
Sepulang sekolah Kinara sampai ke rumah dengan wajah sekusut pakaian yang belum disetrika. Terlebih sepanjang hari ini membuatnya begitu lelah. Kinara membuka pintu utama rumahnya, langkah demi langkah ia lalui saat memasuki rumah luas namun lebih terlihat seperti ruangan yang tak berpenghuni.
Kinara menghentikan langkah mendadak saat menatap seseorang duduk di sofa ruang keluarga. Seorang pria berjas hitam, berpenampilan seperti bos besar. Dari wajahnya menunjukkan pria itu memiliki kepribadian yang keras.
"Papa?"
Wirawan tersenyum, ia berdiri mendekati putrinya tersebut.
"Hai sayang Papa. Ini Papa bawa oleh-oleh buat kamu." Ia menyondorkan bingkisan kecil tersebut sebagai buah tangan sehabis menyelesaikan proyek di Bandung.
Menatap Wira membuat Kinara seolah ingin menangis. Sebenarnya ia rindu orang ini. Namun ego selalu sulit untuk dikalahkan.
"Masih inget pulang? Masih inget punya rumah? Masih inget punya anak?" tanya Kinara beruntun tanpa membutuhkan jawaban. Nadanya sengit dan dingin, membuat Wira menurunkan bingkisan tersebut.
"Ada apa sayang?" tanya Wira.
"Masih tanya kenapa?" Kinara tidak ingin menjadi gadis cengeng, namun pria tersebut selalu menjadi alasan disetiap tetasan air matanya.
"Ngapain pulang?"
"Ini rumah kita sayang!"
Kinara tertawa hambar, ia bersikap seperti ini bukan tanpa alasan. Semuanya karena Wira. "Rumah?" ulang Kinara.
"Rumah adalah tempat seseorang kembali. Tapi bertahun lamanya, Papa ngak kembali. Papa berubah."
Wira kehilangan kata-katanya Sejenak.
"Kalau tau kayak gini, lebih baik dari awal Kinara ikut Mama!"
"Stop Kinara!" sergah Wira mendadak menaikkan nada tinggi.
"Jangan pernah sebut dia lagi. Kamu harus inget bahwa kamu sudah tidak punya mama setelah 10 tahun lalu. Lupain mama kamu!!!"
"Kenapa?" tanya Kinara terbata-bata.
"Sebenci itukah Papa? Kinar sayang Mama. Kinar rindu Mama dan Kakak," kata Kinara terisak. Hatinya terasa nyeri saat mengenang masa-masa yang telah hilang.
"Tapi dia ngak sayang kamu! Kalau dia rindu kamu seperti kamu rindu dia, dia pasti ada disini!"
"Jangan pernah salahkan Mama atas semua hal yang terjadi. Kalian adalah orang sama. Sama-sama munafik. Dan kalian adalah orang tua terburuk yang pernah aku temui!"
Wira tak berkutik mendengar kata-kata Kinara yang terlotar tajam menusuk hatinya yang terdalam
Wirawan berdiri kaku. Air bergelinang dipelupuk matanya. Ia sadar bukan orang tua yang baik. Tapi seharusnya Kinara tahu, semua yang Wira lakukan untuknya adalah hal terbaik. Wira bekerja mati-matian agar Kinara tidak kekurangan apapun. Sayangnya Wira terlalu buta untuk menyadari jika putrinya kekurangan kasih sayang.
***
Dibalik pintu yang tertutup rapat, Kinara menangis sejadi-jadinya. Kamarnya gelap, ia sengaja mematikan lampu. Ia merasa lebih tenang dalam kegelapan. Ia meringkuk seperti janin, dan memeluk dirinya sendiri.
Kenapa hidupnya begini? Ia kehilangan orang-orang yang menganggapnya berharga. Selalu uang menjadi sumber dan prioritas utama. Uang, uang, dan uang. Mama pergi karena uang, Papa berubah karena uang. Segalanya tentang uang. Bahkan uang bisa membeli cinta yang dijaga bertahun-tahun. Apakah cinta semurah itu?
Tok..tok..tok..
Ketukan pintu terdengar dan Kinara tak menyahut. Ganggang pintu bergerak, dan perlahan terbuka.
"Non Kinara.."
Panggilan itu membuat Kinara mendongak, walau dalam keadaan gelap. Kinara bisa melihat wajah wanita yang mulai menua itu adalah Bi Ijah.
"Biii," balas Kinara merentangkan tangannya.
Bi ijah memeluk Kinara dan mengelus punggungnya.
"Papa jahat, Mama juga. Kinar benci mereka!" isaknya dalam derai dan tangis yang sulit terhenti.
"Jangan kayak gitu non, mereka sayang kamu. Percaya sama Bibi, ngak ada satupun orang tua di dunia ini yang ngak sayang sama anaknya."
"Kalau mereka sayang. Mama ngak mungkin pergi dan Papa ngak mungkin berubah."
"Semua punya alasan tersendiri Kinara. Mungkin bagi mereka kamu terlalu kecil untuk ikut campur. Pegang kata-kata Bibi, Mama akan pulang dan jemput kamu suatu hari nanti," katanya menghapus setiap jejak air mata yang mengalir.
Walau tidak terlalu yakin. Namun Kinara mengangguk. Dalam diam ia berharap kata-kata Bi Ijah terwujud. Setidaknya Kinara bersyukur, dari sekian banyaknya orang munafik. Bibi tetap menjadi orang yang sama seperti beberapa tahun lalu. Ia tetap menjadi pendengar setia keluh kesah Kinara hingga kini seterusnya.
"Jangan pernah tinggalin Kinara seperti Mama, Bi!" desis Kinara berucap pelan.
Bi Ijah mengiyakan. Ia semakin mengeratkan pelukan. Dalam kegelapan tersebut, Kinara menyadari satu hal. Bahwa Ia tidak sendiri.
*
Mungkin hidup tanpa cinta itu lebih menyenangkan, sampai lo hadir di hidup gue dan mengacaukan segalanya —Kinar.
*