KinarArga

KinarArga
Bola dari Arga



Kinara berjalan seorang diri menuju perpustakaan pada jam istirahat. Ia perlu mencari beberapa referensi untuk tugas-tugasnya yang menumpuk di sekolah. Ia tidak ditemani Windy, sebab gadis itu tidak suka mencium aroma buku. Kebalikannya dengan Kinara, ia terlalu kutu terhadap buku. Bahkan seking candunya, matanya minus. Namun ia enggan memakai kacamata, kecuali dalam kelas ketika belajar.


Perpustakaan SMA Harapan Bangsa terletak paling ujung disamping lapangan basket. Saat lapangan itu terlewati, bola basket mendarat tanpa aba-aba di kepala Kinara hingga ia tersungkur ke lanati. Bebarapa pemain basket menoleh ke arahnya dengan bermacam ekspresi. Kinara mengelus jidatnya yang memerah akibat pukulan tiba-tiba itu. Ia meringgis ke sakitan.


Pada detik itu juga, seseorang mengulurkan tangan didapannya. Kinara mengadah mendapati Arga dengan cengiran lebarnya.


Baru saja Kinara ingin menyambut uluran itu dengan baik, cowok itu malah berkata.


"Nona manis, ambilin bolanya dong!" pintanya seenak jidat.


Kalau hati Kinara bisa bersuara. Mungkin ia akan meledak saat itu juga dengan dentuman yang luar biasa. Ia memandang Arga dan berfikir bahwa cowok dihadapannya itu memang tidak punya etika.


Tanpa melakukan perintah Arga atau menyambut uluran tangan Arga. Kinara menyetarakan posisi, dengan kakinya ia mampu berdiri sendiri.


"Tahu sopan satun ngak?" tanya Kinara sarkastik.


Arga menggeleng serta menjawab dengan nada biasa.


"Ngak kenal sama Sopan dan Santun. Kenal nya nona manis!" jawabnya sumringah.


Kinara menatap heran. Cowok itu memang tidak pernah nyambung kalau diajak bicara. Kinara menunjuk kepalanya dengan jari telunjuk.


"Tahu ngak ini kepala?"


Arga mengangguk-angguk seolah ia mengerti maksud Kinara.


"Siapa bilang itu pantat. Gue tau itu kepala."


Kalau boleh, rasanya Kinara ingin meremas wajah menyebalkan dihadapannya itu sekarang juga. Setiap Kinara mengeluarkan satu kata saja, namun balasan Arga malah membuat Kinara menyesali karena setiap kata yang terlontar.


"Lo bener-bener ngak punya otak ya. Kalau lo tau ini kepala, ngapain lo lempar bola itu sama gue. Ngak nolongin lagi," nyolot Kinara dengan emosi yang berusaha diredam.


"Oww ciee," ujar Arga dengan tersenyum masem-masem. "Mau ditolongin ya sama orang ganteng?"


"Geer banget sih lo!"


"Fakta yang berbicara, akui aja. Gue tahu gue ganteng!"


"Kebanyakan halu lo!" ejek Kinara. "Yang gue tau, lo itu cuma berlagak ganteng."


Karena merasa berdebat dengan Arga tak ada keuntungan. Kinara ingin segera angkat kaki. Sebelum ia berniat pergi. Laki-laki itu mulai lagi memperburuk suasana hati Kinara.


"Jadi ngak nih ditolongin sama orang ganteng? Tadi katanya mau di tolongin!"


Kinara menggerutu kesal.


"Telat! Gue bisa berdiri sendiri!"


Karena gejolak dalam hati Kinara semakin membara. Ingin sekali rasanya Kinara menabok wajah yang berlagak ganteng itu dengan sepatu miliknya. Tapi Kinara terlalu sayang, takut jika sepatu itu akan terkena virus dari wajah menyebalkan itu. Dengan langkah cepat Kinara mengambil bola yang tergeletak di lantai. Ia melemparkan bola itu kepada Arga dengan keras sebagai bentuk pelamiasan. Namun cowok itu sudah terlalu lahir dengan basket, ia menangkap bola itu dengan baik.


"Maksih udah diambilin bolanya," kata Arga memamerkan senyuman mautnya. Melihat senyuman itu, Kinara ingin sekali menjadi malaikat maut yang bisa mencabut nyawa Arga kapan saja.


Kinara dan Arga masih beradu mata. Arga tidak beranjak, Kinara juga belum melaksanakan niat angkat kaki. Arga memainkan bola basket dengan tangan, lalu ia bertanya.


"Ngapain masih disini? Mau lihat orang ganteng main basket?"


Kinara mengangkat bibirnya ke atas. Ia sudah terlanjur jijik dengan kepedean Arga yang berlebihan hingga ia tidak sepemikiran dengan cara gadis lain memandang Arga.


"Ngak!"


"Terus?"


"Gue cuma heran, kok ada cowok aneh kayak lo di dunia ini!" Kinara mengucapkan kata-kata itu dengan sepenuh hati. Hal tersebut sesuai dengan apa yang ada didalam hatinya. Ia membenci Arga, bahkan dari saat mereka bertemu.


"Udah aneh, nyolot, ngak tahu sopan santun, ngak punya tata krama, ngak ada baik-baiknya!"


Arga hanya diam mendengarkan. Ia tidak ambil hati terhadap ucapan Kinara. Bahkan ia menganggapnya hanya sebuah angin lalu.


"Justru aneh itu langka. Dan langka itu paling banyak dicari karena diminati!" tanggap Arga dengan pedenya yang keterlaluan.


"Sayangnya gue ngak berminat sama lo!"


"Memang lo berfikir gue berminat gitu sama lo? Udah merasa cantik? Coba sadarkan diri lo, ada kembaran monyet ketika lo berkaca!"


Hidung Kinara kembang kempis. Ia memang tidak merasa cantik. Namun wajahnya tidak sejelek itu hingga bisa disamakan dengan binatang berbulu itu.


"Gue benci sama lo!!!" kata Kinara mengulang-ngulang kalimat yang sering ia ucapkan.


"Iya gue tau, tapi lama-kelamaan lo ngak akan kuat dengan pesona orang ganteng!" katanya sambil tersenyum lebar penuh kemenangan karena berhasil membuat kekesalan Kinara dengan level yang paling atas.


"Ish! Lo gila?" Kinara meninggalkan pertanyaannya yang tak butuh jawaban itu didepan Arga. Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan sekolah.


Arga tertawa singkat seraya menatap kepergian Kinara. Di matanya, Kinara hanya seorang gadis yang pura-pura cuek. Arga ingin tahu sampai dimana gadis itu bertahan untuk mengabaikkannya. Namun di setiap usaha Arga untuk mendapatkan perhatian gadis itu, Kinara semakin menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak peduli. Semakin Kinara marah, membuat Arga makin gemas sendiri.


"Dia yang nyela, dia yang marah. Udah tau gue gila, masih aja nanya. Jadi yang aneh itu siapa? Dia atau gue? Mungkin kita sama-sama aneh. Mungkin juga kita sama-sama jodoh!" ucap Arga dibuat ngakak oleh pikirannya sendiri.


*



Lagi-lagi kita ketemu.  Segitunya Tuhan pengen jodohin kita —Arga.


*****