
Dihari yang sama, setelah pelajaran olahraga berakhir. Pelajaran berikutnya adalah Fisika. Semuanya serius memperhatikan Buk Atika yang sedang menerangkan materi. Disana, di depan mereka berdiri seorang guru berbadan gemuk yang tak pernah lupa memakai kacamatanya serta selalu menyanggul rambutnya layaknya sarang burung merpati.
Kosentrasi mereka terpecah ketika terdengar ketokan pintu, hingga pandangan mereka terarah sama.
"Maaf buk, saya boleh masuk?" kata Arga meminta ijin.
"Kamu dari mana?" tanya bu Atika.
"Toilet buk," jawab Arga asal.
"Ya sudah, masuk sana!"
Beberapa orang menatap Arga dengan bermacam ekspresi. Namun Arga selalu suka menjadi pusat perhatian, merasa dirinya adalah seseorang terpandang.
Bu Atika menuliskan sebuah soal dipapan tulis. Bersiap untuk memberikan pertanyaan pada siswa-siswinya.
"Okay, siapa yang bisa mengerjakan soal ini?" tanya bu Atika.
Yang lain pada menunduk karena takut untuk ditujuk. Akhirnya Buk Atika memanggil sebuah nama hingga mereka bernafas lega.
"Kinara," panggil bu Atika akhirnya. "Silahkan maju!"
Semua siswa mengelus dada, ketegangan ini berakhir juga. Kinara memang wonder women yang selalu menjadi penolong disaat Mak Lampir membuat mereka pusing.
Kinara mengangguk dan berniat untuk berdiri. Namun sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Kinara dati nomor tak dikenal.
Hai Nona manis, gue minta sama lo jangan maju ya. Sekali-kali membangkang juga ngak akan bikin lo bodoh kok. Lo punya dua pilihan, turutin gue atau gue sebar vidio lo!
By: Cowok ganteng sejahat raya.
Kinara bergidik kesal. Berani sekali cowok gila itu mengancamnya? Tapi kalau Kinara tidak menuruti, maka harga dirinya akan dijatuhkan didepan semua orang. Cowok berotak mesum itu tidak berhak menyebarkan aib Kinara.
"Kinara," panggil Buk Atika lagi.
Kinara tidak menyahut. Ia tidak mungkin. maju dan merelakan dirinya dijatuhkan didepan umum.
"Kinara Afifah!" panggil bu Atika dengan suara yang lebih ttegaa
Kinara menunduk dan berkata sopan.
"Maaf buk, saya tidak bisa." elak Kinara.
Hampir semua kepala tegak berdiri, dengan mata terbelalak seking kaget nya. Ini adalah pertama kalinya Kinara menolak yang di perintahkan guru padanya.
"Maju aja dulu, nanti saya ajarin!"
Kinara mengangkat dagu, ia mengalihkan pandangan. Hatinya ciut, tak tau apa yang harus dilakukan.
"Saya tetap tidak bisa!" kata Kinara mempertegas.
"Sejak kapan kamu tidak bisa soal semudah ini?"
"Maaf Buk, saya lagi-"
"Lagi berak besar di celana," ucap Arga memotong sebelum Kinara sempat menyelesaikan kalimatnya. "Ya kan Kinara? Liat deh, mukanya kayak nahan eek gitu," lanjutnya bicara pada siswa dan siswi.
Semuanya tertawa kecuali Bu Atika dan Kinara. Ia menunduk, bertumpuk rasa kesalnya menjadi satu.
"Kinara maju!" pinta Buk Atika semakin keras.
Kinara hanya menunduk, memandangi lantai untuk mengisi tatapan kosongnya.
"Mungkin dia pengen di pasangin tikar merah dulu kali Buk, baru mau maju kedepan." sela Arga menengahi.
Bu Atika makin geram. Lancang sekali anak itu. Berani-beraninya menyela.
"Hey, kamu anak baru. Dari tadi nyambung mulu! Sekarang kamu yang maju kerjakan soal ini!" Bu Atika menunjuk ke arah papan tulis, tapi matanya lurus menentang Arga.
Arga menggaruk-garuk telungkuknya yang tidak gatal. Berniat menjerumuskan Kinara, malah senjata yang makan tuan. Arga menatap papan tulis. Melihat soalnya saja sudah pusing. Apalagi menyelesaikannya. Angka-angka itu terlalu rumit untuk dipahami.
"Bukannya saya nolak Buk, saya bisa. Tapi kata Ibu saya kecerdasaan itu ngak boleh di sombongkan!"
"Kalau begitu lebih baik kamu keluar!" kata Buk Atika dengan penuh penekanan.
"Keluar dari mana buk? Kalau keluar dari hati Ibuk mana saya ngak bisa. Karena saya sudah mencintai ibuk terlalu dalam."
Semuanya menunduk takut. Kecuali Arga, rasa takut dalam dirinya sudah tak ada.
"Keluar dari kelas ini dan hormat pada bendera merah putih."
Kemarahan Buk Atika memuncak, namun Arga tak kenal jerah.
"Benderanya aja ngak minta dihormatin. Kenapa Ibuk yang repot sih." cela Arga menyandarkan punggungnya ke kursi, memperlihatkan tak ada homat sama sekali.
"Arga, saya ini guru kamu!"
"Padahal tadi saya ngak bilang Ibuk istri saya loh!
"ARGAA!!!"
"Keluar dari kelas ini, dan hormat ke tiang bendera sampai bel pulang berbunyi!" Mata bu Atika melotot, ia menunjuk ke arah pintu keluar.
"Jangan dong Buk, nanti saya item. Kalau saya item, nanti populasi siswa comel disekolah ini punah Buk,"
"Lama kelamaan kamu bikin saya darah tinggi ya? Mau saya kasih nilai merah dirapor kamu?"
Arga tersenyum manis dan mengucapkan beribu terima kasih. "Wah, makasih Buk. Merah kan artinya pemberani. Ibu saya pasti bangga, karena dia pernah pesan, harus berani dalam kondisi apapun."
"KELUAR KAMU ARGA!!" Buk Atika tambah geram dengan meraih penggaris besar. Kalau Arga berani menjawab, liat saja penggaris ini akan melayang di kepalanya.
Arga menggidik ngeri dan berdiri dengan pasrah. Kemudian melangkah, ia melenggang-lenggang didepan semuanya layaknya pengantin baru.
Sebelum keluar kelas, Arga menghadap ke bu Atika. Ia mengangguk ke bu Atika. Gayanya terlihat kalem dan santai.
"Jangan marah-marah dong Buk. Sadar Buk, sadar! Ibuk udah tua, nanti makin tua. Cuma satu pesan saya. Jangan rindukan saya karena saya sudah jelas tak akan rindukan Ibuk!"
Arga berbelok ke arah pintu keluar. Ia baru saja masuk, namun ia kembali diusir keluar.
Semua melongo tidak percaya. Sementara Buk Atika menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau ia menjadi kepsek, ia akan berfikir panjang menerima siswa baru segila itu.
Buk Atika tidak memanggil Kinara lagi. Ia melirik jam dinding, masih ada satu jam tersisa.
"Sekarang kerjakan tugas halaman 105 yang uji kompetensi, essay dan tugas mandiri. Kerjakan soalnya, buat obsiennya. Siap tak siap wajib dikumpulkan hari ini juga!" kata bu Atika dengan lantang.
Semuanya saling pandang. Ingin protes namun mood Buk Atika rusak parah. Jika ingin protes juga, maka satu-satunya orang yang patut disalahkan tidak lain dan tidak bukan adalah Arga. Cowok gila yang mempersulit kelas mereka.
*
Ketika orang gila doyan selfi —Mak Arga.
*