KinarArga

KinarArga
Kepergian Senja



Nadia membawa Gibran ke UKS. Ia menatap Gibran dengn tatapan iba. Setalah mengompres lembam yang membiru di wajah Gibran dengan ice bag. Ia memeluk Gibran dan memejamkan matanya seerat mungkin. Seakan ia tidak mau melepaskan Gibran sedetikpun itu.


Nadia yang lebih pendek dari Gibran. Membuat Gibran menunduk dan menatapnya dengan heran.


"Ada apa?" tanyanya.


Bukannya menjawab, tangisan Nadia memecah di ruangan tersebut. Gibran berusaha untuk melepasankan pelukan namun Nadia semakin mengeratkan.


"Kamu kenapa? Aku yang babak belur, kenapa kamu yang nangis sih?"


Nadia mendongakkan kepalanya. Dalam jarak yang hanya sejengkal, Gibran dapat melihat kesungguhan dalam matanya.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku ngak mau kehilangan kamu," kata Nadia dengan tetesan air mata yang tak kunjung reda.


Gibran melepaskan pelukan. Lalu memagang bahu Nadia dan menghapus jejak air matanya. Ia mengelus rambut gadis kesayangannya itu.


"Aku ngak akan kenapa-kenapa. Dan kamu ngak akan kehilangan aku."


Nadia menggeleng. Ia tetap merasa khawatir. Baru beberapa menit yang lalu ia melihat bagaimana orang tak dikenalnya memukul Gibran dengn penuh ambisi. Selain Nadia takut dengan hal yang berbaur perkelahian, ia juga tidak terima dengan Gibran yang dipukul tanpa sebab.


"Sebenarnya dia siapa sih?" tanya Nadia dengan nada kesal.


Gibran terdiam sejenak. Lebih tepatnya ia bingung harus menjawab apa. Hanya satu hal yang mungkin menyebabkan Arga marah padanya. Hanya ada satu alasan hingga emosi Arga tidak bisa dikendalikan seperti tadi. Mungkin saja alasan terbesarnya karena hari itu. Hari dimana Arga merasa Gibran pernah merebut sesuatu yang pernah menjadi miliknya.


Flashback on.


Langkah selangkah demi langkah mereka lalui. Kedua tidak saling menatap satu sama lain. Sore menjelang malam, mereka suka sekali berjalan ditepi pantai menanti kehadiran senja. Seorang gadis berkulit putih layaknya warna ketika singkong dikupas, ia menunduk lesu seraya mengikat jari-jarinya sebagai bentuk pelampiasan hati. Sementara Gibran, ia mulai menatap Aza dengan simpati. Ia tahu betul bagamana keadaan hati gadis itu saat ini.


"Masih galau?" tanya Gibran.


Aza mencoba tersenyum. Namun Gibran mengenal jauh sifat Aza. Seperti apapun gadis itu berkata tidak, jika Aza berbohong ia dengan mudah menebak.


Gibran mendekatkan posisi dan merangkul Aza. Mereka selalu seperti ini jika salah satu dari mereka merasa kosong. Dari dulu mereka memegang teguh janji untuk tidak saling meninggalkan. Tugas mereka saling mengingatkan serta saling menjaga.


"Mau nangis? Nangis aja! Bahu gue siap kebanjiran kok!"


Sebenarnya tidak begitu lucu, bahkan juga garing. Tapi Aza tertawa walau tak serenyah tawanya dulu. Ia menonjok Gibran dengan tangan kecilnya.


"Nyebelin!" selanya sambil cemberut.


"Biarin. Yang penting ganteng!" balas Gibran dengan memeletkan lidahnya.


Gibran memecet hidung gadis itu. Semakin Aza yang cemberut makin Gibran dibuat gemas. Setelah beberapa menit mereka berjalan ditepi pantai, hal yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Senja datang membawa kedamaiannya.


"Hey, senja datang!" kata Aza dengan girang.


Kemudian Aza menarik tangan Gibran agar mereka duduk diatas pasir pantai tanpa alas. Wajah gadis itu berseri-seri mentatap langit berwarna jingga. Senja selalu punya bermacam cerita, meski hanya datang sebentar. Tapi biarlah, Aza cukup merasakan kedamaiannya.


"Mau merasakan hal yang lebih nyaman dari menatap senja di sore hari?"


Aza menggeleng dan mengerutkan dahi.


"Emang ada?"


Gibran mengangguk mantap.


"Apaan?"


Gibran merentangkan kedua tangannya dihadapan Aza selebar mungkin.


"Oo cayang, sini peyuuuk aku!"


Tawa Aza memecah mendengar suara Gibran dibuat cedal seperti suara anak kecil yang menggemaskan. Ia tak berfikir panjang melihat Gibran merentangkan tangannya. Lalu Aza melingkarkan tangannya di perut Gibran. Ternyata benar, ada hal yang lebih nyaman dari senja. Meski Aza tidak mengukir cerita senja bersama Gibran. Namun laki-laki itu selalu mampu menjadi menyaingi senja.


"Setidak adil apapun lo merasa dunia pada lo. Lo harus tetap bersyukur, setidaknya lo dikelilingi orang-orang yang sayang sama lo."


Aza tidak menjawab. Kata-kata Gibran berhasil meloloskan air mata yang berusaha ia cegah.


"Gue tau lo kuat. Gue tau lo bisa!" ucap Gibran tanpa berhenti mengelus punggungnya.


"Semua orang sayang samo lo Za, termasuk gue," lanjut Gibran.


Aza cuma diam. Dalam hati yang paling dalam ia membenarkan semua perkataan Gibran. Ia terlalu menuntut kepada Tuhan tentang kehidupan yang sempurna tanpa ia menyadari bahwa kesempurnaan cuma milik Tuhan. Gibran benar, ia dikelilingi orang-orang mencintainya. Hanya saja Aza jarang bersyukur.


Pada detik sama, Arga melihat dengan bola matanya sendiri mereka berpelukan dihadapannya. Tepat pada detik itu membuat kepercayaan yang pernah retak menjadi pecah berkeping. Kini kepingan itu tidak bisa disatukan lagi atau tidak akan bisa diperbaiki walau Arga mencobanya.


Arga bertepuk tangan dengan keras seraya berjalan mengelilingi mereka. Gibran dan Aza tersentak, melepaskan pelukan dan menatap Arga bergantian.


Arga tertawa keras namun setiap orang yang melihatnya juga tahu bahwa tawa tidak selamanya menjadi pertanda bahagia. Setelah dirasa cukup tertawa, Arga memberikan tatapan tajam pada Aza dan Gibran.


"Lo ngapain disini Ga?" tanya Aza keheranan.


Arga memberikan senyuman. Tapi senyumannya berbeda, ia yang tidak sama lagi.


"Kangen sama lo," kata Arga dengan sejujur-jujurnya.


"Jadi ini yang lo bilang mutusin gue tanpa alasan?" lanjutnya. Arga tidak membutuhkan jawaban, ia hanya sekedar bertanya walau ia telah menyimpulkan.


Kerongkongan Aza tercekat, tatapan elang yang Arga berikankan membuatnya kesulitan untuk bicara.


Lalu Arga memandang Gibran. Begitu juga sebaliknya. Keheningan mengisi sesaat. Sampai Aza tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Ia menarik lengan Gibran sehingga mereka kembali berdekatan.


"Ga, ini—"


Kalimat Aza terpotong dengan kalimat yang kemudian menohok.


"MUNAFIK!" potong Arga.


Saat itu, Aza benar-benar kehilangan suaranya. Baru saja beberapa detik yang lalu ia berharap agar Arga dan Gibran berkenalan serta akrab seperti yang ia inginkan. Namun kata-kata itu membuat tenggorokannya tercekat berserta dengan paru-parunya yang kehingan oksigen untuk sesaat.


Terlihat wajah Gibran merah padam melihat Arga yang membentak Aza. Selama ini tidak pernah ada satupun orang yang membentak gadis terkasih itu. Gibran mengambil langkah dan menonjok Arga tanpa aba-aba.


"Jaga mulut lo!!" tegas Gibran tidak terima.


Arga yang meringgis sebentar, pukulan yang Gibran berikan tak sebanding pukulan yang perlahan membobrokkan hatinya. Arga mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Ketika ia membalas pukulan Gibran lebih keras, tonjokannya melayang namun terhenti karena Aza langsung berdiri dihadapannya seolah ingin melindungi Gibran.


Tangan Arga bergetar, kalau ia tidak mencegah tangannya. Mungkin Aza sudah terkapar karena terkena pukulan Arga. Mungkin Arga tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau itu sampai terjadi. Meski gadis itu menyakitinya, Arga tidak mungkin membalas dengan fisik.


"Kenapa lo berhenti? Ayo pukul gue!" kata Aza dengan suara yang lumayan keras.


"Arggh," teriak Arga tapi ia menurunkan tangannya.


"Gue sama lo udah selesai Ga, jadi berhenti mencampuri urusan gue!" kata Aza.


Arga menelan ludahnya. Yang jauh lebih menyakitkan dari pukulan Gibran, untuk pertama kali gadis yang ia cintai semarah itu. Padahal yang lebih pantas marah itu Arga. Yang dibohongi dan terkhianati adalah Arga. Namun Aza berkata seakan-akan Argalah yang salah. Bodohnya Arga merasa sakit seolah membenarkan perkataan Aza.


"Oke, gue harap kali ini pilihan lo ngak salah seperti lo salah memilih gue."


Bersamaan dengan hilangnya senja. Langkah Arga perlahan-lahan membuatnya hilang dari mata Aza. Mata gadis itu berembun, mengkristal lalu jatuh berguguran. Yang membuatnya tenang saat ini cuma pelukan Gibran. Kemudian Gibran mendekapnya dengan erat. Gibran menyayangi Aza melebihi apapun yang ia punya dan ia tidak akan membiarkan satupun orang menyakiti gadis itu.


Flashback off.


"Giban!" panggil Nadia karena merasa terabaikan.


Gibran lalu menatap Nadia yang menggerutu kesal karena ia melamun dan mengabaikan keberadaannya.


"Ngelamunin apa?" tanyanya.


Gibran menggeleng.


"Ngak ada."


Nadia juga tidak bertanya lebih lanjut. Ia menelengkan kepalanya untuk bersandar di pundak Gibran. Sementara Gibran mengelus puncuk kepalanya. Ia tahu berapa Nadia mencintainya. Walau Nadia terbilang pecicilan dan banyak bicara. Gibran tahu cinta gadis itu memang besar dan bukan sekedar omong kosong.


*



Gibran sayang Nadia



Gibran sayang Aza


Cocokan mana,  Gibran-Nadia atau Gibran-Aza?  —Mak Arga.


*