Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
5| Too Kind



Anabelle sedikit terkejut saat ia mengetahui namanya. Dia pun mengejakan ulang namGadis yang akhirnya mengetahui namanya itu merasa heran dan tidak mengerti mengapa dia memiliki nama seperti itu hanya setelah diberitahu oleh El.


"A...nabel...?"


El mengangguk semangat. Senyumannya seindah sorotan matahari.


"Iya. Anabelle Fredella !"


El pun berpikir seketika. Ia memegang dagunya menggunakan jari telunjuknya dan menyentuh-nyentuh dagunya perlahan. Dia pun tersenyum ,lalu memerhatikan Anabelle dari puncak kepala hingga ujung kakinya.


"Namamu indah lho ,Anabelle. Anna dalam bahasa Ibrani itu anggun ,sedangkan Belle itu cantik. Namamu cantik ya ,Anabelle."


Gadis yang akhirnya mengetahui makna dari namanya tersebut merasa heran dan tidak mengerti mengapa dia memiliki nama mewah seperti itu. Namanya memiliki makna anggun dan indah , tetapi memangnya...itu pantas dengan dirinya ?


El tersenyum sambil menatap wajah Anabelle. Sepertinya paras dia memang cantik seperti namanya. Hanya saja ,dia belum terawat dan banyak tanda-tanda kemerahan di wajahnya.


"Aneh sekali ya. Aku belum pernah menemukan seseorang yang tidak tahu namanya sendiri sebelumnya."


Anabelle terdiam kaku. Dia juga merasa dirinya sangat aneh dan tidak seperti anak gadis pada umumnya. Dia tidak pernah mengetahui namanya karena ibunya tidak pernah memanggil dia dengan namanya. Ibunya selalu menggunakan kata-kata ungkapan yang tidak begitu dia mengerti apa maknanya. Tapi ,kata ungkapan tersebut membuatnya hatinya seperti diiris-iris saat mendengarnya. Jadi ,wajar saja jika El menganggapnya aneh.


Saat El kembali memain-mainkan dedaunan yang ujungnya sedikit menyentuh keningnya sebelum terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.


"Tuan muda El ! Ternyata anda ada di sini."


El dan Anabelle sama-sama menoleh pada orang yang tiba-tiba datang ke sana. Seorang pria berambut putih dan mengenakan seragam pelayan menghampiri mereka. Tubuhnya jangkung ,serta kakinya jenjang.


Anabelle terdiam. Bukankah tuan merupakan kata yang biasanya digunakan untuk memanggil seseorang yang dihormati...?


Tetapi ,pria dewasa ini menghormati El yang tampaknya usianya jauh lebih kecil dibandingkannya ,memangnya bisa begitu ya...?


"Lev ,ada apa ?"


Pria yang dipanggil dengan Lev oleh El itu membungkukkan badannya.


"Saya mencari anda karena sejak tadi anda tidak kembali juga tuan muda..."


El menghela napas sejenak sebelum membalas perkataan Lev.


"Aku bukan anak kecil Lev. Kau tidak perlu mencariku segala." Kata El dengan wajah yang tidak senang.


Lev tersenyum canggung ,ia sedikit bingung. Dia membatin ,anda jelas masih kecil ,tuan muda...


Jika seseorang baru berusia dua belas tahun ,tentu saja dia masih anak kecil kan. Tapi Lev tidak bisa menganggap El sebagai anak kecil yang biasa. Otaknya saja sudah sangat jenius di usianya yang masih sangat dini. El sudah mampu menguasai lima bahasa asing. Dia termasuk anak yang dapat belajar dalam waktu yang cepat. Pikirannya juga luas dan tidak tertutup. Lev sangat kagum ,ia juga bangga karena bisa melayani anak seperti El.


"Iya ,saya hanya mengkhawatirkan anda kok, tuan muda."


Lalu Lev menatap seorang anak perempuan yang berdiri di dekat El. Ini gadis yang dibawa oleh El dua hari yang lalu di kala malam.


Lev tersenyum sambil menatap El. Dia berkata ,"Oh ya ,Anda sudah selesai bercakap dengan anak ini ? Kalau begitu sudah saatnya untuk memulangkan dia ,tuan muda El."


"Ahh ,itu bagaimana ya Lev..." Keluh El dengan kebingungan di tempatnya. Dia pun menggaruk-garuk pelipisnya dengan ragu.


"Bagaimana ya Lev. Anabelle ini bahkan tidak tahu orangtuanya dan juga rumahnya. Tadinya pun dia tidak mengetahui nama sendiri jika aku tidak membaca gelangnya."


Lev sedikit memiringkan wajahnya. Alisnya mengerut.


"Lalu mengapa tuan muda ? Ini bukan sesuatu yang perlu kita urusi... Tugas anda pun sudah cukup sampai di sini ,hanya meminjaminya tempat untuk beristirahat sampai ia terbangun."


Anabelle lagi-lagi sedikit menggigil saat tiba-tiba angin menderu dengan lebih kencang. Dia mengangguk-ngangguk dengan wajah yang sedih. Perkataan pria itu memang benar. Dirinya yang tersesat pun sebenarnya bukan urusan El kan. El tidak perlu terlibat dengan urusan Anabelle sendiri.


Dia diajak bicara dengan ramah ,diberikan senyuman hangat dan diberi lihat pemandangan indah bak alam luar yang tidak pernah bisa Anabelle jamah sebelumnya pun ,sudah lebih dari baik bagi Anabelle. Sudah benar-benar menyerupai dunia mimpi yang indah bagi Anabelle. Dia sangat berterima kasih pada El ,satu-satunya sebab dia dapat merasakan hal baik pada hari tersebut.


Jika dia harus pergi sekarang pun ,dia akan menerima. Dia akan menurut. Entah hidup menggelandang atau terus berjalan tanpa arah ,dia akan menerimanya. Asal dia sudah bisa mengetahui dan merasakan keelokan alam luar yang alami ,hal ini sudah lebih cukup baginya.


Dia tersenyum miris ,ternyata selama ini kurungannya telah menghalanginya dari situasi seperti ini. Dia menjadi sangat pemalu dan ketakutan bahkan saat bertemu dengan orang sebaik El. Dia hanya takut bahwa hanya akan diberikan keelokan semata. Setelah itu cacian dan siksaan lagi yang diberikan kepadanya layaknya yang ibunya lakukan. Dia memang berlebihan. Tetapi siksaan selama bertahun-tahun telah membuatnya menjadi seperti ini.


Tak disangka ,ternyata dunia di luar rumah suram miliknya seindah ini...


Kalau saja dia menyaksikan ini lebih cepat...


Tetapi takdir baru mengizinkannya untuk bebas sekarang ini. Bak sebuah kepompong yang terbungkus di dalam cangkang. Dalam beberapa waktu lama hanya bersarang di goa ,lalu kemudian...


Dia mulai bermetamorfosis dan membentuk sayap-sayapnya dengan indah melalui tahap-tahap tertentu. Hingga semua sayapnya terbentuk ,dia bisa terbang bebas. Terbang menuju ke sumber cahaya yang dilihatnya berada di luar goa yang gelap serta suram. Terbang bebas dan menembus langit fajar.


Tapi Anabelle menyayangkan dirinya yang tidak memiliki sayap indah layaknya kupu-kupu. Tidak ada bagian dari dirinya yang indah sehingga bisa terbang menembus langit. Dia bisa menyelinap keluar karena beruntung saja. Saat itu ia beruntung karena ibunya tidak mengunci pintu dengan rapat seperti biasanya. Keberuntungan semata itulah yang bisa membuatnya berdiri di sini ,di samping El. Walaupun hanya sementara.


"Tapi ,membiarkan anak yang tersesat itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak punya simpati kan." Tutur El sambil tersenyum.


Anabelle terkesiap. Dia pun mendongak menatap wajah El yang tengah menatap Lev dengan bibir tersenyum tetapi menunjukkan sebuah kesungguhan. Rambut hitam El terkibar-kibar sehingga matanya tidak bisa terlihat dari samping oleh Anabelle. Tapi kemudian El menoleh pada Anabelle. Memberikannya wajah yang sangat bisa dipercaya. Raut manik biru El seakan-akan memberikan kata-kata bahwa Anabelle benar-benar bisa mengandalkan dan memercayai dia.


Lev menatap Anabelle sekali lagi. Ekspresi jijiklah yang ditampakkan oleh Lev saat melihat penampilan budak Anabelle. Dan juga ,bau badannya sangat menyengat. Bau pekat itu menusuk hidungnya. Bagaimana bisa tuan mudanya berada dan bercakap bersama gadis gelandangan ini sejak tadi...? Padahal ,rasanya baunya tidak bisa ditahan jika berada di jarak yang lebih dekat dengan Anabelle.


"Tapi tuan muda..."


"Sudahlah Lev. Kalau ingin menolong seseorang tidak boleh setengah hati. Memang kau mau memulangkan dia ke mana ?"


"Anu ,lalu...apa yang ingin tuan muda lakukan terhadapnya ?"


"Huh ,itu nanti saja deh. Sekarang kau tolong panggilkan saja Mrs Amadea. Beliau kepala pelayan di gedung Emerald kan."


Lev mengangguk. Dia tersenyum ragu-ragu dan berkata ,"Iya ,baiklah."


Sebelum berjalan pergi meninggalkan El dan Anabelle ,Lev membungkuk. Setelah Lev melangkah ke arah gedung ,El memegang pundak Anabelle.


"Nah ,sepertinya kita harus mengurus penampilanmu dulu ,Anabelle. Kamu mau kah ?"


"Pe...nampi...lan ?" Ulang Anabelle yang kemudian melihat kondisi tubuhnya sendiri yang acak-acakan. Dia tampak seperti pemulung jalanan...


"Ya. Kau tahu ,sekarang kamu terlihat kotor lho."


El menaikkan tatapan matanya ,melihat keadaan rambut Anabelle. Rambut ikalnya tersebut terlihat kotor dan lepek. Rambutnya seperti tidak pernah dia cuci. Dia kemudian terbelalak ,Anabelle kelihatan seperti orang yang tidak pernah mandi seumur hidupnya...


Kok bisa sih ?


"Aku...akan dibersihkan ?" Tanya Anabelle dengan wajah yang antusias. Dia seperti sangat menanti jawaban El.


"Iya ,tentu. " Jawab El sambil tersenyum.


El terkesiap saat jari Anabelle menunjuk danau di belakangnya. Tubuhnya dibuat lebih menyamping untuk bisa menjulurkan tangannya ke arah belakang tempat danau Felleschrya berada.


"Dibersihkan dengan air....seperti air di danau itu...?"


"Eh...?"


"Apa rasanya seperti berenang ,El...? Aku...ingin merasakan diguyurkan dengan air lagi..."


Tunggu ,maksudnya anak ini...?


Wajah El melongo seketika. Dia menutup mulutnya dengan beberapa lekukan jarinya ,menatap Anabelle dengan tak percaya.


"Maksudnya ,kamu tidak pernah terkena air sebelumnya ? Mandi dan membersihkan tubuh kan...memakai air...?"


El merasa bersalah karena telah menanyakan pertanyaannya barusan pada Anabelle. Saat dia menanyakan pertanyaannya ,ekspresi yang ditunjukkan oleh Anabelle ialah memelas. Dia bersedih kembali setelah beberapa saat dilihat oleh El bahwa ia tersenyum.


Anabelle menggeleng-geleng dengan wajah sedih. Dia sama sekali tidak pernah merasakan seperti dicelupkan pada segenang air sebelumnya. Pasti sangat menyenangkan bukan...bisa berenang di danau yang ada air terjunnya. Anabelle dan pikiran polosnya menjadi antusias dan tidak sabar.


Dan lagi ,terakhir kali ia merasakan air ialah saat dia disiram dengan air oleh ibunya atas kesalahan yang ia lakukan. Kesalahannya membuat ibunya marah dan langsung menyiraminya dengan gelas yang dipakai oleh ibunya untuk minum.


Entah mengapa ,tubuhnya yang saat itu merasa sangat dilanda oleh kekeringan ,merasa sedikit lebih bugar dan mendapatkan kesadarannya kembali karena merasakan siraman air. Tubuhnya...perlu mendapatkan air lagi.


Mungkin jika dirinya bersih dan sudah tidak kotor lagi ,dia bisa menjadi sama dengan El...?


Sama yang ia maksud adalah setara penampilannya. Akankah dia menjadi bisa tampil rapi dan indah seperti El...? Apakah...dia akan bisa menjadi cantik seperti namanya...?


Anabelle sepertinya terlalu berharap banyak. Padahal dia hanya disuruh untuk melakukan hal yang sederhana ,yaitu membersihkan diri. Tapi ,hal itu tidak akan mengubah banyak kan. Gadis gelandangan sepertinya akan tetap menjadi gelandangan. Jika ia mandi dan dibersihkan rambutnya pun ,dia tidak akan bisa setara dengan El. Dia tetap tidak akan bisa menghilangkan rasa malu dan tidak pantasnya di dekat El.


El terdiam. Sepertinya dia tidak perlu menanyakan lebih banyak hal lagi pada Anabelle. Aksi harus lebih nyata dibandingkan pernyataan kan. Dia penasaran ,akan seperti apa jika Anabelle penampilannya menjadi lebih layak.


"Ayo ,kuantar. Kamu akan merasa bugar kembali ,Anabelle."


"Ba....ik..."


Saat Anabelle hendak menerima ajakan El ,tiba-tiba terdengar sebuah bunyi yang sangat kencang sehingga El menoleh kembali pada Anabelle.


Anabelle langsung terkejut. Matanya terbuka lebar sembari menatap El. Dengan cepat ,dia langsung memegang asal bunyi gemuruh yang kencang tersebut.


Dia memeluk perutnya sendiri dengan kedua tangan ,masih memasang ekspresi yang terkejut. Membuat El tertawa kencang. El mengepalkan tangannya dan meletakkannya di dekat mulutnya yang tertawa dengan nada teratur.


Kedua pipi Anabelle langsung merah merona akibat rasa malu yang dideranya. Perutnya memang sejak tadi terasa sangat keroncongan. Tapi karena pemandangan yang terus membuatnya teralih ,dia jadi tidak begitu memedulikan rasa laparnya itu. Dan sekarang ,perutnya baru berbunyi sangat kencang di depan El.


"Maaf-maaf. Reaksimu itu lucu sekali ya." Kata El masih dengan ekspresi yang senang akibat tertawa.


"Iya...maaf ya... Lanjutkan yang tadi saja..." Kata Anabelle dengan malu-malu.


"Ma-Mandi...?" Tanya Anabelle dengan ragu-ragu.


"Hei ,tidak-tidak. Kamu tidak mungkin mengabaikan perutmu yang lapar itu kan. Jadi ,kita makan dulu saja bagaimana ?"


El melupakan fakta bahwa Anabelle sudah tidak sadarkan diri berhari-hari ,jadi dia belum makan bahkan sejak ia pingsan di pinggir sungai kan. Meskipun dia tidak beraktivitas sama sekali ,tetap saja pasti lapar sekali jika baru bangun dari tidur yang lama.


Anabelle sendiri tidak dapat membohongi hatinya yang terasa gembira saat ditawarkan makanan oleh El. Kedua manik abu Anabelle berbinar-binar.


"Be-Benarkah ?"


El tersenyum canggung sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Ini sebenarnya gadis dari mana sih...? Kenapa dia begini sebenarnya...? Menurut El ,makanan tentu menjadi hal yang umum dan sangat biasa bagi orang-orang kan. Tapi gadis di depannya ini ,terlihat sangat bersemangat karena mendengar makanan. Ah...


Tetapi. Bisa juga kan karena dia sudah sangat lapar ,makanya sangat senang jika akan memakan sesuatu. Ya ,jika begitu maka wajar-wajar saja reaksi gadis ini pun demikian.


"Iya. Yuk ,Anabelle." Ajak El pada Anabelle untuk mengikuti langkahnya menuju pintu masuk gedung Emerald.


Setelah berjalan lurus sedikit ,pintu masuk gedungnya sudah ada tidak jauh di depannya. Namun ,di perjalanan mereka menuju ke gedung Emerald ,El bertemu dengan Lev yang tengah berjalan diikuti dengan seorang wanita paruh baya.


"Tuan muda El. Inilah Mrs Amadea seperti yang anda maksudkan tadi." Kata Lev sambil mengulurkan tangannya ke samping pada Amadea.


Wanita di sebelah Lev langsung membungkuk dan meletakkan tangan kanannya di dada saat melihat El.


"Selamat pagi ,tuan muda Elnathan."


El yang sejak tadi menuntun tangan Anabelle untuk berjalan mengikutinya ,berhenti sejenak untuk menyapa Amadea. Anabelle ikut berhenti melangkah saat melihat hal tersebut.


Lalu El pun balas membungkuk. Kemudian dia berkata ,"Salam ,Mrs Amadea. Terima kasih sudah menemui saya. Hmm ,tapi bisakah Mrs menunggu sampai nanti ? Ada yang harus saya lakukan dulu bersama dia."


Di kalimat terakhirnya ,El sedikit memiringkan kepalanya ke arah Anabelle. Amadea pun sedikit heran. Namun ia mengangguk-ngangguk mengerti.


"Tentu ,tuan muda. Saya akan datang kapanpun anda membutuhkan saya."


"Baik."


El hanya tersenyum. Kemudian dia berjalan menuntun Anabelle lagi dan melewati mereka berdua. Amadea tersenyum. Kemudian dia mengesampingkan badannya dan membungkuk menghadap El.


"Tunggu ,tuan muda El... !" Seru Lev sambil berbalik ke arah El dan Anabelle.


El yang sudah beberapa langkah jauh di depannya ,menjawab dengan suara yang lantang.


"Ya ! Sebentar saja Lev ,aku hanya akan meminta Sir Fabio memasakkan sesuatu !" Kata El sebelum melangkah lebih jauh dari Lev.


Lev hanya menghela napas di tempatnya. Dia memegang keningnya ,merasa lelah dan bingung.


"Sepertinya sedang ada sesuatu ya...?" Tanya Amadea kemudian.


Lev memejamkan matanya dan mengangguk. Ia berkata ,"Ya begitulah Mrs. Entah apa yang akan tuan muda lakukan untuk menolong gadis itu lebih jauh lagi..."


Amadea mengernyitkan keningnya. Dia mengingat-ngingat lagi tampang gadis yang baru saja dilihatnya bersama El tadi.


"Maaf ,jadi itu bukan gadis budak ?"


"Tentu tidak Mrs. Sejak kapan kita membawa budak ke sini...?"


"Ah ,iya ya. Tuan muda El memang terlalu baik..."


Lev mengangguk. Dia setuju ,bahkan sangat setuju akan fakta tersebut.


"Iya memang benar. Entah sampai kapan gadis itu akan ada di istana kita ,Mrs..."


Amadea berwajah prihatin. Dia mengangguk mengerti sambil menatap Lev.


"Tapi ,yang saya takuti jika Raja mengetahui hal ini ,apa jadinya jika Raja tahu...?"


Kedua mata Lev yang tadinya terpejam langsung terbuka lebar. Dia kemudian menghela napas dan berkata ,"Cepat atau lambat ,Raja juga pasti akan mengetahuinya."


***


...-End of Chapter 5-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️