
Arga beserta keluarganya berkumpul di ruang makan. Keluarganya masih belum tahu tentang pengeluarannya dari sekolah karena Arga belum memberi tahu. Marisa dan Aisyah menghidangkan makanan diatas meja. Kiki dan Tomy sudah tak sabar menyantap nasi goreng bikinan Marisa.
Sementara Arga melirik anggota keluarganya satu-persatu. Menurut Arga masalahnya tidak terlalu besar. Maka tidak perlu dijadikan beban.
"Hmmm, kamu tahu ngak. Ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan," ucap Tomy pada Marisa setelah mendaratkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Marisa tersipu malu karena suaminya memuji. Ketiga anaknya membuatnya semakin merona.
"Dibumbuin pake cinta ya?" kata Tomy lagi.
Marisa cuma diam, walaupun sudah bertahun-tahun tinggal dengan Tomy. Namun Marisa tetap menjadi korban gombalan Tomy. Laki-laki itu tidak berubah dari saat pertama kali mereka bertemu.
"Ciee, Ibu!"
"Aelah, jangan mau di modusin Bu. Cowok mah gitu, manis di mulut," sela Arga tanpa memandang kedua orang tuanya. Ia menyendokkan nasi ke dalam piring lalu menyantapnya dengan lahap.
Tomy melirik tak suka. Kiki dan Aisyah selalu berpihak padanya, sementara Arga tak pernah sedikitpun berpihak. Dasar anak sialan!
"Maaf ya. Ayah ngak kayak kamu, playboy!"
Arga tertawa meremehkan dan memberikan jempol dengan posisi terbalik.
"Ayah, buah itu akan jatuh jauh dari pohonnya. Jadi kalau Arga sikapnya kayak gini, berarti turunan dari Ayah!"
Marisa yang duduk disamping Tomy membenarkan, seraya menatap sinis suaminya.
"Ah, bener banget kamu nak. Dulu Ayah kamu itu playboynya ya Allah...." kata Marisa sambil mengenang masa mudanya.
"Kok kamu kayak gitu sih, bukannya belain aku juga." Tomy memajukan bibir beberapa senti. Walau terbilang sudah dewasa namun kadang tingahnya seperti remaja 17 tahun.
"Arga bilang juga apa, Ayah playboy kan.
Untung Arga ngak kayak Ayah," sela Arga membuat Tomy semakin dipojokkan.
"Tadi kamu bilang, buah tidak jauh jatuh dari pohonnya," jawab Tomy.
Arga mencibir. "Iya. Tapi Arga kan bukan buah dan Ayah bukan pohon. Ayah **** nih Bu, ngapain sih mah sama dia!"
"Anak gentong lu!" Tomy menyela. Anaknya yang satu itu bandelnya minta ampun. Bahkan Tomy sendiri sudah dibikin pusing tujuh keliling.
"Hina diri sendiri ya?" tanya Arga pada Tomy. "Kalau Arga anak gentong, berarti bapaknya gentong dong!"
"Sembarangan lu kalau ngomong. Ayah coret lu dari KK baru tau rasa!"
Bukannya takut dengan ancaman tersebut, Arga malah menikmati sensasi rasa nasi goreng yang ia kunyah.
"Kok sekarang ngak pernah bawa Aza ke rumah lagi. Kenapa?" tanya Aisyah.
Pertanyaan dari kakak keduanya itu membuat Arga menghentikan suapan. Ketika nama gadis itu menggenggema di telinga, membuat hatinya terasa nyilu. Jangan bertanya tentang semua rasa sakit itu, terlalu sulit dideskripsikan hingga pada akhirnya Arga cuma diam.
"Ga?" panggil Kiki kali ini
Arga mengangakat bahu seolah pertanyaan yang diajukan tidak penting.
"Udah putus," jawabnya tak acuh.
"Ha? Kenapa?" tanya Aisyah dan Kiki bersamaan.
"Katanya, Arga keterlaluan gantengnya," kata Arga menjawab asal.
Semua anggota keluarganya tahu jika Arga sedang rapuh. Namun ia bukanlah laki-laki lemah yang akan menunjukkan semua yang ia rasakan. Ia berhak untuk bersikap bagaimana. Dan merekapun mengerti.
"Syukurin, emang enak jadi Jomblo!" ejek Tomy pada Arga hingga membuat anak itu yang giliran mencibir.
"Ayah sialan," balasnya dalam hati.
"Hus, anak sendiri dicela." kata Marisa membela Arga.
"Abisnya anak kita bikin gemes sayang. Nambah lagi yuk!" ucap Tomy sambil menyenggol bahu Marisa dengan genit.
Marisa tersenyum. Sontak ketiga anak mereka melotot tajam.
"Ayah, aku ngak mau punya adek lagi. Punya adek satu bikin ribet, apalagi kalau dua," ucap Aisyah dengan posisi sebagai anak kedua.
Begitupun dengan Kiki yang mengyilangkan lengannya sebagai anak pertama. "Apalagi Kiki, dua adek aja repot. Apalagi tiga!"
"Arga ngak punya adekkan?" tanya Tomy sambil mengangkat alisnya untuk meminta persetujuan Arga. "Mau adek ngak?"
Bukannya menjawab senang, kali ini Arga berpihak pada kedua saudaranya
"Ngak mau. Kalau cewek, suka cengeng. Kalau cowok, nanti nyaingi gantengnya Arga!"
"Satu doang kok, boleh ya?" tanya Tomy pada ketiga anaknya dengan suara memelas.
Serempak mereka menjawab. "Ngak boleh!"
"Nanti ya Bu, kalau Ayah nakal. Kaduin aja sama kita. Biar kita kasih hukuman," ucap Aisyah memandang Marisa.
"Awas aja kalau kalian macem-macem!"
"Ya terserah kita lah. Kan udah sah. Mau kita ngapain aja di kamar juga ngak bakalan dosa!" ujar Tomy membuat tiga anaknya makin kesel.
"AYAH!!" panggil mereka bersamaan.
Hal itu sukses membuat Marisa terkikik. Ekspresi anak-anaknya itu semakin lucu. Tomy memang suka sekali jail terhadap anak-anaknya.
Makan malam keluarga itu berlangsung hangat yang sesekali disapa dengan canda bualan mereka. Setelah membantu Marisa membereskan meja makan, Arga berjalan kearah sofa dan tidur terlentang disana.
Tomy dan Aisyah sibuk berebut remot tv. Aisyah ingin menonton Drakor sementara Tomy tidak mau mengalah karena ingin menonton bola.
"Ayah, sebagai orang tua yang baik. Harus ngalah sama anaknya!" kata Aisyah sambil terus menarik remot yang ada dalam genggaman Tomy.
"Aisyah, sebagai anaknya soleha. Harus berbakti sama orang tua, harus nurut sama Ayah!"
"Sebagai cowok yang gentle man, Ayah harus ngalah sama cewek!" ucap Aisyah tidak terima.
Maka berakhirlah remot itu ditangan Marisa. Ia menekan chanel dengan siaran film india. Semua orang mengatup mulutnya tak berani bicara. Karena kalau sudah berurusan dengan emak-emak, tamatlah riwayat mereka.
Dua jam mereka menonton serial India dengan malas.
Kemudian Kiki bersuara hingga perhatian tertuju padanya.
"Ini apaaan Ga?" tanya Kiki sambil mengangkat sembuah amplop yang diambil diatas televisi.
"Palingan surat panggilan orang tua lagi," tebak Aisyah yang tahu betul sikap adiknya.
"Sok tau lo Kak," jawab Arga.
"Itu surat pengeluaran dari sekolah," lanjutnya.
Tomy dan Marisa sontak menatap Arga dengan pandangan elang. Lalu berkata dengan keras.
"APA?"
"Surat pengeluaran dari sekolah," Arga mengulang.
"Ya ampun Argaaaaa!!" ucap Marisa geleng-geleng kepala. Selama ini ia selalu terpanggil ke sekolah karena tingkah Arga. Hal itu masih bentuk peringatan. Bukannya Arga berubah, semakin hari tingkahnya nauzubillah.
"Berapa kali sih Ibu bilang, sekolah itu yang bener!"
"Salahin Ayah Bu! Kenapa buah harus jatuh tak jauh dari pohonnya."
"Kok Ayah sih? Enak aja kamu," risih Tomy melotot Arga.
"Kalau kamu dikeluarin dari sekolah. Masa depan kamu gimana Arga?" kata Marisa mempertinggi nadanya.
Arga memberikan senyum pepsodent pada Marisa sambil mencolek pipinya.
"Jangan ngambek Bu, Arga kan bisa pindah sekolah," jawab Arga dengan enteng. "Tenang aja, masih banyak kok yang mau nampung ke gantengan Arga yang melewati batas ini!" lanjutnya.
Marisa memijit pelipisnya. Kiki, putra pertamanya sudah bekerja sebagai guru olahraga disalah satu sekolah dasar yang ada di Jakarta. Aisyah, kuliah dengan biaya siswa karena memiliki otak yang terbilang genius. Lalu bagaimana dengan Arga? Mengapa ia berbeda dengan saudara-saudaranya?
Marisa tahu betul Arga seperti apa. Arga adalah seseorang yang menanggap dirinya pintar, walau sebenarnya tidak. Seperti apapun orang berbicara panjang lebar untuk menasehati. Maka tak akan ada satu kesimpulanpun yang terlintas. Jadi percuma jika Marisa ataupun Tomy menasehati anak itu.
"Bang, nanti urusin sekolah baru buat gue ya!" kata Arga.
Kiki yang sudah tidak tega melihat Marisa kewalahan, mengangguk saja. "Iya, tapi kalau sampe lo dikeluarin lagi dari sekolah. Gue yang bakal nyoret lo dari KK," ancamnya dan disetujui oleh Arga.
"Kamu bikin Ibu pusing aja deh Ga," ujar Marisa tak berhenti memengang jidatnya.
Tomy mengelus-elus pundak Marisa memenangkannya.
"Udahlah sayang, anak bandel ini ngak usah terlalu dipikirin. Nanti kamu sakit. Lebih baik kamu istirahat di kamar." Tomy membantu Marisa berdiri. Mereka berjalan ke kamar.
Ketika melangkah, Tomy menatap Arga dengan tajam. Sebagai orang tua ia juga kecewa. Namun ia sadar akan kekurangannya menjadi kepala rumah tangga. Walaupun sikap Tomy terhadap Arga kadang menyebalkan, ia tetap menyayangi Arga melebihi dirinya sendiri.
Mungkin Tomy yang terlalu santai dalam mendidik juga tidak tepat, namun setiap orang tua memiliki caranya masing-masing.
"Dadah, kita ke kamar dulu ya," lambai Tomy pada ketiga anaknya.
Arga mengangkat tinjunya tinggi-tinggi dan berkata.
"Ayah, jangan nakal!" tegasnya.
Tidak ada jawaban dari Tomy. Ah, sial. Laki-laki itu menjulurkan lidah tidak peduli. Kiki dan Aisyah mengutuk dalam hati, punya adek seperti Arga membuat mereka sering pusing karena tingkahnya. Dan mereka tidak ingin punya adek lagi!
*
Ayah, Arga udah lucu kok. Jangan tambah adek lagi ya😥 —Arga.
*