
Semua ekspetasi Anabelle membelok begitu saja karena bukannya sebuah manik biru lainnya yang terlihat, namun sebuah manik berwarna emas yang selama ini bersembunyi. Warna emasnya begitu pekat, menyerupai batu amber. Juga menyerupai daun musim gugur. Terlalu cantik, sampai Anabelle pun terus memandanginya.
Anabelle sedikit tergelak tak percaya. Matanya terpaku pada manik kuning emas yang selama ini ditutupi oleh El.
"Mataku itu tidak normal Ann. Jadi kau tidak bisa-"
Anabelle malah mendekati El dan menangkup kedua pelipis El dengan kedua tangannya.
"A-Apa El yakin kalau ini bukan per-permata? Ini...milik asli El sejak lahir!?"
El sedikit mendongak, merasa tidak nyaman karena jarak Anabelle tiba-tiba terlalu dekat dengannya. Ia terheran-heran di tempatnya sambil menahan tubuh Anabelle.
"Permata? Sejak lahir, aku memang menderita kelainan warna mata seperti ini."
"Unik...sekali El? Bagi Anabelle, mata El menyerupai permata dan tak mungkin ada yang memiliki sama seperti El...! Indahnya...andai aku memiliki mata seperti El..."
Kedua manik El tergelak. Mendengar respon yang tak El duga sebelumnya,...menggerakkan hatinya sesaat. Entah sudah keberapa kalinya El teringat cercaan ayahnya mengenai kondisi maniknya yang cacat sebelah...
Ternyata, begini ya rasanya melihat dunia dengan kedua mata yang semua orang lakukan. El tersenyum penuh haru. Menatap Anabelle seperti ini, tidak buruk juga. Ekspresi polosnya lucu untuk dilihat.
"Ehem...?"
"E-Eh, aku minta maaf!"
Anabelle begitu getir saat di balik rerumputan terdapat Lev yang sedang berdiri tegap, menatap mereka dengan tajam.
El langsung mengambil kembali penutup matanya. Ia berdiri dan menghadap Lev. Seketika, Lev terkesiap saat bertatapan dengan El. Ini bukan pertama kalinya ia melihat manik unik yang dimiliki El... Paduan emas dan biru itu... Membuat sebuah kenangan terputar kembali di otaknya.
"Jangan marahi Ann. Aku hanya membukanya karena tadi mataku gatal, Lev. Aku akan memasangnya kembali."
Tidak, bukan karena itu tuan muda...
"Jangan marahi Ann?" Ulang sebuah pria yang tiba-tiba melangkah menghampiri Lev dari tempat lain.
El yang sedang akan memasang kembali penutup matanya, tangannya terhenti seketika. Seluruh tubuhnya pun dapat kompak bereaksi getir saat mendengar suara dalam pria tersebut.
"Yang mulia." Sapa Lev sambil membungkuk ke arah pria tersebut.
"A-Ayah..." Kata El menundukkan kepalanya ketika sang Raja akhirnya muncul di depannya. Ia berdiri dengan wajah yang angkuh.
Raja gagah itu mengenakan sebuah seragam putih bersih yang tersambung sebuah jubah di belakangnya. Ia menyingkirkan poni rambutnya dan menatap kedua anak kecil di depannya. Tatapannya sedingin es, bentuknya setajam silet.
Anabelle langsung ikut membungkuk di sebelahnya El. Setelah El memasang kembali penutup matanya, ia mengulurkan tangan kirinya di dekat pinggang Anabelle. Melarang ayahnya untuk mendekatinya.
"Ayah aku...baik-baik saja. Bagaimana dengan-"
"Jangan tunjukkan lagi, kecacatan matamu itu."
"Baik..., maafkan aku."
El menunduk dengan murung. Wajahnya menjadi suram seketika. Bagaimana ia bisa lupa? Dia tak akan mengkhawatirkan kondisinya. Tadi pagi saja, dia bicara mengharapkannya untuk mati. Bisa-bisanya dia mengira kalau Raja itu datang ke Felleschrya karena mengkhawatirkannya.
Setelah Anabelle mencuri pandang menatap El, ia menaikkan wajahnya. Matanya bertemu dengan wajah ayahnya El yang sangat tidak bersahabat. Jantungnya memompa darah ke seluruh tubuhnya dengan kecepatan yang tak main-main. Inilah pertama kalinya Anabelle melihat sosok ayahnya El yang selama ini ia takuti...
Pria ini...membuat sosok El yang hangat dan ceria menjadi suram seketika.
Dialah yang namanya El panggil-panggil dengan ketakutan. Dia jugalah yang membuat Lev mengusirnya. Dan...pria di depannya inilah yang membuat El melihat dunia hanya dengan satu mata. Sosok menyeramkan Raja Avergaille mampu membuat bulu kuduk Anabelle berdiri. Ia menurunkan kembali wajahnya, menolak untuk menatap ayahnya El lebih lama lagi...
Apakah yang dimaksud El mengenai bernasib sama, adalah sosok orangtuanya yang sama-sama menakutkan...?
"Aku penasaran, dengan gadis yang kau lindungi seperti itu, El."
Saat menyebutkan nama El, Raja sedikit menekankan suaranya.
Wajah Raja ekspresinya tak berubah. Dengan wajah datar, berniat berbalik untuk kembali ke istananya.
"Ikut."
"A-Ah?!" Gumam El yang secara refleks ia keluarkan.
"Tak dengar?" Tanya Raja Alaric sambil melirik El dan menghujaminya dengan tatapan yang dingin.
"De-Dengar... Baiklah, yang mulia..."
***
...-End of Chapter 18...
Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️