KinarArga

KinarArga
Hello Nona Manis



Kinara berjalan melewati lorong sekolah. Membawa tumpukan kitab Matematika yang diperintahkan oleh Buk Risa untuk dibawa ke kelas. Karena tumpukan kitab itu terbilang berat, ia menjadi kesulitan dan berjalan dengan pelan. Kinara tidak menyadari seseorang yang sedang sibuk bermain ponsel berjalan ke arahnya. Hingga pada menit yang sama mereka saling bertabrakan dan menyebabkan kitab-kitab itu berserakan di lantai.


Kinara tersentak, lalu memungut kitab-kitabnya kembali. Tanpa saling menoleh,orang yang menabrak Kinara juga ikut membantu untuk memungut kitab-kitab yang berserakan.


"Sorry, sorry. Gua ngak liat," katanya pada Kinara.


Setelah selesai memungut, orang itu menyerahkan sebagian kitab matematika yang ia punggut ke tangan Kinara.


Baru saja Kinara ingin menjawab 'tidak masalah,' niatnya berubah ketika ia mengenali wajah si penabrak.


"Elo lagi?" tanya Kinara memastikan.


Cowok itu tidak berkutik. Ia juga sama terkejutnya dengan Kinara. Entah takdir atau memang suatu kebetulan, yang mereka tahu mereka selalu dipertemukan.


"Hallo nona manis," sapa Arga memberikan senyuman paling lebar.


Biasanya senyuman itu untuk memikat hati seorang wanita. Namun Arga berfikir, cewek dihadapannya ini tidak sepenuhnya wanita. Buktinya sejak pertama kali mereka bertemu, Kinara tidak bersikap anggun layaknya seorang wanita seutuhnya.


"Hai, juga cowok gila!" balas Kinara dengan suara juteknya.


"Nona manis kok ada dimana-mana? Fans berat gue ya?" tanya Arga mengangkat sebelah alisnya.


Kinara merespon dengan mengangkat sebelah bibirnya pertanda ia tidak menyetujui pertanyaan Arga.


"Jangan kepedean, cowok gila!" ejeknya sambil memasang wajah sedingin mungkin.


"Seharusnya gue yang nanya, lo ngapain ada disini?" tanya Kinara kemudian.


Arga menunjuk dirinya sendiri, lalu menjawab.


"Nyari nona manis! Kira-kira tau ngak nona manisnya ada dimana?" kata Arga menjawab sembarangan sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Kinara memicingkan matanya curiga. Ia memandang Arga tak suka. Ini adalah pertemuan ketiga kalinya, dan Kinara percaya bahwa ini tidak mungkin suatu kebetulan.


"Disini ngak ada yang namanya nona manis!" respon Kinara mempertegas.


"Gapapa deh, bagi gue lo manis kok," goda Arga. Namun Kinara bukanlah orang tepat untuk digoda. Seperti yang Arga pikirkan sebelumnya. Kinara diragukan sebagai wanita sejati.


Tidak seperti cewek kebanyakan, yang dipuji akan melambung tinggi ke angkasa karena senang. Sedangkan Kinara memukul lengan Arga dengan tumpukan kitab matematika yang masih dalam dekapan.


Arga meringgis seolah ia kesakitan.


"Arghhh, jangan KDRT  Ma. Papa janji ngak akan selingkuh lagi," ucap Arga dibuat ngaur sendiri.


Kinara semakin percaya dengan keyakinan bahwa laki-laki itu memang memilki masalah dengan kejiwaan. Cowok itu aneh, cowok itu gila, cowok itu stres, dan Kinara bersumpah ia tidak akan pernah berdamai dengan cowok seperti itu.


"Ihh, lo sarap ya?" ucap Kinara semakin ambisius memukul Arga.


"Ahhh, jangan sakiti gue nona manis."


Arga menutup wajahnya dengan tangan seolah ia sedang tersiksa dengan pukulan Kinara yang tak seberapa. Ia pura-pura menangis walau tak ada air mata yang keluar setetespun.


"Gue tau gue ganteng. Tapi, terlalu tampan itu adalah takdir. Jadi gue mohon, jangan marah nona manis!"


"Gila ya, ternyata dunia ini sempit," sela Kinara menatap sinis.


Arga mengangguk mengiyakan.


"Iya, dunia ini sempit."


Karena merasa tidak ada yang penting. Kinara berbalik arah. Sebelum niatnya terlaksana, Arga kembali bersuara.


"Gua ramal, nama nona manis pasti Kinara!" katanya dengan yakin.


Kinara mengerutkan dahinya dengan samar. Ia melirik heran. Ia juga tak habis pikir, bagaimana cara laki-laki itu menebak namanya dengan benar? Seingat Kinara, setiap mereka bertemu hanya cowok itu yang menyebutkan namanya. Sementara Kinara tidak.


"Tau dari mana?" tanya Kinara penasaran.


Arga tersenyum, ia semakin bersemangat untuk mengibuli Kinara. Ia berfikir gadis dihadapannya ini cukup bodoh. Sudah jelas, Arga tahu karena tertera nama Kinara di name tag seragamnya.


"Percaya ngak, gue ini peramal hebat. Nama nona aja bisa gue ramal, apalagi masa depan kita," ujarnya bangga.


Kinara memasang ekspresi datar. Perlu ditekankan, ia tidak mungkin percaya!


"Gue ramal, kita berjodoh nona manis!" ucap Arga semakin ngaur.


Ramalan Arga yang pertama mungkin benar. Namun Kinara sangat berharap ramalan kali ini salah besar.


"Najis. Gue ngak mau!"


Arga memengang wajahnya dengan tangan,  tersenyum seakan sedang mempromosikan dirinya sendiri.  "Masa lo ngak sama gue sih? Gue ngak oplas lho. Ini ke gantengan yang hakiki!"


"Bodo amat!"


Lalu Kinara melanjutkan langkahnya, meninggalkan Arga terus mengoceh tak jelas.


"Gue ramal, nona manis pasti jatuh cinta!" kata Arga pada dirinya sendiri.


"Gue ramal, dia terpesona, cuman dia gengsi."


"Andai aja...." Arga menghentikan kalimat, ia mencoba berfikir lagi. "Semua ramalan gue bener!" lanjutnya berkhayal.


Arga tidak serius. Ia selalu menganggap hidup ini hanya sebuah permainan yang tidak perlu ambil pusing. Jika baginya hidup ini adalah permainan, maka Kinara adalah boneka yang ingin sekali ia mainkan. Maka dari itu, tunggu saja starnya dimulai.


*



Ketika Arga merasa terlalu tampan


—emak Arga. 


*