Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
3| Runaway



Sally terkekeh saat mengintip dari lubang jendela yang amat kecil. Gadis itu terkapar tak berdaya atas ulahnya. Dia merasa berkuasa dan memegang kendali penuh atas kehidupan puterinya tersebut.


Itulah hukuman jika dia berani mencoba untuk membangkang. Itu hukuman yang sangat pantas karena dia berniat keluar dan meninggalkannya seorang diri. Ia tak akan membiarkan satu-satunya sumber uangnya tersebut hilang dari genggamannya.


Berani-beraninya gadis dengan tubuh sekecil itu meminta kepadanya untuk keluar seperti itu. Kurang ajarnya dia ,padahal selama ini dia itu tetap hidup berkat dirinya yang merawatnya. Kalau gadis bodoh tersebut tidak ia kurung seperti ini ,tentu dia akan hancur sehancur-hancurnya kan. Seharusnya dia berterima kasih !


Jika Sally tidak menghiraukannya ,tubuh gadis kecil itu akan kian membusuk akibat penyakitnya yang semakin buruk sepanjang waktu. Tak ada makanan yang akan masuk ke tubuhnya.


Seharusnya dia bersyukur masih diberi makan walaupun hanya sepiring sayuran di atasnya yang disodorkan kepadanya. Ia masih baik berarti kan jika memberikan kesempatan gadis itu untuk hidup lama.


Sally terkekeh geli. Dia menertawakan wajah gadis itu yang dia lihat sejak tadi merintih kesakitan. Sangatlah menghibur untuk dipandang. Wajah lemah dan tak berdaya itu memberikan arti bahwa Sally lah yang menentukan bagaimana hidupnya selamanya.


Kalau tidak ,siapa pula yang bisa merawatnya yang sama sekali tidak berguna itu jika bukan Sally sendiri ?


Ia tertawa. Tertawa terbahak-bahak sambil menyeringai lebar.


***


Anak itu masih menggigil di kasurnya. Tubuhnya masih gemetar. Wajahnya masih bengkak akibat menangis. Kedua pipinya juga sudah sangat basah akan air mata.


"I-ibu malaikat. Aku percaya engkau akan melindungi aku... Seperti ibuku memercayaimu..."


Sejujurnya ,tulangnya terasa remuk akibat dipecut berulang kali. Tubuh kecilnya itu merasakan sakit di setiap jengkalnya.


Apa benar wanita keji yang selama ini memgasuhnya itu adalah ibu kandungnya ? Siapapun yang melihat ini pasti yakin bahwa wanita itu adalah ibu tirinya yang memiliki dendam khusus terhadapnya.


Mana ada ibu kandung yang mencambuk anaknya sendiri ? Seorang ibu pasti penuh kasih di dalam dirinya. Kasih sayang kepada suami dan juga anak.


Sepertinya sosok malaikat belum tergambarkan di dalam diri ibunya. Ibu malaikat belum merasuki jiwa ibunya. Itulah yang gadis itu percayai dengan polosnya.


Sekarang ia hanya perlu berbaring beberapa lama lagi. Ia berharap lama kelamaan sakit di tubuhnya akan hilang juga jika terus tertidur. Mengabaikan kepedihan tubuh dan juga hatinya ,ia pun memejamkan matanya dan terlelap ke dalam dunia mimpi.


***


Satu minggu kemudian...


Gadis itu baru saja bangun dari tidurnya. Dia terduduk di sisi kasurnya dan mengucek kedua matanya. Ia mengambil selimut yang setengahnya sudah jatuh ke lantai dan kembali meletakkannya di atas ranjang. Mungkin saat dia tertidur ,selimut itu lolos dari tubuhnya dan jatuh ke lantai.


Dia menolehkan wajahnya. Melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Tidak biasanya pintu tersebut terbuka seperti itu walau hanya sedikit.


Gadis itu memiringkan kepalanya dengan bingung. Biasanya kan pintu itu selalu dikunci rapat oleh ibunya. Ia tidak akan meloloskan kesempatan ini yang datang untuknya hanya sesekali.


Tanpa pikir panjang lagi ,dia turun ke lantai. Kakinya yang telanjang menapak lantai kayu yang penuh debu. Ia cepat-cepat melangkahkan kaki menuju pintu tersebut untuk segera menghindari lantai yang terasa dingin untuk ditapak.


Kreek


Suasanya kosong dan hampa. Tak ada apapun di luar saat dia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Lampunya tidak ada yang menyala ,semuanya gelap. Tapi dia masih bisa melihat akibat cahaya matahari yang menembus melalui celah jendela. Ia bersyukur karena tidak ada ibunya yang menungguinya di luar kamar. Bisa saja kan ia dijebak dan ditunggui di luar dan akhirnya dipukuli lagi karena mencoba untuk melarikan diri ke luar tanpa izin.


Di mana ibunya ?


Rasa penasarannya tidak bisa mengkhianatinya. Juga bisa melawan rasa takutnya tersebut. Walau sebenarnya ia takut ada sesuatu yang mengancam dirinya seperti kata ibu kejamnya. Tetapi ,tidak ada salahnya mencoba untuk melihat-lihat.


Ia berjalan lebih jauh tanpa tahu di mana letak pintu keluar dari rumah hampa itu.


Dia terkejap saat menemukan di hadapannya terdapat pintu yang bagian atasnya terlihat ada langit cerah di luar sana.


Gadis kecil itu ternganga. Dunia luar !


Dia bisa keluar dari rumahnya. Apalagi ibunya tak kelihatan ada di sini. Dia bisa mencuri kesempatan untuk menyelinap keluar.


Tetapi ,bagaimana cara membuka pintu usang ini ?


Ia menarik-narik gagang tersebut dengan sekuat tenaganya. Tidak terbuka juga.


Sepertinya lubang kuncinya sudah longgar. Saat mengetahui pintunya sudah tidak serapat tadi ,dia langsung menariknya dengan sekuat tenaga lagi tak peduli sesakit apapun genggaman tangannya. Keinginan untuk merasakan cahaya matahari lebih kuat dari yang ia duga.


Pintunya pun berhasil terbuka. Tetapi pintu tersebut mengenai kening gadis itu karena dia tidak melangkah mundur setelah sudah berhasil membuka pintu.


Dia mengusap-usap keningnya yang memerah akibat tertabrak pintu. Lalu dia langsung melangkah keluar dengan kaki telanjangnya.


Kepalanya menengok ke kiri dan kanan. Dia tidak melihat ada siapapun kecuali ibu penjual warung makan yang sibuk melayani pembelinya. Selain itu ,tidak ada siapa-siapa lagi.


Tidak ada tanda-tanda keberadaan ibunya yang keji di luar sana.


Tanpa pikir panjang lagi ,gadis kecil itupun langsung menyelinap keluar dan menyusuri jalan setapak di depannya dengan perlahan-lahan.


Wajahnya memancarkan kebahagiaan akibat bisa melihat lagi langit di sore hari yang indah. Sudah bertahun-tahun dirinya berada di dalam rumah dan selalu berbaring. Bahkan dia sendiri tidak ingat kapan terakhir kali bisa melihat teriknya sinar matahari.


Untuk pertama kalinya dia bisa mendapatkan kesempatan untuk berjalan santai seperti ini.


Udara yang dihirupnya terasa segar. Tidak ada polusi yang mencemarkan udara pada sore hari itu. Kandungan udaranya bersih dan segar untuk dihirup.


Dia melihat-lihat pepohonan rimbun serta bunga-bunga yang bermekaran dengan wajah takjub dan bahagia.


Sekawanan burung-burung di udara juga turut berterbangan bagaikan mereka juga turut merasakan kebahagiaan sang gadis yang bebas dari kurungannya.


Dia terus saja berjalan merasakan keindahan asri lingkungan hijau tersebut tanpa kenal waktu.


Gadis kecil itu tetap saja berjalan sambil masih menatap anak-anak tadi. Dia juga merasa bingung saat mereka menatapnya dengan tatapan heran. Tapi lalu mereka tidak mengacuhkannya dan kembali bermain lagi dengan asiknya.


Jalan yang dilewatinya terdapat pagar yang setiap pinggirnya dicat dengan bermacam-macam warna. Semuanya terlihat cerah gemilang. Bahkan hatinya sudah cukup puas dan bahagia hanya dengan menikmati alam sesederhana ini.


Sesederhana ini lho ibu selama ini yang kuinginkan...


Gadis kumal tersebut tersenyum penuh haru. Kedua manik abunya berkaca-kaca ,bahkan air matanya mulai menitik membasahi pipinya saking bahagianya.


Saat ia menengadahkan wajahnya ke atas ,ia terkesiap saat melihat langit senja yang sudah secerah seperti ia baru keluar tadi. Langit senjanya sudah mulai menjadi gelap.


Eh !?


Gawat !


Gadis itu baru menyadarinya. Ia baru sadar bahwa dia sudah melangkah terlalu jauh dari rumahnya.


Dia sama sekali tidak berniat meninggalkan ibunya seorang diri. Ia menatap ke sekitarnya. Semuanya terlihat asing baginya.


Ia tidak tahu ke mana arah jalan pulang.  Dirinya tersesat ! Bahkan ia tidak tahu tempat di mana ia tinggal. Bagaimana bisa ia menanyakannya pada orang lain.


Lalu...jalanan di sekitarnya terlihat berlika-liku. Gadis tersebut berada di tengah-tengahnya. Sebenarnya jalanan mana yang tadi ia raih hingga bisa sampai sejauh ini !?


Ibunya bisa makin menderita apabila dirinya menghilang seperti ini. Gadis itu ingat betul bagaimana reaksi ibunya saat dia meminta untuk bermain keluar. Ibunya seperti ketakutan bagai melihat hantu di kala mendengar permohonan dari sang gadis. Dan sekarang gadis tersebut benar-benar bisa pergi keluar rumah seperti yang diinginkannya selama ini. Lebih gila bagaimana lagi pasti reaksinya...?


Bagaimana tanpa dirinya ibunya akan bisa bertahan ?


Gadis itu langsung melangkah ke jalanan yang mana saja di antara banyak pilihan. Habisnya dia tidak tahu jalanan mana yang dilewati oleh dia sebelumnya.


Rambut cokelatnya panjang ,kusut serta tidak terurus. Baju dasternya kumal dan kotor. Penampilannya mirip sekali seperti pemulung jalanan. Membuat orang-orang yang lewat memperhatikannya dengan wajah prihatin.


Di mana letak rumahnya pun juga dia tidak tahu. Apa nama jalannya ,tidak ada patokan rinci dari daerah rumahnya yang dia ketahui.


Gadis itu mempercepat langkahnya ,ia setengah berlari sambil celingukkan. Sejujurnya hatinya terasa sangat panik dan gelisah berjalan tanpa tujuan seperti itu. Jika ia tidak bisa menemukan tempat asalnya sampai akhir ,apa yang harus ia lakukan...?


Mungkin dirinya sangat aneh. Padahal di tempat asalnya dia hanya dikurung ,disiksa serta dikecam oleh seorang ibu berhati bak iblis. Tapi...entah kenapa ia merasa bahwa dia harus kembali ke sana. Ia tidak tahu jika tidak lagi tinggal di sana ,ia harus ke mana !?


Menjelang malam ,ia kelelahan. Dia membungkuk dan memegang kedua lututnya yang letih karena tak henti-hentinya melangkah untuk mencari jalan pulang. Hasilnya nihil ,dia tetap saja tersesat. Pemandangan yang ditemukannya terasa sepenuhnya asing baginya. Tentu saja asing ,dia saja baru bisa berjalan seperti itu di hari ini juga.


Di depannya terdapat sebuah ungai yang mengalir dengan arus tenang. Dia langsung menghampirinya dan berniat mengambil air dari sana untuk diminum tanpa berpikir. Tubuhnya sudah kelaparan dan juga kehausan.


Akan tetapi ,bunga di pinggir sungai itu mengalihkan perhatiannya. Tatapannya langsung teralihkan menatap bunga tersebut ,bagaikan ada mantra yang menyihir si gadis untuk terpikat pada bunga tersebut. Warna bunga itu indah dan mahkotanya sangat besar. Daunnya hijau berseri ,begitu pula bunganya yang berwarna biru cerah. Kelopaknya besar dan berlipat-lipat. Kedua matanya terkagum-kagum melihat sebuah bunga indah yang begitu memukau baginya.


Gadis itu semakin mendekat pada bunga itu. Ia memegangnya perlahan dan mendekatkan hidungnya ke tanaman tersebut. Ia mulai menghirup aroma dari bunga tersebut.


Sebelum ia mulai merasakan baunya ,kepalanya sudah dibuat pusing terlebih dahulu sebelum akhirnya dia pingsan terkapar di atas tanah tepat setelah menghirup aroma bunga di pinggir sungai tersebut.


***


"Siapa itu ?"


Seorang anak lelaki berpakaian rapi menatap sebuah pemandangan dari kejauhan. Ia mengenakan sebuah seragam berkancing dengan dilapisi jas yang panjangnya hingga lutut. Rambutnya hitam pekat serta wajahnya terlihat imut dan mungil. Dia juga mengenakan sebuah penutup mata berwarna putih di sebelah matanya. Penutup mata tersebut berukuran kecil dan berbentuk persegi.


Anak itu sedikit terdiam. Ia pun memiringkan wajahnya saat melihat seperti ada anak yang terbaring di seberang sungai sana. Saat itu ,bintang-bintang menghiasi langit malam tersebut sehingga malam itu terlihat sangat terang.


Ia lalu terdiam sejenak. Merasakan cahaya bintang malam menyinari dirinya yang sedang berdiri saat dia menatap langit-langit malam.


Anak itu pun langsung berjalan menghampiri seseorang yang dilihatnya berada di pinggir sungai.


Saat berjalan sedikit lebih dekat pada sungai ,dia menemukan seorang anak perempuan yang sedang terkapar di pinggir sungai. Terdorong sedikit saja lagi dia akan jatuh ke dalam sungai dan terbawa arus sampai ke laut. Dia bisa tenggelam !


Anak itu terkejut. Wajahnya terlihat khawatir. Tanpa banyak berpikir ,ia menggulung celana hitamnya sampai hanya melewati sedikit lututnya. Dia berjalan selangkah demi selangkah menghampiri gadis yang terkapar. Suasananya sangat sepi sehingga dia tak begitu melihat jelas wajahnya. Setengah dari rambut panjangnya sudah jatuh ke air sungai.


Anak laki-laki berkemeja putih tersebut berjalan menyeberangi sungai ,menghampiri tempat gadis yang terkapar di sisi daratan yang lain.


Ia berlutut di depan anak gadis berambut panjang tersebut ,merasa terheran-heran. Kasihan sekali dia ,sepertinya sejak tadi tidak ada orang yang menyadari tubuhnya tergeletak di sini sendirian. Apalagi sekarang hari sudah malam. Masih baik karena tubuh gadis ini baik-baik saja di sini walaupun tidak ada yang menolongnya.


Lalu ia memutuskan untuk mengangkat tubuh kecil gadis itu dengan kedua tangannya.


Tubuhnya terasa ringan ,anak laki-laki itu tidak merasa kesulitan untuk membopong sebuah badan yang kurus menuju ke kediamannya.


***


Di suatu pagi yang terik, gadis itu terbangun dengan perlahan. Ia mengusap-usap kedua matanya sebelum akhirnya melihat ke sekeliling. Dia langsung terkejut.


Bibirnya melongo saat mengetahui dia tertidur di sebuah ruangan yang sangat asing baginya. Dia pun terkesiap dan bergumam.


"Ini di mana...?"


***


...-End of Part 3-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️