Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
13| The King's Return



El menatap lekat-lekat keretakan dari birai tangga istananya. Jika ini merupakan istana Emerald, ia tidak akan sepanik ini. Tetapi, ini adalah istana yang merupakan tempat ayahnya. Sumpah, ia takut jika harus memerintahkan pekerja untuk memperbaiki tangga ini.


Karena sistemnya pasti akan selalu mendata kejadian yang terjadi di istana emas. Berbeda dengan gedung lainnya yang tidak terlalu merinci.


Dengan kata lain, ayahnya akan mengetahui masalah ini jika El ingin membetulkan tangga yang retak.


Tapi, ia bingung akan suatu hal.


Mengapa...Anabelle bisa melakukan hal ini?


El memegang retakan pada birai, yang kerusakannya terlihat sangat parah.


Anabelle tergelak ketika El menoleh padanya dan menatapnya dengan wajah yang heran sekaligus panik.


"Ann, apa yang kau lakukan barusan?.."


"E-El... Ta-Tadi aku cu-cuma..."


Saking gentarnya, Anabelle sulit untuk menyusun kalimatnya dan menyampaikan apa yang sebenarnya ia lakukan beberapa detik lalu.


"A-Aku...cuma..."


Adora melangkahi satu anak tangga, ia bergeser hingga ia berada tepat di belakang Anabelle. Memegang pundaknya dan menatapnya lekat.


"Nona, katakan dengan jujur. Apa yang anda lakukan ke properti istana? Anda merusaknya?"


"Ma-Maaf, aku...ti-tidak sengaja...me-menyent...uh...nya..."


Adora merasa terlalu buang-buang waktu untuk menunggunya mengakui perbuatannya. Ia memejamkan matanya beberapa saat, merasa penat.


"Tuan muda, saya akan memanggil tuan Lev untuk masalah ini."


"Ya...benar... Panggilkan Lev." Jawab El dengan wajah masih saja terkejut tak percaya. Nada suaranya tampak pasrah akan masalah yang terjadi.


"Baik, tuan muda. Tetaplah tenang, semuanya akan baik-baik saja." Ujar Adora sebelum akhirnya melangkah menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


***


...-Felleschrya-...


...-8:33 AM-...


Anabelle termenung di bangku taman.


Padahal, ini baru saja hari keduanya melakukan aktivitas di istana. Tapi, ia sudah menimbulkan masalah baru saja untuk El ...


Ia bingung, padahal tangga emas tadi terlihat kokoh dan keras. Tapi kenapa ia tekan sedikit saja...bisa retak seperti itu? Apakah dari luarnya saja keras, tetapi sebenarnya tangga itu mudah patah.


Sekilas, cahaya yang muncul tadi menghantui pikirannya. Itu...hanya imajinasinya saja kan? Bisa saja sinar itu berasal dari pantulan birai tangga yang bersih mengkilap.


Tetap saja, ia salah besar karena lagi-lagi merusak properti istana sembarangan. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?


Apa yang harus ia lakukan untuk membantu El? Bukankah seharusnya ia yang membereskan masalah ini...? Tapi bagaimana caranya...?


Sejak awal, memang seharusnya ia menuruti perkataan Lev untuk...meninggalkan tempat ini. Tapi sekarang sudah terlambat. Jika ia kabur sekarang, artinya ia lari dari masalah dan membiarkan El tertimpa masalah itu sendirian.


"Hei nona. Apakah kau orang yang meremukkan tangga di istana emas? Luar biasa juga."


Seseorang menghampirinya yang tengah duduk sendirian di bangku taman Felleschrya. Ren duduk di bangku tempat Anabelle tempati. Namun Ren duduk di sisi ujung, sehingga terdapat jarak di antara Ren dengannya.


Anabelle terkesiap. Ia merapatkan kakinya, merasa gugup dan tidak tahu harus mengatakan apa.


Ren menatap Anabelle yang berada jauh di sampingnya. Kemudian mengernyitkan keningnya. Mengapa pula ada orang yang bisa memunculkan dirinya keluar dengan penampilan seperti Anabelle sekarang ini...


Ia terlihat seperti baru bangun tidur. Rambutnya sedikit acak-acakan. Dan lagi, ia tidak mengenakan alas kakinya. Ren jarang sekali melihat penampilan berantakan seperti ini di Avergaille.


"Jadi Anabeth... yang kutahu, isi istana emas semuanya itu barang-barang mahal yang harganya tak mungkin bisa kujabarkan. Maka itu, kau mengerti apa yang aku bingungkan sekarang kan?"


Anabelle menaikkan wajahnya. Kemudian menoleh pada Ren dengan takut-takut. Sehingga Ren langsung mengangkat kedua tangannya dan terkekeh.


"Aku tidak menggigit, oke? Tidak perlu takut seperti itu, Anabeth."


Anabelle merasa bahwa namanya itu bukan Anabeth. Tapi, ia tidak ingin mementingkan atau memikirkan kesalahan penyebutan Ren. Saat ini, masalah peremukan tangga itu lebih membuatnya kepikiran...


"Aku tidak pernah melihat El mendapat masalah seperti ini sebelumnya. Dan...kalau aku jadi El, tidak mungkin aku tidak mengusirmu segera."


Anak berambut hitam itu sedikit mengangkat kedua pundaknya. Perkataan Ren membuat Anabelle merasa semakin bersalah.


"Ja-Jadi se-sekarang, a-aku harus ap..a??" Tanya Anabelle dengan mata berkaca-kaca.


Ren berwajah datar. Kalau saja Anabelle menanyakan hal seperti ini sebelum insiden buruk terjadi, Ren akan menyuruhnya untuk langsung pergi saja.


Tapi, tidak sekarang tidak bisa. Tidak mungkin kan El menanggung masalah ini sendiri, dan lagi bukan dia yang merusak properti istana. Kesalahan El sejak awal hanyalah membawa gadis yang bahkan tidak bisa menata penampilannya sendiri.


Ren menggeser duduknya, memperpendek jaraknya dengan Anabelle. Menatap wajah Anabelle dengan sungguh-sungguh.


"Sebelum itu, apa yang kau lakukan hingga birai itu bisa rusak?"


"A-Aku... Aku...me-memega..ng..."


Ren memegang dahinya dengan kesal di tengah keterbata-bataan Anabelle. Ia tidak pernah ingin memukul seorang gadis sebelumnya. Tapi...mengapa sekarang ini niat itu terus muncul begitu saja? Lalu, mengapa juga El bisa tahan bersama gadis menyebalkan ini? Apa isi pikiran El sebenarnya, Ren tidak bisa mengerti.


"Bicaralah yang benar. Jangan buat pembicaraan kita menjadi lama."


Anabelle terdiam. Menatap wajah Ren yang sudah memandangnya dengan gelagat yang dia usahakan terlihat ramah dan sabar.


Anabelle menarik napas yang agak dalam, kemudian menghelanya. Ia tidak bisa berbicara dengan mata yang menatap Ren. Maka itu ia beralih, menatap ikan-ikan yang berlompatan di atas danau.


"Aku suka dengan...rasa dingin sa-saat aku menyentuh tang..ga... Jadi aku mengusap-ngusapnya beberapa kali. Lalu... Lalu...i-itu terasa keras...,jadi aku pen-penasaran dan sedikit menekan...nya..."


Ren menaikkan kedua alisnya. "Maksudnya, kau hanya menekannya, dan birai itu langsung remuk?"


"I-Iya, kau...percaya kan...Ren...?"


Ren menggeleng-geleng, memejamkan matanya frustrasi. Menurutnya, ini terlalu sulit untuk masuk ke logikanya.


Kecerdasan Ren memang tidak pernah bisa menandingi El. El selalu saja lebih unggul darinya dalam bidang apapun. Ren tidak bisa seperti El yang menguasai banyak bahasa. Tapi, tidak mungkin ada suatu hukum atau penjelasan ilmiah mengenai hal ini kan...


"Kalau begitu, lebih baik kamu ikut bertanggung jawab atas masalah itu. Daripada El yang mengurus semuanya, coba kau teliti lagi,...apa sebenarnya yang membuat birai itu hancur."


***


...-Golden Palace-...


...-9:40 AM-...


Hari sudah semakin terik. Anabelle pun sudah selesai dimandikan dan diberi makanan. Dia berniat melakukan saran dari Ren. Jadi, ia ingin bertanggung jawab.


El langsung menghentikan kegiatannya ketika melihat Adora telah datang ke istana ditemani Amadea.


Amadea membungkuk pada El. Sedangkan El membenarkan lengan seragamnya, menatap Anabelle yang sedang berdiri gugup di dekat Amadea.


"Tuan muda. Nona Anabelle sejak tadi merengek ingin ke sini. Jadi saya membawanya, apa tidak apa?"


El mendelik sehabis mendengar perkataan Amadea. "Merengek?"


Wajah Anabelle memelas. Ia berlari dari tempatnya menghampiri El. Merangkul lengannya dan menenggelamkan wajahnya pada lengan atas El. Bagian itulah yang mampu dicapai oleh tinggi badan Anabelle.


Amadea hanya bisa membulatkan mulutnya sewaktu Anabelle berlari dari sisinya dan merangkul lengan sang pangeran sembarangan. Sebenarnya siapa gadis tidak beretika ini...?


Bahkan seorang yang bangsawan saja pun segan dan tidak akan berani menyentuh El secara demikian. Hal yang dipikirkan Amadea pun benar adanya, ia bukan sengaja ingin merendahkan Anabelle.


"Ell !! A-Aku min...ta maaf... Sangat minta maaf..."


El menghela napasnya. Ia memegang punggung belakang Anabelle dan menepuk-nepuknya perlahan.


"Ann yang ceroboh, kau ingin merusak apa lagi besok ?"


Wajah sembab Anabelle langsung mendongak. Menatap El yang tengah tersenyum meledek.


Padahal pasti saat ini El begitu takut dan kebingungan. Tapi, kenapa El masih berusaha untuk tidak terlihat seperti itu di hadapan Anabelle...?


Anabelle tidak mengerti. Raut wajah El membuatnya ingin menangis lagi.


Anabelle menggeleng-geleng dengan kencang. Membuat rambut ikalnya yang panjang ikut terkibas.


"Tidak mau... Aku...sangat menyesal..."


"Ya sudah, kalau sudah menyadari kesalahanmu, kembalilah pada Amadea untuk bel-"


"Tidaak... Aku ingin membantu El...!Aku tid-tidak mau El y-yang mengurusi semuanya sendiri..."


El melepaskan Anabelle dari lengannya. Menatap wajah sembab Anabelle dengan alis yang terangkat. Kemudian dia bertanya, "Membantuku?"


"Iya, tunggu sebentar...El...!"


Anabelle pun langsung berlari menaiki tangga emas di istana tersebut. Berniat memeriksa kembali retakkan yang telah ia buat tadi pagi.


El berwajah datar. Ia hanya berdiri di sana sembari menyaksikan Anabelle yang telah berdiri di atas tangga seraya melihat-lihat retakkan yang ia buat.


Amadea menghampiri El. Ia membungkuk dan sedikit meringis.


"Tuan muda. Maafkan saya karena membawa nona ke sini. Saya malah takut nona menyebabkan kerusakan yang lebih parah lagi..."


El melipat kedua tangannya di dada, tidak balas menatap Amadea. Matanya masih saja melirik Anabelle, menunggu apa hasil dari hal yang ia lakukan sekarang ini.


"Biar saja. Mungkin nona merasa memang dirinya bisa mengerjakan sesuatu atas retakan itu."


Di sisi lain, Anabelle memeriksa kerusakan pada birai tangga. Ia memegangnya, retakkan itu terasa begitu nyata dan permukaannya sudah tidak sehalus sebelumnya.


Ia sama sekali tidak bisa mengerti mengapa bisa menjadi seperti ini.


Kemarin yang ia lakukan adalah, mengusap-ngusapnya dan sedikit menekannya.


Anabelle mulai meletakkan tangannya lagi di atas birai yang dia rusakkan. Ia baru saja menyentuhnya dengan telapak tangannya. Mengapa sinar kemarin tidak lagi terlihat...? Apakah sinar itu betul pantulan dari warna birai yang mengkilap?


"Nona Anabelle."


Anabelle sedikit terperanjat ketika mendengar suara yang sama lagi ketika ia sedang fokus melakukan sesuatu.


Ia langsung melepaskan tangannya dan menoleh ke belakang dengan cepat.


Lev tengah berdiri di anak tangga bawah, berdiri tegap dengan dua pekerja di belakangnya. Ekspresinya tetaplah sama seperti biasanya. Datar dan tidak bersahabat.


"Tidak cukupkah anda sudah menimbulkan masalah pada yang mulia, apa lagi yang hendak anda lakukan?"


"Tu-Tuan, aku..."


"Seharusnya nona bersyukur karena tuan muda berbaik hati, tidak menghukum anda atas kasus perusakan properti istana secara sengaja."


El langsung menggandeng tangan Anabelle begitu ia sudah tiba di sebelahnya. Membuat Anabelle menoleh pada El dengan mata yang berkaca-kaca.


"El..."


"Lev, tidak perlu memojokkan Anabelle seperti itu. Aku yakin dia tidak ada maksud sengaja, bukankah begitu, Ann?"


Lev membungkuk sembari meluruskan tangannya di depan bagian pinggangnya.


"Ah, maafkan saya. Saya tidak ada niat memojokkan nona, tuan."


Anabelle hanya terdiam. Padahal ia merasa kalau Lev selalu tidak menyukainya dan berusaha memojokkannya. Tapi saat berada di samping El, Lev bahkan sangat baik dan bahkan meminta maaf. Ah, Anabelle seprtinya salah menafsirkan. Barusan itu Lev meminta maaf pada El, bukan kepadanya.


El menatap dua orang pekerja yang sudah dibawa oleh Lev ke istana. Akhirnya ia memutuskan untuk memperbaiki saja, Lev pun berjanji kalau perbaikan ini tidak akan didata pada catatan istana.


El memegang pundak Anabelle dan berkata, "Ann, kau kembali saja ke Emerald bersama Mrs Amadea, ya?"


Anabelle menatap El dengan tatapan yang terlihat penuh teror. Ia menatap kerusakan yang ia sebabkan, kemudian menjawab, "Tapi El..."


"Tidak apa. Tidak akan ada yang menyalahkanmu. Biar aku yang mengurusnya."


Amadea menghampiri dan merangkul punggung belakang Anabelle. Ia berniat menuntun Anabelle untuk meninggalkan tempat itu.


"Mari, nona."


Anabelle mendongak pada Amadea, ia pun pasrah dan hanya bisa menurut.


Sebelum melangkah dari sana, Amadea membungkuk dengan anggun kepada El.


Anabelle menunggu agar Amadea segera menuruni tangga, sehingga ia bisa mengikutinya. Tetapi, Amadea tidak kunjung melangkah turun, ia hanya menatap Anabelle terus menerus.


Anabelle pun bingung. Tapi kemudian, ia ingat akan hal yang selalu dilakukan oleh seseorang yang bertemu ataupun hendak meninggalkan El.


Ia berbalik pada El dan membungkuk sekencang-kencangnya.


El hanya tersenyum dan sedikit melambai. "Kita bertemu lagi nanti, Ann."


"Oke El!!" Kata Anabelle sembari berlari menuruni tangga untuk menyusul Amadea.


Ketika itu, kedua pekerja dan Lev melangkah naik untuk mengurusi kerusakkan tangga.


"Sudah dibawakan kan, alat yang kuperintahkan tadi?"


"Sudah, tuan muda." Jawab pekerja itu sambil meletakkan kotak perkakas di salah satu anak tangga.


El pun meneliti tangga itu, ia menjelaskan kepada sang pekerja mengenai hal yang dia mengerti mengenai cara tercepat untuk memperbaikinya.


Kedua pekerja itu tampak terkesan.


"Tuan muda, anda lebih mengerti mengenai hal pembangunan istana daripada saya. Saya mengerti, yang mulia."


El mengangguk. Wajahnya tampak serius ketika Anabelle sudah meninggalkan istana emas.


Ia pun berjalan menuruni tangga, diikuti Lev di belakangnya. Kemudian Lev tersenyum sembari melipat kedua tangannya ke belakang. "Lagi-lagi, anda membuat saya terkesan, tuan muda."


"Hm? Bahkan tadi itu hanya ilmu dasar yang kubaca di buku waktu aku berusia tujuh tahun."


El sudah mencapai anak tangga paling bawah. Selangkah lagi, ia pun mencapai karpet istananya.


Ketika itu, ia sudah mencapai lantai. El berjalan beberapa langkah, berniat memasuki ruangan laboratorium. Langkahnya terhenti ketika salah satu pekerja berjalan tergesa-gesa menuruni tangga dan menghampirinya dengan wajah yang terkejut.


"Tuan! Maaf tapi, retakkan birai itu sama sekali tidak bisa disentuh oleh alat apapun! Saya merasa, kerusakkannya itu permanen!"


***


...-El's Private Library-...


...- 1:13 PM-...


El terlihat frustrasi di tempat duduknya. Ia menyandarkan dagunya pada meja yang di hadapannya. Menatap beberapa buku tebal yang sudah tergeletak di sekitarnya.


Ia mengusap-usap rambut hitamnya beberapa kali. Merasa bingung akan bagaimana menyelesaikan hal ini. Ia pun memegang penutup mata di mata kirinya. Kemudian ia menghela napas panjang.


Dia bangun dari sandarannya. Menatap rak-rak besar di sekelilingnya. Sepertinya hanya ini saja yang bisa memuat tentang itu.


Ia sudah mencari dan menyimak semua bacaan itu, tetapi hasilnya nihil. Belum ada yang menjelaskan secara rinci mengenai hal ini.


El pun berdiri, meluruskan kedua tangannya menyentuh meja putihnya. Ia menggeleng-geleng. Memang dia harus menanyakannya sendiri pada Anabelle.


Penjaga gerbang istana emas membungkuk ketika ia berjalan keluar. Ia hanya tersenyum saat menanggapinya.


"Tuan muda, anda lagi-lagi mau lengah?"


Suara seorang pria dari kejauhan. Suaranya berasal dari taman di dekat gerbang istana. Pria berbaju zirah tersebut berjalan menghampiri El.


El tersenyum miring dan membalikkan tubuhnya. Val pun menyerahkan sebilah kepada El. Pedang itu langsung diterima oleh El disertai sebuah helaan napas darinya. El memasukkan pedang itu ke saku kecil di dekat pinggangnya yang merupakan tempat menaruh pedang.


"Padahal yang mulia memerintahkan anda untuk selalu membawanya kan, tuan muda?"


"Ya... Aku hanya lupa."


Pedang tersebut rasanya agak berat jika harus dibawanya kemana-mana. Membuatnya tidak nyaman.


"Val, mengapa kau tidak bersama Raja?"


Val menengadahkan kedua telapak tangannya, sedikit mengangkat pundaknya.


"Tidakkah kau ingat kalau Raja sekarang-sekarang ini lebih menugaskanku untuk melatihmu, tuan pangeran?


El sendiri saja gerah melihat kesatria Raja di depannya yang mengenakan baju zirah yang kelihatannya tebal. Mengapa bisa Val sendiri tahan mengenakannya?


El malah menunjukkan wajah datarnya. Membuat pria berambut pirang kecoklatan itu tersenyum hangat.


"Pasti aku lagi-lagi diharapkan untuk menjadi pengguna pedang yang handal seperti ayah."


Val berdiri di samping El. Ia memejamkan matanya dan menggeleng-geleng.


"Yang mulia pasti hanya ingin kau menjadi kuat dan tidak berani disentuh oleh siapapun."


Val memang jarang berbicara terlalu sopan dan baku pada El. Karena mereka berdua ini bisa dibilang sudah menjadi teman dekat, bahkan sejak El masih sangat kecil.


"Tapi aneh Val. Kenapa kau sudah kembali, sedangkan Raja kan kembali masih minggu depan?"


"Ah..."


Val terlihat sedikit bingung. Ia menggaruk-garuk tengkuknya beberapa saat. Sehingga El hanya bisa keheranan di hadapannya.


"Guk guk!!"


El menoleh ke bawahnya, ketika Charity telah berlari kepadanya dengan antusias. Charity menatapnya dengan bahagia sambil menjulurkan lidahnya.


El tersenyum, kemudian mengangkat anjing berbulu putih tersebut dan menggendongnya di tangannya. Kemudian mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


"Anda hendak ke mana, tuan muda?"


"Ah... Tadi aku hanya mau bermain golf."


Lagi-lagi ia berbohong.


Mungkin ia bisa mendatangi Anabelle lain kali saja. Di saat ia tidak sedang bersama Val.


"Baiklah, izinkan saya menemani anda, tuan muda."


***


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. El baru saja menyelesaikan semua pekerjaan dan kegiatannya sewaktu itu.


Ia baru saja melangkah memasuki Felleschrya untuk menemui Anabelle setelah setengah hari entah dia melakukan hal apa.


El menutup mulutnya dan menguap mengeluarkan kantuknya, seraya melangkah melewati bagian samping gedung Emerald, yang sudah dekat dengan danau.


Namun, sebuah suara sangkakala mengejutkannya sesaat. El menghentikan langkahnya dan mendengar baik-baik nada musik sangkakala yang ditiupkan.


Kedua matanya terbuka lebar.


Suara itu adalah musik sangkakala yang dibunyikan ketika Avergaille hendak menyambut kepulangan sang Raja.


"El!? El habis dari mana saja? Akhirnya kita ketemu lagii!!" Ujar Anabelle dengan riang gembira ketika sudah melihat El.


Ia berjalan dengan tidak sabar menghampirinya. Namun, El bukannya balas menyapanya atau tersenyum, ia masih sedikit tidak percaya akan suara musik yang didengarnya.


"Itu suara apa El? Terdengar meriah...!" Kata Anabelle saat sudah berdiri di samping El.


El terlihat tidak santai wajahnya. Ia memegang kedua pundak Anabelle dan menatap matanya baik-baik. Membuat Anabelle ikut menjadi gugup dan keheranan.


"Anabelle, tolong kau diam di sini dulu, baiklah?"


Anabelle masih saja terbuka lebar matanya. Ia mengangguk dan menjawab, "Iya, baiklah..."


**


Para prajurit dan bangsawan pun ikut berbaris menyambut kepulangan Raja sehabis bertugas di luar kerajaan. Di antara kedua barisan, disisakan sebuah jalan beralas karpet. Jalan tersebut berada di tengah-tengahnya.


El sudah sampai di ujung barisan ketika sangkakala berhenti ditiupkan. Sebuah kereta kuda berwarna hitam keemasan telah tiba di depannya. Sehingga El langsung membungkuk dengan hormat. Penampilan El saat itu jauh lebih sempurna dibandingkan biasanya. Ia juga mengenakan jubah putih yang melingkar dari punggung belakang hingga ke bagian dadanya. Terdapat sebuah pita berwarna biru tua yang menghiasi sebelah sisi jubahnya.


Entah mengapa saat itu, suasana hari yang mulai gelap itu pun ikut hening. Tidak ada burung-burung berkicau, suara hembusan angin ataupun suara gemerisik daun. Seolah-olah mereka juga ikut menyambut Raja.


Charity telah tiba di sana, ia berdiri di dekat Val sambil menjulurkan lidahnya.


El mengulurkan sebelah tangannya ketika pintu sudah dibuka. Ia tetap membungkuk sampai sang Raja sudah berjalan di depannya.


"Selamat datang kembali, yang mulia. Seluruh keberkahan bagi Avergaille, karena mampu melalui hari-hari tanpa kehadiran yang mulia Raja." Ujar El dengan suara yang lantang.


Charity ikut berdiri di sebelahnya El. Mulutnya ia rapatkan, kepalanya sedikit ia rendahkan. Lalu, ia memposisikan tubuhnya seperti berhormat.


Raja menerima tangan El, ia melangkah turun dengan perlahan. Kemudian berdiri di depannya, menatap semua barisan yang telah menghormat terhadapnya.


Jubah hitam sang Raja yang dikenakan di sebelah pundaknya berkibar-kibar akibat tertiup angin. Rambut hitamnya juga sedikit tertiup-tiup angin, hingga poni depannya menutupi sebelah matanya.


Raja mengenakan sebuah seragam yang dilapisi jas biru tua tanpa dikancing. Sebuah rantai emas dikaitkan di kedua ujung pundaknya yang saling menyambung.


Ia menatap El dan anjing miliknya dengan matanya yang terlihat dingin seperti biasa.


***


...-End of Chapter 13-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️