
Setelah sholat subuh, Arga meraih ponsel yang tergeletak diatas meja. Ia membuka aplikasi whatsapp. Chat paling atas yaitu grup "Ciptaan Allah yang Paling Seksi" Sementara matanya tertuju pada chat paling singkat dengan nama "Nona Manis." Arga masih berharap gadis itu membuka blokirnya. Namun harapannya terlalu ganjil seiringan dengan ia yang tak sadar diri.
Kalau dipikir-pikir, Arga memang keterlaluan. Sejak pertama kali bertemu sampai sekarang, Arga cuma sumber masalah dalam hidup Kinara. Arga menggaruk telungkuknya yang tak gatal, kemudian ia menelpon kontak yang dikirim Adit tadi malam.
"Hallo? Dengan toko bunga indah disini. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita di sebrang sana.
Sebenarnya Arga tidak yakin Kinara akan memaafkan hanya karena sebuket bunga. Tapi tidak ada salahnya mencoba, mana tahu saran dari Adit manjur.
"Hallo Mbak. Saya Arga, bisa pesan bunga Mbak?"
"Ohh, tentu. Bunga apa Mas?"
Arga berfikir sejenak, ia tak ambil pusing masalah bunga. Lagipula ia bukan cowok romantis yang tahu nama-nama bunga untuk diberinya pada wanita. Lagipun Mbak toko bunga pasti lebih mengerti karena ia seorang wanita.
"Terserah."
"Maaf, kami ngak jual Bunga terserah!"
"Mbak, maksud saya Bunganya terserah Mbak!"
"Yang jelas dong Mas. Saya bingung jadinya nih."
"Pokoknya Mbak, bunganya paling cantik, yang paling besar dan yang paling mahal!"
"Mas yakin bunga yang paling cantik, yang paling besar dan yang paling mahal?"
"Lebih besar lebih bagus!"
"Diberikan atas nama siapa Mas?"
"Kinara Afifah. Nanti saya kirim alamatnya. Kalau bisa sebelum jam tujuh ya Mbak."
"Oke Mas. Toko Indah selalu berusaha memberikan yang terbaik."
Arga mengucapkan terima kasih, lalu mematikan sambungan telponnya. Ia tersenyum sambil terbayang wajah Kinara. Kata teman-teman sompaknya, Kinara tidak mungkin menolak pesona orang ganteng. Pertanyaan terbesar Arga, Kinara normal? Biasanya gadis itu selalu menolak apapun yang berhubungan dengan Arga. Sebagai seseorang cowo macho yang memegang pangkat terlalu tampan, Arga berusaha optimis. Dan ia tidak sabar ke sekolah untuk berjumpa Nona Manis.
****
Ketukan pintu membuat Kinara menghentikan sarapan. Bi Ijah sedang memasak di dapur, Kinara tidak ingin memangganggu wanita itu. Lalu ia melangkah menuju pintu utama. Ketika pintu terbuka, seorang kurir berseragam rapi berdiri didepan rumahnya.
"Permisi Mbak. Ini ada kiriman bunga untuk Mbak Kinara."
Kinara mengerutkan dahi. Rasanya ia tidak pernah memesan barang apapun, apalagi bunga.
"Kayaknya Mas salah alamat. Saya tidak pesan bunga."
Namun seorang kurir itu tetap bersikes kalau ia tidak mungkin salah. Ia menyondorkan secarik kertas yang berisi alamat rumah Kinara dan kiriman untuk gadis bernama Kinara Afifah.
"Saya tidak salah Mbak. Ini memang dipesan kepada Mbak Kinara."
"Kalau boleh tau, pengirimnya atas nama siapa?"
"Disini atas nama Arga Almahendra."
Wajah Kinara berubah masam. Pagi-pagi sudah dihadiahi dengan hadiah receh seperti itu. Ia menatap kiriman tersebut yang terbalut dengan kertas berwarna mocca. Jangankan menerima, sekedar meliriknya Kinara bahkan tidak niat.
"Buang aja Mas."
"Maaf Mbak, tugas saya cuma ngantar barang. Tolong tanda tangan sebagai tanda terima, kalau ngak saya bisa kena masalah."
Kinara menghembuskan nafasnya jengah. Ia tidak ada niatan sedikitpun menerima pemberian Arga. Namun karena merasa kasihan pada kurir tersebut, Kinara menandatanganinya.
Kemudian kurir itu pergi setelah mengucapkan terima kasih. Kinara dengan malas mengangkat kiriman bunga yang hampir setinggi pinggang dan membawanya ke kamar.
"Ciee non Kinar. Dapat kiriman, dari pacarnya ya?" goda Bi Ijah ketika Kinara berjalan kesulitan membawa barang yang terlalu besar.
"Apaan sih Bi!"
Bi Ijah tersenyum melihat majikan mudanya yang menggerutu kesal atas pertanyaan yang ia ajukan. Merasa itu bukan urusannya, Bi Ijah kembali membersihkan meja makan.
Kinara mengelap keringat yang jatuh akibat ke lelahan. Ia menjatuhkan barang tersebut diatas lantai. Kinara geleng-geleng kepala. Tadi malam ia sengaja memblok Arga supaya urusannya dengan laki-laki gila itu selesai. Nyatanya Arga tidak jerah juga. Jika kiriman bunga itu dikirim sebagai permohonan maaf. Kinara tidak yakin ia bisa memberi maaf semudah itu.
"Gila ya ni orang, ngapain ngirim bunga segede ini?" tanya Kinara mengangkat sebelah bibirnya ke atas.
Disisi hatinya yang lain ia juga penasaran terhadap kiriman bunga tersebut. Dalam hati ia sibuk menerka nama-nama bunga. Kinara suka mawar. Jika bunga itu mawar, Kinara akan berlapang dada untuk berbesar hati memaafkan Arga. Jika melati, maka Kinara akan coba untuk berdamai. Namun jika bunga tersebut adalah Raflesia Arnoldi. Kinara bersumpah akan mencari laki-laki itu sampai ketemu dan menggantungnya di tiang bendera.
Kinara menyobek kertas bungkusan bunga tersebut. Ketika tersobek sempurna, ia menjatuhkan rahangnya ke bawah.
Ada secarik kertas disana, bertuliskan:
"Saya turut berduka cita atas kepergian almarhumah."
*
Saat menginjakkan kaki ke sekolah. Kinara langsung disambut dengan wajah menyebalkan yang selalu tersenyum ceria. Katanya senyuman laki-laki itu adalah pertanda ia bahagia karena bertemu Kinara. Bagi Kinara, Arga tak lebih seekor nyamuk yang mengganggu dan tak pernah diharapkan. Namun lagi dan lagi ia selalu datang tanpa undang.
"Nona manis, kirimannya udah sampai belum?"
Kinara langsung memberikan tatapan membunuh. Ia memandang Arga sesinis mungkin.
"Jadi bunga itu dari elo?" tanyanya memastikan walau ia tahu.
"Iya dong. Suka ngak? Suka dong? Pasti!" katanya dengan percaya diri berlebihan.
Refleks Kinara menarik kedua lengan Arga dari belakang, ia berniat untuk mematahkan lengan-lengan itu. Arga meringgis kesakitan. Kinara berucap lantang seolah memberikan penegasan.
"Ahh, auu..auu. Sakit Ra. Sakit. Tangan gue woi!"
"Ngapain lo ngrim-ngirim bunga segala?"
"Emang kenapa sih, bunganya kurang gede ya Ra?"
Semakin Arga bicara, semakin Kinara membuat tulang-tulangnya remuk. Arga mengangkat tangan tanda menyerah, ia tidak mau hidupnya harus berakhir hanya dengan alasan seorang gadis mematahkan tulangnya.
"Oke oke. Gue minta maaf kalau salah. Please, jangan marah dong!"
Emosi Kinara meledek-ledak. Ia pikir Arga akan meminta maaf secara baik-baik. Namun laki-laki itu mengundang permusuhan secara halus.
"Sekali lagi lo kirim bunga itu sama gue. Gue akan ancurin muka yang lo bilang terlalu tampan itu."
Kemudian Kinara mendorong Arga sampai ia tersungkur di lantai koridor. Arga memegang lengan serta badannya yang terasa encok akibat kekerasan yang dilakukan seorang gadis kepadanya.
Giliran Arga yang menggerutu kesal. Ia menatap kepergian Kinara dengan bibir dimajukan.
"Salah orang terlalu tampan itu dimana?" tanyanya pada diri sendiri.
"Udah gue bilang, dia ngak normal. Mak lampir!" ketusnya dalam hati.
Lima menit setelahnya ponsel Arga berdering. Penelponnya atas nama Toko Bunga Indah.
"Hallo?"
"Bunganya udah diterima Mas."
"Oke Mbak nanti saya transfer uangnya."
Mbak penjaga toko berniat mematikan sambungan telpon. Namun Arga bertanya.
"Oh ya Mbak, kalau boleh tahu Mbak kirim bunga apa ya buat teman saya?"
"Karangan bunga Mas."
"Maksudnya bunga yang biasa dipake buat ngelayat?"
"Iya Mas."
Arga melebarkan mata dan mulutnya. Yang benar saja, Arga tahu karangan bunga itu cantik. Tapi kira-kira juga dong, itukan bunga dikhususkan untuk orang meninggal.
"Ya Allah Mbak. Dikira teman saya mayat idup apa dikasih begituan. Saya mau deketin cewek Mbak, bukan mau ngelayat,"
Ucap Arga menepuk jidatnya sendiri atas kebodohan penjaga toko.
"Lah.. Kan Mas sendiri yang bilang. Pokoknya bunga yang paling cantik, yang paling besar dan yang paling mahal. Sedangkan bunga yang paling cantik, yang paling besar dan paling mahal di toko saya cuma karangan bunga. Nah salahnya dimana coba?"
"Tapi ngak harus karangan bunga juga kali Mbak!" kata Arga melakukan aksi protesnya.
"Tadi kan Mas bilang bunganya terserah. Jadi terserah saya dong mau ngirim bunga apa aja. Gimana sih, dia yang salah dia yang marah!"
Arga geleng-geleng kepala. Lalu ia mematikan sambungan telpon sebelah pihak. Ia mengacak rambutnya frustasi. Bukannya dapat senyuman malah dapat makian. Belum lagi Arga harus membayar karangan bunga sialan itu.
"Orang ganteng kok cobaan nya berat banget ya?" tanyanya mengadah seolah mengadu pada Tuhan.
*