Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
4| Your Name



Gadis kecil berpakaian lusuh bagai pembantu tersebut mengusap-usap kedua matanya. Ia merasakan matanya sembab dan bengkak entah mengapa. Lalu ia memeluk tubuhnya sendiri erat-erat ,merasa kedinginan.


Berada di mana dia ?


Dia bangun dari baringannya. Sakit kepalanya sudah hilang. Tubuhnya terasa jauh lebih baik sekarang.


Tunggu...


Sudah berapa lama dia berada di luar kediamannya ?


Dan dia sama sekali tidak mengetahui tempat ini. Tiba-tiba ,dia merasa takut karena tidur di rumah yang asing baginya. Kamar ini memang suasananya nyaman dan cerah. Ukurannya lumayan luas juga. Hawanya begitu sejuk sampai membuat dirinya sendiri sedikit menggigil.


Perhatiannya teralih saat seseorang memasuki kamar yang dia tempati. Sesosok anak lelaki datang dari pintu yang dibukanya.


Dia terlihat sedikit terkejut saat menatap anak laki-laki tersebut.


Pakaian yang dikenakannya seperti orang yang berasal dari kerajaan. Rambut hitam halusnya tertata dengan rapi. Kulitnya sangat putih dan bersih. Jika dibandingkan dengan si gadis ,dia jauh berbeda. Dia sangat bertolak belakang.


Ia menghampiri gadis yang tengah duduk di atas ranjangnya. Lalu memasang senyum ramah.


"Selamat pagi. Apa kamu sudah lebih sehat ?" Tanyanya sambil berdiri tegap di hadapannya.


Tata bicara dan perilakunya sangat sopan dan santun. Dia terlihat beretika.


Gadis itu mengerutkan keningnya. Merasa bingung karena tiba-tiba diajak bicara seperti ini. Dia tidak menjawab anak yang mengajaknya berbicara dan malah melongo di tempatnya. Terlihat kebingungan.


Selama entah berapa lama dia sama sekali tidak pernah berbicara dengan orang lain selain ibunya. Itupun bukan mengobrol ataupun bercakap ria ,dia hanya ketakutan dan terus diancam di sana. Sosialisasi yang mencanggungkan.


"Apa pertanyaanku kurang jelas ?" Tanya anak itu lagi sambil tersenyum.


"Eh...?"


Gadis itu tidak sanggup untuk bicara. Ia malah bingung dan gelagapan. Merasa sedikit takut juga karena bersama dengan orang asing dan berada di tempat yang asing.


Anak  di depan gadis itu menghela napasnya saat melihat sang gadis yang diam membatu di tempatnya duduk. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu agar membuat gadis ini nyaman dan tidak ketakutan lagi.


Gadis bertubuh kurus tersebut terkesiap saat sebuah tangan diulurkan kepadanya. Dia melihat wajah anak yang mengulurkan tangannya tersebut dengan takut-takut. Ia tadinya sangat enggan untuk menerima uluran tangan tersebut.


Tapi kemudian anak berseragamkan bak bangsawan tersebut tersenyum ramah. Sehingga membuat si gadis terpana. Senyum yang dilihatnya sekarang ini terasa berbeda. Sangat jauh berbeda dengan senyum yang biasanya diperlihatkan oleh ibu kejamnya.


Dia baru pertama kali melihat seseorang tersenyum kepadanya dengan ramah seperti ini. Selama ini dia selalu dibuat takut karena senyum kejam ibunya. Tetapi baru pertama kali dia terpana dan tidak merasa takut saat melihat wajah seseorang...


"Mari. Kuperlihatkan apa yang ada di luar." Kata anak itu lagi sambil tersenyum.


Tanpa bisa gadis itu duga ,ia pun langsung menerima uluran tangan anak tersebut. Gadis itu meletakkan tangannya di atas tangan mungilnya. Dia penasaran dengan apa yang ada di luar dan akan selalu penasaran. Dia tidak mau ,terkurung lagi di dalam ruangan tanpa ada cahaya matahari. Kesempatan yang diberikan oleh anak ramah ini ,tidak akan dilepas olehnya.


Dia tersenyum saat gadis tersebut sudah berdiri di dekatnya. Kemudian menggandeng gadis lusuh tersebut menuju ke luar.


***


"Whoa..."


Mulut gadis itu terbuka lebar saat melihat pemandangan di sekelilingnya yang begitu indah sehingga dia menjadi terpukau.


Terdapat air terjun yang mengalir deras di balik pepohonan yang rimbun. Danau terbentang lebar ,airnya bersih dan jernih. Aroma alam yang asri bisa dia hirup dengan senangnya.


Bunga-bunga juga turut menghiasi setiap tanaman di sekeliling danau. Warna dan jenisnya pun bermacam-macam.


Terdapat semak-semak yang sedikit menutupi pemandangan danau. Di baliknya ,terdapat sebuah bangku kayu berukuran sedang. Lalu di dekat semak-semak terdapat sebuah pohon.


Indah. Serta menakjubkan pemandangan yang gadis itu lihat saat ini. Burung-burung yang berada di atas pohon berkicau dengan riangnya.


Ia memukul-mukul pipinya pelan. Merasa semua yang dirasakannya saat ini itu hanya merupakan mimpinya semata. Tetapi nyatanya bukan. Ini semua asli ,bukanlah mimpi atau khayalan.


Dan lagi ,dia berdiri di samping anak lelaki yang asing tanpa ia kenali siapa dirinya. Anak lelaki tersebut tengah berdiri jauh di sampingnya. Kemudian saat dia ingin mendekati sang gadis ,dia berhenti.


Dia berhenti karena dilihatnya gadis tersebut jadi gugup kembali dan melangkah mundur untuk menjauhinya.


Lalu dia pun terdiam. Berdiri menatap gadis lusuh yang berdiri sambil gelisah di tempatnya. Rambutnya kusut dan acak-acakan. Sudah tidak jelas lagi apa sebenarnya warna rambut anak tersebut. Dia mengenakan sebuah baju daster dengan lengan panjang. Baju daster yang panjangnya sampai ke lutut dia itu juga tidak kalah lusuhnya. Warnanya putih dan sudah kusam ,tetapi banyak bercak-bercak kotoran yang tidak jelas terdapat di sudut-sudut bajunya.


Wajahnya juga sangat kusam dan seperti banyak kerak-kerak kotoran. Ada memar-memar kemerahan di kedua pipinya entah karena apa. Tetapi ,bibirnya terlihat berwarna merah delima.


Sekarang kedua manik abunya tengah sayu dan menatap anak lelaki tersebut dengan penuh kegetiran.


Dia memang sangat takjub dan terpana dengan semua pemandangan ini. Tetapi selain pemandangan tersebut ,terdapat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Dia takut akan semua ini...


Lalu di sebelah gadis tersebut ,dia tersenyum. Kemudian meletakkan tangan kanannya di dada.


"Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Elnathan ,kamu bisa panggil aku El seperti yang lainnya."


Gadis tersebut terdiam. Kemudian ia menggumam. Suaranya kecil dan lemah bagaikan cicitan tikus.


"E-El...?"


Entah mengapa gadis tersebut suka saat melafalkan nama yang disebutkan oleh anak yang tinggi badannya jauh melebihinya. Tinggi tubuh mereka berselisih lumayan banyak. Dan nama dia ,terasa indah saat diucapkan oleh bibirnya.


"Ah maaf aku tidak dengar ,tadi kamu bicara apa ?" Tanya El sambil mencoba untuk memerhatikan si gadis.


Tentu saja dia tidak bisa mendengar. Suaranya sangat kecil ,lalu jarak yang membatasi mereka berdua lumayan jauh akibat sang gadis yang takut untuk didekati.


Pertanyaan El dibalas dengan gelengan kencang dari anak perempuan berambut ikal tersebut. El pun menghela napas. Ia sangat bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak kecil di depannya ini. Dia tidak pernah bertemu dengan situasi seperti ini sebelumnya. Dia sangat ingin tahu dari mana asal gadis ini dan mengapa penampilannya bisa sampai seperti ini.


"El..."


Kali ini gadis tersebut berbicara dengan suara yang lebih kencang dari sebelumnya. El pun mengangguk ,ia tersenyum.


"Iya ,namaku El. Bagaimana denganmu ?"


El lagi-lagi tersenyum canggung dengan kedua alis yang ia kerutkan. Sejak tadi...rasanya ia berbicara seorang diri. Dan lagi ,gadis itu menatapnya dengan ekspresi takut dan seperti terancam kehidupannya. Dia seharusnya tidak berlama-lama di Felleschrya. Tapi tidak apalah. Selama ayahnya tidak tahu ,dia akan baik-baik saja.


"Aku ini orang yang menolongmu. Dua hari yang lalu kamu pingsan lho di pinggir sungai. Jadi tidak ada alasan untuk takut terhadapku ya."


Gadis tersebut terdiam kaku. Tetapi dia sekarang ini tidak lagi menunjukkan ekspresi yang takut terhadap El. Kalau benar El menolongnya ,berarti El kah penyelamat hidupnya...?


Apakah sebenarnya dia ditakdirkan untuk melarikan diri dan bertemu dengan penyelamatnya ,dengan kata lain malaikat di kehidupan nyatanya...?


Benarkah El...menjadi malaikatnya...?


Selangkah ,gadis tersebut maju mendekati Elnathan. Dia tidak lagi menjaga jarak dari El. El pun terkesiap ,dia terus memerhatikan si gadis yang sudah sedikit memperpendek jaraknya.


Bau yang tercium dari gadis yang berada di hadapannya tersebut memang semakin menusuk ke hidungnya. Dan baunya sangat tidak enak. Seperti bau sampah yang membusuk.


Tetapi hal itu tidak membuat El teralihkan. Dia memerhatikan gadis tersebut ,menunggu apa responnya setelah pernyataan El tadi.


Gadis tersebut memandang ke sekelilingnya. Kupu-kupu berterbangan dengan indahnya. Sayap-sayap mereka begitu indah untuk dipandang. Harum air yang mengalir menyegarkan pernapasannya.


Kedua manik gadis tersebut terpejam ,ia menghirup dalam-dalam udara asri tersebut. Merasakan kesejukkan dan kesegaran alam di sekitarnya ,tubuhnya seakan ikut merasakannya.  Pagi hari yang sejuk itu ,ia terasa seperti sedang berada di alam mimpi.


El menggaruk-garuk tengkuknya. Merasa bingung akan apa yang harus ia lakukan. Rasanya ,ia belum pernah merasa tidak digubris seperti ini sebelumnya.  Dia ikut melihat ke sekelilingnya. Sebelumnya ,ia tidak begitu menyadari keindahan Felleschrya. Dan lagi ,dia memang jarang sekali sih ke sini. Tapi tidak disangka tempat ini sangat indah.


Sejak kapan ayahnya mengurusi daerah ini...? Rasanya dia tidak pernah lihat bahwa Felleschrya seindah ini dahulunya. Dia pikir ayahnya terlalu sibuk jika untuk mengurusi daerah seperti Felleschrya. Bahkan gedungnya saja sudah jarang sekali ia kunjungi. Entahlah ,dia tidak akan bisa mengerti akan hal tersebut.


"Indahnya..." Ucap gadis itu setelah membuka matanya lagi.


El langsung menoleh kepadanya. Tadi betulan gadis ini yang bicara ? Tapi ,suaranya terdengar sangat imut.


"Sepertinya kau sangat terpukau ?" Tanya El sambil tersenyum.


Sambil tersenyum malu ,gadis tersebut mengangguk.  Kemudian dengan perlahan-lahan ,El berjalan selangkah mendekatkan diri pada si gadis. Tapi dia ragu ,dia khawatir dia hanya akan membuat si gadis menjadi takut.


Tetapi gadis tersebut tidak mundur dan takut seperti sebelumnya saat jaraknya diperpendek dengan El.


"Boleh aku tahu namamu siapa ? Akan sulit jika kita berbincang tapi belum mengenal satu sama lain kan." Kata El sambil tersenyum sehangat mungkin. Ia tidak ingin membuatnya takut ,jadi dia harus berusaha untuk berperilaku seramah dan sesopan mungkin kan. Ah ,tapi sepertinya bukan berusaha. Memang El selalu seramah ini kepada orang lain. Jadi dia tidak perlu berusaha lagi.


Tanpa memandang penampilan, asal usul dan derajat lawan bicaranya ,El akan selalu ramah pada mereka semua yang juga tidak membuat dirinya dan kerajaannya terancam.


Gadis kecil yang sejak tadi menunduk dan tidak berani menatap El ,mulai memberanikan diri untuk menaikkan tatapan matanya. Dia semakin tidak takut setelah mendengar El yang terus saja ramah padahal sejak tadi dia tidak dihiraukan saat bicara dengan gadis pemalu itu.


Dan juga ,si gadis sangat penasaran. Dia juga ingin...berbincang dengan El. Langkah pertama yang harus ia lakukan agar bisa bercakap dengannya...adalah...?


Mungkin...memberanikan diri untuk saling bertatapan dan menjawab pertanyaannya.


Wajahnya sedikit mendongak. Kedua manik abunya menatap El yang sejak tadi tersenyum ramah kepadanya. Lalu tangan El terulur pada dia. Pada dia yang sangat tidak setara jika dibandingkan dengan El.


Gadis kecil itu terkesiap. Sejenak dia menatap tangan yang terulur kepadanya ,lalu dia melihat pancaran sinar matahari pagi yang menyoroti wajah El dari ketinggian. Wajahnya dipancari oleh sinar matahari yang berasal dari arah puncak air terjun. Senyumannya hangat ,bahkan menyerupai kehangatan matahari pagi di saat itu. Kemudian ,rambut hitamnya terlihat bersinar akibat terkena sinar matahari. Warna matanya yang satu-satunya terlihat di bagian kanannya ,berwarna biru terang bagaikan warna lautan. Warna matanya sangat indah sangat gadis itu tatap. Biru maniknya bak sebuah lautan...


Sang gadis begitu terpana. Dia baru kali ini memerhatikan sebuah hal sampai terpaku seperti itu. Dan dia baru pertama kalinya mengetahui bahwa mata seseorang bisa seindah seperti milik El. Gadis itu tidak mengetahui apa warna matanya sendiri ,seperti apa rupa wajahnya. Yang ia ingat hanyalah mata milik ibu kejamnya. Mata tersebut berwarna hitam kelam.


El menatap Anabelle yang tengah menatapnya dengan saksama. Sontan ia merasa terheran-heran. Sedangkan sang gadis ,tetap saja terlena dalam rasa kagumnya serta lamunannya.


Aneh ,rasanya aneh. Rasanya...ia sangat ingin untuk bisa melihat kedua mata El yang begitu memukau tersebut.


Tetapi mengapa....mata yang satunya lagi tidak bisa terlihat ?


Kedua mata si gadis sedikit menyipit akibat keterikan cahaya matahari yang bersorot langsung di hadapannya.


"Ah..." Keluh El sambil menutupi sinar matahari di sisi kirinya.


"Sepertinya kita harus berbincang di tempat lain." Ajak El sambil menatap sebuah pohon besar di dekat semak-semak yang menutupi bangku kayu.


"Nah ,di sana." Kata El sambil berjalan menuju pohon tersebut. Saat berjalan melewati si gadis ,dia memegang tangannya dan menuntunnya ke tempat tujuannya.


Gadis itu tidak menangkis maupun berhenti saat dituntun ,dia hanya mengikuti langkah El menuju ke sebuah pohon rindang. Pohon yang bisa menghindari mereka dari teriknya matahari.


Pohon tersebut besar ,daunnya hijau dan sangat lebat. Batangnya juga besar dan kokoh. Di setiap ujung daun terdapat seperti ada lampu-lampu kecil yang berkilau. Kilauannya tidak begitu nampak akibat suasana terang tempat tersebut.


El tersenyum saat dia memain-mainkan daun dari pohon yang menudunginya. Saat digoyangkan ,terdapat sedikit bunyi-bunyi yang bergemerincing dari sana.


"Pohon ini akan menyala lho saat malam hari. Indah sekali."


"Ya..." Jawab gadis itu dengan ragu-ragu.


El menatap wajah si gadis. Sepertinya dia bisa mulai berbicara dan menanggapi El. Perlahan-lahan diri gadis ini kian mulai terbuka...


"Oh iya ,apa kamu akan kembali ke tempat asalmu ? Kalau kamu mau ,akan aku antarkan."


Gadis itu sedikit menunduk ,tetapi ia sedikit mencuri pandang untuk menatap El sembari ia menunduk. Tangan kirinya mengusap-usap lengannya yang bagian kanan.


"Tidak...tahu..."


"Hm ?" Gumam El tak percaya.


"Tidak tahu ?"


Gadis itu mengangguk ragu dan berkata ,"Iya...rumahku...di mana ,tidak tahu..."


"Ah..."


El terlihat makin kebingungan. Dia tersenyum canggung dan menggaruk-garuk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


"Bagaimana ya...?"


Saat tangannya berhenti mengusap tengkuknya ,El terdiam. Ia menatap sang gadis dengan keheranan. "Jadi kamu tersesat ya sehingga tidak tahu tempat manapun ?"


"I-Iya..." Jawab anak perempuan tersebut sambil menatap El dengan canggung.


"Hmmm...."


El berpikir dengan keras. Ia sedikit bingung sih ,menghadapi anak sekecil ini yang tersesat tanpa tahu arah pulang dan ke mana ia hendak pergi. Dan juga ,dia sangat lemah dan pemalu.


"Kalau namamu ,siapa ?" Tanya El lagi.


"Tidak ....tahu juga...."


Selama ini, gadis itu selalu dipanggil dengan sebuah sebutan yang tak ia mengerti apa artinya. Sebuah kata yang entah mengapa saat mendengarnya, hatinya teriris-iris.


El semakin keheranan lagi di tempatnya. Bagaimana bisa ada anak seperti ini ? Anak yang tidak mengetahui rumah serta namanya sendiri bahkan dia tidak tahu ? Setidaknya dia seharusnya mengetahui satu nama saja. Entah itu nama daerah rumahnya atau nama orangtuanya...


Kemudian perhatian El teralihkan saat melihat sebuah benda yang terlingkar di pergelangan kiri si gadis. Gelang yang sangat longgar dikenakan pada pergelangan tangan kerempengnya. Gelang tersebut berwarna silver dan berkilap. Bagaimana dia bisa tidak menyadari ada benda tersebut di bagian bawah tangannya. Hampir saja tertutupi dengan lengan bajunya. Sepertinya gelang tersebut merosot begitu saja ke bawah tangannya setelah tadi gadis tersebut mengusap-usap lengannya ,membuat lengan bajunya sedikit terangkat ke atas.


"Oh ,bukankah itu sejenis tanda nama ?" Tanya El setelah menatap gelang silver milik si gadis.


Gadis tersebut langsung melihat ke arah tangannya. Benar saja ,ternyata selama ini di tangannya terlingkar sebuah gelang. Dia bahkan tidak menyadari hal tersebut. Sepertinya dari seluruh tubuhnya, beberapa organ luarnya yang sudah mati rasa.


"Maaf ,boleh kulihat gelangmu ?"


Tanpa berpikir lama ,gadis itu hanya memberikan sebuah anggukan kecil pada El. El pun memajukan kaki kanannya dan sedikit mengangkat tangan kiri sang gadis untuk melihat gelang tersebut dengan lebih jelas.


Gelang yang terbuat dari platina tersebut terlihat cukup tebal ,sehingga ada tulisan-tulisan yang terukir di sana. Tapi ,rasanya gelang tersebut tidak berat saat dipegang.


"Ada tulisan di sini." Kata El sambil menatap Si Gadis.


Gadis tersebut menatap tulisan yang terdapat pada gelangnya dengan keheranan. Terasa sangat asing. Dia tidak dapat mengenali susunan huruf-huruf tersebut.


Melihat raut wajah gadis di hadapan El yang kebingungan ,ia langsung bertanya ,"Kau tak bisa membacanya ?"


Pertanyaan El disambut dengan gelengan kepala dari gadis yang ditanyakan oleh El.


El pun mengangguk mengerti. Kemudian dia berusaha untuk membaca tulisan tersebut secara terbalik. Dan dia mampu membacakannya untuk pemilik gelang tersebut.


Anabelle Fredella


"Hoo. Ini pasti namamu ,Anabelle." Ucap El sambil tersenyum manis. Dia akhirnya mengetahui nama gadis itu setelah sejak tadi dia bertanya-tanya. Namun ,sedikit tidak menyangka juga karena nama gadis itu sendiri terukir pada gelang yang dikenakannya. Hal tersebut sangat terasa unik baginya.


Anabelle ikut terkejut saat mendengar namanya. Dia pun mengejakan ulang namanya setelah diberitahu oleh El.


"A...nabel...?"


El mengangguk semangat. Senyumannya secerah dan seindah cahaya matahari.


"Iya. Anabelle Fredella !"


***


...-End of Chapter 4-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️