
Kinara berjalan mondar-mandir di kamarnya bagai orang yang kebingungan. Ia tak henti-henti memukul jidatnya dan berusaha untuk mencari solusi. Semenjak kehadiran cowok gila bernama Arga, hidup Kinara semakin buruk. Cowok itu terus membuat ulah, yang menyialkan ketahnya terlempar pada Kinara. Kinara telah melakukan berbagai cara agar bisa menjauh, juga tak akan bosan-bosannya membentak. Namun ia sadar berbicara dengan orang gila itu percuma.
Satu hal lagi yang tidak bisa Kinara maafkan. Arga telah menjatuhkan harga dirinya didepan teman sekelas. Kinara tidak takut pada Arga, tapi ia tidak mau jika cowok itu akan menyebarkan auratnya pada semua orang. Kalau bukan karena Arga diam-diam memotretnya di toilet tadi pagi. Tidak mungkin Kinara dengan senang hati melakukan perintah konyol Arga untuk tidak maju mengerjakan soal yang diberikan Buk Atika. Padahal soal yang Buk Atika beri adalah soal termudah.
Kinara menatap ponselnya dengan ragu. Ia melihat sms Arga berulang kali. Nomor itu masih belum ia save. Ia memang tidak membalas pesan tersebut, namun ia benar-benar menuruti perintah Arga. Tadinya usai istirahat, Kinara berniat melabrak. Tapi setelah menerima hukuman dari Buk Atika, Arga hilang bagai ditelan bumi. Cowok itu tidak masuk kelas sampai jam pelajaran terakhir. Jika cowok itu benar-benar hilang, Kinara berharap cowok itu tidak kembali selama-lamanya.
Setelah dirasa cukup untuk berfikir panjang. Kinara menekan tombol "call" pada nomor menyebalkan tersebut.
Terdengar suara tuuuutt yang berkepanjangan. Jeda mengisi sesaat, Kinara menggerutu kesal karena ia paling benci menunggu seperti ini.
"Hallo?" kata Arga memulai.
"Hapus vidio gue!" kata Kinara to the poin.
"Maaf. Anda siapa?" tanya Arga. Padahal ia tahu suara yang menelponnya barusan milik Kinara. Bukankah bagi Arga Kinara adalah canda? Jadi Arga akan membuat sedikit lelucon walau bagi Kinara cowok itu tidak pernah lucu.
"Gue Kinara!" tegasnya berucap lantang.
Disebrang sana, Arga sedang berusaha menahan tawanya. Kemudian ia kembali berkata. "Eh Nona Manis," katanya dengan berucap pelan. "Ngapain nelpon orang ganteng? Orang ganteng lagi sibuk nih!"
Meski Kinara hanya mendengar suara Arga dan tidak melihat wajahnya. Kinata tetap merasa jijik dengan laki-laki yang tidak tahu malu seperti Arga.
"To the point!" ketus Kinara. "Gue minta lo hapus vidio gue!"
Mendengar permintaan Kinara, bukannya mengiyakan. Cowok itu malah tertawa ngakak. Entah apa yang lucu dan Kinara semakin yakin jika cowok itu memang gila.
"Kalau gue ngak mau gimana?"
"Arga!"
"Iya, apa sayang?"
Kinara mengangkat bibirnya keatas. Ia mengecak rambutnya hingga semakin kusut. Menghadapi orang seperti Arga membuat Kinara darah tinggi diusia muda. Ia perlu menyiapkan stok kesabaran dalam dadanya.
Kinara menghembuskan nafas jengah, lalu ia memelankan suaranya pertanda serius.
"Ga, please.." lirihnya. "Masa lo tega sih nyebarin aurat perempuan."
Dari ponsel, suara Arga bergumam seolah sedang berfikir.
"Mau ngak ya?"
"Gue mohon," kata Kinara memelas.
"Kalau gue mau, lo kasih gue apa?"
Kinara berfikir sejanak. Seharusnya dari awal ia tahu bahwa Arga tidak mungkin menuruti permintaannya. Kalaupun mau Kinara harus mempersiapkan imbalan.
"Apapun!"
"APA?" tanya Kinara sambil melebarkan mata dan telinganya. Ia berharap pendengarannya salah, tapi Arga mengulang kata-kata yang sama.
"Besok lo harus jadi pacar gue!" kata Arga dengan suara yang lebih ditekankan.
Kinara menggeleng, dari awal hidupnya sudah kusut. Sekarang Arga semakin memperkusut hidupnya.
"Ngak mau!" tolak Kinara mentah-mentah.
Suara di sebrang sana meremehkan seolah tidak peduli.
"Suka ngak suka. Mau ngak mau. Lo harus jadi pacar gue!
"Gue ngk-"
"Berani nolak gue, resikonya vidio lo tersebar di grup sekolah."
Sial! Cowok itu memegang kartu As-nya. Kinara mengepalkan jari-jarinya. Ia naik keatas kasur dan meninju guling yang tak berdosa. Kinara tidak bisa apapun selain menuruti perintah cowok itu.
"Jadi mulai sekarang kita pacaran ?"
"Terserah!" pasrah Kinara.
"Oke. Sampai jumpa besok pagi pacar baru. Muachh. Lop yuuu!"
Bukannya senang dan ingin terbang. Kinara jijik setengah mati. Tidak ada pembicaraan apapun lagi. Arga memutuskan sambungan telponnya sepihak sebelum Kinara merespon.
Kinara melemparkan ponselnya sembarang arah. Ia menyesali keputusan bodohnya yang berakhir membuatnya diperbudak. Bodohnya lagi Kinara cuma bisa diam dan menuruti semua permintaan konyol Arga.
"Rasanya gue mau bunuh lo hidup-hidup. Gue mau nyakar-nyakar wajah lo yang menyeleneh itu. Ngiris kulit lo dengan silet. Tusuk-tusuk dada lo dengan pisau. Terus gue bakar. Biar lo mati. Lalu gue karungin dan gue lempar dari atas jurang. Mau lo apa? Kenapa lo selalu mengusik ketenangan gue? Salah gue apa? Sehingga lo ngak berhenti menciptakan masalah dalam hidup gue. Dasar laki-laki gila!"
"Gue sumpahin lo jadi kodok!"
Sayangnya semua permintaan Kinara terlalu gila untuk dikabulkan Tuhan.
*
Ketika Kinara sebelum bertemu orang gila -Mak Arga.
Ketika Kinara setelah bertemu orang gila —Mak Arga.
*