KinarArga

KinarArga
Cowok Aneh vs Cewek Sombong



PEMAIN:



Hallo, kenalin ini Kinara Afifah.  Biasa dipanggil Kinar.  Tapi laki-laki gila biasa memanggilnya "Nona Manis". Yang paling Kinar benci, Arga terlahir sebagai penambah masalah dalam hidupnya.



Hi,  ini namanya Arga Almahendra. Boleh panggil Arga atau dedek gemes. Satu sekolah menganggapnya sebagai orang gila.  Tapi bagi dirinya sendiri. Ia adalah laki-laki berwajah terlalu tampan dan mempunyai hati seperti bidadari.



Kenalin,  ini Kanza Aleanza.  Bisa dipanggil Aza.


Ini sih karakter menurut Aku.  Kalau kalian punya karakter sendiri juga boleh kok😅


Selamat membaca dan Happy reading😇


Salam -emaknya Arga.


*


Seharusnya hari ini adalah hari paling bahagia di hidup seorang Kinara Afifa.  Sebab minggu itu surganya,  ia tidak perlu pergi ke sekolah dan menipu semua orang agar ia terlihat baik-baik saja.  Ia Kinara,  seorang introvert yang merasa dirinya kuat dan tak butuh siapapun. Kinara menyendiri dan tenggelam dalam dunia imajinasinya. Ia duduk di sebuah taman dekat perumahannya, seraya membaca jelih sebuah novel di genggaman. Ia cuma ingin menjauh dari orang-orang itu untuk sementara waktu, dari orang-orang yang mengkhianati percayanya. Dari orang-orang yang mengkhianati  janjinya. Kinara cuma ingin tenang dan tak ingin diganggu. Sampai cowok dari negeri antah berantah menghancurkan segala.nya.


Cowok itu tiba-tiba menghampiri Kinara dengan wajah sekusut pakaian yang belum di setrika.


"Maaf,  gue boleh duduk disini?" tanyanya.


Kinara melirik sekilas, ia tak menjawab dan melanjutkan aktivitasnya.


Karena tidak mendapat respon,  ia menganggkat bahu tidak peduli dan duduk disamping Kinara tanpa persetujuan.


Dalam waktu yang terbilang lama,  dua orang tidak saling bicara.  Sampai cowok kusut itu membuka suaranya yang membahana.


"Aku adalah anak Pak Tomy.  Selalu riang serta gembira.  Karena aku sedang bahagia. Tak pernah buluk ataupun jelek.  Tra-la-la la-la-la-la....Tra-la-la—"


Brak.


Cowok itu menghentikan nyanyiannya setelah Kinara sukses memukul bibirnya dengan novel setebal 500 lembar. Ia menatap Kinara yang menatapnya seperti singa kelaparan.


"Bisa diem ngak sih?!" Sebuah pertanyaan dari Kinara yang sebetulnya adalah perintah.


"Ya Allah Mbak, sakit tau.  Kalau bibir saya yang seksi ini jadi monyong. Mbak mau saya lapor polisi atas tuduhan KDRT?" tanya cowok itu seolah tidak terima.


Kinara mengangkat sebelah bibirnya tinggi karena  pertanyaan yang diajukan tidak masuk akal.


"Cowok aneh!" nyaring Kinara ditelinga cowok itu.


Kinara mengembalikan fokusnya pada novel tanpa berminat menatap lagi.


Tanpa Kinara tahu,  segaris tipis bibir milik cowok aneh itu melengkung keatas. Baginya wajah jutek Kinara memiliki aura yang tidak dimiliki gadis lain. Ia hanya membatin.


"Manis."


"Mbak,  mbak," panggilnya lagi sambil menyenggol lengan Kinara.


"Apa sih?"


"Lagi baca apa?" tanyanya balik tanya.


"Lo siapa nanya-nanya!"


Cowok aneh itu memberikan senyuman terlebar.  Ia mengusap tangannya lalu menyondorkannya pada Kinara.


"Perkenalkan. Saya Arga Almahendra,  anak terlalu tampan dari Ayah Tomy dan Ibu Marissa. Anak terlalu tampan dari tiga bersaudara.  Panggilan cinta,  dipanggil sayang juga bo—"


Brak.


Sepertinya Kinara ketagihan memukul bibir cowok bernama Arga. Sementara Arga hanya meringgis kesakitan menyesali nasibnya.


"Gue ngak tanya biodata lo. Mau nama lo Arga, mau nama lo cinta.  Gue cuma mau lo diem dan jangan berisik!" titah Kinara penuh penekanan.


Arga memanyunkan bibirnya yang terasa sangat pedih. Begitu pula dengan batinnya. Wajah Arga langsung berubah jutek.


"Galak banget, kayak anjing tetangga," batin Arga.


Kinara memberikan tagapan elang.


"Lo ngatain gue kayak anjing?" 


Arga hanya mampu berdecak kagum seraya bertepuk tangan kegirangan.


"Mbak bisa baca pikiran saya? Wah hebat, calon istri idaman. Mau ngak jadi istri saya?"


Kinara menggelengkan kepalanya berkali-kali.  Ia melirik Arga dari ujung kepala hingga mata kaki.  Satu kesimpulan besar yang Kinara tangkap.  Cowok aneh bernama Arga itu gila. Dan Kinara tidak punya waktu meladeni orang gila.


Arga menunduk kecewa.  Padahal ia merasa menjadi cowok terlalu tampan sedunia. Tidak ada satupun yang tidak tertarik pada wajah terlalu tampannya. Tapi ketika semua orang tahu bahwa ia mempunyai otak yang kosong melompong,  mereka lari. Ah,  bagi Arga ini tidak adil!


"Arga," panggilan dari sumber yang berbeda terdengar.  Membuat Kinara ataupun Arga mendongak.


Seorang gadis cantik dengan rambut tergerai panjang memanggil Arga dari jarak yang cukup jauh.  Gadis itu memakai dress selutut. Ia melambai tangan pada Arga. Ketika ia melangkah,  Arga mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Kinara.


Tanpa berfikir panjang, Arga memeluk Kinara dengan erat. Kinara tersentak karena gerakannya begitu cepat dan tak terduga.  Kinara tidak berkutik,  ia terdiam seperti patung. Bahkan nafasnya menjadi tidak beraturan sebab ini adalah pertama kali seorang cowok memeluk Kinara selain Papanya.


"Ga?" suara gadis cantik tadi berubah sendu. Kakinya terasa gontai menahan bobot tubuhnya yang tidak berat.


Arga sengaja mengatup telinganya dengan rapat. Mendengar suara itu membuat sisi hatinya kembali tergores. Ia memejamkam matanya erat seraya tetap memeluk Kinara. Ia tidak ingin menoleh kebelakang,  membuatnya lemah hanya karena satu kedipan mata dari gadis itu.


Disisi yang berbeda jantung Kinara berpacu dua kali lipat daripada biasa. Cowok aneh itu memberikan pelukan yang sangat erat hingga bernafas saja rasanya sangat sulit. Yang bisa Kinara lakukan hanya menatap gadis yang ada dihadapannya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


Sebening kristal pecah dari matanya. Ia mengigit bibir bawahnya ketika melihat Arga berpelukan dihadapannya. Ia tahu, mungkin ia kehilangan hak untuk marah.  Tapi hatinya nyilu dan terasa sangat aneh.


"Arga," sahutnya lagi. Berharap Arga menatapnya walaupun sedetik. "Ini gue Aza."


Namun gadis cantik itu benar-benar telah kehingan hak. Ia bersusah payah menelan ludahnya sendiri. Merasa terabaikan,  ia berbalik dan berlari sejauh mungkin.  Gadis itu tidak ingin menyakiti hatinya semakin jauh.


Hening.


Lengan Arga masih melingkar di tubuh Kinara. Kinara seolah nyaman dalam pelukan yang terasa hangat. Ketika hembusan angin menyentuh wajahnya, ia tersentak dan mengembalikan alam sadarnya. Telak ia mendorong Arga hingga tersungkur ke tanah.


Kemudian Kinara menusuk Arga dengan matanya. Satu hal lagi yang membuat Kinara semakin benci,  cowok aneh itu dengan lancang memeluknya didepan umum.


Arga meringgis kesakitan sambil memeluk tubuhnya. Namun Arga sadar akan perbuatan yang melewati batas.  Ia menyetarakan posisi, bersiap memberikan penjelasan seraya menyatukan kedua tangan sebagai permohonan maaf.


Plak.


Tangan Kinara berhasil mendarat di pipi kiri dan kanan Arga. Sedangkan wajahnya menjadi merah padam,  terlihat gadis itu marah besar.


"Mbak sayakan udah minta maaf,  jangan tampar saya dong Mbak.  Nanti kalau saya ngak imut lagi gimana?" protes Arga.


Kinara menyilangkan kedua lengannya didepan dada.


"Lo imut darimananya?"


"Semua yang ada  di badan saya itu imut Mbak. Dari..." Arga menghentikan kalimatnya sejenak lalu melanjutkan dengan cara bernyanyi. "Kepala pundak lutut kaki lutut kaki...daun telinga mata hidung dan pipi..."


Kinara memperhatikan Arga dengan melongo.  Kini ia semakin yakin jika Arga benar-benar gila.


"Mbak ngapain ngeliat saya kayak gitu banget?"


Pertama,  cowok aneh itu mamanggilnya dengan sebutan yang membuat Kinara dituakan, Kinara tidak suka itu.  Kedua, cowok aneh itu lancang memeluknya tanpa persetujuan, Kinara sangat tidak suka itu.  Ketiga, cowok itu gila dan Kinara membencinya.


"Mbak suka ya sama saya?" tanya Arga kemudian.


"Sembarang bacot lo,  mulut lo bau sampah tau!"


Entah kenapa melihat gadis dihadapannya marah-marah Arga semakin ingin memancing. Ada kebahagiaan tersendiri saat Kinara menatap dengan bola matanya yang khas. Membuat Arga lupa akan gadis yang memanggilnya semenit lalu. Ya, gadis cantik tadi yang sempat meluluh lantakkan hati Arga tentunya.


"Kalau Mbak ngak suka saya, terus kenapa tadi saat saya peluk jantung Mbak dangdutan?" tanya Arga dengan nada yang sangat polos.


Virus merah jambu langsung menyerbu pipi Kinara. Ia seperti tertangkap basah sedang melakukan kesalahan besar.


"Tuh kan, lagi-lagi Mbak terpesona!" sela Arga menunjuk seburat merah di pipi Kinara.


Mood Kinara langsung hilang seketika. Ingin sekali rasanya ia benamkan wajah Arga di kloset wc.  Berhubung Kinara sedang ditempat umum, ia tidak bisa melaksanakan niatnya.


"Lo ngaca! Wajah pasaran aja  ngak dibanggain!" ucap Kinara sambil berlalu.


Arga berteriak heboh.


"Mbak kalau ngomong biasa aja, ngak usah muncrat."


"Mbak jangan marah-marah mulu, ntar manisnya ilang."


"Mbak kalau suka sama saya,  balik lagi aja."


Tepat disaat panggilan ke empat Kinara menoleh.


"Mbak novelnya ketinggalan."


Masih dengan wajah tidak bersahabat,  Kinara melangkah kembali ke arah Arga. Arga menyondorkan novel yang sempat tergeletak diatas kursi, ia memamerkan senyuman sambil mengedipkan sebelah mata.


"Tuh kan saya bilang juga apa. Mbak sebenarnya emang suka sama saya, buktinya Mbak balik lagi. Hayo ngakuuuuu!"


Kinara masih berusaha menahan amarah. Berhubung masih punya hati nurani,  maka Kinara hanya menimpuk mulut Arga dengan novel sehingga berhasil membuatnya terdiam sesaat.


Tanpa berfikir dua kali,  Kinara benar-benar melenggang pergi.


Dan inilah akhirnya.  Mulut Arga terasa doer karena tiga kali timpukan.


Arga mengelus bibirnya dengan sabar. Kemudian ia berucap seolah meratapi nasib.  "Ya Allah...bibir gue kok jadi monyong gini ya rasanya.  Hobi banget tuh cewek nimpuk bibir gue. Sialan,  bibir gue makin seksi! "


*


Arga melongos keluar jendela. Menatap rembulan yang dulu ceria sekarang seakan berduka. Biasanya ia menikmati cahaya rembulan itu bersama si dia. Kini hanya kesunyian yang menemani pada setiap purnama. Tidak ada lagi tawanya, tak ada lagi senyumannya yang membuat Arga selalu bahagia. Namun kenangan bersama gadis itu sering terbayang hingga membuat Arga lelah. Ia ingin melupakan, tapi seperti apapun ia mencoba maka ia tak akan kuat seperti kapal yang oleng di lautan, yang dengan mudahnya sang ombak mempermainkan kapal yang sudah berusaha ke permukaan. Tapi nyatanya kapal itu juga berakhir tenggelam.


Kamu tau ngak kenapa malam ini ngak banyak bintang?" tanyanya pada seorang gadis sambil menatap langit malam.


Gadis itu hanya menggeleng. Lalu menatap Arga dengan dalam.


"Karena mereka cemburu kamu lebih cantik dari cahaya mereka"


Si gadis tersenyum merona, dan memencet hidung Arga "Aku bukan milea, jadi ngak usah kayak Dilan yang kebanyakan gombal. Cukup jadi Arga untuk aku, yang menyayangi dan mencintaiku dengan setulus hatinya."


Arga mengangkat bahu, seakan apa yang ia ucapkan tadi bukan hanya sekedar gombalan. Ia merangkul bahu gadisnya, keduanya saling menoleh.


"Janji ya kayak gini terus?" kata Arga. Seakan Arga takut mereka berpisah.


Si gadis tersenyum dan mengagguk. Rambut si gadis hanya dipermainkan oleh angin pantai. Ia memeluk lututnya dan tapi matanya tak beralih menatap Arga. "Janji!" jawabnya mantap.


Si gadis menelengkan kepalanya dipundak Arga, baginya sandaran itu adalah tempat dimana ia bisa bahagia. Mereka berdua kembali menatap bintang dengan cahaya rembulan yang seakan tersenyum melihat kebersamaan dua insan itu.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Arga, mengembalikan ingatan Arga pada dunia nyata. Ia menoleh kearah pintu.


"Gaa,  dipanggil tuh sama Ibu. Lo ngak makan malam?" tanya Aisyah dibalik pintu.


"Ngak. Males jalan!" jawab Arga sekenanya.


"Mau gue anterin?" ucap sang kakak.


Arga mengangguk walau tak akan ada yang melihat. Perutnya sedang keroncongan, namun kakinya sedang tidak ingin melangkah. Ia merasa terharu atas perhatian Aisyah kepadanya.


"Iya Kak, anterin ya!"


Dengan tidak berdosa, Aisyah menyela.  "Ngak. Males jalan."


"Anterin dong.  Nanti kalau adek Arga sakit karena kelaparan gimana?" rengek Arga seperti anak kecil.


"Bodo, mati lo lebih baik. Daripada hidup nyusain orang."


Arga cuma bisa mendengus kesal karena Aisyah langung pergi.


Kakak sialan.


Sepergi Aisyah, Arga hanya menatap awang-awang kamarnya dengan pandangan kosong.  Ia memukul jidatnya sendiri ketika menyadari satu hal. Ia memeluk Kinara untuk membuat Aza cemburu. 


"Dasar bodoh! Kenapa dia harus cemburu? Harus nya lo tau bahwa dari awal dia hanya main-main."


Diam-diam Arga menyesali perbuatannya siang tadi.


Rasanya Arga ingin marah. Tapi pada siapa? Pada Aza? Untuk apa? Kalaupun ia mau, kenyataannya ia tak akan pernah bisa memarahi gadis itu. Walaupun gadis itu telah melukainya berkali-kali, sampai saat ini perasaannya belum juga berubah.


*