
Keringat Arga bercucuran menatap bendera merah putih yang bertengger manis di lapangan. Arga menjalankan hukuman bukan karena takut. Namun karena merasa punya hati seperti bidadari, ia tak ingin membuat Buk Atika berubah menjadi serigala yang menakutkan.
Arga tidak menjalankan hukuman sesuai prosedur. Baru 15 menit ia berdiri, ia merasa lelah luar biasa. Karena tidak ada yang mengawasi, ia berjalan ke arah kantin untuk membeli minuman.
Di pihak lain, sepasang kekasih sedang duduk berhadapan dipojok kantin dengan memakan semangkok bakso.
"Sayang, kamu tau ngak persamaan aku sama bakso ini?" tanya cewek itu memulai.
Cowok itu mengangkat bahu, ia hanya memperhatikan bakso itu dan berusaha menjari jawaban.
"Sama-sama bulet!" tebaknya.
Tebakan itu sukses membuat cewek itu menatap tajam. Ia melipat tangannya seraya memonyongkan bibir beberapa senti.
"Aku salah ya?" tanya cowok itu.
"Menurut kamu?!"
Cowok tersebut menggaruk telungkuknya yang tak gatel. Tadi minta ditebak. Sekarang saat ia berusaha menjawab, malah ia yang tersalahkan. Mengapa semua perempuan itu harus merasa benar? Rasanya tidak adil bagi semua laki-laki di dunia ini. Karena kodrat hukum alam yang tidak bisa digagu gugat berbunyi 'cewek tidak pernah salah!' dan semua laki-laki dipaksa memahami konsep tersebut.
"Terus apa dong?" tanya cowok itu menetralkan suasana yang hampir tegang.
"Sama-sama utuh, kayak cinta aku ke kamu!" kata gadis itu sambil tersenyum malu.
Cowok tersebut tersenyum tipis. Ia mencubit pipi cewek itu dengan gemas. Dua tahun pacaran cukup membuat mereka saling memahami karakter masing-masing.
"Sweet ya pacar aku, ngak di gombalin. Inisiatif gombalin aku."
Saat kalimat cowok itu terlontar dari mulutnya, Arga mengentikan langkahnya dan menatap mereka. Arga menelan ludah dan melirik mereka bergantian. Cowok dihadapannya tak menyadari kehadirkan Arga. Ia tetap bermesraan dengan pacarnya. Saat itu juga, Arga tertekun sejenak.
"Yang?" panggil sang cewek, namun matanya menoleh menatap Arga yang menatap mereka dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Cowok itu mengikuti arah pandang cewek itu. Pada detik yang sama, kontak matanya bertemu dengan Arga.
Arga tak tahu harus bicara apa dan memulainya dari mana. Yang Arga tahu hatinya mendadak perih. Terlalu sulit untuk dijelaskan, terlalu sulit menjadi Arga.
"Arga?" katanya memanggil.
Arga tersenyum miring. Senyuman yang mengisyaratkan rasa benci yang mendalam. Baru beberapa hari yang lalu, ia berusaha sekuat mungkin untuk mengobati sesuatu yang hampir patah. Ia berusaha melupakan dan mengikhlaskan sesuatu yang pernah menjadi miliknya. Dengan harapan untuk memberikan kebahagiaan bagi orang tercinta. Namun hari ini usahanya tergoyahkan begitu saja.
Cowok dihadapannya berdiri dan mendekat. Arga mengepalkan tangannya, dalam hitungan detik pukulan melayang tepat di rahang cowok itu.
"Apa-apaan sih lo!" bentak cowok itu tak terima.
Sebelum cowok itu mengeluarkan suara lagi, Arga memberikan pukulan pada tempat yang sama. Sehingga darah segar mengalir di ujung bibirnya.
Cewek berambut ikal yang berstatus sebagai pacar dari cowok itu menjerit histeris. Namun ia tidak bisa melakukan apapun selain menangis dan menyaksikan pacaranya babak belur karena Arga.
"Gibran!!!" teriak cewek itu menangkup wajah Gibran.
"Lo siapa sih? Ngapain lo tiba-tiba nonjok pacar gue?" tanya cewek tersebut.
"Ini antara gue dengan dia, ngak ada urusannya sama lo!"
"Tapi dia pacar gue!" tegasnya mempolototi Arga. "Dan gue ngak rela lo pukulin pacar gue!"
Tertera bacaan "Nadia" di name tag cewek itu. Harus Arga acungkan jempol, cewek itu cukup berani menentang mata Arga. Gibran sudah tak berdaya, ia sudah melawan sebisa mungkin. Namun kekuatan Arga jauh lebih besar.
Kepalan Arga semakin kuat. Beberapa hari yang lalu, Gibran pernah membuatnya kehilangan seseorang yang paling berarti dihidupnya. Membuat harapan dan impian yang dibangun selama bertahun-tahun harus hancur dalam satu menit yang menyesakkan dada. Satu menit yang membuat Arga harus patah. Dalam satu menit ia melihat bagimana harapannya direnggut paksa oleh Gibran. Hari ini, dimana Arga berusaha melepaskan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuknya. Ia melihat bagaimana Gibran membagi hatinya untuk orang lain. Tak ada salah dengan Gibran, cuma Arga terlalu diperbudak oleh cintanya.
Mungkin ditinggal pergi adalah hal yang di benci Arga, mungkin juga semua orang. Tapi Arga lebih membenci Gibran yang tidak bisa menjaga kepercayaan seseorang yang terlalu percaya padanya.
Gibran mengelap darah diujung bibirnya dengan jari. Ia berdiri, kemudian memegang pergelangan tangan Nadia.
"Kamu ngak papa?"
Gibran tak bersuara, tapi ia masih bisa menggeleng dan tersenyum.
"Dia siapa?" tanya Nadia penasaran.
"Bukan orang yang penting untuk di kenal," elaknya malas memperkenalkan Arga kepada Nadia.
"Kita ke uks ya, ngobatin luka kamu!" ajak Nadia menarik Gibran.
Gibran menahan pergelanggan tangan Nadia. Cewek itu menatap dengan pandangan penuh tanya.
"Tunggu ya," ujar Gibran dengan nada yang sangat lembut.
Semakin Gibran bermesraan didepan matanya, semakin besar kebenciannya terhadap Gibran. Bagi Arga, senyuman manis yang Gibran berikan adalah senyum yang penuh dengan kepalsuan. Samua orang boleh terpedaya dengan mudah, tapi tidak dengan Arga.
Gibran kembali menoleh kepada Arga. Dan Arga menatap Gibran seolah tak ada hal yang lebih buruk untuk di benci. Cowok itu menautkan alisnya menatap Arga dengan emosi yang terbilang berlebihan. Gibran merasa tidak punya salah apapun pada Arga, ia juga tidak mengerti mengapa Arga semarah ini.
"Bisa kasih gue alasan kenapa lo semarah ini?" tanya Gibran. Ia tidak membalas Arga yang memukulnya tanpa ampun.
Lagi-lagi Arga tersenyum miring. Senyuman yang menyimpan sesuatu. Senyuman yang mengisyaratkan permusuhan.
"Jawabannya simple, karena lo.." Arga menjawab dengan memberi jeda sejenak. "*******!!" lanjutnya.
Kemudian Arga berbalik meninggalkan Gibran dan Nadia dengan dahi berkerut samar. Setelahnya sepasang kekasih itu bergegas ke uks untuk membersihkan luka Gibran.
*****
Tanpa berfikir panjang terlebih dahulu, Arga mengetikkan sebuah nomor. Kemarahannya sedang bercokol didalam dada. Bercampur baur dengan semua rasa yang sulit di artikan. Arga tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia hanya ingin memastikan semua berjalan seperti yang seharusnya.
Terdengar bunyi tuuut yang berkepanjangan. Setelah jedanya yang membuat Arga tidak sabaran. Suaranya seseorang di seberang sana terdengar.
"Hallo Ga?"
Arga menelan ludahnya. Baru beberapa hari ia pindah sekolah. Ia merindukan sekolah lama. Suasana lama. Dan masa-masa yang sepantasnya masih terulang.
"Kenapa Ga?"
Suara itu membuat sisi hati Arga menghangat. Sekian lama Arga berusaha untuk menghindar dan terlihat baik-baik saja, ia kembali seperti ini. Menjadi laki-laki yang lemah hanya karena mendengar suara itu. Suara yang ia rindukan, suara yang ingin sekali ia dengar setiap hari walau hanya sekedar ucapan selamat pagi.
"Gue mau ketemu sama lo sekarang juga!" ucap Arga to the point.
Tak ada respon dari yang di telpon. Arga menunggu balasan, meski gadis yang ia telpon terus diam.
"Untuk apa?"
"Gue mau bicara sama lo," kata Arga dengan sarkastik. Tanpa Arga sadari, ia peduli namun ia terlalu gengsi.
"Gue lagi ngak disini Ga."
Arga mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"
"Gue di Singapore, ikut orang tua gue."
Kata-kata Aza yang terlontar membuat Arga seketika bungkam. Baru saja beberapa hari yang lalu, ia berusaha untuk menghindari kenyataan yang terpampang didepan matanya. Ia berusaha berlari dari kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya. Hari ini, takdir memberi kejutan lagi. Aza menjauh, tanpa pertanda, sepertinya gadis itu mencoba berlari. Padahal Arga tidak pernah mencoba mengejar.
"Kenapa ngak bilang?" tanya Arga tanpa peduli ia pantas atau tidak mengatakan itu.
"Apa itu penting?"
Hanya sebuah kalimat biasa dengan nada biasa. Sayangnya kalimat biasa itu berefek pada hati Arga.
"Oh, iya. Gue lupa, kalau gue ngak pernah penting!"
Usai mengatakan hal tersebut. Arga mematikan sambungan telponnya sepihak. Arga tertawa hambar menertawai dirinya sendiri. Terlalu konyol jika ia berharap kisah yang dituliskan dalam hidupnya berakhir dengan ending bahagia. Sampai di suatu pagi ia terbangun dan kehilangan segalanya, yang paling menyakitkan ia kehilangan pelangi di langit birunya.
"****!" umpatnya memukul kepalanya sendiri.
Arga mengacak rambutnya frustasi. Arga tidak tahu mengapa lagi dan lagi ia tetap menjadi laki-laki bodoh. Terlalu banyak kenangan, terlalu sulit untuk terlupakan. Meski hanya sebatas kenangan, namun itu telah mendarah daging. Walau disakiti berkali-kali, Arga tidak benar-benar bisa membencinya.
*****
Gue mencintai lo melebihi dari yang lo tahu, tapi lo menyakiti gue melebihi dari yang gue kira. Cinta sebodoh itu ya? —Arga.
*****