KinarArga

KinarArga
Anak Baru



Kinara memasuki XI IPA 3 sambil membawa kitab matematika yang diperintahkan oleh Buk Risa. Setelah kitab-kitabnya dibagikan satu perorang, Kinara kembali duduk di kursinya. Windy yang duduk disamping Kinara memulai bicara.


"Perasaan, tadi cuma disuruh ngambil kitab di perpus. Kok lama banget sih?"


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Kinara mengutuk dalam hati. Kesalnya belum hilang, sebab wajah cowok aneh itu masih terekam jelas di otaknya.


"Gimana ngak lama, orang gue kena sial," jawab Kinara.


Windy mengerutkan dahinya menjadi bergelombang.


"Sial maksudnya?"


Kinara malas bicara panjang lebar. Ia bukan tipikal cewek yang akan menceritakan semua hal secara detail. Maka dari itu Kinara hanya menjawab kesimpulan yang ia anggap benar.


"Tadi gue ketabrak orang gila."


Kerutan di jidat Windy semakin banyak, ia tetap tak mengerti maksud Kinara. Namun ia tak memilih bertanya lagi, Kinara juga tak acuh terhadap pertanyaan yang Windy ajukan. Karena perhatian Kinara saat ini lurus kedepan menatap Buk Risa yang sedang menenangkan materi.


Beberapa menit setelah Buk Risa menerangkan. Seseorang mengetok pintu yang terbuka. Hingga mata beralih fokus.


"Permisi Buk," ucap Pak Willy, laki-laki yang bekerja dibagian Tata Usaha.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Buk Risa.


Pak Willy menarik lengan seseorang yang sedang bersembunyi dibelakangnya. Kemudian ia berkata pada Buk Risa.


"Maaf Buk, menganggu waktunya sebentar.


Pak kepsek nyuruh saya buat ngantar anak baru ini."


Buk Risa menganggu-angguk. Ia mempersilahkan cowok yang disamping Pak Willy untuk masuk ke kelas XI IPA 3.


"Makasih Buk. Saya pergi dulu," ujar Pak Willy sopan, mengundurkan dirinya pergi dari sana.


Setelah kepergian Pak Willy, cowok berseragam SMA itu melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Saat kakinya telah melangkah, tak satu matapun yang berkedip. Terutama mata para wanita. Mereka menggeleng-geleng takjub atas ketampanan yang tiada duanya. Cowok itu memamerkan senyuman dengan gigi putih yang berderetan rapi.


Cowok itu memakai seragam sekolah lain dengan tidak mengancingkan kancing paling atas hingga dadanya sedikit terekpos. Rambutnya sudah lama tidak dipotong membuatnya hampir gondong.


"Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dusta kan?" kata Gina memecah keheningan beberapa menit.


"Bang, bang. Namanya siapa? Pacaran yuk!" Loly menilang perkataan Gina. Cowok dengan senyuman tiada bandingan itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hey you...Perlu diingat ya, gajah dan semut beda dunia loh!" sela Ali sambil mencibir, cowok itu yang paling mahir dalam mencela tanpa memandang dirinya jauh lebih buruk daripada Loly.


Loly yang berbadan gemuk itu, menatap tajam. Walau celaan Ali ada benarnya, namun Loly tetap tidak terima.


"Lo bilang gue Gajah?" tanya Loly memastikan pendengarannya tidak salah.


"Wah wah, gajah jaman sekarang bisa ngomong ya?" kata Ali berucap takjub seraya menyondorkan jari jempolnya.


Terdengar gigi Loly yang gemertak. Ia mulai marah, gadis berbadan gemuk itu mengepalkan tangannya. Ingin mengambil langkah maju untuk menonjok muka Ali yang menyebalkan itu. Namun Buk Risa meninggikan nadanya mendahului.


"Heh, sudah-sudah. Kenapa jadi kalian yang pada ribut sih!" risih Buk Risa.


Loly dan Ali otomatis mengatup rapat mulutnya. Mereka menghentikan perdebatan karena tidak ingin kena masalah. Walaupun Loly dan Ali belum mengajukan kata damai.


"Kamu, silahkan perkenalkan diri!" pinta Buk Risa pada cowok disampingnya.


Sebelum cowok itu bicara. Kinara sudah dulu berdecak sebal. Ia menganali wajah cowok itu dengan baik. Cowok itu adalah cowok beberapa menit yang lalu membuatnya marah di pagi hari. Benar-banar sial. Kinara tidak tahu apa dosanya, hingga Tuhan menghukumnya dengan pertemuan yang tak dikehendaki ini.


"Nama saya Arga Almahendra, saya pindahan dari SMA Cahaya Pratama." Saat cowok itu mengeluarkan suaranya, para gadis dalam kelas tersebut mendengarkan dengan seksama.


"Kamu pindah kenapa?" tanya Buk Risa kepada Arga.


Arga menjawab apa adanya. "Dikeluarkan Buk."


"Kenapa?"


Arga menggaruk telungkuknya yang tak gatal. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana. Lagipula tidak lucu kalau alasannya dikeluarkan dari sekolah lama cuma gara-gara salah membaca teks undang-undang. Kemudian Arga nyegir kuda. "Katanya, sekolah itu sudah tidak bisa menampung kegantengan saya yang berlebihan ini."


Jawaban itu sukses membuat siswa-siswi memecahkan tawanya. Tapi tidak dengan Kinara dan Buk Risa. Kinara tidak habis pikir. Cowok itu memang tidak punya rasa malu sedikitpun.


"Saya akui kamu ganteng. Tapi terlalu ganteng itu bukan alasan Arga."


Arga terkikik sendiri.


"Mencintai Ibuk aja ngak butuh alasan. Kenapa pindah sekolah harus butuh alasan. Ya ngak?"


Arga mengangkat dagunya meminta persetujuan dari Buk Risa. Loly dan Gina bersama gadis-gadis yang menjadi fans dadakan Arga, menangkup dagunya dengan tangan untuk memperhatikan cowok itu.


Kinara yang berada disamping Gina, hanya menggeleng tak percaya. Menurutnya Gina berlebihan, Arga tidak begitu ganteng. Mungkin mata Gina salah. Tapi menurut Gina berserta gadis lain, mata Kinara yang terlalu buta.


"Kamu anak baru, sopan sedikit!" ucap Buk Risa dengan dingin.


Buk Risa paling tidak suka kalau ada siswa yang bicara tidak pantas seperti itu. Ia memilih tidak bertanya lebih jauh lagi, menurut analisanya Arga bukan tipikal siswa yang baik sampai-sampai ia dikeluarkan dari sekolah lamanya.


"Sekarang, kamu duduk!" lanjut Buk Risa memerintah.


"Duduk dimana Buk?" tanya Arga menyapu pandangannya dalam kelas.


Ketika matanya sedang mencari kursi kosong. Ia terperangkap dalam tatapan mata seseorang. Arga menyembunyikan rasa terkejutnya dalam hati. Ia tak menyangka ternyata Tuhan mempertemukan mereka lagi. Entah apa rencananya, tapi gadis cuek plus dingin itu meliriknya dengan tajam seolah Arga adalah musuh terbesar.


"Cieee, dipandangin tuh sama anak baru," goda Windy sambil menyenggol lengan Kinara.


Kinara melirik Windy sekilas dengan tatapan sama tajamnya.


"Apaan sih lo!" risih Kinara mendengarnya.


Windy tersenyum senang saat Kinara menggerutu tidak suka kepadanya. Windy melirik Arga, lalu kembali berbisik.


"Kayaknya si anak baru naksir lo!" tebak nya.


Kinara dengan reflesk menjitak kepala Windy sampai cewek itu meringgis sakit.


"Jangan sembarangan. Gue ngak sudi di cintai sama orang gila!"


"Jadi maksud lo tadi yang ditabrak sama orang gila, itu Arga?"


Kinara mengangguk, langsung Windy tersenyum senang.


"Rasanya gimana ditabrak sama orang ganteng?"


Kinara mengangkat bahunya tak acuh.


"Biasa aja."


"Kayaknya ini yang di mana kan jodoh." ujar Windy sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk layaknya sedang berfikir.


"Amit-amit ya Allah," ucap Kinara bergidik ngeri saat membayangkan kata-kata Windy menjadi kenyataan.


Setelah mata Buk Risa menemukan kursi yang kosong. Ia menunjuk ke meja deretan kursi paling belakang.


"Kamu duduk disana!"


Arga mengangguk, lalu melangkah ke arah yang Buk Risa tunjukkan. Langkah demi langkah terlalui, Arga melewati meja Kinara. Mereka saling beradu mata dengan tatapan yang berbeda. Arga mengedipakan sebelah matanya. Sementara Kinara memberikan tatapan membunuh.


Saat itu Arga pura-pura tersandung didepan meja Kinara. Ia seolah-olah sedang memperbaiki tali sepatunya, padahal tali sepatunya terikat dengan baik.


"Nona manis, kita bertemu lagi!" katanya berbisik disamping Kinara.


"Cowok gila, jangan pernah deket-deket gue!" perintahnya juga ikut berbisik.


"Gue ngak pernah deket-deket lo. Tapi salahin aja takdir, kenapa kita dideketin mulu!"


Kinara cuma berdecak sebal. Arga berdiri lalu melanjutkan langkah lagi. Kinara terus menatapnya sampai Arga duduk disebuah meja disamping Adit. Kinara langsung memegang jidatnya. Windy menautkan alis melihat kesalnya Kinara makin bertambah.


"Kenapa lo?"


"Astaga, Arga disebelah Adit. Orang gila bertemu orang gila, gue takut kegilaan Arga naik drastis."


"Perhatian ya," goda Windy namun Kinara mengabaikan.


Setelah kehebohan yang terjadi dalam kelas karena kedatangan anak baru. Kelas kembali tenang seperti semula. Arga berkenalan singkat dengan teman semejanya.


"Gua Aditya Deon!" kata Adit mengulurkan tangan. "Ngak seganteng lo sih, tapi gue punya cita-cita menjadi orang ganteng!"


Arga tersenyum menanggapi, serta menyambut uluran tangan Adit dengan senang. "Selamat, elo gue terima dalam komplotan orang ganteng!"


Keduanya saling tertawa singkat. Buk Risa asyik menerangkan materi. Sementara Adit mengajak Arga bermain suit jari. Setiap siapa kalah, maka wajahnya akan dicoret habis-habisan oleh yang menang. Harus Arga acukan jempol, karena wajah Adit masih tidak terkena tinta pena sedikitpun. Dalam artian, Arga selalu kalah. Tapi tak apa, Arga merasa kegantengannya tak juga berkurang. Walaupun Adit selalu menang. Tidak masalah, kerena mendapatkan teman baru seperti Adit sudah cukup mengasyikkan. Mereka sama-sama tidak peduli pada pelajaran yang sedang berlangsung. Sepertinya mereka cocok menjadi bestfriend.


*



Perkenalkan, gue Arga Almahendra. Biasa dipanggil sayanggg😚 -Arga.


*