
Pernahkah Arga mengatakan hari yang paling ia benci?
Jika kalian lupa, akan Arga ingatkan sekali lagi. Bahwa ia sangat membenci hari senin. Apalagi hari ini adalah hari dimana ia harus mengikuti apel pagi dengan panas-panasan. Kali ini permasalahannya tidak seperti yang sudah-sudah. Entah apa yang merasukinya hingga ia datang tepat waktu. Dan ia di tuntut harus menjadi petugas upacara.
Seharusnya ia terlambat, namun Ibu membangunkannya terlalu cepat.
Matahari terik menyapa
Arga, ia yang merasa memiliki kulit seperti orang korea kebanyakan. Tidak terlalu mempermasalahkan, walau orang-orang disekitarnya tak pernah beranggapan sama.
Saat pembina upacara dengan hikmat membaca pancasila. Arga dengan asik mempermainkan upilnya dengan jari kelingking.
"Pembacaan Undang-undang Dasar 1945," kata protokol berikutnya.
Arga hanya bengong, tetap hikmat melakukan kegiatan semula. Semua mata tertuju padanya, termasuk guru-guru sambil memegang dahi masing-masing.
Caca yang menjadi protokol menyenggol bahu Arga dan berbisik.
"Ga, giliran lo!"
Arga tersadar dan mengangguk dengan malas.
"Iye iye," jawabnya santai.
Sebelum membaca UUD, Arga memajatkan doa dalam hati. Ia yang merasa menjadi orang paling soleh, harus membaca doa dimanapun ia berada. Namun terkutuklah Arga, ia bengong ketika membuka teks yang ia bawa ternyata bukanlah teks UUD melainkan sampulnya. Ia berfikir mungkin selembar kertas teks undang-undang itu ia terjatuh karena terlalu buru-buru.
"Astoge, kosong! Kayak hati gue!" batin Arga menggaruk telungkuknya.
Sementara semua orang terus melirik Arga tanpa henti. Apalagi Kepsek sialan berkumis tebal menatap tajam. Seakan semuanya meminta Arga untuk memulai.
"Apa yang harus gua baca?" tanya Arga pada dirinya sendiri.
Daripada terus tersalahkan, Arga ingin memulai. Tapi ia lupa teks UUD. Lebih tepatnya ia memang tidak pernah mengingatnya.
"Ga!!!" bisik Caca terus mendesak.
Baiklah, baiklah. Arga tahu ia babang tampan. Tapi tidak usah meliriknya seperti itu juga. Dengan suaranya yang serak-serak basah, akan ia buat senin ini menjadi senin paling bersejarah yang tak akan pernah terlupakan. Tak lama kemudian ia mengeluarkan suara yang ia anggap suara emas.
Semua orang bernafas lega. Namun mereka tertekun mendengarkan ketika Arga bersuara.
UNDANG-UNDANG DASAR PERCINTAAN REMAJA INDONESIA
TAHUN 2020
PEMBUKAAN
Bahwa sesungguhnya jatuh cinta itu ialah hak semua manusia. Dan oleh sebab itu, maka playboy diatas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan periperjanjian dan perikesetiaan.
Dan perjuangan pergerakan laki-laki Indonesia harus sampailah kepada saat yang berbahagia. Dengan selamat sentosa mengantarkan pengantin wanita di pintu gerbang plaminan dihari resepsi, yang sakinah, mawaddah, warrohmah, dunia dan akhirat.
Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan cinta yang bebas maka remaja Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu rumah tangga bahagia yang melindungi segenap cinta remaja Indonesia dan seluruh tumpah darah lelaki setia dan untuk memajukan kesejahteraan keluarga berencana, mencerdaskan anak kita dan ikut melaksanakan janji sehidup semati yang berdasarkan perasaan, hati nurani dan tanpa paksaan. Maka disusunlah kalimat-kalimat percintaan itu di hati para remaja Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan buku nikah Indonesia yang sah dengan berdasarkan kepada persetujuan orang tua, kecintaan yang lahir dan batin, persatuan dua rasa dan pernikahan yang dipimpin dengan hikmat oleh penghulu, serta mewujudkan suatu keluarga bahagia bagi seluruh remaja indonesia.
Setelah Arga usai membaca dengan hikmat. Semua orang menjatuhkan rahangnya ke bawah dan memandangnya dengan tidak percaya. Senin itu tawa semua siswa memecah di sentero SMA Cahaya Pratama. Arga tersenyum bangga karena berhasil menciptakan suasana baru yang lebih mengasyikkan.
Karena Arga upacara itu menjadi apel pagi paling gila yang pernah ada. Karena Arga semua siswa-siswi meledakkan tawanya tanpa malu. Karena Arga, semua guru melebarkan matanya untuk melotot bahkan hampir keluar dari tempatnya.
Pak Armen, sebagai guru PPKN merasa Arga telah mencoreng nama baiknya. Ia orang paling menyesal karena telah menyuruh Arga menjadi petugas upacara. Selain itu, Buk Ela juga tidak terima karena bimbingan yang ia beri pada Arga juga tak berguna. Sedangkan kepsek melotot tajam, terutama pada Arga karena tidak menghargainya sebagai kepala sekolah serta pembina upacara.
Pak Armen dan Bu Ela turun tangan menyeret Arga ke ruang BK. Sementara Arga dengan pasrah mengikuti tanpa merasa bersalah, ia sudah siap untuk di sidang entah untuk yang berapa kalinya.
"ARGAAAAAAA!!!" teriak Pak Armen sambil menggebrak meja.
Arga yang cukup kaget mengelus dadanya dan berkata.
"Sabar Pak, orang sabar disayang Allah."
"Sabar sampai kapan ha? Sikap kamu itu keterlaluan!" bentaknya.
"Ya sabar aja, sabarkan ngak ada batasnya," jawab Arga dengan santai.
"Arga, jaga sikap kamu!" sela Buk Ela dengan tegas.
Arga menyandarkan punggungnya di sofa, meski telinganya terbuka lebar tapi bukan berarti ia menganggap kata-kata mereka penting baginya. Menurut Arga, dengan mereka berkoar-koar akan membuang suara percuma. Karena Arga hanya mendengarkan, namun tidak akan pernah melaksanakan dalam praktik hidupnya.
"Saya tidak pernah mengajarkan kamu mengubah teks UUD Arga!" ucap Pak Armen memulai lagi.
Arga mengangkat bahu tidak peduli.
"Saya kan cuma menghidupkan hak para remaja Indonesia Pak. Salahnya dimana coba?"
"Salahnya, kenapa kamu ngak pernah berhenti bikin ulah!"
Arga melirik Buk Ela. Sepertinya wanita itu memang hobi menyela. Karena apapun jawaban Arga selalu salah di mata nya.
"Saya akan menyudahi masalah ini!" ujar kepsek masuk ke ruang BK tanpa salam.
Arga tidak merubah posisinya, ia tetap bersikap santuy luar biasa. Arga menyilangkan lengannya didepan dada seraya meletakkan kaki kanannya diatas kaki kirinya.
"Arga, ini buat kamu!" kata kepsek dengan tenang seraya menyondorkan sebuah amplop berwarna putih.
"Maap Pak kepsek, cinta Bapak bertepuk sebelah tangan. Jadi tolong ngak usah kasih saya surat cinta, karena saya ngak akan balas cinta Bapak," rileks Arga tanpa dosa.
Pak Armen memijit jidatnya dengan jari. Buk Ela angkat tangan menyerah, tidak mau lagi berurusan apapaun yang bersangkutan dengan Arga. Mau sekeras apapun ia berusaha untuk membimbing Arga, anak itu juga tidak akan berubah.
Pak Kepsek malas berdebat, lagipula adu mulut dengan anak labil seperti Arga tidak akan ada untungnya.
"Mulai hari ini kamu saya bebaskan dari peraturan. Silahkan, gerbang sekolah terbuka lebar untuk kamu."
"Maksud Bapak?" tanya Arga sok polos.
"Kamu saya keluarkan!" kata Pak Kepsek meninggikan nadanya.
"Oh, ya udah. Makasih ya Pak," kata Arga.
Kemudian Arga mengambil surat yang disondorkan. Arga menyalami punggung tangan gurunya satu persatu. Ia tersenyum senang, akhirnya setelah sekian lama surat itu akhirnya datang. Mungkin lebih baik ia keluar dari sekolah ini. Sebenarnya tidak lucu jika Arga dikeluarkan dengan alasan karena salah membaca undang-undang. Namun perlu diketahui bahwa kesalahan Arga bukan itu saja. Dan semua kesalahan-kesalahan itu sudah tidak bisa ditolerir.
*
Saat gue lagi polos-polosnya. Btw, abaikan yg belakang, fokus sama Abang😉 —Arga.
*