KinarArga

KinarArga
Masa Kecil yang Terlupakan



Gemersik hujan terdengar berisik di telinga Nadia. Bersamaan dengan turunnya hujan, yang lebih berisik dari itu ialah hatinya. Ia seolah meronta-tonta kepada takdir agar mengikuti kata hatinya. Namun semua berbanding terbalik. Bintang yang ia idam-idamkan lenyap bahkan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Yang terisa hanya luka dan penyesalan. Genangan air matanya menggristal dan pecah lalu berguguran mengikuti lantunan hujan.


"Nadia," panggil seorang wanita dibalik pintu kamar Nadia sambil mengedor pelan.


Nadia tidak menjawab hingga Sandra membuka pintu tanpa minta persetujuan.


"Ada apa sayang?" tanya Sandra.


Sandra mendekat dan mendekap putrinya. Nadia hanya membenamkan wajahnya dalam pelukan Sandra. Hanya Sandra yang mampu membuatnya hatinya sedikit tenang. Nadia terdiam sejenak sebelum Sanda mengulang pernyataan sama.


"Ada apa nak?" ulangnya.


Nadia mengambil nafas dalam, membutuhkan kekuatan yang besar untuk pernyaan yang sepertinya sederhana namun sulit untuk dijawab.


"Nadia jahat ya Mi?" tanya Nadia dengan suara bergetar.


"Ngak. Nadia gadis yang baik," kata Sandra.


Nadia menunduk dan mengajukan pertanyaan yang lain.


"Nadia egois?"


Sandra mengerutkan dahinya. Sebagai seorang Ibu, Sandra tahu ketika anaknya sedang rapuh. Namun dari sekian banyak hal yang pernah membuat Nadia menangis. Inilah pertama kalinya Nadia serapuh itu.


"Ngak Nadia cantik," elak Sandra sambil mengelus rambut Nadia.


"Ada apa?" tanyanya untuk ketiga kali.


Nadia tidak menjelaskan panjang lebar. Terlalu sulit baginya untuk mendeskripsikan isi hatinya yang terlalu berisik. Ia menjawab dengan satu kata, "Gibran."


"Kita putus. Katanya Nadia egois, Nadia ngak pernah bisa ngertiin dia. Padahal Nadia ngak bermaksud kayak gitu. Nadia terlalu sayang sama dia Mi. Nadia cinta cuma sama Gibran Mi. Nadia ngak mau kalau punya Nadia direbut orang lain," katanya sambil terisak.


Mata Nadia memerah. Sejak pulang dari Gramedia, ia tidak berniat keluar kamar. Ia hanya merenung mendengarkan hujan sambil menyembunyikan wajahnya diatas bantal.


"Shttt," desis Sandra sambil mengelus punggung Nadia. Ia kembali memeluk Nadia, kali ini pelukan itu lebih erat daripada sebelumnya. "Denger ya Nak.  Mami tahu kamu cinta sama Gibran. Tapi ngak semua hal yang bisa Gibran lakukan untuk kamu. Terkadang kita perlu mengalah untuk beberapa hal walaupun itu bukan kesalahan kita. Mengalah bukan berarti kalah. Namun demi seseorang yang paling berarti, membunuh ego itu perlu."


Mendengar kata-kata Sandra membuat air mata Nadia semakin deras. Mungkin cara Nadia salah menunjukan cintanya pada Gibran. Mungkin juga Gibran menganggap Nadia terlalu mengekang. Tapi Nadia berani bersumpah itu semua ia lakukan karena takut kehilangan. Kini ketakutan itupun terjadi.


"Terus Nadia harus gimana?" tanya Nadia.


Sandra melepaskan pelukan dan tersenyum. "Sabar. Biarkan waktu yang memulihkan keadaan. Kalau emang jodoh ngak bakalan lari. Kalaupun lari Tuhan punya bayak cara untuk mempertemukan kalian lagi."


"Kalau ngak jodoh?"


"Mungkin kamu tercipta bukan untuk Gibran atau Gibran tidak tercipta untuk kamu. Lagipun ada banyak manusia diluar sana yang jauh lebih daripada Gibran. Mami tahu mungkin itu sulit bagi kamu. Tapi Tuhan maha pembolak-balikkan hati. Kalau kamu punya hati yang cantik Allah pasti akan memberikan pengganti yang terbaik."


Air matanya semakin bergelinang di pelupuk mata Nadia. Bukan tangisan seperti tadi tapi tangisan haru. Dari kehilangan yang ia rasakan, setidaknya ia bersyukur ia masih punya seseorang yang tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan tersulit sekalipun.


Sandra lagi-lagi tersenyum sambil menghapus jejak air mata Nadia yang sempat mengalir. Dalam beberapa menit kemudian Nadia menidurkan kepalanya di paha Sandra sambil terus mendengarkan nada-nada hujan yang tak kunjung reda.


Hal yang paling Nadia ingat dari hujan ketika ia dan Papinya kecelakaan lima tahun lalu. Dimana hujan merenggut nyawa laki-laki itu dan membuatnya pergi dari Nadia dan Sandra untuk selama-lamanya. Nadia tahu itu bukan salah hujan, itu takdir. Namun setiap tetesan hujan terkadang membuat hatinya sedikit nyilu. Terlebih kecelakaan itu bukan hanya membuatnya kehilangan seorang Ayah, tapi Nadia juga kehilangan sebagain ingatan. Sandra pernah bilang, ada cedera dibagian otak Nadia sehingga ia tidak bisa mengingat apapun yang ia lalui di masa lalu.


Terlalu miris. Takdir membuat Nadia lupa masa-masa dimana ia masih menjadi gadis kecil yang lugu. Bahkan takdir membuatnya kehilangan kenangan bersama keluarga kecilnya.


"Mi, dulu Papi itu kayak gimana sih orangnya?" tanya Nadia mengalihkan topik.


Sandra tak berhenti mengelus rambut Nadia. Lalu ia menjawab, "Papi kamu orang yang baik. Kamu ngak akan pernah nyesel punya Papi seperti dia," katanya.


Nadia merubah posisinya menjadi duduk bersila, ia terlalu sumringah dengan topik semacam ini.


"Mami pasti cinta banget kan sama Papi?"


Sandra terdiam. Ia menatap Nadia dengan pandangan yang sulit diartikan. Dari wajahnya terlihat perubahan yang tidak Nadia mengerti. Jeda mengisi diantara mereka dalam waktu yang terbilang lumayan lama. Sampai Nadia memanggil dan membuat Sandra tersentak lagi.


"Mami?"


Sandra mengalihkan pandang seolah sedang menyimpan sesuatu. Sedetik berikutnya ia memegang kepala dan berkata.


"Astagfirullah, Mami lupa," ucapnya tiba-tiba.


"Lupa apa Mi?"


"Mami harus nyelesin desain baju pengantin anak temen Mami malam ini juga."


Nadia memajukan bibirnya beberapa senti dengan wajah cemberut. "Harus banget ya malem ini? Malem ini Mami temenin Nadia aja," ucapnya sambil memelas.


"Lain kali ya sayang. Mami banyak kerjaan."


elaknya namun tetap memberikan kecupan sayang pada dahi Nadia.


Sedikit kecewa, namun Nadia tidak bisa memaksa lebih jauh. Memiliki Ibu seorang disigner mungkin akan sedikit menyita perhatian. Namun Nadia bangga karena Sandra tidak selalu memberikan waktu luang agar mereka bisa berbincang setiap hari. Dan  pelukan hangat dari Sandra cukup mengobati sedikit luka hatinya.


"Selamat malam nak."


Nadia tersenyum dan mengangguk. "Malam Mi," jawabnya.


Perlahan Sandra kembali menutup pintu seperti keadaan semula. Senyuman Nadia memudar katika ia menyadari satu hal. Entah memang benar atau perasaannya saja, tapi Sandra selalu menghindar ketika ditanyakan pertanyaan yang sama.


"Mami cinta banget kan sama Papi?" pertanyaan itu adalah pernyataan yang diajukan berkali-kali namun selalu ada celah hingga jawaban apapun tidak pernah keluar dari mulut seorang Sandra.


Andai takdir tidak pernah merenggut ingatannya. Mungkin Nadia tidak akan merasa sebodoh ini karena tidak tahu apa-apa.


****