Lost And Found - Avergaille'S Tale

Lost And Found - Avergaille'S Tale
14| Traitor in the Hunt



Malam hari telah tiba. Sang rembulan malam telah memunculkan dirinya di langit bersama para bintang-bintang.


Ruangan istana telah dihiasi dengan bintang-bintang malam yang terlihat di jendelanya.


Suasana istananya juga tidak begitu bising. Para pekerja istana sedang sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Ada yang menyiapkan makan malam, membersihkan segala perabotan di berbagai ruangannya, serta mengurusi hal lainnya. Tapi, di bagian aula yang sangat luas serta megah tersebut bisa dibilang kosong. Hanya ada sang Raja, El, Celeste serta beberapa penjaga lainnya.


Ruangan bernuansa emas tersebut juga terasa sejuk. Sebenarnya aula istana tersebut bisa dibilang terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama terdiri dari ruang singgasana, ruang pertemuan ataupun rapat terdapat di sisi lebih depan daripada yang saat ini El tempati.


Jika melewati lorong-lorong istana sedikit lagi, barulah akan mencapai ruangan yang terdapat tangga berukuran megah untuk mencapai lantai atas.


Di sisi ruangan aula tangga pun ada banyak lagi percabangan ataupun ruangan lainnya yang dibutuhkan bagi penghuni istana.


Saking besarnya istana tersebut, orang awam pastilah tersesat jika memasukinya. Agak sulit untuk mencapai tempat tertentu saking lebarnya istana emas tersebut. Bahkan El baru bisa menghafal dan menguasai istananya sendiri ketika ia berumur tujuh atau delapan tahun.


El mengikuti langkah ayahnya yang telah hendak melangkah menaiki tangga. Ia berjalan di sisi yang lain. Kemudian ia menatap Celeste, seorang kesatria tangan kanan ayahnya yang paling dipercayai. Seorang wanita berambut keunguan yang selalu mengenakan pakaian formalnya di keadaan apapun.


Celeste menoleh, kemudian ia tersenyum miring pada El ketika mengetahui bahwa dirinya ditatap.


El mengerutkan keningnya. Wajahnya tampak jutek, tampaknya ia tidak nyaman jika Celeste juga turut dalam kebersamaannya dengan Raja. Apalagi, wajah Celeste selalu tampak mencurigakan baginya.


Celeste mengerti maksud El.


Ia pun menunduk singkat pada El dengan tangan kanannya di dada. Masih menunjukkan senyumnya yang seperti percaya diri.


"Yang mulia, saya izin menyiapkan perlengkapan untuk kegiatan berburu besok."


Raja Alaric menoleh pada Celeste beberapa saat. Ia pun menjawab, "Ya."


"Salam, yang mulia Raja dan tuan muda El." Katanya lagi sebelum akhirnya melangkah dari sana.


El berjalan menaiki tangga di sisi birai yang lain. Padahal di dalam hatinya, ia berdoa sungguh-sungguh agar ayahnya ini tidak menyadari ada kerusakan parah di bagian atas birai dekat El.


Ia tersenyum canggung. Dirinya sangat berharap dapat menutupi bagian birai, dan membuat ayahnya tidak melihatnya sama sekali. Maka, ia tinggal mengajaknya bercakap saja seperti biasanya.


"Ayah, apa perjalananmu kemarin itu lancar?"


"Lumayan, walau pekerjanya tidak seefektif yang kukira."


El mengangguk-ngangguk. Mengikuti langkah ayahnya yang melewati anak tangga untuk mencapai ke lantai atas.


"Hal itu cukup wajar, ayah. Kebanyakkan pekerja di Xanchior memang pindahan dari desa."


Sang Raja melangkahi anak tangga sembari membenarkan lengan seragamnya.


"Kau tahu banyak." Kata Raja bertubuh tinggi jangkung tersebut.


Mata El menangkap kondisi birai yang tepat sekali tengah dilewati olehnya. Namun ayahnya sudah beberapa langkah di atasnya. Jadi seharusnya semuanya akan aman-aman saja.


Raja Alaric menghentikan langkahnya. Membuat El langsung melangkahi beberapa anak tangga, supaya lebih bisa menutupi retakkan di dekatnya. Tangannya sedikit ia rentangkan ke depan, memegang bagian atas birai.


El sedikit terkesiap ketika ayahnya melirik padanya, merasa bahwa gesturnya itu cukup aneh.


Wajah Raja terlihat dingin sembari menelitinya, Ia masih memegangi salah satu bagian pergelangan tangannya.


Berdiri tegap sembari menggerakkan tatapannya ke arah El. Menghujaminya dengan lirikan dingin.


El sedikit tersenyum.


"Lokasi Xanchior yang dekat dengan desa membuat pekerjanya merasa bekerja di sana lebih menguntungkan daripada di desa. Tapi, walau tidak begitu cerdas dan efisien, warga desa cenderung tekun, ayah. Tidak perlu khawatir, your majesty."


Raja hanya menghela napas, kemudian kembali menatap ke depan. Membuat El mampu bernapas lega di tempatnya. Walau gelagatnya sendiri memang terlihat canggung akibat berusaha menutupi birai di dekatnya.


Raja sudah mencapai lantai atas. Lalu ia menggeser semua rambutnya ke belakang. Ia berkata, "Apa seharian ini kau sudah bertemu dengan anak Agathe?"


"Hari ini aku belum bertemunya. Sepertinya ia agak sibuk."


Wajah sang Raja terlihat menyeringai. Ia menoleh pada El dan menatapnya dengan ekspresi yang terlihat sangat tidak memercayai perkataannya.


Raja Alaric sedikit menggerakan wajahnya. "Sibuk? Maksudmu sibuk berpesta, bermain dan berkeliaran."


"Ah, tidak begitu-"


El sedikit terkesiap ketika ia melihat wajah kebencian yang tersirat di wajah ayahnya. Ia menatap El dengan tatapan tajam. "Coba saja aku membunuhnya sejak dulu. Tapi karena dia dekat denganmu, setidaknya hidupnya masih ada kegunaan."


El hanya bisa berdiri mematung di tempatnya sembari menundukkan wajahnya.


"Jangan lupa, acara berburunya besok siang." Ujar sang Raja sembari melangkah meninggalkan El. Membiarkan jubah hitamnya sedikit berayun ketika ia berbalik.


"Baik, selamat malam yang mulia." Kata El sembari menundukkan kepalanya. Masih dengan ekspresinya yang tercengang.


Ayahnya sejak dulu ingin membunuh Ren? Maksudnya sejak kapan...?


El pertama kali bertemu Ren saat ia masih usia lima tahun. Itu artinya... Raja sudah berniat membunuh Ren bahkan di saat Ren masih berusia tiga tahun...!?


El memegang birai yang menjadi sisi paling tepi dari lantai dua. Napasnya sedikit terengah-engah akibat rasa takut yang sudah keburu menjalar di seluruh tubuhnya. Ia selalu saja seperti ini ketika bersama ayahnya dalam situasi seperti tadi. Dan juga, mengapa sih ayahnya selalu menatap orang lain seperti itu? Jantung El masih berdetak begitu kencang.


Hampir semua orang melihat El sebagai anak terberkati kecerdasan dan kedewasaan hingga mampu membuat hati es sang raja mencair. Tapi, mereka kan tidak pernah tahu kehidupan asli El di istana. Mereka kira, Raja sangat menyayangi putranya sampai mereka percaya bahwa Raja akan menuruti keinginan El. Konyol.


Lalu, memang dia itu benar ayah kandungnya ya? Ia tahu kalau sejak dulu orang itu merupakan pria kejam tanpa ada hati nurani. Tapi, bahkan niatan untuk membunuh batita pernah terlintas juga di kepalanya...


Ren bukan tidak berguna. Sama sekali El tidak pernah menganggap Ren orang yang seperti itu.


Ren selalu berusaha untuk melakukan semua yang ia mampu di kerajaan.


El manyadarinya. Ia sadar bahwa Ren pun takut menjadi parasit di Avergaille. Cita-cita Ren adalah menjadi kesatria kuat yang bisa melindungi Raja dari segala ancaman. Ia juga mengidolakan Val..., teman dekat El yang bahkan tidak pernah melirik diri Ren.


Ia jadi teringat suatu kejadian.


Dua tahun yang lalu...


"Renn...!!! Aku dengar dari Terrence, makanya aku langsung ke sini!" Ujar El sambil menahan pedang yang sedang Ren genggam erat di tangannya.


Di depan mereka, terdapat segelintir patung yang digunakan agar Ren bisa berlatih pedang, demi mencapai impiannya.


Hujan deras saat itu mengguyur kerajaan Avergaille. Ren sudah basah kuyup, tubuhnya menggigil kedinginan. Namun ia masih saja bersikukuh untuk melatih kemampuannya di tengah hujan deras itu.


Dari belakang, Adora berlari dengan payung di tangannya. Ia langsung menghampiri El dan memayungi dirinya.


"Tuan muda, anda berlari terlalu kencang. Seharusnya anda memakai payung di tengah hujan deras begini..." Kata Adora panik sembari menatap El dengan khawatir.


"Tidakkah kau lihat aku sedang mengkhawatirkan Ren, Adora? Tidak sopan!" Tutur El yang tiba-tiba terbawa suasana karena melihat saudara tirinya yang menyakiti dirinya itu.


"Maafkan ketidaksantunan saya tuan muda..."


Adora tampak getir ketika El menaikkan nada padanya. Padahal, Raja akan menghukum Adora jika saja terjadi sesuatu pada El. Adora takut kalau tuan mudanya jatuh sakit, ia khawatir pada El dan juga takut dihukum...


El merebut payung itu dari Adora. membiarkan gadis pengasuhnya kehujanan. Kemudian El memayungi dirinya sendiri bersama Ren. Membujuk Ren agar ingin kembali dan beristirahat.


"Ayolah Ren... kenapa juga kau menyakiti dirimu sendiri!? Berlatih itu ada batasnya...! Aku tahu kau memang memiliki mimpi, tapi... Sudahlah, ayo kembali Ren..."


Ren menolak payung yang disodorkan El dan berjalan selangkah mundur, menatap El dengan tatapannya yang berkaca-kaca.


"Tak usah ikut campur, El...! Kamu bisa bilang begitu karena kau tidak pernah menjadi parasit di Avergaille kan...! Kamu tidak perlu bersusah payah berlatih dengan patung karena semua orang mau membantumu! Kau tidak tahu menjadi aku rasanya seperti apa, pergilah..."


El yang ikut bersedih itu pun memegang tangan Ren. Ia menggerakkan payungnya sedikit ke depan agar bisa menudungi Ren juga.


Ren menatap El dengan tatapan yang menggebu-gebu. Ia tidak memedulikan air yang terus saja menetes di sekujur tubuhnya. Ucapannya tadi dilandasi oleh rasa kesàl dan iri hati yang mendalam. El selalu saja dilatih oleh sang kesatria terkuat itu sendiri, bahkan terkadang Raja sendiri yang turun tangan untuk melatihnya. Sedangkan, anak selir sepertinya tidak pernah dianggap sekalipun. Anak haram selamanya tetaplah anak haram.


"Ren, kau...tidak pernah menjadi parasit... Siapa orang keji yang berani mengatakan hal jahat seperti itu? Val pasti mau membantumu kok... Jadi kumohon... berhenti sekarang juga. Apa tubuhmu tidak lelah Ren, sejak pagi dipaksa seperti ini...?"


"Jangan...! Jangan sekalipun kamu memerintahkan kesatriamu, El..."


Ren masih ingat jelas ekspresi wajah Val saat Ren meminta untuk dilatih olehnya. Tatapan merendahkan, jijik, angkuh itu masih terbayang di pikirannya.


Tanpa Ren duga, El menjatuhkan payungnya dan langsung memeluk tubuhnya. Ia menangis dan berkata, "Lalu, bagaimana caranya agar kau mau menyayangi dirimu sendiri, Sereno?"


El menggelengkan kepalanya beberapa saat untuk berhenti mengingat kejadian memprihatinkan dulu.


Ia berharap Ren sampai saat ini sudah menyayangi dirinya sendiri, tidak usah memedulikan perkataan Raja kejam yang tidak seharusnya didengarkan itu.


Intinya, Ren yang El kenal sama sekali bukan parasit. Malahan, ia lebih menganggap ibunya Ren lah yang membuat Ren dipandang buruk. Ibunya Ren lah yang sering bermain-main dan berfoya-foya...


Dan lagi, ia bingung akan satu hal. Mencurigakan sekali karena ayahnya bisa pulang secepat ini. Tidak seperti biasanya... Sekalipun Raja tidak pernah berniat ataupun mempersingkat perjalanannya. Pasti ada hal yang ingin dia lakukan...


***


...-Golden Palace-...


...-6:09 AM-...


"Selamat pagi, yang mulia." Sapa seorang pelayan sembari mempersilahkan rajanya untuk duduk di kursi yang telah disediakan untuknya sarapan bersama El.


Raja Alaric yang sudah berseragam rapi pun duduk di kursi yang telah disediakan. Ia menatap tempat duduk El yang sudah kosong. Biasanya anak itu tepat waktu dan jarang sekali terlambat.


Berbagai makanan sudah dijamukan di atas meja besarnya. Semuanya lengkap, mulai dari protein, lemak, karbohidrat dan lain-lain.


Rambut sang Raja dirapihkan sedikit bagiannya ke belakang, hingga sisanya jatuh ke dahinya. Membuat kesannya menjadi menawan.


Ia meletakkan kedua sikunya di atas meja, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang ia lipatkan. Matanya menatap ke pemandangan depannya dengan datar seperti biasanya.


Pelayan yang meletakkan makanan di atas mejanya langsung berusaha untuk kabur dari sana ,tidak ada satupun yang berani mengajaknya bicara. Mereka hanya bisa menunduk dan membungkuk hormat di hadapannya.


Mengajak bicara Raja itu sama dengan sedang memberi makan ke sebuah singa. Kalau-kalau Raja berhati dingin itu merasa tersinggung ataupun merasa tidak nyaman, bisa langsung mereka dihukum ataupun ditebas saat itu juga. Maka, lebih baik mereka hanya melakukan kewajibannya dan langsung melangkah pergi dari sana.


Mata Raja melirik ketika Adora berjalan tergesa-gesa menuju ke arahnya. Adora terlihat panik sembari membungkukkan badannya.


Sang Raja sedikit mengerutkan keningnya. Ia menurunkan tangannya dari mulutnya.


"Apa inti yang ingin kau sampaikan?"


Adora menjadi semakin gugup. Ia bingung harus mengatakan apa saking cemasnya pada tuan mudanya.


"Itu... Tuan El sepertinya mengalami gangguan mimpi buruknya lagi. Kali ini begitu parah sampai tuan sangat tertekan, yang mulia Raja..."


"Lalu?"


Adora terbelalak. Mengapa respon Rajanya bisa seperti itu ketika mendengar putra kecilnya mengalami tekanan mental...? Mengapa ia bisa tidak menunjukkan rasa khawatir ataupun cemas sama sekali...


Memang sih, Raja itu selalu bersikap begini. Tetapi, apakah ia sama sekali tidak berniat menaruh secuil saja perhatiannya pada El di luar urusan kerajaan...?


Adora sedikit menaikkan kepalanya, matanya menangkap ekspresi datar yang ditunjukkan oleh Raja Alaric.


Raja berambut gelap itu menatapnya tanpa mengubah ekspresinya sedikitpun. Ia menyentuh dagunya dengan jarinya yang dikenakan sebuah cincin emas.


"Ya-Yang mulia, alangkah baiknya jika saat ini tuan muda tidak ikut aktivitas sarapan bersama. Sepertinya beliau terlalu takut untuk bertemu orang lain saat ini..."


"Takut? Jangan bercanda, aku tidak ingat mempunyai putra yang bersikap seperti bocah penakut." Tutur sang Raja dengan nada yang dingin. Ia mengatakan kata-kata terakhir dalam kalimatnya dengan gusar dan terdengar mengecam.


"Tapi, yang mulia-"


"Suruh saja dia ke sini. Setelah sekian lama tidak sarapan bersama ayahnya, dia memilih untuk mengurung diri karena sebuah mimpi buruk...? Kekanak-kanakkan."


"Yang mulia, saya mohon untuk mengasihani tuan-"


"Adora, bisa berhenti membantah?" Tanya Raja sambil menatap Adora dengan dingin.


Padahal ia baru saja pulang ke istananya. Tapi dia disambut dengan pagi yang sangat tidak mengenakkan hati. Membuat suasana hatinya menjadi buruk. Dia sangat benci akan situasi ini.


Melihat ekspresi Rajanya, Adora langsung tunduk dengan patuh. Ia mengangguk. Kemudian, ia melangkah pergi dari ruang makan setelah membungkuk hormat pada Raja kejam tersebut.


***


-Acara Berburu-


"Tuan muda, panah yang sangat tepat sasaran!"


El menurunkan busurnya ke bawah. Menatap kerbau yang akhirnya tumbang setelah tertusuk panahnya. Kemudian ia menaikkan pundaknya dan berkata, "Padahal kerbau di hutan ini populasinya cukup langka. Aku tidak yakin képutusan untuk memburunya benar atau tidak."


"Tuan, kau tidak perlu sampai memikirkan keseimbangan ekosistem hutan." Kata Val sembari menyediakan beberapa anak panah untuknya lagi. Sedikit tersenyum.


Kemudian El melangkah naik ke atas kudanya lagi. Melepaskan kembali jubah abu yang dikenakannya. Menampilkan ia yang berpakaian baju putih santainya dengan rompi berwarna coklat mudanya yang terkait di bagian tengah.


Manoleh pada Val dan berkata, "Hari ini kita berburu sampai kapan Val?"


"Mungkin sampai pukul lima sore, tapi tergantung yang mulia juga."


"Hmm, aku bisa menangkap lebih dari lima buruan sampai waktunya berakhir." Kata El sambil tersenyum percaya diri.


Val tersenyum dan mengangguk. Ia tidak pernah meragukan kehebatan El dalam berburu. Bahkan, sepertinya pangeran yang satu ini berbakat di dalam bidang apapun.


"Haha, pastilah seperti itu, tuan muda."


Mereka hanya perlu menunggu sampai Raja tiba untuk berpindah ke lokasi berikutnya. El menyimpan kembali busurnya ke belakang punggungnya.


Kemudian Raja beserta kudanya pun tiba di samping El, diikuti oleh pasukan-pasukan berburu lainnya. Selain pasukan berburu, juga ada para prajurit-prajurit yNg ikut serta. Kuda putih milik Raja terlihat besar dan juga gagah.


El sepertinya tidak akan bisa mengendalikan kuda sedewasa itu. Biar begitu, ia sudah merasa cukup hanya dengan memiliki warna kuda yang sama dengan yang ditunggangi oleh Raja.


Walaupun sebenarnya dia cukup merasa takut akan ayahnya, tetapi semuanya akan baik-baik saja, ia yakin. Ia hanya perlu percaya pada dirinya sendiri.


El sangat jarang melakukan kesalahan, hal itu cukup membuat Raja jarang memarahi atau menegur El.


Raja menatap lurus ke depan. Tubuhnya tegak dan wajahnya tetap saja terpasang kalem. Jubah abu yang El pakai terkibar-kibar oleh angin.


Kemudian Raja menoleh, menangkap ada sosok Charity yang berdiri di samping kuda yang tingginya jauh melebihinya.


"Kaupun membawa anjingmu untuk berburu, El?" Tanya Raja yang sebenarnya bingung apa kegunaannya. Tapi, keberadaan Charity pun tidak mengganggu tradisi berburu mereka juga. Jadi, tidak ada larangan mengenainya.


"Ah, entah mengapa aku merasa harus membawanya, ayah."


"Hmm, sesukamu-"


Pembicaraan mereka terhenti tiba-tiba ketika saja Charity menggonggong di tempatnya. El menatap ke bawahnya, menemukan kalau anjing miliknya tengah menghadap ke hutan di belakang barisan. Ia menggonggong dengan kencang, seperti sedang memergoki ada seseorang di sana.


El mengernyitkan keningnya. Biasanya, jika Charity menggonggong seperti ini...kecuali...


"Valdys...!!" Seru Raja yang kudanya berada sedikit jauh di sebelah kuda milik El.


Sang Raja berniat turun dari kudanya. Akan tetapi, Val yang berdiri di samping El juga sadar bahwa ada suatu bahaya di dekat mereka.


Semua orang tidak pernah menduga saat ada sebuah anak panah yang melesat dari belakang, panah itu terbang mengincar ke arah yang tak lain dan tak bukan adalah posisi sang putra mahkota.


Wajah Raja begitu terkejut, matanya terbelalak. Ia menatap El dengan jantungnya yang berdetak tak karuan. Tangannya pun langsung mengeluarkan pedang yang disarungkan di pinggangnya.


Raja yang biasanya selalu teliti, cermat dan cekatan itu terlambat beberapa lama.


Beruntung saja Val terlalu tangkas untuk menanggapinya. Dia langsung menggerakkan badannya ke belakang El dan menghadang anak panah itu agar tidak mampu menyentuh El.


Anak panah itu berhasil menusuk lehernya Val. Membuat tenggorokkannya merasa begitu pedih. Kedua matanya terbuka lebar.


"Ohok..."


"Val...!?" Seru El yang dengan cepat langsung melangkah turun dari kudanya.


"Val...!!!" Panggil El lagi, ia begitu panik ketika Val sudah tumbang ke tanah dengan panah yang menusuk lehernya.


Kedua mata Val masih saja terbuka lebar. Terlihatnya, anak panah yang tertancap di lehernya cukup dalam. Membuatnya meringis kesakitan.


Rasa sakitnya mampu membuatnya mengeluarkan air mata. Ia tidak berteriak, mengaduh atau apapun. Hanya meringis kesakitan di sana. Sebelum Val benar-benar pingsan, ia menggumam lemah, "Lind-ungi...yang mulia...sampai...akhir..haya..t..."


El menutup mulutnya, tidak kuat rasa ketika leher Val sudah berlumuran darah dalam waktu singkat.


"Tuan muda, tidak apa, biar kami yang membawanya...!!"


El merasa panik. Tapi ia masih berusaha untuk berpikir jernih. Darahnya banyak sekali... Membuatnya teringat pada pengalaman buruk yang ia berusaha mati-matian untuk melupakannya.


Ia mengalihkan tatapannya dari Val yang sudah berlumuran darah dengan anak panah yang masih tertancap sempurna di atas lehernya. Masih menutup mulut dan hidungnya, matanya terbuka lebar.


Sang Raja membalikkan kudanya, menghadap seluruh pasukan di belakangnya yang masih terlihat penuh teror akan kejadian yang terjadi.


Tangannya ia kepalkan. Kemudian ia berkata dengan wajah penuh kebencian, "Pasukan! Tangkap semua orang yang memegang busur di luar tim berburu!"


Kemudian Raja menyeringai, menatap mereka dengan tatapan keji. Membuat semua bawahannya bergidik ngeri. Mereka semua takhluk di hadapan Rajanya.


"Kalian semua...akan mati jika tidak bisa menemukannya."


"Siap, yang mulia. Laksanakan!!" Seru pemimpin pasukan sembari berhormat, sebelum akhirnya mereka mulai berbalik akan melangkah masuk ke dalam hutan untuk meneliti.


"Tunggu, pasukan... Tunggu dulu...!!!" Seru El memanggil kembali mereka.


Barisan kuda prajurit itu langsung berhenti, beberapa langsung berbalik kembali, mendengar tuan mudanya memanggil.


"El, hentikan main-mainnya... Tidak ada cukup waktu." Tutur Raja dengan geram.


El menggeleng-geleng. Ia mengangkat telapak tangannya ke ayahnya dan juga para prajurit. Mengisyaratkan untuk menunggunya sebentar.


Ia menahan mati-matian traumanya melihat lumuran darahnya di depannya ini.


"Tuan muda... Lehernya masih berlumuran darah! Apa sebaiknya kita cabut saja panahnya!?"


Kedua kening El mengerut. Napasnya menderu kencang, sangat tidak tahan melihat kondisi mengenaskan Val.


"Jangan dicabut..."


Ia menurunkan wajahnya untuk melihat tepatnya seperti. apa anak panah yang ditusukkan oleh musuhnya.


Raja menahan amarahnya di tempatnya. Ia langsung menyerukan kembali prajuritnya untuk melanjutkan perjalanannya.


El memaksa otaknya untuk memutar dengan lebih cepat lagi dari biasanya. Tidak peduli mau sepusing apapun, semual apapun ia... Ia harus berpikir. Ia tidak memedulikan para prajurit yang sudah mulai melangkah dari sana.


Ini aneh! Anak panah ini lebih pendek dari biasanya. Terdapat seperti sisa-sisa tali rumbai dari bagian atas anak panahnya. Seperti...dicabut paksa!!


Terlihatnya, ujung yang menusuk leher Val terbuat dari besi. Ia kenal... Ia kenal dengan panah seperti ini...! Tidak mungkin anak panah dengan ukuran sependek ini mampu dilontarkan dengan sebuah busur.


"TUNGGU!"


Prajurit itu sebenarnya ingin langsung berlari masuk ke dalam hutan tanpa memedulikan seruan sang pangeran. Mereka takut jika tidak segera melaksanakan perintah Rajanya.


Tetapi, sang pemimpin malah menghentikan kudanya. Ia terdiam sembari menunggu tuan mudanya bicara.


"SENJATA YANG KALIAN CARI BUKANLAH BUSUR PANAH! TAPI SEBUAH ALAT PELONTAR, ATAU KALIAN KENAL DENGAN... KETAPEL!!"


Sesudah mengatakan seluruh isi pengamatannya terhadap anak panah yang dilontarkan tadi, tubuh El pun tumbang ke tanah seketika.


***


...-End of Chapter 13-...


Note : Thankss banget yang udah mau baca ,Budayakan vote dan comment yaa kalo suka crita ini. Thx for ur support. Don't be a silent reader ✌️