Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
2| Silenced



Sang gadis memegang kepalanya yang terasa nyeri saat ini. Sepertinya ia terlalu banyak berpikir dan waktu tidurnya kurang akibat sibuk mengkhawatirkan banyak hal.


Perutnya juga terasa mual. Ia sangat ingin memuntahi semua isi perutnya ,tapi sekarang dia belum bisa. Dia belum bisa memuntahkan isi perutnya saat ini.


Dia hanyalah anak berumur sembilan tahun ,sungguh miris jika mengetahui bahwa ia mengalami keracunan makanan.


Ya ,terima kasih untuk apel yang busuk yang dia makan ,tubuhnya jadi terasa sangat lemas sekarang ini.


Gadis tersebut hanya bisa berbaring seperti biasanya. Tetapi kali ini dia berbaring dengan wajah yang pucat dan lemas. Seperti tidak mampu untuk melakukan apapun juga. Wajahnya juga keringatan akibat udara panas  yang sama sekali tidak ada hawa di ruangan tersebut. Ia meringis dan mengeluarkan air matanya dengan sedih.


Di sisi lain ,Sally menyambut petugas yang berasal dari komunitas perlindungan anak yang datang tanpa diundang ke rumahnya.


Petugas yang bertugas mulia untuk menjaga kesejahteraan anak tersebut menaruh tangan kanannya di dada. Ia sedikit membungkuk di hadapan Sally.


"Maafkan jika kedatangan saya menganggu ketenangan anda."


Sally tak tahu harus mengatakan apa pada petugas kehormatan tersebut. Dia hanya memasang senyum kecil di wajahnya.


"Maksud kehadiran saya ke sini adalah ,saya telah mengetahui bahwa anak anda tidak menjalani sekolah di umur yang seharusnya."


Sally tergelak mendengar pernyataan darinya. Kemudian ia menunduk dengan muram ,lalu langsung menitikkan air matanya dengan sedih. Membuat pria di depannya juga larut dalam kesedihan yang mendalam saat melihat perilaku Sally yang seperti tertimpa musibah yang berat.


"Saya juga ingin...menyekolahkan dia. Tapi selama beberapa tahun ini ,dia terkena penyakit yang tak kunjung sembuh. Mana bisa dia sekolah dalam kondisi seperti itu."


Pria itu sedikit terkejut. Kasihan sekali seorang gadis kecil mengalami hal seperti itu. Tapi ,dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri gadis yang dicarinya tersebut.


Seolah membaca pikiran pria itu ,Sally langsung menawarkan pria itu untuk menengok anak gadisnya.


Tawaran Sally disambut dengan anggukan sang pria jangkung. Pria itu mengangguk sambil memasang senyum kecil. Sally pun mengajaknya untuk mengikutinya ke depan kamar gadis kecilnya. Mereka pun sampai di depan pintu si gadis malang.


Pria itu sangat merasa heran dan curiga saat dilihatnya Sally membuka kunci gembok kamar anaknya. Jika itu anaknya sendiri ,lalu mengapa kamarnya harus digembok seperti itu.  Aneh ,rasanya seperti sedang mengurung hewan buas yang bisa menerkam kapan saja. Tapi ,anak sendiri ? Apa tidak berlebihan...


Sembari membuka kunci kamar ,Sally menoleh pada pria itu dengan ekspresi tenang.


"Saya menguncinya karena pintunya rusak. Jika tidak digembok ,akan terus terbuka."


"Oh begitu."


Saat pintu dibuka ,mereka mendapatkan bahwa seorang gadis tengah berbaring dengan wajah yang pucat tak berdaya.


Pria berbaju seragam itu langsung merasa prihatin melihat kondisi anak tersebut. Ia melihat lagi ke sekeliling kamar itu. Tampak usang. Selimut yang dipakai gadis itu juga terlihat sangat kotor. Tercium bau aneh dari ruangan tersebut.


Lantainya terlihat bersih ,tetapi barang-barang yang ada di ruang kamar tersebut terlihat kotor dan tidak terurus walaupun di sana hanya ada minim barang. Hanya ada barang seperlunya saja ,seperti ranjang dan lemari kecil. Sebenarnya...mengapa keluarga ini bisa menjadi seperti ini ?


Bisa-bisanya seorang gadis kecil bisa tinggal di tempat sekumuh ini... Tentu keberadaan sarang penyakit tidak dapat diragukan lagi kan.


Gadis itu sedikit membuka kedua matanya. Ia melihat pria berseragam kehormatan itu di depan pintunya. Berdiri di sebelah ibunya.


Hatinya merasa lega saat melihat ada orang datang ke rumah untuk melihatnya. Mungkin saja pria itu bisa menolong dirinya.


Ia sangat hendak bicara ,tapi kondisi tubuhnya sekarang ini sangatlah lemah.


Hal yang lebih buruk terjadi menimpa gadis itu. Perutnya yang sedari tadi terasa mual serta bergejolak benar-benar akan meluncur keluar semua isinya.


Akhirnya ia terpaksa bangun dengan tubuh lemasnya sambil menutup mulutnya ,dia menunduk ke sudut kamarnya paling ujung yang berada di depan kasurnya. Lalu ia memuntahkan semua isi perutnya di lantai tersebut. Ia terbatuk-batuk usai seluruh muntahannya keluar dari mulutnya.


Sally menarikkan sebelah kanan bibirnya ,ia sedikit menyeringai tanpa diketahui pria di sebelahnya. Merasa semua hal ini sempurna sesuai dengan rencananya.


"Astaga !"


Sally langsung menghampiri gadis itu dengan khawatir. Ia mengusap-usap punggungnya dengan khawatir. Lalu ia menoleh pada pria berseragam itu.


"Oh Lord ! "


"Maafkan anak saya yang dengan tidak santunnya memuntah di hadapan anda." Kata Sally dengan wajah khawatirnya yang ia buat-buat.


"Saya tidak merasa terganggu. Malah saya sungguh prihatin melihatnya."


Yang pria katakan itu memang benar. Di raut wajahnya terlihat sikap kasihan melihat penderitaan gadis itu. Tangannya sedikit menutup mulutnya ,masih tidak bisa menerima pemandangan yang ia lihat dari sebuah keluarga kecil yang malang.


Gadis itu kembali berbaring di atas kasurnya yang usang dengan mulut yang kotor di sekitarnya karena terkena  noda sisa muntahannya barusan.


Sally menatapnya dengan tajam. Seperti ia benar-benar akan menghukumnnya dengab keji apabila gadis kecil tersebut melakukan sesuatu di luar kehendak Sally.


Gadis kecil malang itu sangat ingin berbicara yang sejujurnya kepada pria itu mengenai kondisinya sekarang yang menyedihkan. Ia ingin sekali pria itu menolongnya. Dengan pertolongan pria ini ,ia pasti bisa merasakan udara luar kan. Ia pasti akan diberikan makanan yang layak untuk dimakan kan ,bukan seperti sekarang ini.


Tapi ,sayangnya saat ini dirinya terpaksa bungkam. Tubuhnya terasa benar-benar lemas. Dia tak punya sama sekali energi untuk bicara. Perutnya terasa bergejolak. Sekujur tubuhnya merasakan penyesalan yang mendalam karena mempunyai tubuh lemah seperti itu. Kalau saja ia bisa lebih kuat dan kebal ,ia pasti bisa melepaskan diri dari penderitaan ini !


Hingga akhirnya ia terpaksa untuk menutup matanya saat yang terakhir kali ia lihat adalah wajah ibunya yang datar menatapnya.


***


Gadis dengan rambut cokelatnya yang tak terurus itu merasa dirinya berada di alam dunia mimpi. Ia menduga dalam hatinya ,bahwa ini adalah pecahan dari ingatannya yang hilang.


Tak ada kekejian di wajahnya ,hanya ada kehangatan. Senyumnya tak lagi terlihat mengerikan ,senyumnya terkesan tulus padanya.


"Dear ,kau tahu ,ibu memercayai malaikat. Malaikat akan menolong kita yang kesusahan. Sosok malaikat..."


Dia menarikkan senyumnya lebih lebar. "You'll find it soon."


Lalu ibunya memegang rambutnya dan membelainya dengan lembut. Senyum masih tetap melekat di wajahnya yang putih. Saat itu juga ,ibunya mendekat dan bersiap untuk memeluk gadis kecilnya.


Tetapi di saat itu juga ,semuanya menghilang dan gadis itu merasakan kembali kehampaan dalam bayangannya.


***


Tidak !


Dia tidak ingin sadar dari mimpinya. Jika ia kembali sadar ke dunia nyatanya ,ia akan kembali menemukan ibunya yang keji terhadap dirinya. Ia akan diberi makan makanan yang busuk lagi.


Dia akan kembali dicambuk di punggung belakangnya apabila ia melanggar segala yang ibunya perintahkan kepadanya. Ia sangat takut akan hal itu. Bahkan setelah beberapa kali mengalami hukuman yaitu dicambuk ,sang gadis masih tidak bisa menyesuaikan diri dengan cambukan tersebut. Saat melihat sebuah ikat pinggang yang digenggam oleh ibunya ,hatinya masih saja merasakan ketakutan yang amatlah besar. Tubuhnya masih saja bergetar hebat.


Ibu di dalam mimpinya tersenyum hangat padanya. Dia tidak menyeringai maupun tertawa seperti iblis. Ibunya juga membelai rambutnya dengan lembut. Saat dibelai ,ia merasakan kasih sayang ibu yang sesungguhnya. Kasih sayang yang membuat dirinya merasakan kehangatan.


Mimpi yang sangat indah. Sejauh ini ,mimpi inilah yang paling indah dialami olehnya. Bukan ,inilah mimpi pertama yang dialami oleh gadis malang tersebut selama ini. Ia tidak tahu apakah itu benar-benar pecahan ingatannya yang muncul.


Mimpi pertamanya disambut dengan sangat indah. Benarkah...ini wanita yang sama dengan yang selalu mencambuk dirinya ?


Tetapi ,mengapa saat berada bersama orang ini membuat si gadis tersenyum manis. Belaian dan senyuman ibu di mimpinya membuat ia terpukau. Ia tidak lagi mempunyai keinginan untuk kembali ke kehidupan nyata. Bersama ibu di dunia mimpi ini sudah jauh dari kata indah ! Tidak lagi ada alasan untuk kembali kan...


Tetapi ,takdir berkata lain. Takdir tidak mengizinkannya untuk mengalami suasana hangat tersebut lebih lama dari saat itu. Waktu bahagia di dunia mimpinya ,sudah berakhir.


Dengan perlahan ,ia membuka kedua matanya. Ia menolehkan wajahnya. Terdapat ibunya yang tengah duduk dengan kedua lutut terangkat di lantai. Ia tengah memainkan rambutnya ,menarik helai demi helai hingga rontok semua dan berceceran di lantai.


Gadis itu terkejap saat ibunya menggerakkan kepalanya dengan cepat dan memandangnya. Wajahnya mengerikan. Kantung matanya terlihat tebal. Bibirnya kehitaman ,terdapat luka di kedua ujung bibirnya.


Terdapat sejumlah uang di sisi kanan dan kirinya yang bertumpuk-tumpuk.


"Pria itu...memberikanku segini banyak untuk merawat anak jalang sepertimu."


Gadis kecil itu tergelak. Ia tak tahu apa arti dari kata ungkapan yang ibunya torengkan padanya. Tetapi ,entah mengapa saat mendengar kata itu hatinya terasa begitu sakit dan pedih.


Tubuhnya lemah dan terasa sakit. Sudah seharusnya ibunya itu merawatnya kan supaya dia tidak merasakan sakit lagi.


Tapi ia tak berpikir dirinya akan dirawat. Ibunya yang keji tak mungkin sudi membawanya ke rumah sakit dan mengeluarkan biaya mahal.


Sosok malaikat


Ia berandai-andai. Seperti apakah sosok itu ?


Apakah sosok malaikat adalah seperti peri bersayap yang memancarkan terangnya. Wajahnya bersinar ,memasang senyum bahagia yang membuat siapapun yang melihatnya pasti terpana.


Hanya ingatan itu yang terbayang di kepalanya. Hanya ingatan mengenai ibunya yang menyayanginya bagaikan malaikat yang terngiang di kepalanya.


Wajahnya sama ,tapi kenapa perlakuannya berbeda ?


Di mana ibunya yang seperti malaikat itu padanya dahulu ?


Air mata gadis itu menitik. Ia mengerang saat ibunya sudah tiba di dekatnya sambil menggenggam ikat pinggang.


"Berlutut di atas kasurmu !" Ujar Sally dengan suara serak parau.


Gadis kecil tak berdaya itu memejamkan matanya ketakutan. Ia menggeleng-gelengan kepalanya dengan kencang.


"Tolong...ampuni atas apapun kesalahanku."


"Kubilang berlutut ,jalang !"


Dengan terpaksa ,gadis kecil tersebut mendudukkan tubuhnya dan duduk di atas kakinya yang berlutut.


Ia menangis kejar saat cambukkan telah mengenai lengan kanannya. Ia menjerit kesakitan. Lalu ibunya tersebut langsung membungkam mulutnya dengan kain sehingga jeritannya tersebut hanya terdengar menjadi sebuah suara-suara rengekkan kecil. yang telah teredam.


Matanya menunjukkan rasa kepedihan yang mendalam. Hanya terpejam menahan sakit dan air mata yang terus mengucur. Anak kecil sepertinya sungguh tak mampu menahan cambukkan yang tak henti-hentinya dilontarkan pada tubuhnya.


Mengapa dia harus dipukul seperti ini atas kesalahan yang dirinya sama sekali tak ketahui ?


Cambukkan ini seperti hukuman untuk narapidana yang membuat kesalahan keji dan di luar nalar manusia. Tetapi hukuman cambukkan ini malah diberikan kepada gadis mungil sepertinya.


Lantas ,gadis kecil itu hanya bisa menahan pedih sampai beberapa waktu sebelum dia terkapar tak berdaya dengan memar di sekujur tubuhnya.


***


...-End of Part 2-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️