
Anabelle langsung terbangun di kasurnya ketika matanya tiba-tiba terbuka. Ia mengusap-usap matanya yang terasa sembab karena baru saja bangun tidur. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya apakah ini sudah pagi...
Ia terduduk di atas kasurnya. Teringat akan kejadian di malam kemarin ketika ia begitu sedih dan terus menangis sebelum akhirnya Adora untuk datang menemaninya. Menemani dirinya yang takut akan kesendiriannya.
Anabelle mulai melangkah dari kasurnya. Lalu menatap sepatu yang ia tinggalkan di tengah ruangan sebelum tidur. Sepatunya dia letakkan di atas sebuah karpet hijau tua yang berbentuk lingkaran, berukuran besar dan digelar di tengah-tengah kamar.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya gadis berdaster cokelat terang itu tiba di depan pintunya. Tangannya pun membuka pintu itu perlahan. Betapa kagumnya ia saat disambut dengan pemandangan pagi ka kola itu.
Kata El, nama tempat ini apa ya...?
Anabelle mencoba untuk mengingat-ngingat nama tempat yang disebutkan oleh El waktu kemarin. Felas... Felles...? Entahlah, ia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Namanya terdengar rumit.
Namun yang lebih penting adalah pemandangan yang terbentang di hadapannya saat ini. Anabelle sepertinya terbangun lebih pagi daripada kemarin. Mungkin karena ia tidur tidak begitu nyenyak. Ditambah, ia sendirian.
Anabelle melangkah keluar kamar tanpa memakai alas kaki. Kaki telanjangnya menapak rumput hijau tempat itu.
Kabut masih sedikit tampak dan dapat dirasakan olehnya. Kicauan burung-burung terdengar seperti menyambut Anabelle yang baru saja bangun dari alam mimpi.
Sangat banyak kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya. Anabelle menoleh ke sekeliling, menatap keindahan kupu-kupu dengan warna dan corak sayap yang beragam. Ia tersenyum sembari mengangkat sebelah tangannya dan melekukkan jari telunjuknya. Sebuah kupu-kupu pun terbang menghampirinya dan hinggap di atas lekukan jari telunjuknya. Anabelle memandang kupu-kupu bersayap biru tua tersebut sambil tersenyum.
Keadaan tempat ini ketika pagi dan malam sangatlah berbeda. Ketika malam, suasananya dapat membuat Anabelle merinding dan ketakutan saking gelap dan dinginnya di sana. Namun, saat pagi hari tempat ini tampak seperti surga.
Anabelle sangat menyukainya. Kalau ia tahu akan disuguhi pemandangan seindah ini setiap pagi...ia menjadi semangat dan bahagia di sini. Apalagi, El sudah menjanjikan bahwa Anabelle bisa hidup di sini...selamanya!
Matahari yang baru saja terbit itu belum kelihatan sinarnya. Anabelle menurunkan tangannya, membiarkan kupu-kupu itu terbang bebas lagi bersama kawanannya.
Anabelle ingin melihat secara jelas kondisi danau Felleschrya tersebut. Maka sang gadis penasaran itupun melangkah lebih jauh lagi dari lingkungan kamarnya.
Ia berjalan ke arah semak-semak yang menghalangi penampakan danau dan air terjun. Kemudian dengan perlahan, ia membuka semak tersebut. Ia melongo dan tidak bisa bergerak ketika sebuah danau yang ukurannya lumayan besar terlihat. Berbagai tanaman air pun ikut menghiasi bagian danau tersebut. Mereka mengapung, dengan daun hijau beserta bunga dengan warna-warna yang cerah. Beberapa daun dengan alas berbentuk lingkaran terbentang, lili air tertanam di atasnya. Warnanya pun beragam. Ada yang berwarna putih, merah jambu serta kuning.
Anabelle terkagum-kagum saat ia melihat deretan air terjun di belakangnya. Selama ini ia mengira hanya ada satu pancuran air terjun. Namun satu itu hanyalah yang baru terlihat dari luar. Jika masuk ke dalam semak-semak, air terjunnya ada lebih dari satu. Sehingga aroma air dapat tercium lebih pekat lagi.
Anabelle hampir saja terjatuh ketika ia tersandung sebuah kaki bangku kayu tepat di depan semak-semak yang baru saja ia lalui. Ia pun menoleh, menatap bangku panjang yang ukurannya tidak terlalu besar. Bangku-bangku tersebut ditata membuat sisi yang melingkari danau.
Gadis yang semakin penasaran itupun berjalan lebih lagi dari tempatnya. Air danau Felleschrya begitu jernih. Saking jernihnya air tersebut, Anabelle dapat melihat tampak dalam danau itu.
Seperti ada bebatuan, serta binatang-binatang yang hidup di dalam sana. Anabelle ingin sekali masuk ke dalamnya untuk menjelajah. Tapi...bolehkah ia melakukannya?
Anabelle berjongkok di tepi danau. Menatap bunga teratai besar di hadapannya. Bunga yang di tepi ini warnanya ungu pekat. Sedangkan saat berbaris ke belakang, warnanya berurutan menjadi putih dan merah muda yang tidak kalah pekatnya.
Suara deraian air terjun terdengar begitu bising. Entah mengapa Anabelle menikmati suara tersebut. Suasananya jadi tidak begitu terasa sepi. Bahkan suara kicauan burung pun tertutup oleh suara air terjun itu.
Anabelle mencoba untuk meraih bunga di depannya itu. Ia mengulurkan tangan kanannya, terus berusaha untuk bisa menggapainya. Wajahnya terlihat bahwa ia kesulitan. Ia kesusahan untuk menggapai bunga teratai menggunakan tangan mungilnya. Tubuhnya semakin maju mendekati air ketika ia menguatkan ulurannya. Ia ingin memegangnya. Mengapa tidak bisa tergapai juga olehnya...?
"Nona Anabelle!"
Suara seruan seorang pria dari belakang mengejutkannya. Ia kehilangan keseimbangan, tangan kanannya pun hilang arah dan terjatuh membanting ke air. Tubuh yang terjongkok pun hampir saja ikut terjatuh. Namun ia langsung mencari sesuatu untuk dipegang olehnya. Dengan cepat, tangan kirinya langsung berpegangan erat pada tepi daratan tempat perbatasan dengan danau.
Wajahnya begitu terkejut. Kedua mata abunya terbuka lebar. Suara pria tadi, mirip dengan seseorang yang ditakuti Anabelle. Dengan perlahan dan takut-takut, Anabelle menolehkan kepalanya ke belakang.
Ia terkesiap saat menemukan Lev sudah berdiri di samping bangku panjang sambil menatapnya tajam-tajam. Anabelle sudah menduganya. Ia sudah menduga bahwa suara tersebut milik pelayan setianya El.
Rambut putih pirangnya dibelah ke samping dengan rapi. Matanya cokelat terang, tatapannya tampak tajam. Wajahnya terlihat belum tua. Kulitnya putih bersih. Ia mengenakan seragam serupa dengan yang kemarin. Namun hanya warnanya saja yang berbeda.
Lev masih terlihat mengenakan sarung tangan putih di kedua tangannya. Sarung tangan yang pendek, hanya menutupi bagian telapak tangannya.
Lev memang selalu bangun sepagi ini. Dan ia dikabarkan kalau pintu kamar Anabelle sudah terbuka lebar saja di pagi hari begini. Jadi, Lev datang untuk memeriksa gadis pemilik kamar tersebut.
Ia berjalan menghampiri Anabelle sambil membenarkan posisi sarung tangan dengan tangannya yang lain.
Wajah Lev saat menatap Anabelle masih saja terlihat sama. Ia tidak terlihat ramah ataupun bersahabat. Sudut bibirnya bahkan tidak bisa terangkat sedikitpun di hadapan Anabelle. Ekspresinya datar.
"Nona. Orang dari luar istana tidak bisa menyentuh danau ini sembarangan, apalagi memasukinya. Saya cukup sering bertanya-tanya, apakah anda memang sengaja ingin membuat tuan muda El mengalami masalah?"
Di kalimat yang merupakan pertanyaan sarkastiknya, Lev sedikit menggerakkan kepalanya. Ia cukup terganggu dengan keberadaan Anabelle di istananya ini. Pria berseragam hitam itu merasa bahwa Anabelle hanya bisa membawa kesialan di kerajaan tersebut. Karenanya pun, El mengalami masalah dan bebannya bertambah.
Anabelle terkejut. Ia pun langsung berdiri dari tempatnya. Sedikit menunduk di hadapan Lev yang berdiri tegap sambil tetap menatap Anabelle baik-baik.
"Ti-Tidak... Aku tid..ak punya ni-niat seperti itu..."
"Lalu? Jika anda tidak mau membuat tuan muda mengalami masalah lain lagi, bukankah seharusnya anda tahu posisi anda dan segera pergi dari sini?"
Anabelle terkesiap. Ia mengangkat wajahnya. Mendongak menatap Lev yang langsung mengernyitkan keningnya.
Lev tidak menemukan satupun tanda-tanda bahwa Anabelle memiliki sopan santun. Seharusnya ia mengetahui bahwa Lev juga termasuk petinggi kerajaan alias orang kepercayaan Raja. Kenapa pula Anabelle bisa berani mendongak dan menatap Lev dengan tatapan seperti yang sekarang ini...? Tatapannya terlihat bahwa Anabelle menganggap Lev salah dan berniat menentangnya.
Anabelle bingung akan Lev yang tiba-tiba mengaturnya seperti ini. Memangnya...Lev memiliki wewenang untuk mengusir dirinya?
Anabelle mengingat perkataan Ren, kalau pangkat El itu tertinggi setelah Raja. Jika El saja menyuruhnya tinggal, haruskah ia menuruti perkataan Lev yang pastinya berada di bawah El.
Anabelle merasa bahwa El pasti jauh lebih berkuasa dibandingkannya. Meskipun begitu, El tidak pernah mengusirnya dan mengatakan kata-kata yang terkesan jahat pada Anabelle. Malahan, El berbaik hati dan membiarkannya tinggal. Gadis yang bergeming itu merasa bahwa Lev tidak memiliki hak untuk mengusirnya sedikitpun.
Anabelle menundukkan wajahnya dan berkata, "E-El saja memaafkanku."
Lev sedikit terkejut, ia melangkahkan sebelah kakinya. Memastikan perkataan gadis kecil itu lagi.
Anabelle mendongak kembali, memandang Lev dengan sedikit gentar.
"El tidak pernah mengatakan aku membawa masalah untuknya. Malah dia..."
Ia langsung berhenti mengatakan hal yang hendak diucapkannya. Merasa salah karena memanggil 'dia' lagi.
"Malahan El mau aku tinggal di sini!"
Lev tampak tersenyum miring. Sudut bibir kirinya ia angkat. Tubuh jangkungnya sedikit membungkuk.
"Apakah tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiran nona kalau tuan muda hanya kasihan? Ia prihatin melihat anda. Tapi, tidak mungkin anda yang bukan bangsawan punya kesempatan untuk tinggal di sini."
"Ti-Tidak mung...kin...?" Ulang Anabelle dengan terbata-bata.
Anabelle berhenti mendongak. Terlihat bahwa ia tengah merenungkannya.
"Ya, tidak mungkin. Raja kami kuat dan tegas. Beliau tidak mungkin akan menaruh belas kasih sedikitpun pada nona."
"Ra-Raja!? Ta-Tapi dari perkataan El, Raja...tidak menyeramkan seperti ya-yang kupikirkan sebelumnya."
"Tuan muda tidak ingin anda langsung ketakutan. Secara, anda orang yang mudah sawan. Jadi, jangan memercayai harapan yang tuan muda berikan. Anda tidak punya kesempatan untuk bisa tinggal di sini. Nona, maksud saya, segeralah pergi dari sini sebelum tuan muda mendapatkan masalah yang besar."
Selesai bicara, Lev menunggu Anabelle merespon sarannya yang sebenarnya lebih mirip dengan ancaman ketimbang saran. Ia menatap wajah Anabelle yang memelas.
Anabelle memelas karena terus saja dilontarkan dengan kata-kata Lev yang menyuruhnya pergi. Ia juga memelas karena wajah Lev yang menyeramkan. Angkuh dan mengintimidasi.
"Se-Sebelum El ya-yang menyuruhku pergi, aku-aku masih akan di...sini."
Lev tampak berubah ekspresinya. Ia tidak sedatar yang sebelumnya. Lev tampak semakin geram menghadapi Anabelle.
Anabelle terkesiap saat Lev menghampirinya. Pria berambut putih itu memegang kedua pundaknya, membungkuk memandangnya dengan wajah yang kesal. Anabelle terkejut, ia memundurkan wajahnya saat bertemu pandang dengan Lev. Saat dari jauh saja, wajah Lev sudah terlihat menyeramkan. Apalagi, sekarang wajahnya begitu dekat untuk dilihat.
Kedua matanya tajam. Mata biru terangnya itu menatap tegas Anabelle. Sambil berusaha menjauhkan wajahnya dari Lev, ia sedikit bergetar. Padahal, Lev tidak pernah seperti ini saat berhadapan dengan El. Tetapi ,Lev kerap menunjukkan ekspresi yang sama saat berhadapan dengan Anabelle. Apalagi saat Anabelle memecahkan patung Athena hari kemarin.
"Sepertinya anda salah menangkap maksud saya. Ini bukanlah sebuah nasihat. Ini sebuah perintah khusus demi kebaikan tuan muda. Tidak pernahkah anda mendengar kalimat Kehidupan terbaik harus diberikan kepada sang Raja dan Putranya. Hal itu harus diterapkan oleh seluruh rakyatnya Raja, nona."
Anabelle menjadi bingung. Rakyatnya Raja...? Ia bahkan belum pernah melihat orang yang disebut-sebut sebagai raja. Dan juga, ia tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya Raja Al...Alary...? Lagi-lagi ia tidak bisa mengingat nama Raja yang pernah El sebutkan.
"Rak...yat? Ta-Tapi aku bahkan ti-tidak me-mengenal dia. B-Bagaimana aku disebut sebagai rakyatnya?"
Mendengar balasan yang diutarakan Anabelle, wajah Lev melongo. Ia seperti tidak menduga kalau gadis kecil di hadapannya bisa mengatakan hal barusan. Ia menatap wajah Anabelle yang masih terdapat iler serta kotoran mata. Merasa tidak bisa mengatakan apapun.
"Nona...apakah anda mengutarakan penolakan terhadap kuasa-"
Mendengar suara yang baru datang itu, wajah gadis berambut cokelat itu langsung berseri-seri.
Lev langsung melepaskan tangannya dari Anabelle. Berbalik dan berdiri sedikit di depan Anabelle.
Di depannya, El tengah berdiri tegap sambil terheran-heran melihat Lev dan Anabelle di pagi hari begini.
"Selamat pagi, tuan muda. Anda bangun pagi sekali." Sapa Lev sambil membungkuk.
Berbeda dengan Anabelle. Bukannya menyapa dan menghormat pada pangeran Avergaille, ia malah berteriak dan berlari menuju tempat El berdiri.
"EEELLL!!!" Teriak Anabelle di tengah tindakan berlarinya.
El sedikit terkejut ketika Anabelle menabrak tangannya dan merangkul lengannya.
"Whoa. Ann, tak kusangka kau bisa berteriak sekencang itu."
Anabelle tersenyum lebar saat menatap El. El masih saja terlihat tampan dan rapi seperti biasanya. Tidak ada satupun yang berubah dari penampilannya. El memegang poni hitamnya dan menggesernya perlahan.
"Habis, a-aku sangat senang bisa bertemu El lagi!"
"Tapi, cobalah untuk tidak berteriak senyaring itu di pagi hari begini ya. Takutnya masih banyak yang belum bangun."
Anabelle mengangguk-ngangguk. Walaupun di dalam hatinya ia berpikir. Ternyata...ia tetap tidak boleh berteriak ya, sama seperti di rumah lamanya.
El memegang tangan Anabelle, menggandengnya di sampingnya. Ia pun menoleh pada Lev.
"Apa yang kau lakukan di sini Lev?"
"Oh, saya berniat memeriksa kamar nona, karena pintunya terbuka."
"Tapi kenapa kau sampai memegang pundak Anabelle tadi, untuk apa?"
Anabelle sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Tetapi, Lev dengan cepat langsung berbicara sebelum Anabelle mendahuluinya.
"Tuan muda. Tadi nona hampir masuk ke dalam danau. Jadi saya melarangnya dan membuatnya mengerti kalau hal itu dilarang."
"Ho? Baiklah..."
Wajah Anabelle terlihat sedih.
El pun menuntunnya untuk pergi dari taman Felleschrya dan meninggalkan Lev.
"El? Bukankah El bilang kemarin ingin memberikanku hadiah jika aku menurut pada El?"
"Oh astaga..." Keluh El sembari memegang dahinya.
"Aku memang sudah menyiapkannya, tapi aku lupa memberikannya padamu. Hmm, apakah kau ingin ikut denganku untuk mengambilnya?"
"Mauu!!"
El menghela napas sembari menarik senyumannya. Kemudian menuntun Anabelle untuk kembali berjalan bersamanya.
***
-Golden Palace-
-6:11 AM-
Sembari berjalan sedikit mengendap-ngendap di istana miliknya, El melihat ke sekelilingnya. Sebenarnya terlalu berisiko membawa Anabelle ke istana emas tempatnya tinggal. Ia agak takut kalau ada tangan kanan ayahnya ataupun mata-mata yang mengawasinya jika berada di tempat seperti ini.
Tapi tak apa. Selama ayahnya masih pergi, seharusnya akan baik-baik saja.
"Wahh, keren sekali El. Apakah istana ini bagian lain dari Avergaille?"
"Ya, Ann. Istana ini seperti jantung Avergaille. Pusat kekuasaan Raja, ya di tempat ini."
"Pantas...terlihat sangat mewah. Jauh lebih berkilauan dibandingkan Emrad...!"
El terkekeh ketika mendengar kesalahan penyebutan Anabelle.
"Emerald Ann, bukan Emrad."
"Emerald..." Ulang Anabelle dengan pelan-pelan.
Beberapa orang tengah mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Saat memasuki aula istana, beberapa pengawal membungkuk kepada mereka. Atau lebih tepatnya, membungkuk kepada El.
Saat El dan Anabelle berniat menaiki tangga besar di ujung ruangan, seseorang mengejutkannya.
"Selamat pagi, tuan muda!!" Sapa Adora dengan penuh semangat.
El terlihat terkejut, ia mengusap-usap dadanya beberapa kali. Ia pun menghela napas dan sedikit menggeleng-geleng.
"Pagi Adora. Kau mengejutkanku." Kata El sambil menuntun Anabelle menaiki tangga.
Anabelle terpukau melihat tangga berkarpet merah dengan pegangan yang berwarna emas. Matanya menatap sekelilingnya dengan terkagum-kagum. Tangga ini sangat besar. Saat sudah mencapai banyak anak tangga, tangga emas itu akan bercabang ke dua arah.
Anabelle ingin sekali menyentuh pegangan emas di sebelahnya, tetapi ia membatalkan niat tersebut. Takut sesuatu yang buruk terjadi.
"Hehe, maafkan saya tuan muda." Kata Adora sembari berjalan di belakangnya El dan Anabelle.
"Yang mulia, apakah anda tidak mengantuk bangun sepagi ini?"
"Tidak juga. Entah mengapa aku ingin bangun lebih awal dari biasanya."
"Tapi syukurlah anda terlihat segar pagi ini, yang mulia!"
Di tengah-tengah pembicaraan El dengan Adora, Anabelle terus saja menatap keindahan tangga yang sedang dilewatinya.
Warna emas mengkilap birai tersebut membuatnya begitu terpukau sampai ia tidak lagi memerhatikan pembicaraan El dan Adora.
Tangan Anabelle mulai bergerak mendekati birai emas yang di bawah bagian pegangannya terdapat banyak pola-pola bentukan yang indah.
Anabelle terperangah saat tangannya sudah menempel pada birai. Ia tersenyum merasakan kedinginan besi tersebut. Ia mengusap-ngusapnya beberapa kali, karena senang dengan rasa dingin yang dirasakan tangannya.
Lalu ia sedikit menekan birai yang dipegangnya, sedikit tergelak karena birai tersebut terasa begitu keras.
Sebuah sinar terlihat ketika tangannya menekannya, Anabelle langsung kaget saat melihatnya, ia pun langsung menarik tangannya kembali dari birai emas.
El menghentikan langkahnya ketika merasakan sesuatu telah terjadi di dekat Anabelle. Begitu pula Adora, ia ikut memerhatikan kejadian di depannya.
Kreek kreekk
Adora terperangah. Kedua matanya terbuka lebar ketika melihat birai di samping Anabelle yang menjadi retak seperti akan pecah berkeping-keping.
El pun terkejut. Ia memegang badan Anabelle dan menggesernya menjauhi birai.
El berjalan mendekati birai untuk melihatnya, alangkah terkejutnya ia saat menemukan retakkan pada birai tangga tersebut.
Di belakangnya, Anabelle hanya bisa panik tanpa bisa mengatakan sepatah katapun.
"Tu...Tuan muda..."
***
...-End of Chapter 12-...
Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️