
Anabelle duduk sesuai perintah El di sebuah kursi yang dilengkapi oleh meja makan. Sebelum mendatangi sang koki ,El pun berjalan menghampiri Anabelle dan memeriksa kondisinya.
Dia tersenyum bangga. Dugaan El mengenai Anabelle saat berada di dalam istana Emerald memang benar sesuai. Saat pertama kali masuk ,Anabelle seperti kehilangan kesadaran akan banyaknya barang-barang yang berkilauan ,membuat matanya termanjakan.
Gedung istana Emerald adalah sebuah istana yang bagian dalamnya bernuansa putih dan hijau terang sebagai warna penghias utamanya. terang yang turut menghiasinya. Aula nya saja sangat-sangat mewah. Sebuah karpet permadani bernuansa hijau serupa terbentang lebar di tengah-tengah ruangan. Lalu sebuah kandil tergantung di atas ruangan. Terdiri dari rangkaian-rangkaian lampu berwarna putih yang berkilauan.
Selain itu ,jendela-jendela besar turut menghiasi setiap sudut dinding sehingga ruangan tersebut terkesan cerah. Tirainya dihiasi warna putih dengan warna hijau yang meronai setiap pinggirnya. Serta lukisan-lukisan yang tidak Anabelle ketahui apa itu semua tergantung di celah dinding yang kosong.
Anabelle tidak tahu berada di tempat mewah apa ini... Sama sekali bingung dan seperti kehilangan kesadaran dirinya sendiri. Semuanya terlihat berkilauan sampai-sampai Anabelle menyipitkan matanya karena kesilauan saat melihatnya. Pemandangan gemilang dan menyilaukan ini membuat Anabelle merasa ia lah satu-satunya benda kotor yang menodai
Ruangan yang saat ini Anabelle tempati adalah sebuah ruang makan. Mejanya sangat lebar ,putihnya begitu terang sampai Anabelle sedikit menyipit karena kesilauan melihat meja di hadapannya tersebut.
Kemudian terdapat dua alas meja berwarna hijau yang menyerupai warna batu zamrud. Dua alas tersebut panjang dan saling menyilang sampai ke sudut ujungnya.
Segala peralatan makannya telah disiapkan pada masing-masing tempat yang tersedia. Terdapat juga hiasan lilin dan berbagai vas bunga yang membuat meja tersebut menjadi terlihat lebih elegan.
Kemudian El menghampiri bagian dapur yang banyak orang terlihat sedang sibuk di sana ,termasuk sang koki yang mengenakan topi berwarna putih dan berukuran tinggi di atas kepalanya. Dia langsung buru-buru menghampiri El dan membungkukkan badannya. Semua pekerja dan koki yang lain pun menghentikan pekerjaannya sejenak dan menghadap pada El. Mereka semua membungkuk.
El sedikit merasa bersalah sih ,karena tiba-tiba mendatangi mereka begini. Padahal mereka kelihatannya sedang ada pekerjaan yang sangat sibuk dan lumayan genting. Biarpun begity ,mereka menganggap jika mereka tidak menghiraukan seorang anak bangsawan dan malah melanjutkan pekerjaan mereka itu adalah tindakan yang tidak terpuji.
El hanya sedikit membungkuk. Kemudian ia mengangguk-ngangguk dan sedikit mengibas-ngibaskan tangannya ke bawah pada mereka. Membiarkan mereka untuk melanjutkan saja pekerjaannya yang terhenti sesaat karena kedatangan El.
"Selamat pagi ,tuan muda. Suatu kehormatan jika anda mendatangi tempat ini." Sapa sang koki yang terlihat paling tinggi peringkatnya sambil meletakkan tangan kanannya di dada.
"Ya ,Sir Fabio..."
Kemudian El mengatakan sesuatu pada sang koki. Ia memerintahkannya untuk memasakkan makanan yang paling lezat dan mewah yang bisa ia buat sekarang ini. Kemudian koki tersebut sedikit tergelak saat mengetahui jenis makanan apa saja yang El inginkan dia untuk masak.
"Eh ? Tapi tuan muda ,untuk apa makanan sebanyak itu ?"
"Tidak apa ,tolong buatkan saja ya." Jawab El yang malas menjelaskan kepadanya untuk apa perintahnya saat ini.
"Baik tuan muda."
"Oke. Maaf ya jika aku menghambat pekerjaan kalian."
"Tidak sama sekali tuan muda ! Anda bisa menunggu dengan tenang selama kami membuatnya. Secepat mungkin makanannya akan siap ,tuan muda El..."
"Oke..." Jawab El lagi.
Namun kemudian ,El sedikit terkejut dan langsung menyentuh mulutnya menggunakan lekukan jarinya. Kebiasaan...ini adalah kebiasaannya yang buruk sekali.
El pun melangkah keluar dari dapur yang besar dan megah itu.
Di saat El sudah melangkah keluar ,sang koki menepuk-nepukkan kedua tangannya dan berkata ,"Semuanya ,hentikan pekerjaan kalian sementara ini dahulu. Perintah tuan muda adalah prioritas kita saat ini."
"Baik ,chef !" Jawab mereka dengan cepat.
***
Kedua manik Anabelle berbinar-binar saat melihat semua makanan yang banyak sekali dijamu di atas meja. Dia menatap santapan-satapan di pagi hari yang menunggu untuk dicicipi.
Anabelle tidak pernah melihat makanan seperti yang tertata di depannya ini sebelumnya. Dia menelan ludahnya ,merasa tidak berdaya di depan makanan mewah nan terlihat lezat tersebut. Susunannya sangat rapi ,semuanya beraroma sangat wangi ,membuat Anabelle bernapas lebih dalam dari yang sebelumnya.
Rasanya ,dia ingin langsung melahap semua yang ada di depannya tersebut. Namun dia sadar diri. Belum tentu semua jamuan itu diletakkan untuk dirinya yang bukan siapa-siapa di sana.
El pun masih belum datang ke sana. Dia masih harus menunggunya ,yaitu satu-satunya orang yang ia kenal di tempat asing sepenuhnya ini.
Anabelle meremas bagian bajunya dengan kedua tangannya. Merasa gugup jika ditinggalkan sendirian seperti ini. Matanya melirik ke atas meja ,menatap makanan-makanan tersebut dengan curi-curi pandang.
Hati dan raganya bersikeras untuk menghambatnya dari mencomot makanan tersebut saking penasarannya. Anabelle menggeleng-geleng dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Saat itu juga ,sebuah tangan menyentuh pundaknya. Anabelle terkesiap dan menoleh pada tangan yang menyentuh pundaknya.
Dengan wajah khawatir ,El langsung melepaskan pundaknya. Ia berkata ,"Eh maaf. Kau kenapa barusan ?"
"A-Ah ,t-tidak..."
El menatap semua jamuan yang telah ia siapkan untuk Anabelle ,kemudian berkata pada Anabelle dengan sedikit terheran-heran ,"Kenapa kau tidak makan ini semua ? Kukira semuanya sudah habis ketika aku sampai ke sini."
Tangan El memegang puncak kursi yang diduduki oleh Anabelle. Kemudian menatapnya dari samping. Sedangkan Anabelle ,malah sedikit gemetar dan menatap lurus. Merasa takut untuk balas memandang El.
Mulutnya terbuka ,namun dia tidak mengeluarkan suara miliknya. Membuat El kembali terdiam dan mengerutkan keningnya.
"Apa yang kamu bingungkan ,makanlah. Itu semua memang aku siapkan untukmu."
Mendengar itu ,Anabelle langsung menoleh pada El. Mata mereka bertemu. Anabelle menatap El dengan penuh rasa ceria. "Be...narkah ?"
Suara Anabelle terdengar begitu kecil ,sampai El tidak akan mendengarnya jika tidak memerhatikan. El menghela napas ,kemudian mengangguk pelan.
Kemudian El pun duduk di kursi yang berada di tengah-tengah meja ,yang langsung menghadap pada Anabelle.
Anabelle semakin bingung saat ia disuruh untuk memakan semua itu. Tadi El bilang semuanya itu untuk Anabelle. Tapi kenapa ...?
Anabelle kebingungan. Mengapa El berbaik hati sampai seperti itu ? Bukan hanya kebingungan akan makanan yang disiapkan untuknya. Namun ,Anabelle juga kebingungan akan cara memakan semua itu. Semua jenis makanan yang tertata itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Dia tidak mengerti. Apa sama saja kalau caranya adalah memakai tangan untuk memakannya. Karena selama ini ia selalu memakai tangannya ,untuk memakan apapun yang ibunya berikan untuknya.
Jadi ia kira ,semua manusia memang makan menggunakan tangan mereka.
Di saat Anabelle masih terdiam kebingungan ,Lev datang menghampiri El. Kemudian membungkuk ke arahnya dan menyodorkan sebuah masker untuk dikenakan oleh El.
El menoleh ,menatap benda yang disodorkan untuknya. Kemudian menggeleng dengan wajah yang datar. "Kau saja yang pakai itu Lev."
"Ah ,baik. Maaf tuan muda." Kata Lev sambil menyimpan kembali masker hitam tersebut.
Tidak mungkin Lev mengenakannya jika El saja tidak mengenakannya. Hal itu akan membuktikan jika gengsi dan derajat Lev lebih tinggi dibandingkan El. Lev tidak menginginkan hal tersebut.
Dia akan mencoba untuk mengikuti langkah El ,menahan aroma yang sangat tidak sedap tercium dari gadis bernama Anabelle tersebut. Lev tidak menyangka bahwa kebaikan tuan mudanya bisa sampai sejauh ini. Lev saja sudah mulai merasa tidak tahan akan bau yang tercium dari tubuh lusuh gadis di hadapannya itu. Tapi ,El yang sudah lumayan lama bercakap dengannya ,dan bagaimana dia bisa menahan aroma bak sampah tersebut ?
Lev melirik El. Kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya. Padahal biasanya ,El itu orang yang higienis. Dia tidak akan membiarkan kepunyaannya kotor bahkan hanya secuilpun. Dia juga biasanya akan menjadi tidak nyaman jika berada di dekat sesuatu yang tidak bersih. Tapi ,gadis ini lebih jauh lagi dari kata tidak bersih.
Bahkan Lev tidak tahu bau apa saja yang tercampur dari gadis tersebut. Lalu ,bau napasnya pun beruntungnya belum ia ketahui sebelumnya. Dia merasa begitu kasihan pada El. Dia ingin agar gadis itu segera pergi saja dari istana tersebut.
Tetapi Lev seperti tidak bisa melakukan apapun akan hal ini. Dia tidak berhak menentang keputusan El. Tugasnya untuk mendampingi El ,bukan untuk hal yang seperti itu.
Kemudian ,Lev dan juga El sama-sama tergelak saat tiba-tiba Anabelle mencomot salah satu dari makanan tersebut. Tanpa memedulikan tatapan Lev dan El ,Anabelle hanya bisa memerhatikan makanannya sendiri. Perutnya sudah benar-benar sakit dan kelaparan ,Anabelle sudah tidak peduli lagi jikalau dirinya tengah diperhatikan.
El terdiam sembari menatap Anabelle yang sedang mengunyah sebuah potongan pai dengan tidak sabaran. Bahkan ia tidak menyadari bahwa krim dan sausnya berlepotan di sekitar mulutnya. Anabelle terus saja asik menggigit pai ayam tersebut. Dia tidak pernah merasakan makanan selezat ini sebelumnya. Sebenarnya ini jenis makanan apa ,mengapa bisa begitu enak dan membuatnya ketagihan ? Rasanya...begitu beda dengan makanan yang selama ini ia masukkan ke mulutnya. Membuat Anabelle ingin terus mencicipinya. Matanya berbinar-binar saat melihat bahwa selain pai ,masih banyak lagi piring-piring makanan di sekitarnya yang menunggu untuk dilahap. Maka tambah semangatlah dia memenuhkan isi perutnya tersebut.
Lev menoleh pada El dengan wajah khawatir. Lalu ia berkata ,"Tuan muda. Jika kita biarkan seperti ini ,peralatan makan dan meja makan istana akan menjadi kotor..."
El menatap Lev dengan wajah datar. Membuat Lev sedikit tergelak melihat ekspresinya tersebut. Namun ,El tersenyum kecil sambil berkata ,"Lalu ,bukankah kita ada pelayan yang bertugas untuk mencucinya setiap hari ?"
Lev pun terdiam. Dia tidak lagi berani untuk menentang ataupun berusaha untuk memberitahu El lagi. Ia takut El akan marah.
"Biarkan saja Lev. Dia kelaparan."
Sembari menatap Anabelle yang tengah menyantap makanan-makanannya dengan rakus dan tanpa mengetahui tata kramanya ,El duduk didampingi oleh Lev di sampingnya. Lalu El berkata pada Lev sambil tetap melihat ke arah Anabelle ,"Lev, ayahku kapan pulang ?"
"Saya mendapat kabar bahwa perjalanan di Xanchior tidak begitu lancar Tuan muda. Jadi kemungkinan ayah anda baru bisa pulang di minggu depan."
"Huh ? Nampaknya itu hal yang baik." Jawab El sambil sedikit menarik senyumnya.
Lev tersenyum canggung sambil sedikit mengangguk. Tidak tahu harus menjawab apalagi.
Anabelle tersadar di tengah santapannya. Dengan kaku ,ia menoleh pada El. Memperlihatkan dirinya yang sudah berantakkan akan saus-saus dan makanan yang menempel di sana. Di sekitar mulutnya begitu kotor ,begitu pula saus-saus yang sampai menempel ke dekat pipinya. Membuat El tersenyum dan menggeleng-geleng.
Lalu El berjalan dan berdiri di dekat tempat Anabelle duduk. Menatap tangan Anabelle yang sudah kotor dan penuh dengan keping-keping makanan ,begitu pula mejanya yang di atas alasnya sudah banyak akan bercak-bercak saus. Banyak pula makanan Anabelle yang jatuh ke piring kosongnya yang tak ia pakai sama sekali sejak tadi.
Anabelle diam mematung saat El mendekati dirinya kembali. Dia langsung berhenti mengunyah walaupun masih ada makanan di dalam mulutnya.
Kemudian El mengambil serbet yang berada di sisi kiri piring milik Anabelle. kemudian sedikit membentangkannya.
"Sejak tadi aku bertanya-tanya. Apa kamu tidak tahu bahwa ada alat makan bernama sendok dan garpu ?"
"Se-Sendok...?" Ulang Anabelle dengan gugup.
"Haish. Kok bisa sih kamu seperti ini...?" Tanya El dengan bingung sambil menyeka mulut Anabelle dengan serbet di tangannya.
Membuat wajah Anabelle tampak lebih baik dibandingkan sebelumnya. El sedikit memiringkan tubuhnya agar dapat menghadap Anabelle. Kemudian ia meletakkan serbet tersebut ke pangkuan Anabelle. El menatap wajah Anabelle dengan sedikit tersenyum. Lalu berkata ,"Kok berhenti makannya ?"
Sambil menatap El dengan kaku ,Anabelle langsung menelan makanannya begitu saja. Membuat El sedikit terkekeh. Dia pun sedikit menjauhkan tubuhnya dari Anabelle. Lalu memasang senyumnya yang ramah.
"Yang kamu sedang makan itu namanya Scones. Itu salah satu favoritku lho ,enak ya Anabelle ?"
Anabelle sedikit terkejut saat El memanggil langsung namanya. Bukan apa-apa ,hanya saja...ia sama sekali belum terbiasa dengan namanya tersebut.
Dengan kaku ,Anabelle mengangguk perlahan tanpa balas menatap El.
"Oh ya ,Anabelle."
El tersenyum begitu manis dan ramah pada Anabelle sebelum berkata ,"Zure izena ederra da."
Anabelle dibuat makin kebingungan saat mendengar pelafalan asing bak bahasa alien yang diucapkan oleh El. Lev pun tidak lain bingungnya. Bahasa apalagi yang telah dipelajari olehnya ? Bahkan Lev pun sama sekali tidak mengerti apa dan menggunakan bahasa apa El bicara barusan.
"Hehe. Maaf-maaf kalau kamu jadi makin kebingungan. Habis ,sejak tadi kau terlihat begitu tegang Anabelle. Jadi ,aku hanya berniat membuatmu lebih santai saja..."
El menaikkan kedua pundaknya dan melanjutkan ucapannya ,"Tapi aku tidak tahu ingin bicarakan apa."
Akhirnya Anabelle bisa balas menatap El dengan leluasa. Tatapan dan ekspresi wajahnya mulai lebih santai dibandingkan sebelumnya yang begitu tegang.
Anabelle menatap El dengan penuh rasa ingin tahu. Lalu ia bertanya ,"Lalu ,tadi El mengatakan apa ?"
El tertawa kecil. Ia pun menjawab,
"Aku tadi cuma berkata bahwa,"
El menyengir ,memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"namamu indah. Aku sangat menyukainya."
***
......-End of Chapter 6-......
Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️