
Sepulang sekolah Gibran langsung datang ke rumah Kinara. Gibran, Kinara dan Leo telah membuat janji agar hari ini mereka belajar bersama untuk persiapan cerdas cermat sejakarta yang akan di adakan dua bulan lagi. Kinara mempersilahkan Gibran masuk dan ia menanyakan keberadaan Leo yang belum datang juga.
"Leo mana Kak?" tanya Kinara.
Gibran mengangkat bahu dan berkata.
"Tadi gue di suruh duluan aja."
Kinara mengangguk, kemudian melangkah ke dapur untuk membuatkan minum untuk Gibran. Sebenarnya ia bisa meminta Bi Ijah, namun pekerjaan kecil seperti itu bisa dilakukannya sendiri.
Setelah beberapa menit menunggu, Leo masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Leo lama banget sih," ucap Kinara sambil menopang dagunya diatas meja.
Gibran mengeluarkan ponsel dan berucap.
"Tunggu ya biar gue telpon."
"Lo dimana?" tanya Gibran saat telponnya tersambung.
"Sorry banget Gib, gue ngak bisa datang hari ini."
"Iya, lo dimana?" ulangnya.
"Nyokap gue tiba-tiba anval. Sekarang gua ada di rumah sakit. Maaf Gib gue ngak bisa datang."
Kinara melihat perubahan wajah Gibran menjadi khawatir.
"Oh, gapapa Yo. Semoga nyokap lo cepat sembuh. Salam sama bokap lo juga."
Ada jeda setelah Gibran mengatakan hal tersebut. Kemudian Gibran mematikan sambungan telponnya pada Leo setelah mengucapkan salam.
"Kenapa?" tanya Kinara ikut penasaran.
"Leo ngak bisa datang, nyokapnya anval."
Mulut Kinara membeo huruf O. Dalam hati ia ikut berharap semoga Ibunya Leo lekas sembuh.
Gibran membuka kitab matematika panduan terlebih dahulu. Ia membacanya dan memahaminya dalam waktu yang terbilang singkat. Kemudian Gibran ajarkan apa yang baru saja ia pelajari kepada Kinara.
"Kalau soal yang ini gimana?" tanya Kinara sambil menunjuk satu soal yang menurutnya lumayan sulit.
Gibran mengambil pena dan menuliskan soal yang kinara tanyakan di selembar kertas. Lalu ia menerangkan persis seperti seorang guru yang baik. Kinara mengangguk-angguk mengerti. Diam-diam ia sengaja memperhatikan wajah Gibran.
Kinara terpaku sejenak. Walau kinara berulang kali bertanya, tapi Gibran dengan sabar mengajarkan sampai Kinara benar-benar paham. Tak bisa dipungkiri Gibran adalah laki-laki berotak genius. Bonusnya ia ganteng dan murah senyum. Sekarang, Kinara tahu apa yang membuat satu sekolah berdecak kagum saat Gibran ada dihadapan mereka.
"Kenapa? Ada yang salah sama gue?" tanya Gibran membuat Kinara tersentak.
Kinara mengalihkan pandang dengan gerakan kaku.
"Ngak. Itu—anu, ada—" Kinara menggaruk telungkuknya yang tak gatal kerena kesulitan mencari alasan.
"Ngomong yang jelas Kinara," kata Gibran sambil memamerkan deretan giginya yang putih bersih.
Bersamaan dengan itu Gibran tak sengaja mencoret wajahnya dengan tinta pena tanpa sengaja. Hal tersebut membuat Kinara tertawa hingga kekakuannya menghilang.
"Malah ketawa lagi," sela Gibran keheranan.
Kinara berhenti tertawa, mengambil tisu dan mendekatkan jarak diantara mereka.
Ia mengusapkan tisu tersebut bagian pipi Gibran yang terkena tinta. Kinara tidak bermaksud apapun selain berniat baik untuk membersihkan pipi Gibran.
Kinara tersenyum, ia terlalu fokus pada pipi Gibran sampai tak sadar jika sepasang mata tak berhenti meliriknya dari tadi.
"Cita-citanya jadi pelukis ya Kak? Sampai mukanya aja dilukis gini," kata Kinara tersenyum.
Gibran meluruskan candaan Kinara. "Iya pelukis. Melukis masa depan kita," katanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kita ya?" ulang Kinara. Ketika mata mereka bertemu, ia terpaku dan kembali kaku.
Gibran memotong kata-kata Kinara sebelum gadis itu berfikir lebih jauh. "Becanda kali, serius amat!"
Gibran dan Kinara melanjutkan proses pembelajaran mereka. Setelah cukup satu jam, mereka menyudahinya. Gibran melirik jam dipergelangan tangannya yang masih menunjukkan angka empat sore.
"Lo suka novel?" tanya Gibran memulai.
"Suka. Kenapa?"
"Ada banyak buku baru di gramed. Kesana yuk!" ajaknya.
Kinara tidak menggeleng ataupun mengangguk. Ia sedang berfikir, bagaimana jika nanti mereka berpapasan dengan Nadia?
"Ayolah, temenin gue," mohon Gibran dengan wajah memelas. Wajah tampan itu membuat Kinara tak tega untuk menolak padahal Gibran dari tadi selalu sabar dengan sikap Kinara yang selalu banyak tanya.
"Oke, gue siap-siap dulu."
Gibran tersenyum dan itulah yang Kinara nantikan. Bukannya naksir atau jatuh cinta. Namun sekedar cuci mata tidak masalahkan?
****
"Kenapa lo suka novel?" tanya Gibran saat ia dan Kinara sedang memilih beberapa buku untuk dibeli.
Kinara memasang pose berfikir, tidak lama. Hanya beberapa detik jawaban Gibran langsung terjawab.
"Karena dari novel gue belajar tentang semua rasa. Ada sedih, senang, cinta, bahagia, kemudian patah hati, lalu bahagia lagi. Dari novel gue bisa merasakan manisnya kehidupan dari semesta yang ngak pernah berpihak dengan harapan-harapan gue."
"Emang kehidupan lo ngak seindah novel?"
Kinara tertawa singkat dengan perasaan hambar. Ia menoleh ke arah Gibran dan berusaha memendam semua lukanya.
Dari celah matanya Gibran tahu gadis itu berusaha menunjukkan bahwa ia kuat dalam dunianya. Seolah menekankan tidak ada satupun orang yang berhak menanggapnya lemah. Walau Kinara tidak menjelaskan secara rinci, Gibran cukup pintar bahwa gadis itu tidak bahagia kepada semesta yang ia bilang terlalu diagung-agungkan.
Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, ia merangkul sebelah bahu Kinara. Kinara mendongak menatap Gibran yang lebih tinggi darinya.
"Gue ngak tau apa masalah lo. Gue juga ngak yakin bisa memecahkan masalah lo. Tapi masalah dalam hidup itu adalah bumbu penyedap. Ibaratkan kalau mie ayam tanpa Raico, itu ngak enak banget. Solusinya sih simple. Kalau ngak ada Raico, kan masih ada Ajinomoto. Jangan terlalu banyak ngeluh, coba nikmati aja dulu."
Kinara melebarkan senyumannya. Gibran ikut tersenyum karena senyuman hari ini adalah senyuman paling manis yang pernah Gibran lihat.
"Kak Gibran bijak ya. Jadi Merry Riana aja Kak," ucap Kinara.
"Boleh aja, asal Merry Riana bersedia pindah jenis kelamin," balasnya.
"Kenapa ngak lo aja Kak yang pindah kelamin?"
Gibran memesang wajah yang menampakkan ketidak setujuan.
"Pisang tetap pisang dan ngak mau diubah jadi apel. Masa cowok ganteng harus berpindah kelamin? Kan sayang kalau populasi cowok imut harus berkurang," kata Gibran membuat Kinara tertawa ngakak.
Kinara menggelengkan kepalanya. Ternyata laki-laki bijak seperti Gibran bisa pede over dosis. Membuat Kinara teringat akan orang gila. Kinara akui mereka sama-sama ganteng. Bedanya Gibran waras dan Arga tidak —Eh, kok kepikiran ya?
Gibran tidak melepaskan tangannya yang sedang merangkul Kinara. Ia tidak menyela dan membiarkannya Kinara tertawa ngakak karena tawa Kinara seperti lantunan musik yang menggema ditelinga Gibran.
Ketika Kinara asyik dengan tawanya dan Gibran asyik dengan tatapannya. Tepukan tangan seseorang membuat keduanya tersentak.
Nadia melangkah ke arah mereka dengan tatapan sinis.
"Oh jadi gini dibelakang aku?" tanyanya menusuk setelah jeda beberapa detik.
"Enak ya pdkt sama adek kelas?" tanya Nadia bahkan sebelum Gibran menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Nad, aku sama Kinara ngak ada apa-apa!" tegas Gibran.
"Ngak ada apa-apa kok dirangkul? Kok bisa pergi bereng? Tadi aku minta temenin beli buku kunci piano, katanya ada urusan. Jadi ini?"
"Nad. Ini ngak seperti yang kamu pikirin!"
Kinara menjadi tidak enak karenanya mereka bertengkar. Padahal ia dan Gibran hanya sekedar berteman.
"Bener, kita cuman—"
"Gue ngak ngomong sama lo cewek murahan!" potong Nadia.
Kinara yang tadinya memasang wajah biasa merubah ekspresi dengan amarah yang melonjak tiba-tiba.
"Jaga tuh mulut. Gue bukan cewek murahan!"
Nadia melipat tangannya didepan dada. Ia menentang mata Kinara dengan pandangan nyalang.
"Kalau ngak murahan. Ngapain kegatelan sama cowok orang?"
Pertanyaan tersebut membuat Kinara maju beberapa langkah. Ia memang bersama Gibran, namun mereka tidak lebih dari teman. Kinara tidak terima jika ia dihina sampai segitunya.
"Cewek getel teriak getel. Sadar diri lu!"
"Apa lo bilang?!" ucap Nadia juga tak terima.
Kinara tidak menyahut, ia berbalik arah tanpa menjawab perkataan Nadia. Ia bahkan tak menoleh atau sekedar berpamitan pada Gibran. Dalam seumur hidup Kinara ia paling benci dengan kata-kata "murahan" yang baru saja ia dengar. Walaupun Nadia senior, Kinara tidak akan menghormatinya karena Nadialah yang memulai permusuhan.
"Woy, gatel! Kemana lo?"
Langkah Kinara semakin lama semakin hilang dari mata Gibran dan Nadia. Beberapa pengunjung Gramedia menatap mereka, namun Nadia tetap teriak memanggil nama Kinara debgan sebutan memalukan.
"Hey!! Jaga ucapan kamu!"
Kali ini Gibran mengulang kata-kata Kinara. Ia tahu Kinara. Berbincang sesaat dengan Kinara cukup membuat Gibran tahu bahwa ia bukan gadis seperti yang dikatakan Nadia.
"Belain dia lagi?"
"Nad, berapa kali harus aku bilang? Aku sama dia cuma temanan. Itupun karena cerdas cermat yang pernah aku ceritain sama kamu. Tolong dong ngertiin aku!"
Nadia menggeleng, ia tetap bersikeras. Sejak awal bertemu, Kinara tidak pernah menghormatinya sebagai senior. Tandanya ia siap menjadi musuh seorang Nadia.
"Ngak bisa!" tegas Nadia pula.
Gibran memegang kepala dan mengacak rambutnya. Ia menghembuskan nafas jengah. Dua tahun hubungan mereka berjalan, Gibran selalu menuruti apapun yang dikatakan Nadia. Gibran selalu berusaha mengerti Nadia, tapi mengapa gadis itu terlalu sulit untuk mengerti ketika ia ingin dimengerti?
"Terserahlah Nad. Aku capek, kamu selalu egois. Kita udahan aja!"
Beriringan dengan kata-kata yang terlontar begitu saja di mulut Gibran membuat Nadia terdiam sejenak.
"Kamu mutusin aku?" tanyanya dengan suara bergetar.
Nadia harap Gibran menarik setiap kata-katanya, Gibran bilang pada Nadia ia salah dan akan meminta maaf. Sayangnya terlalu jauh dari ekspetasi.
"Sepertinya itu keputusan yang terbaik," kata Gibran dengan mantap.
"Aku ngak mau!!" tegas Nadia sambil meneteskan air mata.
"Terserah. Bagi aku, kita ngak ada apa-apa lagi."
Usai mengatakan hal tersebut. Tanpa merasa berdosa ia berjalan melewati Nadia bahkan tanpa menghapus air mata Nadia seperti biasa. Perlahan dengan langkah kakinya yang menjauh seiringan dengan hatinya yang mulai jauh. Selama ini ia berusaha bertahan pada sikap Nadia dengan harapan gadis itu bisa berubah. Namun tidak, Nadia tetap seorang Nadia yang angkuh dan egois. Satu hal yang Gibran sesali, ia pernah mencintai gadis itu terlalu dalam.
*****
Lo menggenggam cinta terlalu erat Nad, perlu lo tau cinta yang di genggam berlebihan akan mati dengan sendirinya —Gibran.
*****