Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
22| Find You



El terus saja berlari menuju ke istananya yang beruntungnya jaraknya masih tak jauh dari butik tadi. Hatinya dipenuhi dengan kegelisahan. Jantungnya berdetak semakin cepat semakin ia melangkah menuju rumahnya. Mengabaikan orang-orang yang menyapanya, kepalanya sudah terisi oleh Anabelle.


Anabelle...


Mengapa ia sama sekali tak bsia terpikir tempat apa yang sedang Anabelle datangi? Apakah ia ke gedung Safir, atau istana emas.... atau kemungkinan terburuknya istana Ruby...


Ia sudah tiba di pintu masuk dan mulai melangkahi bagian depan istana emas. Matanya terbuka lebar, jantungnya serasa ditusuk oleh ribuan jarum.


Tidak mungkin, kalau ia ke istana Ruby, ayah akan langsung-


Bruk


Mata El tertutup rapat-rapat ketika wajahnya menabrak tubuh jenjang seseorang. Ia terkejut dan langsung melangkah mundur. Ini salahnya sendiri karena melamun sembari berjalan...


"Ah, maafkan aku-"


El berhenti bicara ketika melihat sosok yang ia tabrak tak lain dan tak bukan ayahnya sendiri. Di belakangnya, berdirilah Arch dan juga Celeste yang sejak tadi berjalan bersamanya.


"Ayah, maafkan aku." Kata El sambil membungkuk dengan sopan.


Sebenarnya El tak berpikir inilah respon seorang anak saat hanya menabrak ayahnya sendiri. Tapi, lain cerita dengannya.


Raja berdiri tegap dan melirik El. Ia bertanya dengan wajah yang terlihat cuek, "Ada apa? Kau terlihat panik, El."


"A-Ah, tidak. Aku hanya harus mengerjakan sesuatu, ayah." Jawab El sambil menunduk kaku.


Mengapa ia harus berhadapan dengan ayahnya di saat seperti ini sih? Cepatlah, ia harus menemukan Anabelle...


Sepertinya ia memang harus menaruh perhatian pada Anabelle sepanjang hari.


"Lalu mana Adora? Mengapa berjalan sendirian?" Tanya Raja lagi dengan nada rendah yang terdengar tak bersahabat.


Beberapa detik setelah pertanyaan tersebut, Adora berjalan cepat menghampiri mereka dengan tergesa-gesa. Ia berdiri di sebelah El dan membungkuk begitu erat pada sang Raja.


Celeste menatap El dengan senyumannya yang terlihat licik, selalu bisa membuat El merasa tak nyaman.


"Yang mulia, saya hanya terlambat mengikuti langkah tuan muda. Maafkan saya."


"Jadi kalau terjadi sesuatu padanya, kau juga akan bilang kau hanya terlambat?"


El menaikkan wajahnya, ia terkesiap ketika melihat wajah ayahnya yang sudah terlihat jengkel. Ia menatap Adora dengan begitu sinis. Mengapa hal sepele seperti ini saja...Adora harus sampai meminta maaf?


El langsung merentangkan tangannya, menghalangi Adora dari Raja Alaric. Ia tersenyum canggung dan berkata, "A-Adora sedang jujur kok, ayah. Memang salahku yang berjalan meninggalkannya. Aku tak akan ceroboh seperti ini lagi...maafkan aku ayah."


Raja Alaric menatap El beberapa lama. Ia menatap wajah canggung El dengan tatapan yang mengintimidasi. El menyembunyikan rasa takutnya dengan tersenyum hangat kepadanya. Dalam hatinya, ia menyuruh jantungnya untuk berdetak normal tanpa tegang. Karena rasa takut terus melandasinya, El sampai berasa mual...


Akhirnya El bisa bernapas lega ketika Raja tersebut sudah berhenti menatapnya dan mulai melangkah pergi.


Celeste melambai-lambai dengan wajah ceria pada El. Lalu ia berkata, "Tuan muda, kami pergi ya! Semoga anda bisa memilih busana terbaik untuk esok, tuan!"


"Ah, tentu saja. Hati-Hati di jalan." Balas El sembari membungkuk hormat pada mereka.


"Waah, sudah hampir setahun bekerja di sini tapi saya masih saja terpesona dengan tuan El! Memang yang mulia sangat hebat dalam mendidik ya!"


"Terima kasih atas pujiannya, Dame Celeste. Selamat jalan." Jawab El lagi sambil tersenyum ramah. Setelah Celeste berbalik darinya, El berhenti tersenyum dan menunjukkan wajah yang tak senang.


Sebelum El kembali pergi mencari Anabelle, pandangannya bertemu dengan Arch yang memegang sebuah dokumen di tangannya. Pastilah itu untuk diberikan pada Lev yang tugasnya sekarang sebagai ketua sekretaris Raja.


El pun berbalik dari mereka, lalu ia berwajah datar. Ia jadi teringat Lev. Sudah sejak kemarin ia sama sekali belum berbicara sepatah katapun dengan Lev. Lev juga pasti tak akan menganggapnya sama lagi, El kan...sudah mengkhianatinya. El membalas segala perbuatan baik Lev dengan pengkhianatan seperti kemarin, walau untungnya Lev tak dihukum... Tetap saja, mereka pasti canggung jika bertemu.


Ketika El sudah pergi ke Farancia, ia akan didampingi dengan berbagai pelayan di sana. Bagaimanapun juga, Farancia adalah tempat belajar untuk bangsawan terpilih yang sangat diseleksi kualitasnya. Sungguh penghinaan apabila El akan dilayani dan didampingi oleh orang yang biasa-biasa saja di sana.


Lalu Lev...akan kembali menjadi sekretaris di samping Raja Alaric. Awalnya, ia memang menjadi sekretaris Raja karena ketelitian dan kecerdasannya. Namun di satu hari El bersama Lev, El begitu menyukainya dan bahkan menikmati bermain bersamanya, sehingga Lev pun ditaruh untuk mendampingi El dalam belajar dan menjalankan aktivitas tugas sehari-harinya. Karena El sebentar lagi meninggalkan Avergaille, Lev sudah tak akan mendampingi El lagi.


"Adora, tolong katakan tempat mana saja yang sudah kau cari." Kata El sembari menoleh pada Adora. Wajahnya terlihat serius.


"Saya sudah mencarinya di seluruh sudut Felleschrya, dan saya juga sudah meminta seluruh pelayan untuk mencari nona di seluruh penjuru gedung Emerald, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan nona, tuan muda."


El berhenti menatap Adora. Ia menghela napas sembari mulai melangkah, diikuti oleh Adora di belakangnya.


"Seharusnya kau langsung mencariku begitu Anabelle tak ditemukan di ruangannya."


"Maaf tuan muda... Saya tidak enak hati mengganggu waktu kebersamaan anda dengan...Nona Gelasya dan Tuan Ray..."


"Tapi kan, bukan itu yang kuperintahkan padamu." Kata El tanpa menatap Adora.


Adora tak mampu membalas ucapan El lagi. Ia memejamkan matanya. Ia mulai bersikap gugup di belakang El. Tak biasanya, ia merasa takut-takut seperti ini saat berbicara dengan El.. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan tuannya? Kejadian akhir-akhir ini memang...mengejutkannya, sepertinya juga memberikan pengaruh besar pada El...


"Maafkan saya ya tuan..."


"Ya tak apa. Sekarang, Adora lebih baik ke istana Emerald dan suruh mereka berhenti mencari Anabelle. Aku akan mencarinya sendiri."


"Baiklah tuan muda." Kata Adora sembari menghormat pada El sebelum berjalan dengan arah yang bertentangan dari El.


Sembari melangkah, El memutar otaknya. Jika ia menyasar sampai ke gerbang keluar, tak mungkin tak ada penjaga yang mencegatnya. Kalau ke istana emas, lebih tidak mungkin lagi. Baru saja ayahnya itu berniat masuk ke gedung emas, tadi pagi pasti Anabelle akan bertemu dengannya jika Sang Raja masih di istana ataupun baru melangkah keluar. Istana Safir, itu meragukan. Jaraknya dari Felleschrya hingga ke istana Safir itu cukup jauh... Sangat jauh. Istana Ruby, adalah yang paling mengerikan. Kalaupun ayahnya mengetahui Anabelle memasuki istana tersebut tanpa izin, bisa-bisa Anabelle langsung ditebas oleh pengawal istana Ruby. Bahkan El saja dilarang keras memasukki istana yang entah ada apa di dalamnya tersebut sampai dijaga ketat oleh ayahnya.


Kemungkinan yang paling masuk akal memang masih Felleschrya itu sendiri.


Tak lama ia memikirkan kemungkinan dengan persentase paling tinggi yang bisa terjadi, El membuka matanya lebar-lebar. Seperti baru menyadari sesuatu.


Anabelle...


Jangan-jangan ia nyasar ke tempat itu.


***


Hal yang menjadi favorit Zora di dunia ini adalah kupu-kupu. Zora paling terlihat bahagia ketika dikelilingi oleh kupu-kupu dengan sayapnya yang memiliki beragam warna.


Padahal El sudah tinggal di istana Avergaille bertahun-tahun, tapi ia masih belum tahu semua seluk beluk istananya. Apa ini karena ia terlalu dikekang hingga hanya menghafal daerah istana emas saja?


Saat itu Zora menggandengnya menuju ke sebuah tempat. Sebuah tempat di balik pohon besar yang terdapat di danau Felleschrya. Ketika Zora menggeser dedaunan yang merambat di sebuah tembok, terlihatlah sebuah tuas berukuran sedang. Zora menarik tuas tersebut ke kanan, dan tembok tersembunyi pun perlahan membuka.


El memegang tuas yang ada di depannya ini. Ketika pintunya rahasianya ditutup, tuas ini akan kembali seperti semula. Ia memejamkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya menarik tuas tersebut ke kanan.


El tak menyangka ia akan pergi ke tempat rahasia Zora di sini. Dulu El menamai tempat rahasia ini sebagai Zora Secret Garden... Namun setelah Zora pergi, El tak pernah lagi melangkahkan kaki sekalipun ke tempat ini.


Perlahan El membuka pintu tersebut dengan mendorongnya. Benar saja, Anabelle sedang berada di sana sambil memakan buah-buahan.


El langsung menutup pintu rahasia itu kembali setelah melangkah masuk.


Anabelle langsung berdiri dan memandang El dengan wajah yang ceria.


"El! Kamu juga menemukan tempat ini! Aku tak sengaja menemukan tuasnya saat sedang mengejar kupu-kupu!"


Anabelle berdiri di tengah-tengah taman tersebut. Taman ini memiliki air mancur di tengah-tengahnya yang besar. Ukuran taman ini memang tak terlalu besar. Tapi tak hanya ada pohon-pohon biasa yang menghiasinya. Di sisi kiri dan kanannya berjejerlah patung-patung malaikat dengan berbagai pose. Di langit-langit, sebuah karpet rumput memanjang dari kedua sisi, menyisakan celah di tengah-tengahnya sehingga taman tersebut masih memiliki suasana terang. Di ujung kanan taman, terdapat pohon mawar raksasa dengan tangkai yang begitu tinggi sampai bisa mencapai langit-langit.


El menghela napas. Tempat ini masih persis seperti dulu. Ini memang terlihat sederhana tetapi...Zora begitu menyukainya.


Namun, berada di tempat seperti ini sebenarnya hanya membawa kenangan buruk baginya.


"Anabelle, kau mengkhawatirkan semua orang karena tiba-tiba menghilang." Kata El sembari menghampiri Anabelle yang sudah melahap habis buah apel yang ia petik.


Anabelle menatap El dengan wajah yang polos. Matanya sedikit terbuka lebar. "Maaf El... Aku..."


El langsung menggenggam kedua tangan Anabelle dengan erat, memandangnya dengan lekat.


"Aku benar-benar takut saat melihat kau tak ada di mana-mana, Ann..." Kata El yang menunjukkan wajah sayunya, kemudian ia memejamkan matanya.


El kehilangan mereka semua. El tak bisa melakukan apa-apa untuk membuat mereka tetap berada di sisinya. Apalagi ibunya yang bahkan sudah tidak ada sejak ia masih bayi.


Mata El memandangi Anabelle. Kali ini, ia tak akan membiarkan Anabelle diambil pergi darinya. El sudah kehilangan Zora, jadi ia tak boleh sampai kehilangan Anabelle, sosok adik kecilnya.


Anabelle balas menatap El dengan rasa gugup. Seburuk inikah perasaan El hanya karena ia menghilang sejak pagi hari di taman rahasia ini? Anabelle kira, tadi pagi Adora bilang bahwa El sedang sibuk dan tak boleh diganggu.


"Ayo pergi Ann. Kau tak boleh ke tempat ini lagi." Kata El sembari berbalik dan mulai menuntun paksa Anabelle.


"Tapi El, kamu tidak penasaran dengan tempat ini? Bagaimana kalau-"


"Tidak. Ann, kau cukup dengarkan saja-"


Tak lama El menuntun Anabelle pergi, dari belakang mereka tiba-tiba saja berterbangan segelintir kupu-kupu yang keluar dari tabung kecil yang dipegang oleh salah satu patung malaikat.


Anabelle berdiri di belakang El dengan sangat banyak kupu-kupu yang berterbangan mengelilinginya. Kupu-kupu tersebut sekilas mengeluarkan cahaya sesuai warna sayapnya yang bergaam. Indah...


Serasa ini adalah dunia fantasi yang selalu diidamkan orang-orang.


El terkejut. Ia melepaskan tangannya yang menggenggam erat Anabelle. Memandang kejadian di hadapannya tersebut sambil tercengang. Sosok Anabelle semakin terlihat seperti Zora... Zora, seakan kembali hidup di depannya.


Setelah melihatnya berhari-hari, El baru menyadari bahwa Anabelle memiliki sebuah tahilalat di pipi kanannya, terlihat manis. Ia memejamkan matanya. Ia tak boleh seperti ini, Anabelle belum tentu nyaman saat ditatap terus menerus.


El tersenyum melihat kupu-kupu yang menghiasi sudut-sudut ruangan dengan indahnya.


Ia menatap Anabelle yang sedang menonton tampak kupu-kupu yang berterbangan di sekeliling taman tersebut. Wajahnya begitu terpesona akan hal yang dilihatnya.


"Kalau begitu, kita berbincang di sini sampai malam yuk?"


***


Anabelle tersenyum. Hari sudah semakin sore, dan berada di taman ini berlama-lama...Anabelle sedikit merasa tidak tenang. Akankah mereka dicari oleh orang-orang, apalagi El...


Suasana di taman tersebut terkesan mendung, seperti akan hujan. Kata El, ketika malam semua patung malaikat akan mengeluarkan aura cahaya sehingga taman ini tak akan gelap gulita.


Anabelle duduk di atas air mancur, ia mencelupkan jarinya ke dalam air dan memainkannya perlahan. El datany menghampirinya dan memberikan sebuah plum merah pada Anabelle.


"Cobalah. Buah plum adalah salah satu buah favoritku, lho." Kata El yang tersenyum sembari duduk di samping Anabelle.


"Terima kasih El." Balas Anabelle yang sudah memegang buah plum merah di tangannya. Senyumannya terlihat manis.


El menatap Anabelle, kemudian menepuk-nepuk kepalanya bagai sedang menepu-nepuk anak anjing. El memandang Anabelle dengan merasa gemas padanya.


"Imutnya Anabelle."


"A-Ah..."


Anabelle memalingkan wajahnya yang sudah mulai memerah bagai habis diberikan pewarna plum.


"Sepertinya sudah agak lama ya kita tak berbicara bersama seperti ini. Aku senang karena aku bisa bersama dengan Ann hari ini."


"Umm, aku juga senang...bisa bersama dengan El lagi...! Akan menyenangkan jika waktu berhenti di saat aku bersama El." Ujar Anabelle dengan nada yang ceria.


El membalas ucapannya dengan tawa yang renyah. "Pintar sekali kata-katamu Ann."


"Tapi El...aku boleh tanya...mengenai perasaan El sekarang tidak? Apakah El sedang sedih, atau senang, atau sesak...? Jujur saja aku...tak mau El merasakan semua itu sendiri, jadi El boleh berbagi padaku apapun yang El sedang rasakan."


Kemudian El menatap Anabelle dengan sedikit tergelak. Matanya terbuka lebar. Ia tak boleh merasakannya sendiri, dan...ia boleh berbagi keluh kesahnya dengannya, adik kecilnya?


Bukankah dari luar, El terlihat sedang baik-baik saja dan tetap terlihat sempurna?


"Ma-Maaf, jika aku terlalu ikut campur El..."


El pun berhenti menatap Anabelle dan menunduk, ia tersenyum sedih.


"Sebenarnya, rasanya sakit sekali Ann. Menyakitkan sekali... Kupikir, ayahku bisa menyayangiku walaupun sebentar saja saat ini, tapi yang kudapat adalah kata-kata caci makian."


"Apakah...sudah sejak kecil, yang mulia...seperti itu pada El?"


El menggeleng perlahan.


"Tidak, seingatku dulu ayah sangat baik. Bahkan aku sangat sayang padanya. Beliau memang tidak begitu ekspresif, tapi kadangkala aku bisa melihat kehangatan di matanya. Tapi semua itu entah mengapa sirna seiring waktu berjalan... Padahal aku, sudah mengusahakan semua yang kubisa dengan harapan dia akan bangga dan menyayangiku..."


***


Saat itu, El berada di ruangan musik yang terpajang sebuah piano megah dan mewah di tengah-tengah ruangan.


Val menggendong tubuh El yang ingin menyaksikan ayahnya memainkan piano. Val tersenyum bahagia. Ia tak menyangka Rajanya akan kembali memainkan piano ini setelah sekian lama tak pernah menyentuhnya. Demi menghibur El, ia akhirnya menyentuh piano ini lagi.


Raja tersebut mengibaskan bagian belakang jasnya yang panjang setelah duduk di atas kursi. Lalu ia sedikit menggulungkan lengan pakaiannya yang panjangnya sedikit mengganggu.


"Lagu yang akan ayah mainkan adalah Comptine D'un Autre Été, El." Katanya sembari tersenyum kecil.


El hanya bisa membulatkan mulutnya ketika mendengar judul yang dilontarkan oleh ayahnya.


Tak lama setelah itu, lantunan musik pun mulai terdengar. Raja itu memerhatikan pianonya dengan saksama, jarinya bermain dengan anggunnya di atas tuts-tuts yang ada. Ketika melihatnya, El tergugah. Dari samping, ia terlihat begitu tenang dan memukau.


Val sedikit terkesiap ketika mendengarkan lagu yang dimainkan oleh sang Raja. Dalam hatinya, terbuka lagi sebuah kenangan yang telah ia tutup rapat-rapat. Ini adalah...lagu yang juga pernah dimainkan olehnya untuk dia dulu...


El tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Bagai sedang melihat mahakarya, matanya terkunci pada sosok ayahnya yang sedang memainkan piano untuknya.


Musiknya terdengar begitu menyayat hati, namun sekaligus juga sangat indah... Ia merasa tambah takjub karena...permainan piano yang indah ini dimainkan untuknya.


Entah mengapa saat El menatap wajah ayahnya yang terus memainkan jarinya di atas tuts, ia melihat kesepian yang mendalam di sana. Bagaikan sedang merindukan seseorang.


Beberapa lama, Raja itu pun berhenti memainkan musiknya dan bangun dari kursinya.


"Yang mulia, permainan yang sangat mengagumkan." Puji Val dengan wajah yang terpesona.


Raja Alaric tersenyum, memperlihatkan wajahnya yang terkesan hangat.


"Bagaimana, El?"


El yang saat itu baru berusia tiga tahun, mengayun-ayunkan kedua tangannya ke arah ayahnya, tanda bahwa ia ingin digendong olehnya.


Raja Alaric pun menurutinya dan mengambil El dari genggaman Val. Lalu ia mulai berjalan ke pintu keluar dengan Val mengikut di belakang mereka.


El memandang wajah ayahnya yang tengah menggendongnya. Wajahnya masih terlihat penuh kagum.


"Ayah, El serasa terharu mendengarkan permainan piano ayah. Itu adalah musik yang mengagumkan..."


"Berarti ayah tak salah memilih lagu ya, El."


"Sama sekali tidak! Aku sangat suka, apakah ayah akan memainkannya untukku lagi?"


"Boleh, kapanpun kau mau." Jawab Raja sembari memegang rambut halus El dengan tangannya.


"Huuh, El sangat ingin menjadi hebat seperti ayah. Sepertinya dengan mata tertutup pun, ayah tetap bisa bermain piano!"


Raja Alaric sedikit terkekeh. Ia menatap El dan berkata, "Kau anak yang cerdas, jadi pasti bisa. Karena itu, ayah berharap banyak pada El."


***


...-End of Chapter 22-...