KinarArga

KinarArga
Bersama Leo dan Gibran



Sebelum bel masuk berbunyi. Seseorang menghampiri Kinara, dan mengatatakan jika ia diminta ke kantor oleh Buk Naila. Kinara sempat bertanya kepada orang itu apa alasannya dipanggil oleh guru matematika kelas dua belas tersebut. Namun orang itu menjawab tidak tahu. Ia berjalan menelusuri lorong, terdengar langkah kaki juga bergerak sama dengannya. Kinara palingkan wajahnya ke belakang. Kemudian langkahnya terhenti saat menyadari Gibran mengikutinya dari belakang.


"Lo ngapain ngikutin gue?" tanya Kinara dengan sinis.


Cowok itu tersenyum manis, tak merasa tersinggung sedikitpun dengan kata-kata Kinara. Ia tetap memperlihatkan keramahan dalam dirinya.


"Gue ngak ngikutin lo Kinara," jawab Gibran dengan nada setenang mungkin


Kinara memicingkan mata tidak percaya. Ia merasa dari tadi ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.


"Ngak usah bohong deh, gue ngak suka!" ucapnya dengan penuh penekanan.


"Suka atau ngak suka. Percaya atau ngak percaya, gue emang ngak lakuin itu," acuh Gibran melanjutkan langkahnya. Ia melewati Kinara begitu saja.


Kinara mengerutkan dahinya heran. Ia juga melanjutkan langkah. Namun langkahnya dan Gibran menuju ke tempat yang sama. Mereka sama-sama menghentikan langkah di ambang pintu kantor majelis guru.


"Tuhkan apa gue bilang, lo ngikutin gue!" keke Kinara juga.


Gibran menggeleng. Ia menyembunyikan senyumnya dibalik bibir tipis yang ia miliki. Gadis ini unik, kalau dilihat dalam jarak sedekat ini cantik juga. Walaupun Kinara bersikap dingin, namun sebagai kakak kelas yang baik ia tetap bersikap sebagai mana semestinya.


"Lo lucu ya, keras banget pengen gue ikutin," kata Gibran tertawa renyah. Tapi Kinara malah tersinggung dengan Gibran yang menertawakannya.


"Ngak usah geer deh, gue bukan fans lo atau Nadia yang tergila-gila sama lo!"


"Gue ngak pernah menyamakan lo dengan mereka Kinara, gue tau lo beda!" ucapnya dengan nada yang tidak berubah.


Tanpa menunggu respon dari Kinara, Gibran melangkahkan kakinya kedalam kantor. Bukan bermaksud mengikuti, tapi tujuan Kinara dari awal memang ke sana.


"Gibran, Kinara!" ucap Buk Naila saat melihat keberadaan mereka yang mencari letak meja Buk Naila.


Kinara dan Gibran saling pandang tak mengerti, mereka rasa tidak membuat kesalahan apapun. Untuk membunuh rasa penasaran, mereka menghampiri Buk Naila.


Kinara dan Gibran duduk berdampingan dihadapan Buk Naila. Disana Leo juga duduk disamping Buk Naila. Cowok bermata minus tebal itu menatap Gibran dan Kinara bergantian.


"Maaf Buk, kenapa kita dipanggil?" tanya Gibran mendahului.


"Jadi maksud Ibuk manggil kalian bertiga kesini. Ibuk pengen kalian mewakili sekolah kita untuk cerdas cermat matematika nasional tahun ini," kata Buk Naila sambil memandang mereka satu-persatu.


Gibran, Kinara, dan Leo saling menatap satu sama lain. Leo yang sudah pintar dari oroknya tetap gugup gemetaran mendengar permintaan Buk Naila. Walaupun terbilang culun, jangan ditanya prestasinya. Tahun kemarin cowok berkaca mata itu menjadi juara umum di SMA Harapan Bangsa. Sedangkan Kinara yang merasa tidak terlalu pintar, lebih merasa gugup.


Sementara Gibran paling dulu menjawab.


"Oke Buk, insyaallah kami akan berusaha membanggakan nama baik sekolah. Ya kan Leo, Kinara?" katanya menatap Kinara dan Leo.


Leo mengangguk gugup, berbeda dengan Kinara yang tak merespon.


"Kalau begitu, mulai bulan ini kalian boleh belajar barsama, karena bulan depan cerdas cermat itu akan diadakan di sekolah kita," kata Buk Naila penuh harap.


Sebenarnya Kinara ingin menolak, namun melihat wajah penuh harap tersebut membuat Kinara tidak tega.


"Iya Buk," jawab Leo dan Gibran bersamaan.


"Kinara?" tanya Buk Naila meminta persetujuan. "Kamu mau kan?"


Sebelum menjawab, ia melirik Gibran yang juga meliriknya. Masalahnya cuma satu, karena ada Gibran. Lagipula Gibran sudah kelas dua belas, masih saja diikut sertakan. Kalau Nadia tahu, pasti akan jadi masalah lagi. Dan Kinara paling malas berurusan dengan rempong bermulut cabe itu.


"Ibuk harap kamu ngak nolak," tambah Buk Naila kemudian.


Setelah berfikir panjang, Kinara membuang nafas pasrah dan mengangguk.


Buk Naila tersenyum, ia memegang pundak Kinara, Gibran, dan Leo bergantian. Dari matanya mereka tahu jika wanita itu menyimpan harapan penuh kepada mereka.


"Ibuk percaya sama kalian."


Buk Naila memberikan beberapa kertas tentang materi-materi yang biasa di cerdas-cermatkan. Setelah mereka bertiga cukup mengerti, Leo terlebih dahulu minta ijin untuk keluar.


"Kalau udah ngak ada lagi yang dibicarakan, kita boleh kembali ke kelas Buk?"


Buk Naila mengangguk. "Oh, boleh."


Mereka bertiga berdiri, lalu menyalami punggung tangan Buk Naila. Setelah keluar dari sana, Leo langsung bergegas lari sebab ia ada ulangan harian. Kinara cuma berjalan santai, ia menoleh mendapati Gibran yang beriringan dengannya. Kinara tidak bertanya, namun matanya mengekspresikan ketidaksukaan.


"Mau bilang gue mau ngikutin lo lagi?"


"Emang ngak? Buktinya lo—"


Gibran dengan cepat menyela sebelum Kinara menuduhnya lebih jauh lagi. "Lo lupa, kelas kita berdampingan," ucap Gibran membuat Kinara mengalihkan pandang karena malu.


Disepanjang perjalanan, Kinara cuma diam. Semenit kemudian Gibran membuka obrolan.


"Mau cuek sampai kapan?" tanya Gibran, dan Kinara menyipitkan mata.


"Jangan musuhan lagi ya," lanjut Gibran.


Kinara menatap Gibran dengan kesungguhan yang ada didalam matanya. Sebenarnya dari awal mereka bertemu. Kinara tidak pernah menganggap Gibran sebagai musuh. Tapi karena Gibran pacar ratu rempong binti nyiyir alias Nadia, mambuat Kinara bersikap sama layaknya didepan Nadia.


"Lo bukan musuh gue," sarkastik Kinara.


"Gue tau, tapi gue mau berdamai dan berteman. Boleh?"


Kinara menatap ragu. Setiap tatapan Gibran kepadanya, ia menemukan ketenangan. Cowok itu memiliki sikap yang ramah pada siapapun, namun Kinara dengan tidak sopannya selalu berkata kasar. Mungkin ada baiknya ia berhenti menyamakan Gibran seperti Nadia.


Kinara menjawab dengan nada yang lebih rendah dan biasa. "Boleh, kak!" kata Kinara memanggil dengan sebutan yang menang harus ada dari dulu.


Gibran tersenyum senang. Dengan kata singkat yang Kinara ucapkan membuat kupu-kupu dihatinya terasa berterbangan. Terlalu bersuka ria, walau hanya kata biasa.


"Boleh gue minta satu hal lagi dari lo?" tanya Gibran.


"Apa?"


"Senyum dong! sejak awal gue ketemu sama lo. Gue ngak pernah liat lo tersenyum!"


"So, gue rasa itu ngak terlalu penting!"


Gibran menghentikan langkah dan menatap kecewa, sementara Kinara mempercepat langkah. Ia berjalan lebih dahulu ke kelasnya. Dengan posisi membelakangi, Kinara menuruti permintaan Gibran. Ia tersenyum tanpa cowok itu sadari.


Tanpa Kinara ataupun Gibran tahu, seseorang sudah mengikuti jejak mereka dan memperhatikan dari tadi. Ia memandang buruk, pertanda ingin melanjutkan permusuhan.


*



Ketika Gibran terlalu gemes —Mak Arga.


*