Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
21| My Perfect El



Sebuah seruan nyaring seorang anak gadis tiba-tiba terdengar sampai ke seluruh sudut ruangan. Membuat sosok Raja itu langsung membalikkan badannya untuk menyaksikan langsung pemilik suara tersebut.


Kedua mata Anabelle memerah, air matanya perlahan bercucuran dari sana. Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan melepaskan genggaman pada kedua lengannya.


"Yang Mulia...tolong jangan bicara seperti itu pada El..."


Walaupun kedua manik Anabelle terus mengalirkan air mata, ia tetap saja berdiri tegap dan menyampaikan maksudnya dengan lantang. Ia tak lagi bisa mundur. Ucapannya tak lagi bisa ditarik. Namun ia tak menyesal telah menentang Raja. Mau ia sekarang mati ditebas pun, Anabelle tak lagi peduli. Asalkan sekali saja ia bisa berguna dan berani membela El, ia ingin melakukannya. Toh tak lagi ada tujuan untuknya hidup. Ia ingin menggunakan semua kemampuannya demi melakukan sesuatu untuk malaikatnya.


Kata-kata seperti ****** tidaklah pantas ditorehkan pada El... Hati Anabelle seperti teriris-iris ketika ibunya terus mengatainya dengan kata tersebut walaupun ia tak tahu arti yang sebenarnya. Tapi ia tak ingin El merasakan hal yang sama sepertinya. Tidak, manusia sempurna seperti El...tak pantas mendapatkan hinaan yang sama seperti yang Anabelle dapatkan.


Kedua kakinya bergetar, begitu pula dengan suaranya yang parau.


"Seandainya Raja tidak mengatakan hal seperti itupun, El....."


"Sudah tidak ada. Zora...sudah tidak ada."


Dengan suara gemetar, sekali lagi Anabelle mengulangi nama El.


"El..."


"Tolong jangan menanyakan atau membicarakan tentang ibuku ya...Ann, dia sudah tidak ada."


"El juga sudah cukup menderita di hidupnya...!!" Seru Anabelle dengan mata yang terpejam rapat.


Gadis yang selalu berbicara dengan volume sekecil tikus itu pertama kalinya menyerukan sesuatu dengan lantang, dan...pertama kalinya ia begitu tegas membela seseorang.


Beberapa lama suasananya begitu hening setelah Anabelle berteriak seperti itu.


"Ann..."


Di sisi lain, sang Raja hanya mengedipkan matanya beberapa kali dengan gerakkan yang lamban. Tampak sudah lelah menghadapi semua di hadapannya ini. Rasanya, ia ingin saja langsung menusuk satu-satu siapapun yang menentangnya. Ya, biasanya dia seperti itu jika ada orang yang menentang perkataannya. Akan tetapi,... Matanya melirik El, lalu ia pun menghela napas dan memejamkan matanya, menahan amarahnya.


"Suara cicitan tikus takkan pernah kugubris." Sahut Raja Alaric dengan datar.


El menoleh pada Anabelle yang tubuhnya sedang gemetar hebat. Ia menghela napas dan langsung menggenggam tangannya, membuat tubuh Anabelle menjadi lebih stabil.


"Terima kasih, Ann." Bisik El sambil tersenyum bahagia.


Setelah itu, El kembali menatap sang Raja dan berkata "Yang Mulia. Sebelum anda pergi, mari...membuat kesepakatan?"


***


The next day...


...-Royal's Boutique-...


...-10:44 AM-...


Start


"Farancia itu tempat yang paling kau benci kan? Kau bodoh atau bagaimana sih El?!"


Ray terus saja menceramahi El sembari mereka berjalan memasuki butik. El yang sudah mulai merasa pusing akan suara Ray yang terus-terusan mengomelinya pun memejamkan matanya beberapa saat.


Kemudian ia berhenti melangkah, Ray pun mengikutinya. El memandang Ray, lalu berkata, "Keputusanku sudah bulat dan yang mulia juga sudah menyetujuinya, tak ada gunanya kau seperti ini Ray."


El menghela napas usai mengatakan hal tersebut. Padahal, Ray begitu pendiam dan sunyi saat bersama orang lain. Akan tetapi saat bersamanya, terkadang ia bisa sangat cerewet, bahkan melebihi Adora.


El menarik senyum kecil ketika melihat Ray yang begitu kecewa menatapnya.


"Setidaknya kau bisa memberiku penjelasan kan, kenapa tiba-tiba pergi mau belajar ke Farancia."


"Bukankah sudah jelas? Satu-satunya kandidat penerus Avergaille memang harus berkualitas sempurna kan."


"Tidak perlu! Tidak perlu berprinsip seperti itu... Kau yang sekarang juga sudah pantas El, tak perlu lagi-"


"Ehe, Ehemm..."


Debatan Ray terhenti ketika terdengar suara dehaman pria dari belakang mereka. Terlihatlah sosok Gelasya yang dengan anggun memegang tasnya menggunakan kedua tangannya. Ia datang ke butik tersebut ditemani oleh pelayannya di sampingnya yang tengah memejamkan matanya sembari membungkuk pada El dan juga Ray.


"Kalian jadi sering berdebat ya, kuperhatikan."


Ray melipat salah satu tangannya di dekat pinggangnya, lalu menggaruk-garuk lehernya, merasa bingung dengan semua yang terjadi di kerajaan saat ini.


"Kau menerimanya, Gelasya? Kau tak akan keberatan bahwa El akan berpisah dari kita dan berada di tempat yang ia benci selama lima tahun?"


Gelasya tersenyum kecut.


"Aku biasa saja. Toh sudah diputuskan, tak bisa diubah lagi."


Selesai mengungkapkan jawaban bohongannya, ia pun menghampiri El yang sedang berdiri di dekat Ray dengan wajah yang terlihat tak nyaman. Gelasya merangkul lengan El dan mengajaknya melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Nah sekarang, kita harus memilih pakaian yang serasi dan berkesan untuk besok kan El."


El menatap Gelasya yang sedang merangkulnya, begitu pula dengan Gelasya. Matanya sedang memandang El yang saat itu terlihat...menyiratkan kesedihan yang mendalam.


"Bagaimanapun juga, besok adalah pesta dansa pertama kita yang sebagai pasangan, dan yang terakhir juga karena kau akan segera pergi."


**


Saat itu, Gelasya sedang duduk di atas sofa kecil dan mulai mencobakan sepatu yang dipilihkan El untuknya. Gelasya sedikit tergelak melihat sepatu yang disarankan olehnya. Ia pun mendongak, menatap El dengan wajahnya yang menyiratkan kelembutan.


"El, boleh kutahu alasanmu memilihkanku sepatu ini?"


Sepatu yang sedang dipegang Gelasya hanyalah sepatu hitam sederhana dengan pita berwarna serupa yang menghiasi bagian depannya. Hak yang terdapat pada sepatu tersebut juga sangat pendek. Meski Gelasya barulah seorang putri yang belum dinobatkan secara resmi, ia bisa memakai sepatu yang jauh lebih berkesan daripada ini.


El tersenyum manis, kemudian beranjak duduk di dekat Gelasya.


"Hmmm, lihatlah. Hampir semua pakaian dan aksesori di sini terlihat mewah dan terlalu glamor. Bahkan toko-toko lain pun hampir sama seperti ini. Jadi, menurutku itu terlalu biasa."


Beberapa detik El mencurahkan idenya, Gelasya menarik senyumannya.


"Ohh, sebentar...aku tahu maksudmu."


"Gaya sederhana ala pasangan desa!" Ucap mereka bersamaan.


Tawa mereka pun pecah. El tertawa renyah ketika Gelasya bisa mengetahui persis apa yang ada di benaknya.


Gelasya tersenyum sembari menatap El yang tertawa bersamanya. Apa yang telah terjadi, mengapa El memperlakukan Anabelle yang baru ia kenal dengan begitu protektif, mengapa ia rela pergi ke Farancia hanya supaya gadis yang disebut sebagai adiknya tidak jadi dibunuh, bagaimana perasaannya setelah peristiwa buruk yang Raja timbulkan terhadapnya. Semua hal tersebut memang sangat mengganggu pikirannya. Ia ingin sekali El terbuka padanya dan mencurahkan semua yang ia rasakan, tapi...Gelasya takut ia tak memiliki hak meminta El untuk hal demikian. Yang penting...ia masih bisa melihat tawa dan senyuman El. Selama El masih bisa tertawa bersamanya, Gelasya...akan hidup seolah semuanya baik-baik saja. Meski sebentar lagi ia akan berpisah dengan El, ia yakin masa depan di Avergaille akan menjadi lebih baik dengan keberadaan El.


Sebenarnya...Gelasya Carrisima hanyalah seorang anak yang diadopsi oleh keluarga Earl Angelov yang katanya Miss Angelov tidak bisa memiliki anak sehingga mereka memilih untuk mengadopsinya. Keluarga Angelov dikenal sebagai keluarga yang kaya raya. Walaupun pangkatnya hanyalah seorang Earl, keluarga Angelov dikenal dengan kemampuan hebat dalam menghasilkan uang dan mengatur keuangannya sendiri hingga kekayaannya terkadang bisa melebihi pangkat di atasnya.


Lalu Gelasya...adalah anak yang diadopsi oleh keluarga seperti itu. Waktu kecil, semua orang selalu saja mengatakan hal tak mengenakkan pada dirinya. Mereka semua selalu berkata mengenai betapa beruntungnya Gelasya bisa menumpang hidup di keluarga Earl Angelov. Semua itu dilandaskan oleh rasa iri dikarenakan mereka adalah keturunan murni berdarah biru, sedangkan Gelasya hanyalah seorang anak yatim piatu yang dibuang orangtuanya. Padahal kan mereka tidak tahu, apa yang Gelasya alami saat tinggal bersama keluarga angkatnya. Mereka kan...hanya memandangnya dari sisi luar?


Memangnya, sebuah rumah yang tampak indah dari luarnya, akan selalu tampak sama indahnya dengan bagian dalamnya?


Hal inilah alasan Gelasya tak ingin memercayai siapapun, sejak dulu. Semua bangsawan itu sama saja liciknya, sama saja penuh menghakimi, semuanya sama saja hanya memedulikan pangkat dan citranya di publik. Gelasya...sempat menyesal mengapa ia turut menjadi bangsawan yang ternyata sangat menjijikkan di matanya.


Akan tetapi, El berbeda... Ia...mengubah pandangannya mengenai bangsawan. Gelasya mengubah pikirannya mengenai ia yang menyesal karena menjadi bangsawan, El...adalah bangsawan berdarah biru yang sesungguhnya. El berhak menyandang gelar sebagai putra mahkota kerajaan ini. Semua tentang El yang dia ingat adalah hal-hal baik.


El...mengubah hidup Gelasya menjadi lebih baik.


Saat kecil, Gelasya sering sekali ditindas oleh keluarga angkatnya. Bahkan ia akan terus dipukul badannya jika tidak menuruti perkataan mereka.


Diov kemudian mencengkeram dagu Gelasya dan mengangkat wajahnya dengan paksa, hingga mereka bertatapan.


"Hidupmu itu diselamatkan oleh wajahmu, tahu?! Makanya honey, jangan pukul wajahnya jika kita mau terus menjadi keluarga yang sempurna di depan publik."


Padahal pada awal sebelum ia diadopsi, perlakuan mereka sangatlah baik seperti malaikat, membuat Gelasya terlalu senang karena ada keluarga yang ingin menerimanya. Tapi jika seperti ini, lebih baik ia kembali seperti dulu dan tak punya keluarga. Nama marga mendiang orangtuanya dihapus dan diganti yang baru oleh keluarga angkatnya. Gelasya dijadikan boneka pajangan agar keluarga Angelov terkenal memiliki putri yang cantik jelita. Setiap hari...Gelasya menjadi pelampiasan dari kekesalan orangtuanya. Gelasya sendiri merasa begitu kesal dengan wajah palsu orangtua angkatnya yang diperlihatkan di depan publik. Namun ia sadar, tak ada satupun yang bisa ia lakukan.


Akan tetapi suatu hari, ternyata perlakuan ayah angkatnya itu jauh lebih parah daripada yang bisa Gelasya pikirkan. Suatu hari ketika mereka baru pulang dari acara pertemuan dengan Raja, Diov Angelov mulai mengeluarkan taringnya karena istrinya sedang di rumah karena sedang sakit. Diov membawa anak kecilnya yang tak tahu apa-apa ke sebuah gang sempit, kemudian menatap Gelasya dengan wajah yang terlihat menjijikkan. Membuat Gelasya masih bisa mengingatnya dengan jelas sampai sekarang. Sang Earl pun mulai mencengkeram kedua pundak Gelasya dan mendekatkan diri pada Gelasya.


"A-Ayah, a-apa yang kau-"


"Ya betul...panggil aku ayah..."


Gelasya menjerit sekeras yang ia bisa ketika melihat tampak menyeramkan yang ditunjukkan dari wajah Diov.


Gelasya memejamkan matanya rapat-rapat, memalingkan wajahnya dari ayahnya yang terus mendekatkan wajahnya kepadanya.


"Lho, tuan Angelov?"


Diov pun langsung terkejut dan segera menjauh dari Gelasya. Ia berbalik untuk menatap siapa yang telah menghampiri mereka di gang yang terpencil tersebut. Melihat anak yang berdiri di ujung gang, Diov langsung membungkuk seketika dengan wajah yang menahan malu. Dalam hatinya merutukki dirinya sendiri karena dikendalikan oleh hawa napsunya.


"Young Prince El..."


El memang saat itu satu tahun lebih tua dibanding Gelasya, namun entah mengapa dirinya telah tampak sangat dewasa di usia semuda itu.


El memandang Gelasya yang sedang gemetaran dan tak berani menatap ayahnya sendiri. Dalam sekejap, ia langsung mengetahui apa hal busuk yang sedang dilakukan Diov sebelum El datang. Jalan yang dilalui oleh kereta kuda ini sangatlah aneh, ia menuju ke sebuah jalan buntu yang tak ada tempat tujuan. Saat El datang untuk memeriksa pun, kereta kuda ini tak ada penumpangnya, hanya ada sang kusir yang mengendarai...


"Kurasa aku tak perlu menanyakan lagi apa yang sedang tuan Angelov lakukan barusan."


"Yang mulia... Percayalah, saya tak melakukan apapun, dia ini putri saya sendiri, mana mungkin...saya seperti itu."


"Lantas, mengapa nona Gelasya terlihat ketakutan seperti itu sampai tak berani melihat anda sedikitpun? Nona Gelasya juga kuyakin akan langsung berlari ke arahku jika kupersilahkan?" Kata El yang tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya.


Tak menunggu sedetikpun, Gelasya langsung saja berlari ke arah El dan berdiri di sebelahnya. Berdiri menghadapnya dengan tubuh yang masih bergetar.


Diov merapatkan bibirnya dan merutukki Gelasya di dalam hatinya.


"Tuan Angelov, aku memang sudah merasakan ada yang tak beres dengan anda akhir-akhir ini. Kira-kira, selama nona Gelasya tinggal bersama keluarga Angelov, apakah ia diperlakukan seperti yang semestinya ya?"


Gelasya langsung menaikkan wajahnya menatap El, kedua matanya terbuka lebar. Bertahun-tahun ia menderita...tapi baru kali ini ada yang bisa menyuarakan penderitaannya... Akhirnya...ada seseorang yang bisa menyelamatkannya dari penderitaan... El balas menatap Gelasya, lalu tersenyum. Tangannya pun mulai memegang pundak Gelasya, sentuhannya seperti seorang kakak...


"Tuan muda...maafkan saya, tapi sepertinya saya terlalu sibuk untuk berbincang bersama anda... Jadi, tolong biarkan saya dan putri saya pergi, ya tuan?"


"Oh, yang mulia Raja sepertinya ada di dekat sini. Apakah beliau memang harus turun tangan untuk hal memalukan yang anda lakukan, Earl Angelov?"


Sebenarnya El sendiri tak yakin sih bahwa ayahnya mau ikut campur dengan urusan seperti ini. Ia sebenarnya hanya akan berkata ini adalah hal yang tidak penting. Akan tetapi, biarlah... Earl ini akan tetap memercayainya.


Sang Earl pun menaikkan tatapannya, ia kemudian memandang El dengan tak berdaya. Wajahnya pucat seketika. Ia menjatuhkan kakinya, berlutut di hadapan seorang anak kecil berusia tujuh tahun.


Gelasya terkejut ketika melihat ketidakberdayaan ayahnya tersebut. Padahal, selama ini ia begitu takut akan ayahnya. Menurutnya....ayahnya adalau seseorang yang sangat berkuasa dan menakutkan. Jadi...inilah pangeran yang disebut-sebut sebagai penerus Avergaille ya. Pikir Gelasya sembari memandangi El dengan kekaguman.


"Tolong...bermurah hatilah pada saya, tuan muda... Saya berjanji...tak akan lagi melakukan hal buruk pada putri saya. Saya berjanji ..tak akan lagi mengancam nama baik pejabat kerajaan Avergaille..."


El berhenti tersenyum. Ia menatap Diov dan berwajah yang terlihat tak suka.


"Padahal, tak semuanya di dunia ini itu tentang harta, citra dan nama baik saja lho, Tuan Angelov. Tapi yah, aku akan menerima janjimu."


Mendengar jawaban El, Diov sedikit tergelak. Ia tak menyangka ia akan diampuni semudah ini. Memang ya, pangerannya ini pernah disebut-sebut sebagai malaikat terlepas dari bagaimana watak Raja.... Tetapi...


El melepaskan Gelasya dan mempersilahkannya kembali pada ayahnya. Sebelum ia pergi, ia membalikkan setengah tubuhnya ke arah Diov. Menatapnya dengan tatapan yang terlihat dingin dan keji.


"Saya yakin janji tersebut tak keluar secara refleks dari mulut anda. Karena jika anda melanggar janji anda sendiri, saya akan pastikan anda menyesalinya. Yang mulia akan menurunkan jabatan anda bahkan menjadikan anda pengemis. Kalau perlu, anda akan ditelanjangi di depan umum dan dipermalukan. Nyonya Angelov akan diasingkan ke negeri lain dan dijadikan budak, nama baik anda akan rusak dan semua orang hanya akan mengenal anda sebagai bangsawan rendahan, kekayaan anda akan disita, dan tak ada lagi...yang tersisa di hidup anda."


Mendengar semua itu, jantung Diov serasa berhenti berdetak seketika. Ia terkesiap ketika melihat ekspresi El yang ditunjukkan padanya. Sekilas...tatapan Raja yang kejam tersebut terlihat jelas pada El. Entah mengapa...semua perkataan dan wajah El...terlihat begitu menakutkan baginya.


Kemudian El tersenyum manis dan menyipitkan matanya, "Anda tahu kan, kalau saya mampu lho membuat semua hal itu terjadi."


Diov terkesiap, ia menunduk kaku dan menjawab,"I-Iya, baiklah yang mulia... Saya...mengerti maksud anda..."


El...adalah orang baik yang tampak seperti malaikat pada hampir semua orang. Namun pada orang busuk yang mempunyai niat jahat, El bisa berubah menjadi kejam seperti ayahnya.


Semenjak itu, orangtuanya tak pernah lagi menindas ataupun menyiksa Gelasya. Ayahnya juga tak pernah lagi menunjukkan gelagat aneh kepadanya. Walaupun Gelasya juga tak diperlakukan hangat dan dipenuhi kasih sayang oleh orangtuanya, tapi ini lebih baik daripada seperti dahulu. Ayahnya entah mengapa...jadi lebih sering bepergian daripada berada di rumah. Gelasya...merasa ia lebih aman...


Kata El, tak semua di dunia ini hanya tentang harta, citra dan nama baik saja. Gelasya...ingin lebih mengenal El sejak saat itu. Sejak ia mengenalnya, menurutnya El adalah sosok sempurna yang tidak akan ia temukan lagi di tempat lain. Padahal El juga pasti sangat ditekan oleh ayahnya, tapi ia masih memedulikan hidupnya... Ia tak terlalu tahu mengenai perasaan El yang sesungguhnya, tapi selama El masih menjadi sosok sempurna di matanya, Gelasya tak memedulikan hal itu...


"Baiklah Gelasya. Berhentilah melamun." Kata El sembari melambaikan tangannya di depan wajah Gelasya.


”Oh, ya... Maaf." Ujar Gelasya sembari sedikit menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian, dari balik pintu datanglah sosok Adora yang terengah-engah setelah buru-buru datang ke butik tersebut.


"Tuan muda..." Panggilnya masih dengan napas terengah-engah.


"Adora? Kenapa?" Tanya El dengan bingung.


"Itu... Nona-Nona Anabelle...saya tak bisa menemukannya..."


Glek


Seketika, wajah El terlihat penuh terror, sangat syok. Ia pun langsung berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa.


"El? Mau ke mana, kita bahkan belum memilih-"


"Gelasya. Maaf aku harus pergi. Tadi aku sudah sampaikan ciri pakaian kita untuk besok pada Miss Taylor. Aku percaya pada seleramu, Gelasya."


"El tapi kenapa? Besok itu adalah hari yang sangat penting El...!" Kata Gelasya dengan nada suara yang naik satu oktaf.


El tak menghiraukannya dan malah menjawab sembari ia menghilang dari balik pintu.


"Sampai bertemu besok, Gelasya."


Wajah Gelasya terlihat seperti sedang menahan amarah. Ia menjatuhkan sepatu yang dipilihkan oleh El dan beranjak berdiri dengan cepat.


"Miss Adora..." Panggil Gelasya sebelum Adora ikut pergi mengikuti El.


"Eh, y-ya nona Gelasya?"


"Sebenarnya mengapa anda harus sampai datang ke sini hanya untuk memberitahu bahwa gadis itu hilang, memang dia siapa sampai keberadaannya sepenting itu..." Tanya Gelasya dengan wajah yang masih menahan amarah. Padahal besok adalah hari yang sangat penting. Tapi hanya karena seorang gadis yang bukan siapa-siapa, El... El berlari meninggalkannya.


Gelasya berdecak kesal. Memang, apa kurangnya dirinya? Ia telah dididik menjadi seorang putri sejak kecil. Gelasya adalah sosok bangsawan yang sempurna sampai Raja berniat menjodohkannya dengan El pada saat dewasa. Apapun yang terjadi...ia akan terus menggenggam tangan El. Ia tak mau jika harus melihat posisinya digantikan oleh orang lain. Gelasya...membenci kekalahan.


"Anu...tuan muda El yang memerintahkan saya. Saya harus segera mencari tuan jika sesuatu terjadi pada Nona Anabelle, nona..."


Tiba-tiba Ray datang ke ruangan tersebut sembari membawa nampan yang berisi teh dan cangkirnya. Ia terkejut ketika menemukan hanya terdapat Gelasya, pelayannya dan Adora.


"Eh, bukankah kau sedang memilih pakaian untuk besok bersama El, Gelasya?"


Gelasya berwajah dingin dan menjawab, "Tak tahu. Mungkin bagi El, keberadaan gadis bernama Anabelle jauh lebih penting daripada hari esok. Juga lebih penting daripada waktu bersama kita yang singkat sebelum ia pergi, El rela mengorbankan hal itu."


***


......-End of Chapter 21-......