
Setelah jam istirahat berbunyi, Kinara dan Windy berjalan melewati kantin untuk memenuhi permintaan perutnya yang meronta-ronta diisi. Suasananya tidak begitu ramai, mereka memesan pesanan dengan cepat dan langsung menikmati mie ayam dengan nikmat.
"Eh, lo bedua. Pergi kalian sini, ini tempat duduk kita!" kata seorang cewek bersama dua teman akrabnya dengan mengebrak meja.
Kinara memandang sinis. Cewek berambut ikal itu bernama Nadia, yang statusnya adalah senior Kinara. Namun Kinara adalah orang pertama yang berani membantah apapun yang cewek itu perintahkan kepadanya.
"Lo buta? Kan masih banyak meja kosong!" kata Kinara juga ikut menggebrak meja.
Cewek itu tersenyum miring meremehkan. Dua cewek di kiri-kanannya juga melakukan hal serupa.
"Berani lo sama gue?"
"Lo pikir gua takut?!" bentak Kinara dengan mata nyalang terbuka lebar.
Windy melangkah mundur dan menarik lengan Kinara. Ia lebih suka menghindar dari pada berurusan dengan seorang Nadia. Karena Windy tahu jika Nadia bisa membawa mereka dalam sebuah masalah.
"Udah lah Nar, kita pergi aja," bisiknya pada Kinara.
Kinara tidak mengubris, ia melirik sinis sahabatnya yang pengecut itu. Ia kembali memfokuskan perhatiannya penuh pada trio rempong dihadapannya.
"Mending lo pergi deh, sebelum kita ngasih pelajaran sama lo!" kata Meimy yang berada di sisi kiri Nadia.
Nadia melipat tangannya didepan dada, dengan pandangan yang menunjukkan karakter dirinya. Angkuh dan sok berkuasa.
"Kita senior lo! Jadi hormatin kita dong!" ujar Rachel disisi kanan Nadia. Nadia yang berlagak seperti bos hanya tersenyum miring.
"Gimana mungkin gue hormatin orang yang ngak tahu sopan-santun kayak kalian."
Kinara tidak beranjak dari tempatnya. Sikapnya yang membantah membuat Nadia and the genk merasa tersinggung. Lalu ia mendorong tubuh Kinara.
Kinara tidak tinggal diam, ia membalas dengan cara yang sama. Ia mendorong tubuh Nadia sampai pantat cewek itu menyentuh lantai.
"Heh, berani-beraninya lo dorong gua!"
Mendadak kantin menjadi heboh ketika terdengar keributan. Mereka menjadi sorot perhatian. Apalagi Nadia adalah primadona yang disanjung karena kecantikan yang ia punya. Tapi bagi Kinara, Nadia dan teman-temanya tak lebih dari tiga cewek rempong yang tidak harus menjadi sorotan publik.
"Kalau iya emang kenapa?" tantang Kinara pula.
Merasa tidak terima, Nadia dengan geram menjambak rambut Kinara. Kinara berteriak keras namun tak ada satupun yang melerai. Windy yang notabennya adalah sahabat satu-satunya Kinara, hanya menjadi penontoton setia. Meimy dan Rachel tertawa menang melihat Kinara yang tersiksa. Karena tidak ingin terintimidasi, Kinara juga menjambak rambut Nadia lebih keras dari itu.
"Nadia, Nadia, Nadia..." teriakan heboh mulai terdengar sebagai bentuk dukungannya untuk membela cewek berambut ikal itu.
Sementara beberapa orang yang lain mendukung Kinara dan meneriakkan namanya berkali-kali. "Go Kinara, Go Kinara. Kinara go, Kinara go!!"
"Lepasin!!" bentak Nadia sambil terus menjambak Kinara.
Kinara menahan rasa sakit, dan tak berhenti melakukan aksinya.
Windy menggigit bibir. Ia tidak tega melihat Kinara diperlakukan seperti itu. Namun ia juga tak berani campur tangan. Syukurlah tak beberapa lama kemudian Gibran, ketua osis datang dan melerai mereka secara paksa.
"Apa-apan sih kalian. Kayak anak kecil tau ngak!" bentak Gibran sambil melirik Kinara dan Nadia bergantian.
Nadia menunjuk Kinara terang-terangan.
"Dia yang mulai," selanya asal.
Kinara menjawab tenang mengontrol nadanya.
"Anjing sekarang udah mulai pintar nuduh ya!"
"Apa lo bilang?!"
Sebelum Nadia semakin geram, Gibran menentang matanya.
"Nad!"
Nadia memandang Gibran tak suka. Seluruh sentero sekolah juga tahu tentang status mereka berdua. Gibran pacar Nadia. Dan Nadia pacar Gibran. Nadia tahu Gibran melakukan itu karena ia merupakan ketua osis yang berpegang teguh terhadap semua aturan yang ada. Namun sebagai pacar, seharusnya Gibran lebih membela dirinya.
"Kamu kenapa sih? Suka banget ngangguin junior!"
Nadia memasang wajah jutek. Menurutnya sikap Gibran yang seperti ini telah menjatuhkan harga dirinya didepan Kinara.
"Oh, ngebelain dia. Pacar kamu siapa? Aku atau dia?" tanya Nadia sarkastik.
Inilah sisi Nadia yang paling Gibran benci. Selalu melakukan apapun sesuka hatinya tanpa memikirkan orang lain. Bahkan Gibran lupa mengapa ia bisa mencintai orang seperti Nadia.
"Siapa yang ngebela siapa sih? Kamu kan emang salah!"
Nadia memasang wajah juteknya.
"Oh ya udah. Kalau gitu belain aja terus junior kamu ini!" Dengan perasaan marah dan kecewa. Nadia beranjak pergi dari sana, diikuti dua temannya dari belakang.
Gibran tidak mengejar, biarlah Nadia marah untuk kali ini. Nanti juga akan baik sendiri. Lagipula bertengkar lalu berbaikan lagi sudah menjadi makanan keseharian Gibran saat berpacaran. Setelah Nadia hilang dari padangan matanya, ia memerintah tegas.
"Bubar lo semua!"
Kerumunan orang itu memasang wajah kecewa. Namun Gibran adalah ketua Osis dan mereka terpaksa harus menurut.
Windy mendekat ke arah Kinara dan mngelus rambutnya.
"Lo ngak papa?"
Kinara menjawab sinis, sesinis pandangannya.
"Baru nanya? Tadi kemana aja lo!"
Windy cengengesan sambil tersenyum mengedipkan mata sebagai permintaan maaf.
"Sorry, gue males ngeladenin mereka."
"Bilang aja lo takut!" kata Kinara.
Gibran menatap mereka bergantian. Yang paling lama ia tatap adalah Kinara yang sama sekali tak memperdulikan keberadaannya. Setelah Nadia pergi, tanpa merasa sungkan ia langsung melanjutkan makan mie ayamnya. Ia tak peduli pada keadaan ini. Yang ia pikirkan perutnya harus di isi.
"Kalian ngak papa kan? Maafin sikap Nadia tadi ya," kata Gibran membuka suara.
"Iya, ngak papa kok Kak." ucap Windy sambil tersenyum manis.
"Aelah, ini bukan lebaran. Jadi ngak usah maaf-maafan," ketus Kinara membuat Gibran tak berpaling menatap.
Windy mengikut lengan Kinara, memberi kode harus sopan pada kakak kelas sekaligus ketua osis.
"Lo gimana sih, bukannya makasih juga."
Kinara menjawab dengan suara keras nan dingin. Membuat Gibran sedikit merasa tersinggung.
"Perlu bangat ya emang gue makasih? Ngak penting juga."
Gibran diam dan mendengarkan dengan seksama. Ia tidak biasa terabaikan seperti ini. Ia menatap heran, bagaimana mungkin gadis itu bisa berpaling dari pesonanya. Bukannya merasa terlalu tampan, hanya saja gadis lain berusaha untuk mendekati Gibran. Bagaimana dengan gadis dingin itu? Apa ia tidak menarik sama sekali?
"Oh ya, kita belum kenalan. Gue Gibran."
Gibran mengulurkan tangan. Sebenarnya uluran itu kepada Kinara, namun Windy yang malah menyambut dengan ramah.
"Windy," jawabnya sambil malu-malu.
Kinara asyik mengunyah makanannya. Tanpa melirik ke arah mereka sedikitpun.
Gibran tak henti-hentinya melirik
"Kalau ini namanya Kinara," ucap Windy sambil menunjuk Kinara. Ia maklum, karena Kinara memang memiliki sikap dingin seperti itu, apalagi terhadap orang asing.
"Okay, salam kenal buat kalian berdua," ujar Gibran sambil memberikan senyum terbaiknya. "Gue pergi dulu," pamit Gibran di akhir kalimat.
Windy tersenyum dan menganggukkan kepala dengan sopan. Sementara Kinara tidak mersepon. Ia sudah cukup tahu siapa Gibran lewat mulut-mulut cebe yang ada di sekolahnya. Katanya Gibran adalah pacar idaman yang mampu membuat seseorang jatuh cinta hanya dalam pandangan pertama. Namun tidak bagi Kinara. Baginya cinta tidak mungkin sesederhana itu.
*
Seth Gibran Fedelin
Nadia Brilantes Andrea
Si pecicilan Windy —Mak Arga.
*