Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
8| Beautiful Girl



Anabelle berbicara kepada El dengan suara bergetar dan terbata-bata. Membuat El merasa kasihan kepadanya. El mengerutkan matanya ,melepaskan tangannya dari gagang pintu.


El berjalan selangkah mendekati Anabelle. Lalu memegang pundaknya perlahan. Anabelle menatap tangan yang berada di pundaknya. Wajah Anabelle mulai memelas ,membuat El tidak tega untuk meninggalkannya bersama para pelayan.


Anabelle memang masih takut dan merasa aneh karena tidak mengetahui apa-apa tentang tempat dan juga identitas El sebenarnya. Namun ,ia lebih baik jika ada El di sampingnya dibandingkan dia benar-benar di tempat yang sepenuhnya asing baginya. Tidak ada siapapun yang Anabelle kenali selain El saat ini.


"Anabelle." Panggil El dengan suara yang tenang.


"Kau tidak boleh seperti ini ya. Hargai Kimberly dan para pelayan lain yang sudah menyiapkan segalanya untukmu mandi. Dan bukankah katanya kau ingin segera merasakan air lagi ?"


Mendengar El ,Anabelle langsung menatap Kimberly yang masih tetap berdiri di tempatnya sambil menatapnya dengan khawatir. Tapi memang benar. Pikir Anabelle. Wanita itu juga tidak terlihat jahat dan mempunyai niat yang buruk.


"Aku berjanji setelah kamu selesai ,aku akan memberikanmu hadiah."


"Benarkah !?" Tanya Anabelle dengan mata yang langsung berbinar-binar. Perubahan ekspresi wajahnya begitu cepat. Dengan mudah dia melupakan kekhawatirannya karena perkataan menggiurkannya El.


"Ya. Beserta jalan-jalan di luar. Aku akan memperkenalkan tempat ini. Mau kan ?" Kata El sambil tersenyum.


"Baiklah... Kalau gitu abis aku mandi ,El akan kembali kan ?"


"Benar, Anabelle."


"Oke El !! Kalau gitu aku kembali dulu ke sana !"


El terkekeh. Ia tertawa kecil sembari melambaikan tangannya pelan pada Anabelle. Sebelum benar-benar pergi dia berkata ,"Bersikaplah baik ya ,Anabelle."


Saat Anabelle sudah berada di samping Kimberly ,ia melambai-lambai dengan kencang sambil menyengir pada El.


El pun membungkuk. ”Salam ,Miss Kimberly. Mohon bantuannya untuk mengurus Anabelle selama aku pergi sebentar."


"Baik Tuan Muda ! Anda bisa menyerahkannya pada saya." Jawab Kimberly sambil tersenyum dan dengan tangan kanannya di dada.


Untuk terakhir kalinya El tersenyum saat melihat Anabelle masih melambaikan tangan padanya. Kemudian ia pun melangkah keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Anabelle dan Kimberly saja di sana.


Kimberly masih saja tertegun di sana. Terkagum-kagum akan tata krama yang El miliki. Dia bertanya-tanya di dalam hatinya akan usia El yang baru menginjak sepuluh tahun. Dia ingin menolak untuk percaya pada hal tersebut.


Mengapa di usia yang baru sepuluh tahun El sudah bisa bersikap sedewasa dan sebaik itu...? Rasanya...ia tidak seperti anak kecil pada umumnya. Putranya yang sudah dua tahun di atas El saja ,tingkahnya jauh lebih kekanak-kanakkan dibandingkan El. Ia jadi penasaran kan bagaimana sebenarnya cara El dididik sejak kecil.


***


Dengan takut-takut ,Anabelle melangkah memasukki tempat yang dipersilahkan oleh pelayan tersebut untuk masuk.


Di dalam ,ia menemukan sebuah ruangan megah dengan sebuah bak emas di tengah-tengahnya. Banyak wangi-wangian yang tersedia di sekitar sana. Juga ada sebuah rak besar tempat menyimpan alat-alat persiapan mandi.


Anabelle langsung kebingungan. Mengapa sih semua ruangan yang ada di sini terlihat megah dan membuat matanya menyipit akibat kesilauan. Dan...tempatnya mandi tidaklah sesuai seperti yang dibayangkan olehnya sebelumnya.


Ia pikir ,ia akan mandi ditemani dengan ikan-ikan serta katak-katak. Tapi ,nyatanya tidaklah demikian. Pikirannya begitu konyol sampai ia sendiri sedikit terkejut karenanya.


Anabelle begitu terkejut saat pundaknya disentuh oleh seseorang di belakangnya. Dia berjalan menghindar dan berbalik menghadap orang di belakangnya.


Namun ,itu hanyalah seorang pelayan yang tadi mengantarnya hingga ke ruangan mewah itu. Anabelle pun kembali menunduk. Lalu sedikit mencuri pandang untuk menatap pemandangan di dekatnya. Ia semakin merasa takut ketika ada banyak orang yang berada di sana.


"Nona. Ini ,saya berikan untuk anda." Kata Kimberly tersenyum sambil menyerahkan sebuah mainan diputar yang berisikan seorang pria dan wanita yang tengah berdansa.


Dengan ragu ,Anabelle menerimanya. Kemudian berusaha untuk menyalakan mainan tersebut. Ia menggerak-gerakkan tuasnya ,namun tidak bisa. Sampai akhirnya ia pun bisa membuat tuas itu bergerak dengan sedikit memutarnya. Saat melihat tuasnya yang sudah bergerak ,ia terus saja memutarnya sampai mainan itu bisa menyala.


Anabelle terkesima ketika akhirnya pria dan wanita di atas kotak itu berdansa. Mereka bergerak sembari memutar di atas alas tersebut. Dengan asik Anabelle menatap mainan tersebut ,juga menikmati musik yang terputar dari sana.


Kimberly tersenyum ketika Anabelle menoleh kepadanya. Dia pun berkata ,"Sangat indah bukan ,nona ?"


Anabelle kembali menatap pasangan dansa tersebut ,kemudian sedikit menarik senyumannya.


"Ya...,indah."


"Baiklah. Apakah nona sudah mengerti bahwa di sini anda akan aman saja...?"


Anabelle langsung menoleh kepadanya. Masih sedikit ragu-ragu.


"Nona...? Saya juga termasuk teman baiknya tuan muda El ,lho..."


"Benarkah...?"


Kimberly tersenyum sungguh-sungguh dan mengangguk perlahan.


Saat itu ,Anabelle sudah mulai tenang dan ia dituntun ke bak mandi mewah yang berada di tengah-tengah ruangan. Dia menunjukkan ekspresi bingungnya pada wajah polosnya.


"Kenapa aku dipanggil nona ?"


Pelayan di sana yang berniat melepaskan pakaian lusuh Anabelle ,berhenti sejenak dan menatap satu sama lain. Mereka bingung akan cara menanggapi pertanyaan seperti ini.


"Hmm ,memang aturannya seperti itu ,nona..." Ujar Kimberly dengan ragu-ragu.


"Aku bingung kenapa aku dipanggil nona ,dan juga El dipanggil tuan. Bukankah El pasti jauh lebih berbeda daripada aku ?"


Kimberly mengernyitkan alisnya. Ia berkata ,"Nona. Jika anda dipanggil sama seperti tuan muda juga dipanggil ,bukan berarti anda sederajat dengan tuan muda."


Anabelle melipat bibirnya ke dalam ,masih belum mengerti perkataan Kimberly barusan. Ia tentulah tidak sederajat dengan El. Namun ia heran akan dirinya yang bukan siapa-siapa ini dipanggil 'nona'.


"Sederhananya begini ya ,nona Anabelle. Kami ditugaskan untuk melayani anda. Sudah sebuah etika bukan ,untuk memanggil anda dengan nona. Kami tidak diajarkan untuk memanggil orang yang kami layani dengan langsung sebutan nama saja."


Anabelle langsung menoleh pada Kimberly. Sedikit tersenyum karena mendapatkan jawaban yang ia inginkan di awalnya. Ia pun mengangguk-ngangguk mengerti.


Sepanjang proses tubuh Anabelle dibersihkan ,ia tertawa riang sambil menepuk-nepuk airnya. Membuat pelayan yang membantunya sedikit menjauh maupun memejamkan matanya karena air yang terciprat dari bak berkat Anabelle.


Para pelayan sedikit terkejut dan tak percaya saat melihat air yang begitu keruh seusai dibilaskan pada tubuh Anabelle. Mereka hampir mengira bahwa Anabelle terlahir dan selama ini hidup di sebuah tong sampah.


Anabelle menyentuh-nyentuh gelembung yang terbentuk di dekat rambutnya. Para pelayan di sana hanya terkekeh melihat tingkah Anabelle. Biarpun juga ,anak ini masih sangat kecil kan. Sudah lama sekali mereka tidak melihat kelakuan anak kecil seperti pada umumnya. Setelah pandangan mereka akan anak kecil sudah sedikit berubah akibat El di sana.


"Eh. Tunggu ,Nona ! Anda tidak boleh memakan busa di rambut anda !"


Anabelle terkejut ,ia langsung menurunkan tangannya lagi dari mulutnya. Padahal ,gelembung bewarna-warni itu terlihat sangat enak untuk dimakan.


Anabelle hanya duduk diam sembari diurusi oleh beberapa pelayan di sana. Sesekali matanya menatap ke benda emas yang ada di pinggir bak. Namun ,ia hanya bisa diam tanpa berani menyentuhnya.


***


Sekali lagi ,Anabelle hanya bisa kebingungan dengan keadaan di sekitarnya. Para pelayan terlihat sibuk dan mondar-mandir. Satu pelayan berada di dekat Anabelle ,memakaikan segala yang dibutuhkan ke tubuh Anabelle. Sedangkan pelayan wanita lainnya berjalan kesana kemari untuk menyiapkan yang dibutuhkan.


"Aah !" Suara Anabelle mengaduh saat rambutnya dijepit dengan sesuatu yang lumayan besar. Membuat kulit kepalanya sakit sesaat dipakaikan perhiasan.


"Maaf ya nona."


Anabelle hanya mengangguk. Kemudian dia sedikit melipat bibirnya. Terlihat seperti sedang memikir.


"Apakah setiap hari El juga mandi di sini dan didandani seperti ini...?"


Kimberly sedikit bingung. Ternyata ,anak ini memiliki rasa penasaran dan penuh ingin tahu akan segala hal di sekitarnya ya...


"Tuan muda sudah bisa menyiapkan dirinya sendiri ,nona. Ia sudah tidak dibantu oleh pelayannya dalam berpakaian."


"Ohhh ,mengapa ?"


Kimberly lagi-lagi mengaduh.


"Nona... Yang Mulia tidak akan membiarkan tuan muda menjadi anak manja yang segala sesuatunya harus dilayani..."


Anabelle terdiam sembari menatap Kimberly yang seperti kesusahan karena harus mengurusinya sembari menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Kelihatannya tidak seharusnya ia menanyakan sesuatu saat ini ,jadi ia memilih untuk tetap diam dan menunggu sampai pelayan selesai akan dirinya.


Beberapa lama kemudian ,setelah para pelayan mencucurkan keringatnya ,proses pendandanan Anabelle pun selesai.


Kimberly membawa Anabelle ke depan sebuah cermin megah. Anabelle terkesima. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya mengenai identitas perempuan yang ia lihat saat ini.


"Wahh ,anda cantik sekali nona. Anda terlihat seperti seorang putri !"


Anabelle masih saja melongo di tempatnya. Kulit Anabelle tampak jauh lebih bersih dibandingkan sebelumnya. Wajahnya diberikan riasan-riasan tipis untuk menutupi memar yang ada. Wajah kusamnya juga sudah tampak cantik untuk dilihat.


Terdapat perhiasan rambut meliputi bunga gardenia putih yang begitu indah. Wajah kusamnya diriasi dengan bedak yang menutupi kulit kusamnya. Lalu di badannya ,ia mengenakan sebuah gaun putih sederhana yang mengembang. Rendah-renda putih di pinggir gaunnya terlihat gemilang. Gaun tersebut hanya sampai ke bawah pergelangan kakinya. Tidak menghalanginya saat ia berjalan


Ia mengenakan sepatu berhak pendek sehingga tetap tidak menyusahkannya untuk berjalan. Giginya juga tidak terlihat kuning lagi seperti tadi. Namun ,warnanya sudah nampak cerah walaupun tidak putih sepenuhnya. Rambutnya diikat di samping kanan dengan kepangan rambut yang juga dibuat dari kiri hingga melintasi rambutnya ke kanan.


"Nyo-Nyonya... Benarkah ,aku tiba-tiba...ja-jadi secantik ini...?"


"Ya ,nona ! Anda begitu cantik dan berubah dibandingkan sebelumnya."


Anabelle mendongak dan menatap Kimberly dengan wajah riang gembira.


"A-Aku...tidak sabar mau ketemu El !!"


***


"Permisi ,Mrs Amadea. Nona Anabelle sudah selesai diriasi ,Mrs."


Amadea yang kala itu tengah membantu Lev untuk mengurusi patung dewi Athena yang pecah tadi ,menoleh dan segera menghampiri mereka.


Amadea juga tidak kalah kagum reaksinya saat melihat penampilan baru Anabelle. Ia mengangguk-ngangguk dan memujinya.


"Terima kasih ya Mrs Kimberly-"


"Di mana El ? Aku mau ketemu dia lagi !!"


Kimberly dan Amadea sama-sama terheran-heran. Mereka sedikit bingung dan menatap Anabelle dengan tidak mengerti.


"Eemm... Nona ,tidak sopan jika anda menggunakan kata 'dia' dalam menyebutkan tuan muda El." Kata Amadea dengan sesopan dan selembut yang ia bisa.


Anabelle langsung tergelak. "Eh ,i-iya ya. Ma-Maafkan aku !"


Ia sebenarnya ingin sekali menanyakan tentang siapa sebenarnya El dan apa posisinya di tempat ini. Jadi ,dia tidak sabar menunggu agar El memperkenalkan segalanya mengenai tempat ini. Sangatlah tidak sabar.


Beberapa saat ,Anabelle hanya bisa duduk diam dengan gugup sambil memerhatikan orang di sekitarnya. Ada beberapa orang yang sibuk bekerja. Baik itu membersihkan ,merapikan dan menaruh barang-barang tertentu di dalam ruangan. Lalu di dekatnya ,ada beberapa orang yang sibuk mengurusi sesuatu. Ia menduga bahwa ini masih berhubungan dengan perihal pajangan yang pecah tadi siang.


Sepertinya ,Anabelle lah satu-satunya orang yang tidak melakukan apapun di sana.


Entah mengapa ,ia tidak nyaman berada di tengah-tengah situasi ini. Ia melihat ke orang-orang sekeliling.


Tidak ada satupun yang memedulikannya. Anabelle pun menjadi takut. Mengapa El begitu lama untuk kembali ? Anabelle mulai menggigiti kukunya. Mulai khawatir bahwa El berbohong sangat mengatakan kalau ia akan kembali.


Anabelle tergelak saat ia mendengar bahwa namanya disebut-sebut oleh pelayan pria di depannya. Pelayan yang biasanya bersama dengan El. Anabelle tidak bisa mengingat namanya. Ley ? Vel ? Val ? Levi ? Entahlah, mungkin namanya sejenis itu.


Apakah ia sedang diungkit-ungkit karena telah menyeret El ke dalam masalah...?


Anabelle hanya bisa terus berharap agar El kembali secepat mungkin agar Anabelle bisa selamat dari kondisi tidak mengenakkannya sekarang ini.


Tiba-tiba El muncul dari belakangnya dan menunjukkan wajahnya pada Anabelle yang terus sibuk memikirkan sesuatu.


"Halo lagi ,Anabelle."


"El...!!"


El berdiri di sampingnya ,lalu memegang tangannya Anabelle dan sedikit menariknya agar gadis itu berdiri juga. Anabelle hanya menurut saja. Ia pun berdiri ,menampilkan seluruh penampilannya yang berubah drastis. Sesaat ,El tertegun saat melihat gadis di depannya. Padahal ,tadinya ia begitu lusuh sampai disangka budak. Tapi sekarang ,El bisa mengakui bahwa jika ia mengatakan Anabelle merupakan seorang putri ,tidak seorangpun akan terkejut akan hal tersebut.


"Woah. Kau tampak luar biasa ,Anabelle."


"Be-Benarkah ? Aku tambah percaya jika El yang mengatakannya." Jawab Anabelle sambil menatap penampilannya sendiri.


"Kalau aku bilang iya ,artinya benar adanya." Kata El lagi sembari tersenyum.


Anabelle tersenyum manis ,ia menatap El dengan sedikit terkesima. Lalu ,Anabelle tiba-tiba teringat akan sesuatu. Mengenai pelayan El yang tadi menguruskan sesuatu.


Ia menoleh ke arah lain ,mendapati bahwa pelayan El dan lainnya masih saja berada di sana.


"Oh iya El ,di... sana sedang sibuk akan sesuatu ..."


"Sibuk ? Siapa ?"


El hanya ingin tahu apakah Anabelle masih mengingat orang-orang yang bertemu dengannya.


"Di sana..."


"Aku tidak tahu siapa yang kau maksud." Ujar El yang masih menatap El dengan sedikit tersenyum.


Anabelle tampak geregetan di sana. Ia bingung harus menyebutkan apa di saat ia saja tidak mengingat siapa saja nama yang ia maksud. El hanya ingin tertawa karena Anabelle tampak jengkel sekarang ini.


"Eehh ,di sana El... Pelayan yang biasanya bersama dengan El... Siapa yah ? Val...?"


"Haha ,oke-oke."


El merangkul pundak Anabelle ,ia sedikit terkekeh. Postur tubuh El yang lebih tinggi daripada Anabelle membuatnya sedikit menunduk untuk menatap gadis itu.


Kemudian ,El sedikit mengulurkan tangan kanannya dan menunjuk Lev dengan telapak tangan yang telah ia miringkan.


"Itu pelayan yang selalu bersamaku. Namanya Levant ,aku sering memanggilnya Lev. Bukan Val ya ,itu nama kesatria ayahku lho."


"Oohh ,Lev toh. Kalau yang itu ?" Tanya Anabelle sambil menunjuk Amadea dengan menggunakan jari telunjuknya.


El tersenyum. Kemudian memegang tangan Anabelle ,membuat Anabelle membuka tangannya. El mengatur agar tangan Anabelle menunjuk dengan menggunakan telapak tangannya juga ,sama seperti El. El sedikit memutar telapak tangan Anabelle. Anabelle pun akhirnya menunjuk Amadea dengan memiringkan telapak tangannya.


Bukan bermaksud menggurui ,namun El tidak pernah diajarkan untuk menunjuk seseorang dengan jari telunjuknya. Hal tersebut membuat kesan yang tidak sopan.


Anabelle menoleh pada El yang tangan kirinya masih merangkul pundaknya. El pun balas menatapnya ,menarik senyumannya.


"Itu Mrs Amadea. Kepala pelayan di istana ini. Ia juga yang akan mengurusmu jika kamu mau tinggal di sini. Hmm ,tapi tergantung juga sih."


"Eh ,ti-tinggal ?" Tanya Anabelle dengan gugup.


Bukan hanya gugup karena El mengatakan bahwa Anabelle akant tinggal di sini. Namun juga karena posisi El yang sangat dekat dengannya. Anabelle merasa sangat minder dan tidak percaya diri. Ia melupakan fakta bahwa penampilannya sudah diubah sehingga dia terlihat seperti seorang putri.


"Ya. Setelah aku mengenalkan tempat ini ,aku akan bertanya itu padamu."


"O-Oh..."


El hanya terkekeh. Kemudian ia melanjutkan kegiatannya untuk mengenalkan nama-nama orang yang sedang sibuk jauh di depan sana.


Tangannya berpindah seiring ia menyebut nama orang yang telah ia tunjukkan pada Anabelle.


"Itu Paula. Itu Kimberly. Itu Sabira ,Ronnei dan Leia."


"Menakjubkan El... Mengapa kau bisa mengingat nama orang sebanyak itu hanya melihat dari jarak seperti ini ?"


"Mereka kan bekerja di tempat aku tinggal ,Anabelle. Mana mungkin aku tidak mengingat mereka."


"Oh ,begitu... Tetapi...a-aku tidak bisa mengingat mereka semua. Aku hanya bisa mengingat tuan Lev ,Mrs Amadea dan Mrs Paula."


"Iya ,tidak apa. Aku hanya ingin membuatmu nyaman dan sudah mulai banyak bicara." Kata El sambil tersenyum.


El sadar bahwa dirinya tidak bisa melakukan apapun terhadap patung yang pecah tersebut. Maka ia hanya bisa mengajak Anabelle untuk menghampiri Lev dan Amadea.


El membungkuk setelah ia berada di hadapan Lev dan Amadea.


"Mohon bantuannya ya. Aku minta maaf karena telah membuat masalah seperti ini."


Amadea langsung tergelak. Menggunakan kedua tangannya ,ia menggerak-gerakkannya, tanda bahwa ia tidak setuju.


"Tuan muda ,bukan suatu etika untuk anda membungkuk pada kami. Ini sudah suatu kewajiban bagi kami untuk melakukan apa yang anda perkenankan."


Lev pun sedikit membungkukkan badannya ,meletakkan tangan kanannya di dada. Tanda bahwa ia ikut setuju pada perkataan yang dilontarkan Amadea.


"Baiklah ,terima kasih."


Sebelum berjalan pergi bersama dengan El ,Anabelle mengikuti hal yang dilakukan El dan membungkuk dengan sangat hormat ,sampai mencapai tujuh puluh derajat. Setelah itu ,Anabelle langsung setengah berlari untuk mengikuti langkah El yang sudah mendahuluinya.


Kemudian setelah kedua anak itu pergi ,Amadea menatap Lev dan berkata ,"Sir ,sepertinya...patung ini memang dibuat dari bahan baku yang kita tidak bisa temukan. Kita sudah mengidentifikasinya berkali-kali..."


***


...-End of Chapter 8-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️