KinarArga

KinarArga
Segelas Kopi dan Sebatang Coklat



Baru beberapa menit Kinara menginjakkan kakinya di sekolah. Ia langsung disambut dengan senyuman para siswa-siwi di koridor. Kinara hanya mengangguk sebagai respon sambil lalu seraya berfikir panjang mengapa mereka menyapanya dengan ramah seolah ada sesuatu yang membuat mereka melakukannya.


"Kinara," panggilan dari anak kelas sepuluh membuat Kinara menoleh ke sumber suara.


"Ini untuk kamu, dari seseorang yang kamu benci," katanya sambil menyerahkan segalas kopi hangat.


Kinara menyergit bingung, ia tidak menerima sondoran itu. Namun anak kelas sepuluh tersebut memaksakan tangannya agar pemberian itu diterima.


"Maksud lo apa?"


"Aku tahu kamu tidak suka kopi karena dia menawarkan rasa pahit yang dihindari semua orang, termasuk kamu. Jika kamu mau berbagi waktu sedikit saja untuk menikmati kepahitan ini, sebenarnya itu tidak terlalu buruk."


Kinara semakin bingung. Ia menggaruk telungkuknya yang tak gatal bersamaan dengan otaknya yang tak kunjung menemukan jawaban. Baru saja Kinara ingin mempertanyakan siapa laki-laki itu. Ia berbalik, melenggang pergi tanpa sepata katapun.


Kepergian laki-laki itu membuat Kinara menatap kopi hangat yang masih dalam genggamannya. Anak kelas sepuluh tersebut benar, ia memang membenci kopi. Namun pagi ini kopi itu datang menawarkan kehangatan dalam genggaman seorang gadis yang penuh keresahan.


Tanpa memikirkan lebih lanjut, Kinara melangkahkan kaki kembali. Hanya beberapa langkah lagi ia sampai ke kelasnya. Kinara kembali dihadang oleh seseorang yang tak dikenal. Gadis dihadapan Kinara memberikan senyuman dengan penuh keramahan. Yang ia tahu gadis itu adalah kakak kelasnya.


"Ini buat kamu," katanya menyondorkan sebatang coklat pada Kinara.


Kinara menautkan alisnya berkali-kali. Ia menatap gadis itu dengan heran.


"Buat aku? Dari siapa Kak?" tanya Kinara.


Gadis itu lagi-lagi tersenyum dan memaksakan coklat itu tergenggam di tangan kosong sebelah kiri.


"Dari seseorang yang tidak pernah kamu harapkan."


"Maksudnya?" tanya Kinara tak mengerti.


"Hanya sebatang coklat. Sesuatu yang menawarkan candu bagimu. Aku cuma ingin bilang, seseorang yang tidak pernah kamu harapkan akan datang menjadi sebagian cerita dari sebatang coklat yang kamu terima hari ini."


Kata-katanya membuat dahi Kinara semakin bergelombang.


"Ha?"


"Selamat menjalani hari yang kamu bilang terlalu buruk."


Gadis kelas dua belas tersebut pergi menginggalkan Kinara dalam keheranan yang nyata adanya. Kinara melirik secangkir kopi dan sebatang coklat yang ada ditanganya bergantian. Ia menyukai coklat dan segala hal yang berhubungan dengan coklat. Namun pagi ini coklat datang sebagai pertanyaan aneh yang tak memiliki jawaban.


"Aneh," tanggap Kinara seraya melanjutkan langkah.


Tepat ketika ambang pintu kelasnya terbuka. Seruan heboh langsung menyapa Kinara.


"Taraa... Selamat ulang tahun Kinara...." sambut teman-teman Kinara dengan heboh.


Bukannya senang dengan sambutan yang diberikan. Kinara hanya diam dan melongo ditempatnya. Ia menyapu pandangan dalam kelas yang sudah dipenuhi oleh balon warna-warni bersamaan dengan teks "Happy Birthday" yang tertempel di dinding.


"Semoga panjang umur. Sehat selalu, dan diberkati Allah."


"Wish you all the best."


Teman-teman Kinara menyalami tangannya bergantian. Kinara tersenyum kaku dengan sikap teman-temannya pagi ini. Setelah ia menerima berbagai kartu ucapan dan kado kecil-kecilan. Kinara berkata hingga membuat hening melewati mereka sejenak.


"Ulang tahun gue masih lama, masih enam bulan lagi."


"Ha?" tanya mereka serempak dengan tatapan seolah menyalahkan Kinara.


"Jadi hari ini lo ulang tahun?" tanya Ali melebarkan matanya. Padahal ia sudah bangun pagi-pagi hanya untuk ikutan merayakan ulang tahun Kinara.


Kinara mengangkat bahu.


"Kata siapa gue ulang tahun?"


Saat jeda berlangsung mereka bertatapan. Mengepalkan tangan kemudian berteriak hingga membuat telinga Kinara hampir pecah.


"ARGAAAAAAAAA!!!"


Kinara mengatup mulut dan telinganya. Tawanya hampir meledak melihat perubahan teman sekelasnya. Arga memang gila, bisa-bisanya ia menipu semua orang dengan cara norak seperti itu.


"Kurang asem. Pagi-pagi dia bangunin gue, katanya hari ini lo ulang tahun. Kita disuruh datang subuh-subuh untuk gotong royong," ucap Ardy ikutan kesal.


Sabina sebagai bendahara kelas ikutan protes. "Mana orang yang nyuruh-nyuruh ngak kelihatan lagi. Sialan."


"Lagian, orang gila dipercaya!" kata Kinara memegang perutnya karena tertawa ngakak.


"Terus kado-kado ini gimana?" tanya Kinara kemudian.


"Buat lo aja. Kita udah capek-capek ngasihnya. Terima aja."


"Its okay," ucap Kinara sambil mengemasi kado-kado tersebut dan menyimpannya didalam laci.


Dengan wajah ditekuk mereka kembali gotong royong untuk membersihkan kelas seperti semula. Karena merasa tidak enak, Kinara pun ikut membantu. Setelah beberapa menit kemudian, suara ceria dari ambang pintu membuat mereka menoleh bersamaan.


"Assalamualaikum teman-temanku tercinta yang baik hati yang budiman yang diramati Allah yang menjadi calon mayat.. Selamat pagi, salam sejahtera dari orang ganteng sejagat raya-"


Sebelum kalimat Arga sampai, Adit menghentikan mulut sialan Arga bicara dengan melemparkan penghapus papan tulis. Untungnya Arga menangisnya dengan tepat.


Lalu Arga menatap penghapus itu dengan dramatis. "Mengapa kamu melemparnya? Padahal ia hanya penghapus yang tak berdosa!"


Ardy mengangkat sebelah bibirnya tingi-tinggi. "****, alay tingkat dewa."


Gina yang sejak pertama kali sudah naksir pada Arga berfikir ulang. Begitupula dengan fens-fens Arga yang memuji kegantengannya. Semakin lama Arga disini semakin membuat semua orang tahu bahwa laki-laki itu diragukan punya gangguan jiwa.


"Ganteng sih. Tapi lu lebay, ngak jadi naksir deh," ujar Gina sambil menatap Arga dengan senyuman miring.


Arga cekikikan, sebenarnya ia sekedar usil. Sekaligus ia juga ingin tahu seberapa banyak orang peduli pada Kinara. Walau Kinara terkenal judes di kelasnya, ternyata ada banyak orang yang peduli.


"Santai bro, olahraga pagi itu baik."


"Baik pale lu." Semua orang kecuali Kinara menyondorkan sapu untuk memukul Arga karena geram.


"Eh, tunggu. Teman-teman ku yang budiman. Sabar itu adalah bagian dari iman. Jadi ngak boleh emosi ya. Dedek janji akan ngulangi lagi," kata Arga ambil menyondorkan dua jari.


Untuk pertama kalinya Kinara dibuat tertawa oleh sikap Arga. Namun ia tidak menunjukkannya secara langsung.


"Nyesel gue pernah naksir lo," ucap Gina berserta gadis lain yang pernah suka pada Arga.


Arga hanya menganggapnya angin lalu. Melihat teman-temannya emosi, Arga beralih menatap Kinara sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kinara menatap dengan pandang tanda tanya.


"Hai pacal baluuu," kata Arga melambai tangan.


Semua orang melongo sambil menatap Kinara dan Arga bergantian.


"Kalian pacaran?" tanya Ali tidak percaya.


"Ngak!"


"Iya" jawab mereka bersamaan dengan jawaban yang berbeda.


"Yang bener mana?" tanya Rico.


"Nona manis, tadi malam kan kita jadian. Masa lupa!" kata Arga lagi membuat Kinara kesal setengah mati.


Kinara cuma diam dengan berbagai macam pandangan orang-orang disekelilingnya.


"Entah apa yang merasukimu Kinara," ucap Ali sambil geleng-geleng kepala.


"Apa apaan nih rame-reme?" tanya Windy tiba-tiba.


Ia memenatap kalasnya penuh dengan dekor ultah. Sementara Kinara berdiri dengan gertakan giginya yang terdengar.


"Kinara jadian sama orang gila," kata Adit seakan memuat kabar terbaru yang paling hot. Yang membuat semua orang percaya karena Kinara tidak protes sedikitpun.


Kinara memplototi Arga. Namun apalah daya, ia tahu apa resikonya jika ia berkata tidak.


"Astaga. Itu bener?" tanya Windy seakan mengintimidasi Kinara.


Kinara diam, Windy semakin mengeraskan volumenya.


"Kinar?"


"Seperti yang mereka bilang," ucap Kinara tak acuh sambil duduk diatas meja. Ia membuka bungkusan sebatang coklat yang diberikan kakak kelas tadi. Terlalu sayang jika coklat yang mengiyurkan tersebut harus diabaikan begitu saja.


"Benar-benar tidak terduga. Katanya benci, ternyata sayang. Mungkin itu yang dinamakan benar-benar cinta," kata Windy tidak memperpanjang masalah. Kemudian ia melangkah ke mejanya untuk mengerjakan pr yang belum ia selesaikan di rumah.


"Sebagai permintaan maaf, nanti jam istirahat kalian semua boleh makan apapun sepuasnya, gratis!"


Semua mata memandang Arga berbinar.


"Benaran?" tanyanya memastikan.


"Orang ganteng ngak pernah boong!"


"Tadi lo bohongin kita semua!" ucap Rian memandang Arga curiga.


"Kasusnya beda. Itu khilaf."


"Itu sebagai pajak jadian?" tanya Windy kembali.


Arga hanya mengangguk. Sementara kinara asyik dengan coklat kesukaannya.


Setelah tertawa girang, mereka kembali dengan kegiatan masing-masing tanpa mempermasalahkan Arga yang membohongi mereka.


"Sok kaya! pake sok-sokan traktir lagi," ujar Kinara tanpa menoleh.


"Yang kaya kan elo. Jadi elo yang traktir lah."


Ucapan itu membuat kinara menghentikan aktivitas mengunyahnya. Ia tidak terima dengan cara Arga yang sehakdi semena-mena.


"Sembarangan. Ogah, ngak mau gue!"


"Mau ngak mau, suka ngak suka. Lo harus inget. Gue punya kartu As lo!"


Sial. Arga selalu bisa membuat Kinara tidak berkutik. Kinara melirik tajam dengan tatapan membunuh. Ia menggigit coklat dalam genggamannya dengan rakus seakan sedang kelaparan.


Arga memberikan tawa renyah. Kemudian berkata dan membuat Kinara benar-benar bungkam seribu bahasa.


"Gue tahu semua cewek suka coklat. Tapi hati-hati, lo udah cukup manis untuk coklat pemberian orang manis. Sekali-kali coba rasakan sensasi pahit dari kopi pemberian orang ganteng."


*



Gue ngak tau ini takdir atau kutukan.  Yang gue tau Tuhan selalu mencoba mempertemukan kita —Kinar.


*