
Mulai dari bel masuk berbunyi sampai jam istirahat. Wajah Kinara ditekuk habis karena hari ini merupakan hari terburuk dalam hidupnya. Ia tidak pernah berfikir untuk memulai hubungan special dengan seseorang. Apalagi seseorang yang menjadi special itu adalah Arga. Arga terlalu gila dan tidak pantas menjadi orang yang menempati hatinya. Namun ia tidak bisa apapun selain mengikuti kemauan konyol Arga untuk menjadi pacarnya. Kinara berharap Arga segera bosan dan dalam waktu dekat memutuskan hubungan.
Hiruk pikuk susana kantin semakin heboh ketika mendengar ucapan Arga bahwa mereka akan di traktir oleh Kinara. Dengan bodohnya Kinara cuma diam dan mengikuti semua perintah Arga layaknya pembokat. Baru sehari pacaran Arga sudah memperbudak dirinya.
"Walaupun lo ngak jadi ultah. Tapi ngak papa nar. Kita tetap ditraktir. Kayak gini terus ya Kinar," kata Adit mengacungkan jempol tinggi-tinggi.
Ali ikutan menyahut.
"Semoga lo sama Arga sakinah mawaddah warohmah. Moga-moga cepat dapat momo-" dengan tidak berperi kemanusiaan Ardy menelengkan kepala Ali yang otaknya selalu sompak.
"Bapek lu. Ini bukan acara kawinan ****!"
Ali bodo amat dengan kata-kata yang Ardy ucapkan. Yang penting perutnya kenyang hatinya pun senang. Ia hanya mengekspresikan susana hatinya sebagai bentuk ucapan terima kasih karena Kinara mentraktir.
"Btw, kok lo tiba-tiba mau sama Arga nar?" tanya Adit pada Kinara.
Begitupula dengan Windy. Ia yang tadinya asyik menikmati mie instan, kemudian memandangi Kinara dengan wajah yang sama kerutnya.
"Nah iya," kata Windy menyetujui. "Lo utang penjelasan sama gue! Kenapa?"
Kinara memijit kepalanya yang sedang mumet karena Arga. Laki-laki itu tidak pernah berhenti mencari masalah dengannya. Andai saja Kinara seorang kriminal, maka ia tak akan segan-segan menikamnya dari belakang lalu ia cincang dagingnya dan dibuang di kandang anjing Pak Somat. Andai saja! Sayangnya hatinya tidak sekejam itu.
"Emang kenapa? Salah kalau gue pacaran?" tanya Kinara pada mereka.
Ali memumel dengan mulut yang terisi penuh oleh sesendok bakso.
"Bukan pacarannya yang salah. Tapi lo seriusan pacaran sama orang gila?" tanya Ali dengan pandangan serius.
"Kayak lo waras aja," sela Windy namun Ali lebih fokus menanti jawaban Kinara.
"Ya gimana, orang gue kepaksa," ucap Kinara menggerakkan giginya.
"Maksudnya?"
"Iya. Waktu gue lagi ganti baju olahraga, sialan banget dia ngintipin gue dan vidioin gue. Lebih parahnya lagi gue disuruh jadi pacarnya kalau ngak mau vidio gue tersebar!" kata Kinara sambil mengepalkan tangannya karena geram.
Windy menggeleng-geleng tak percaya. Ia rasa Arga tak mungkin melakukan itu. Seburuk apapun Arga, Windy rasa Arga bukan laki-laki yang berotak mesum. Wajahnya masih terlihat polos. Walau dalam realitanya polos-polos *******.
Ali kembali berkata. "Gile. Berani banget Arga ngintipin lo. Kurang ajar! Kurang ajar karena dia ngak ngajak-ngajak gue!"
Kinara memberikan plototan lebar dengan pandangan seolah membunuh pada Ali. Untuk menghindari, Ali memalingkan wajah pada bakso yang hampir nganggur didepan mata.
"Sabar nar. Mungkin Arga emang jodoh lo. Terima aja!" ucap Adit menyahut.
Ditambah denga kata-kata Ardy yang menyebalkan. "Gue rasa itu yang dinamakan takdir!"
Windy mencomot kentang goreng yang ada di piring milik Adit dan menambahkan. "Arga ganteng kok. Anggap aja gilanya bonus!"
Kinara melirik mereka satu persatu. Suasana dalam hatinya semakin buruk. Kinara pikir jika ia bercerita akan mengurangi beban, ternyata bebannya semakin bertambah kerena tidak ada satupun orang yang berpihak padanya.
"Belain aja terus tuh orang gila!" Kinara berdiri dari kursinya dan berjalan ke kasir kantin.
Setelah membayar pesanan semua orang di kantin. Kinara menggerutu melihat dompetnya harus terkuras habis. Padahal itu untuk jajannya seminggu.
"Hai pacar. Jangan cemberut dong soalnya lo makin jelek deh!"
Seperti biasa Arga nonggol layaknya jailangkung yang tak diharapkan.
Kinara berkecak pinggang dengan wajah datarnya.
"Mau apa lagi? Belum puas ngerjain gue?" tanya Kinara to the point. Arga mungkin datang kalau bukan karena niat membuat ulah.
"Hmm, kayaknya udah sih."
Kinara dengan menatap dengan mata curiga.
"Terus mau apa?" ketusnya.
"Gue bosen nih. Temenin gue rooftop yuk!-"
Sebelum Arga menyelesaikan kalimatnya. Kinara lebuh dahulu menolak.
"Ogah. Pergi aja sendiri!"
"Jangan galak-galak dong car! Janji deh gue ngak bakal ngerjain lo lagi!" kata Arga memasang wajah seserius mungkin.
"Gue ngak percaya sama orang gila!"
Penolakan Kinara tidak membuat Arga menyerah begitu saja. Ia kekenyangan dan sekarang suntuk. Semantara semua temannya sedang menikmati tarktiran dari Kinara. Tanpa meminta ijin Arga menarik tangan Kinara membawanya ke atas roofop seperti keinginannya.
Kinara berusaha memberontak namun kekuatan Arga jauh lebih besar. Semakin Kinara berteriak Arga semakin mempercepat langkahnya.
Sampai diatas rooftop, Kinara menetralkan nafasnya yang memburu. Ia ingin menyemprot Arga dengan mulut tajamnya tapi Arga keburu menarik tangannya kembali hingga sampai ke ujung rooftop.
Saat detik itu berdentang. Kinara tidak bergerak dari tempatnya. Semilar Angin menyentuh wajah Arga dan menyejukkan hatinya. Ia paling suka ada disini, karena disini ia berteman dengan angin-angin dalam hembusan udara. Terkadang burung-burung terbang dengan riang menyapa. Arga merentangkan tangan sambil memejamkan mata seolah ia meminta burung-burung itu menajaknya terbang di udara.
"Udahlah car. Jangan marah-marah mulu. Coba deh lo ikutin gue, rasanya nyamaaaan banget."
Suara Arga tak dijawab Kinara. Arga maklum karena ia tahu gadis itu sedang kesal.
"Car, bilang i love you dong! Janji deh gue akan bilang i love you to," kata Arga belum juga membuka mata.
Kinara juga tak menjawab.
"Car?"
Kinara diam.
"Kinara!"
Dalam posisi yang tak beranjak, wajah Kinara berubah pucat. Dengan menunduk lesu seraya memejamkan matanya erat. Tubuhnya kaku, badannya berkeringat namun ia merasa kedinginan. Saat itulah Arga menyadari Kinara phobia ketinggian.
Kepala Kinara terasa pusing. Dalam hitungan detik ia oleng dan hampir jatuh. Untungnya Arga mengambil langkah untuk menahan tubuh Kinara. Perlahan Kinara membuka mata. Dari ketinggian gedung sekolah membuat matanya kembali berkunang-kunang bersamaan dengan badannya yang bergetar.
Tidak seperti Arga yang merasa damai, Kinara malah merasa angin mengombang-ambingkan nyawanya yang berada diujung kematian. 10 tahun lamanya ketakutan itu masih sama. Ketakutan yang membuatnya hampir mati. Ketakutan yang membuatnya kehilangan orang yang paling ia cintai di dunia ini. Dalam 10 tahun tersebut, masih terekam jelas bayangan-bayangan mereka.
Flashback on.
Seseorang laki-laki mengepalkan tangannya melihat istrinya sendiri berada di sebuah Hotel Granusa, hotel yang paling megah dan terkenal di Jakarta saat itu. Wanita itu sedang duduk berdua bersama laki-laki lain di hotel bagian resto yang disediakan khusus untuk orang yang membooking.
Mereka sedang berbincang. Tapi sebagai seorang suami, apapun alasannya istrinya tidak pantas ada disana.
"Pa, kita kesini jemput Mamakan?" kata gadis kecil berponi disampingnya.
Laki-laki itu menggenggam tangan putri bungsunya. Pemandangan yang terpampang jelas didepan mata membuat tatapannya berubah merah padam. Ia tak menjawab putrinya, ia berjalan melangkah kearah mereka.
"Mamaaaa!" teriak gadis kecil itu.
Keduanya tersentak dan menyetarakan posisi. Wanita itu langsung memeluk putrinya yang sudah tiga hari mereka tak bertemu.
"Mana kemana aja? Kita capek nyariin Mama," ucapnya dengan suara yang sangat menggemaskan.
Wanita itu tersenyum kaku dan menjawab.
"Maaf, Mama pergi ngak bilang-bilang."
"Adek kangen," katanya manja.
Wanita itu tersenyum. Kali ini memang tulus dari hatinya. "Mama juga dek."
Wira menatap tajam dengan ucapan yang sama tajamnya.
"Oh. Jadi ini yang membuat kamu sibuk dan jarang pulang?" tanya laki-laki itu dengan sinis.
"Kamu tahu aku disini dari siapa?"
"Itu ngak penting, jawab pertanyaan aku!"
Istrinya bersama dengan laki-laki asing tersentak, saling pandang sesaat. Kemudian menatap Wira lagi.
"Ini ngak seperti yang kamu lihat," katanya supaya Wira tak salah paham.
"Pergi ke hotel diam-diam tanpa ijin dari suami. Meninggalkan anak bungsu di rumah. Ngak pulang dan hanya membawa anak sulung kita. Jadi itu maksudnya apa?"
Wanita itu seketika bungam. Sementara laki-laki asing itu juga tak memberikan jawaban.
"Ngak bisa jawab?" tanya Wira lebih sinis.
Gadis kecil berponi berusia 7 tahun itu hanya menatap dalam diam.
"Bertahun lamanya saya mencintai kamu. Dalam bertahun itu juga saya tidak pernah sekalipun mengkhianati kamu. Saya tidak minta apapun pada kamu selain menjaga rasa percaya yang saya punya. Tapi hari ini kamu membuat kepercayaan yang saya bangun bertahun-tahun menjadi rusak dalam sekejap."
Satu tetes air mata lolos di pipi wanita itu. Dalam matanya seolah menyimpan sebuah beban yang tak sanggup ia sampaikan. Terlalu rumit untuk diceritakan, ia tidak tahu caranya harus memulainya dari mana. Wanita itu tetap menggeleng dan bersikeras. Ia menggenggam tangan suaminya dan berkata.
"Tolong percaya, aku ngak mengkhianati kamu. Kamu boleh tanya sama dia. Benarkan Bram?" tanyanya meminta persetujuan laki-laki asing yang tak juga beranjak.
Laki-laki bernama Bram itu mengiyakan dan sependapat.
"Benar. Kami hanya sebatas teman lama dan sebagai rekan kerja. Istri kamu bekerja di hotel saya. Tidak lebih, harap sedikit bijak!"
Wira menatap Bram dengan kebencian yang teramat dalam. Setelah apa yang ia lihat, setelah semua hal yang istrinya lakukan. Pergi dari rumah tanpa kabar, sekarang wanita itu ada sini bersama laki-laki lain. Wanita itu tidak pernah menjelaskan apapun jika ia pindah kerja. Wira tahu ia hanya pegawai kantoran biasa dengan gaji yang tak seberapa, bagai langit dan bumi ia tak sebanding dengan Bram yang kaya raya. Kalau masalah kerja istrinya bisa berbohong, tidak menutup kemungkinan dengan hal yang lebih besar.
Wira melayangkan tinjuannya pada rahang Bram. Dalam satu pukulan saja laki-laki itu tersungkur ke lantai.
Istrinya berteriak memanggil nama Bram. Ia mendorong tubuh Wira dan berkata dengan urat.
"Wira! Jangan sakiti Bram!" suara wanita itu berubah menjadi keras.
Gadis kecil berponi itu menatap perseteruan mereka dengan tangan basah yang dingin. Ia mundur beberapa langkah dan menutup matanya erat.
"Kenapa? Karena kamu mencintai dia?" tanya Wira dengan sengit.
Wanita itu memasang wajah datar. Baginya sikap Wira berlebihan.
"Kamu meninggalkan saya demi dia kan? Kenapa? Karena uang?" tanyanya beruntun. "Karena dia jauh lebih kaya dari saya? Apa karena dia punya segalanya dan saya tidak?" tanya Wira bahkan sebelum istrinya menjawab pertanyaan pertama.
Dengan emosi yang meledak wanita itu mengangguk. Ini yang paling ia benci dari suaminya, Wira selalu menyimpulkan sesuatu dan menganggap apa yang ia simpulkan itu benar.
"Iya. Saya memang mencintai dia, saya memang meninggalkan kamu. Iya, karena uang. Karena dia lebih punya segalanya!"
Tubuh Wira menjadi kaku. Hari itu kepercayaan yang bertahun-tahun ia jaga harus roboh didepan matanya dalam beberapa detik. Yang paling menyakitkan dari semua itu, pengkhianatan. Amarah Wira semakin besar, ia mengangkat tangannya tinggi dan menampar istrinya. Suasana semakin heboh saat Bram membenci sikap Wira yang menyakiti istrinya, lalu ia memukul Wira tanpa ampun.
Tubuh gadis kecil berponi menegang. Semua orang yang ada disana mengabaikan keberadaannya. Ia hanya anak kecil tidak mengerti pembicaraan mereka, namun akal sehatnya menuntut untuk paham. Diatas baklon hotel yang entah berapa lantai, gadis itu berjalan membelakangi pembatas balkon yang hanya setinggi lutut orang dewasa. Gadis itu ketakutan dan semakin mundur hingga kakinya terpeleset. Ketika ia terjatuh ia mendengar wanita terkasih itu menjerit histeris sambil menyebut namanya.
Dalam hitungan detik gadis kecil itu ambruk ke tanah. Terdengar beberapa langkah kaki berjalan kearahnya dengan panik hingga akhirnya matanya benar-benar tertutup sempurna.
Flashback off.
Tubuh Kinara benar-benar kaku. Tangannya bergetar hebat. Ia kembali mengatup matanya rapat bersamaan dengan tangan yang gemetaran.
Melihat keadaan Kinara yang tampak buruk, Arga menjadi khawatir luar biasa. Tanpa berfikir dua kali ia langsung mendekap tubuh Kinara.
Harus Kinara akui bahwa pelukan itu membuat susana hatinya lebih membaik. Namun dalam pelukan itu Kinara menumpahkan seluruh air mata dan ketakutan yang menumbuk dadanya. Ia mengeratkan pelukan dan menangis sejadi-jadinya.
*