KinarArga

KinarArga
Terlihat Kuat



Hari yang paling dibenci Arga adalah senin. Karena senin merupakan hari yang membuatnya harus terkena masalah. Di hari ini ia kadang terlambat. Ralat, selalu terlambat. Di SMA Cahaya Pratama Arga paling rajin mendatangi ruang BK.


Hari ini Arga juga terlambat. Namun baginya semua adalah hal kecil yang tidak perlu dipikirkan. Jika  menginginkan hidup tentram, maka segeralah menjauh dari jelmaan makhluk astral seperti Arga.


Arga turun dari pagar dan berhasil melompatinya. Ia menyergap-nyergap sambil memandang ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang memergokinya. Berjalan seperti seorang maling yang tak kedengaran injakan sepatunya.


Sesaat kemudian Arga terhenti karena ada seseorang yang memegang pundaknya dari belakang. Arga memamerkan senyuman paling manis menurutnya ketika Buk Maya menatap garang sambil memegang kerah seragam Arga dari belakang, bagaikan menenteng seekor anak kucing.


"Eh Buk Cantik, makin cantik aja Buk. Oplas ya?" kata Arga memberikan seringai lebar. Dibalas dengan plototan paling lebar milik Buk Maya.


"Sembarang kamu. Mulut kamu tolong di sekolahin ya!"


Arga melipat kedua tangannya didepan dada seraya memegang dagu dengan pose berfikir.


"Kalau mulut saya pergi sekolah, terus gimana caranya saya ngomong. Ih, Ibuk guru tapi kok **** sih!"


"Ngejawab aja terus!"


"Lah kan Ibuk nanya, ya saya jawab dong. Salahnya dimana coba?"


"Salahnya kenapa saya harus ketemu orang seperti kamu!!"


"Jangan-jangan kita jodoh?"


"Arga!" geram Buk Maya mempertinggi nadanya.


Arga tertawa garing. Ia menyeringai jahil lalu mencolek pipi Buk Maya dengan genit.


"Apa sayang?"


"Kamu saya hukum! Keliling di lapangan seratus kali putaran!!"


Arga memasang ekpresi seakan mendapatkan cobaan paling berat dalam hidupnya.


"Apa salah dan dosaku sayang? Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka hukumlah dirimu sendiri mengapa kamu terlalu cantik, " kata Arga sedramatis mungkin.


Buk Maya memang memiliki wajah yang cantik. Ia juga wanita single. Wajar saja banyak siswa yang suka menggodanya. Namun Buk Maya bukanlah orang tepat untuk diajak bercanda.


Buk Maya melangkah maju, ia mengambil gerak cepat untuk menjewer telinga Arga. Buk Maya adalah guru BK, ia adalah guru paling killer di SMA Cahaya Pratama. Tapi Arga adalah siswa paling gila yang membuatnya kewalahan.


"Ahh, sakit sakit Buk," desis Arga mengelus-elus telinga.


"Ngelawan lagi kamu?" tanya Buk Maya dengan nada menantang.


"Maap Buk, Baim cuma becanda," katanya nyengir kuda.


Buk Maya melepaskan jewaran itu. Lalu mengelus dada. Jika berhadapan dengan Arga, ia harus menyiapkan banyak stok kesabaran jika tidak ingin terkena serangan jantung di usia muda.


"Sekarang ikut saya!" Buk Maya menarik lengan Arga secara paksa.


Arga menggeleng histeris, seakan-akan ia takut jika Buk Maya akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan kepadanya.


"Jangan Buk, saya masih SMA," jawabnya sambil membuat beberapa orang yang kebetulan disana melirik aneh.


Dengan tidak mengubris kata-kata Arga. Buk Maya semakin menarik lengan Arga secara kasar. Ia sudah melakukan berbagai cara agar anak itu bisa berubah, namun nyatanya. Semakin Buk Maya berusaha, anak itu malah semakin menjadi kembaran setan.


"Ngapain Buk Maya bawa saya kesini?" tanya Arga menyapu pandangannya ke sekeliling ketika Buk Maya membawanya ke lapangan.


"Nari balet!" ketus Buk Maya. "Ya keliling lapangan seratus kali lah!!" lanjutnya membenarkan.


Arga memasang eskpresi sedih.


"Mending nari balet Buk dari pada keliling lapangan. Nanti kalau saya item gimana?"


Buk Maya berkecak pinggang, kesabarannya sudah sampai diubun-ubun. Tapi sebagai seorang guru yang baik, ia masih berusaha sabar.


"Kamu pikir kamu putih?"


"Saya pikir iya."


"Saya pikir tidak!"


Arga memicing ke arah Buk Maya, pandangannya meremehkan jawaban Buk Maya. Seolah menyalahkan jika mata Buk Maya salah.


"Saya tahu saya ganteng, hanya saja Ibuk terlalu malu untuk mengakuinya!"


"SEKALI LAGI KAMU NGOMONG. SAYA LEMPAR SEPATU SAYA DI MULUT KAMU!"


Arga langsung membungkam mulutnya. Sepertinya Buk Maya sudah hilang kesabaran meski memiliki stok kesabaran tersimpan banyak. Berhadapan dengan Arga membuat darah tingginya menjadi naik.


"Mau bantah lagi?" tantang Buk Maya dengan wajah segarang mungkin.


Wajahnya yang cantik kini perlahan luntur akibat suka marah-marah. Dan penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah Arga.


Arga hanya menggeleng. Ia yang merasa menjadi siswa paling baik yang memiliki hati seperti bidadari. Menjadi tidak tega jika Buk Maya stuck karena tingkahnya. Ia diam, lebih tepatnya karena merasa terlalu baik.


"Sekarang lakukan perintah saya! Keliling lapangan seratus kali!"


"Ta—"


"Tidak ada bantahan!" putus Buk Maya sebelah pihak. "Kalau kamu ketahuan kabur, akan saya gandakan hukumannya." ucap Buk Maya secara tegas, lantang, dan menekankan.


Membuat Arga hanya melongo mendengarkan seksama. Ia mengelus-elus dadanya. Setelah itu Buk Maya meninggalkan Arga di lapangan sendirian dengan hukuman yang sudah paling pantas.


"Gini amat jadi cowok, serba salah. Dasar cewek, merasa paling bener!" gerutunya dalam hati dan melanjutkan hukuman dengan sangat-sangat terpaksa.


*


Sementara disisi lain, seorang gadis cantik hanya memperhatikan Arga yang berlari tak henti-hentinya untuk mengelilingi lapangan. Ia menatap laki-laki itu dengan sendu. Ia tahu bahwa Arga bukanlah pelajar yang baik, namun dulu ia juga tidak seburuk itu.


Aza merasa ia adalah penyebab dari perangai Arga yang semakin menjadi. Laki-laki itu tidak peduli akan sekolah. Merokok, bolos, berkelahi itu sudah menjadi aktivitas rutin yang tidak pernah terlupakan. Jika Arga terus saja seperti ini, Aza khawatir laki-laki itu tidak akan naik kelas.


Flashback on.


"Selamat Ulang Tahun Arga.." ucap Aza pada suatu hari.


Arga tersenyum bahagia. Kupu-kupu di hatinya berterbangan seking senangnya. Ia merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia ini karena memiliki Aza.


"Kamu udah ngucapin itu untuk yang ke kesepuluh kalinya!" kata Arga memberi tahu.


Aza menggaruk telungkungnya, menghilangkan rasa gugup yang sedang melanda.


"Biar aja," jawab Aza menjulurkan lidah.


Aza asyik memamain-mainkan kue yang sudah di tiup oleh Arga. Arga memperhatikan tinggah Aza dengan nyaman. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan untuk memperhatikan Aza lebih dalam.


"Ngapain ngeliat aku kayak gitu?" tanya Aza sambil mengangkat dagu.


"Cuma mau bilang, tadi surga kehilangan bidadarinya. Ngak taunya ada disini," puji Arga sambil mengangkat kedua alisnya dengan tatapan menggoda.


Aza tersenyum hambar. Ia mengalihkan pandang. Ia tidak terlalu memperdulikan gombalan Arga seperti biasa. Ia asyik mencolek-colek kue dengan pisau yang ia mainkan.


Awalnya Arga merasa biasa. Namun ia sadar jika tatapan itu berubah.


"Kamu kenapa?"


Aza diam. Lebih tepatnya melamun, tidak mendengarkan Arga.


"Za!"


Aza tersentak, mendongakkan kepalanya menatap Arga. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia ragu untuk mengutarakan keinginannya.


"Kamu kenapa?" ulang Arga menanyakan hal yang sama.


Aza menarik nafas kasar. Setelah berfikir panjang, akhirnya ia menjawab.


"Aku mau putus."


Hening sesaat.


Kemudian suara laki-laki itu menggema di Kafe favorit mereka tersebut. Ia tertawa lepas menatap Aza dengan eskpresi yang gadis itu tunjukkan.


Aza menyergit heran.


"Hahaha, prank kamu cemen amat. Ngak ada yang lebih asyik apa!" sela Arga meremehkan.


Aza menggelengkan kepalanya berkali-kali. Lalu memberanikan diri menjawab.


"Aku serius."


"Kenapa?" tanya Arga sarkastik.


"Maaf, perasaan aku berubah," jawab Aza.


Tak hal yang lebih menyakitkan dari ini. Kata-kata gadis itu dengan mudah lolos keluar dari bibirnya yang mungil. Tanpa ia berfikir lebih dahulu ada seseorang yang tertusuk dengan kata yang ia pikir sederhana. Tapi tidak bagi Arga.


"Jadi ini kado sweet seventeen dari lo?" tanya Arga mengubah nadanya menjadi sinis. Saking tak sukanya ia langsung mengganti panggilan aku-kamu yang biasa mereka gunakan.


Aza diam. Ia tidak bisa menjawab apapun. Ia bahkan tidak berani menantang mata Arga yang nyalang terbuka.


"Bisa kasih gue satu alasan kenapa lo mutusin gue?" ucap Arga berusaha tenang, meski kemarahannya bergejolak.


"Gue cinta lo sama lo tanpa alasan. Jadi putus juga ngak butuh sebuah alasan kan!" kata Aza tanpa merasa bersalah.


Aza yakin ini adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, mungkin untuk semuanya.


Arga memiringkan senyumannya. Beberapa menit lalu ia baru saja mengucap cinta dengan syahdu pada gadis dihadapannya. Ia baru saja mengucapkan make a wish kepada Tuhan agar mereka bersama. Tidak hanya untuk hari ini, tapi untuk selamannya. Namun gadis yang ia pikir lugu ternyata mampu menjatuhkan harga dirinya seperti ini.


"Gua tanya sekali lagi, lo serius dengan ucapan lo?" tanya Arga dengan nada yang semakin tinggi.


Laki-laki itu masih berharap gadis yang ia cintai menjawab tidak. Sayangnya harapan terlalu jauh dari kenyataan yang ada. Gadis itu menggangguk mantap dan tak menyesali keputusannya.


"Oke, kalau itu mau lo. Semoga lo bahagia," kata Arga berlalu meninggalkan Aza disana.


Arga terlihat kuat. Seakan kata-kata Aza tidak berefek apapun padanya. Ia bukan orang yang ekspresif yang bisa menyesuaikan ekspresi dengan hatinya. Namun tak ada yang tahu ia berjalan semakin jauh, berusaha memendam perasaannya dalam-dalam. Berusaha menelan setiap kalimat pahit yang gadis itu lontarkan. Langkah itu semakin lama semakin jauh, ia berjalan membelakangi untuk menutupi sisi hatinya yang rapuh.


Flashback off.


"Lo pintar membohongi semua orang Ga. Tapi gua tahu, lo ngak sekuat itu!" kata Aza meski Arga yang ada di lapangan dan tidak bisa mendengar suaranya.


*



Happy Birth day Arga —Aza.


*


Usai mandi, Kinara mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Ia menatap wajahnya di cermin dengan seksama. Wajah itu terlihat sangat kaku. Ia lupa kapan terakhir kali ia tersenyum. Yang ia tahu kebahagiaannya telah memudar sejak dihari orang yang paling ia cintai pergi dari hidupnya. Tanpa kabar, tanpa pamit, seolah Kinara bukan hal penting baginya. Suara tangisan Kinara di malam hari, juga tak menghasilkan apapun. Termasuk membuat seseorang yang ia harapkan untuk pulang kembali.


"Papa mana Bi?" tanya Kinara setelah keluar dari kamarnya.


Asisten rumah tangga, yang bernama Ijah itu terdiam sesaat seperti orang linglung yang bingung harus  menjawab apa. Kinara mengangkat dagu meminta jawaban, lalu Bi Ijah menjawab dengan hati-hati agar majikan mudanya tak tersinggung.


"Ke Bandung non. Katanya ada proyek penting yang harus diselesaikan."


Kinara menarik nafas kasar, ia sudah terlanjur bosan dengan sikap Papanya yang juga tak berubah.


"Pentingan proyek atau Kinara?" tanya Kinara sarkastik.


"Non—"


"Ngak usah ngebela, Kinar ngak suka!"


Bi Ijah berhenti berkutik. Takut semakin memperburuk mood Kinara yang sudah buruk. Ia memang seorang pembantu, tapi ia tahu betul sifat Kinara. Anak itu paling tidak suka disela.


Garis tipis yang terbentuk dibibir Kinara semakin tipis. Ia berkata santai, seakan apa yang ia ucapkan adalah hal yang wajar.


"Oh ya Bi, kalau Papa pulang. Tolong bilangin ya. Kinara saya sayang Papa, dan bagi Kinara uang bukan segalanya."


Sebelum Bi Ijah sempat mengubris. Kinara lebih dahulu melangkahkan kaki ke mobilnya. Lima menit kemudian mobilnya melaju menembus jalan membawa sepeparuh hatinya yang terluka. Ia hanya sedang memainkan peran yang tuntut oleh takdir. Namun Kinara tidak terlalu pintar untuk memerankan tokohnya. Ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja, meski sebenarnya tidak.


Kinara sempat berfikir. Jika takdir membuat keberadaannya terabaikan. Untuk apa ia dilahirkan? Bila sekarang semua orang hanya sibuk pada urusannya masing-masing, mungkin lebih baik dahulu tidak ada kata-kata yang mengatakan jika kedatangannya adalah sumber kebahagiaan. Pada akhirnya kalimat itu tenggelam layaknya omong kosong.


Kinara menggas pedal motornya dengan penuh ambisi. Jalanan sepi, Kinara tidak peduli akan kecelakaan yang nantinya menimpanya. Kalaupun ia mati mungkin lebih baik.  Setidaknya dengan Kinara mati ia tahu berapa sedikitnya orang yang menginginkannya tetap hidup.


Namun apa yang selalu Kinara harapan tidak pernah disetujui oleh Tuhan. Bukannya Kinara yang mati, malah ia tak tak sengaja menabrak seseorang pengendara motor.


"Ya ampun, gue nabrak orang!"


Kinara mengrem mobilnya mendadak. Ia tersentak dengan nafas yang tidak seirama. Dari kaca mobilnya ia melihat pengendara itu jatuh tergeletak diatas apal.


"Ya Allah semoga tuh orang masih idup!"


Untuk memastikan parah atau tidaknya, Kinara keluar dari mobil sekalian untuk meminta maaf dan bertanggung jawab.


"Mas, maaf mas. Saya ngak sengaja," ucap Kinara membantu pengendara itu untuk berdiri.


Pengendara motor meringgis kesakitan. Lengannya juga tergores. Tapi sebagai seorang laki-laki itu bukan masalah besar.


"Iya ngak papa," jawabnya tanpa menoleh.


Laki-laki itu membenarkan posisi motor ninja merahnya agar dalam keadaan semula. Detik berikutnya ia menoleh tanpa membuka helm. Laki-laki itu berkerut samar saat mengenali wajah Kinara. Kemudian ia membuka kaca helm yang ia pakai.


"Elo?" katanya pada Kinara.


Meski laki-laki itu mengenali wajahnya dengan cepat. Namun Kinara masih berfikir panjang ketika melihat wajah pengendara motor yang ia tabrak. Wajah itu cukup familiar, namun masih sulit terkenali.


Laki-laki bernama Arga itu celingukan harus bersikap bagaimana. Masalahnya, pertemuan pertama dengan gadis dihadapannya ini tidak baik. Kini mereka bertemu lagi tanpa membuat janji.


Apakah Arga harus meminta maaf atas kesalahannya kemarin saat dipertemuan pertama?


"Hi nona manis," sapa Arga sambil melambaikan kedua tangannya.


Kinara memicing tidak mengerti.


"Masih ingat saya?"


Kinara menggeleng. Ia benar-benar lupa dengan laki-laki itu. Walau mereka seperti pernah bertemu, Kinara belum menemukan jawaban jelas.


"Perkenalkan nona, nama saya Arga Almahendra. Cowok paling tampan sedunia. Laki-laki berwajah preman namun hati beriman. Satu lagi yang pastinya, cowok dihadapan nona ini rajin menabung dan tidak sombong. Apakah nona berminat? Jika iya silahkan hubungi nomor yang tertera dibaw—"


"Argggh, sakit sakit," rigis Arga mendapati Kinara yang memukul lengannya dengan sadis.


"Baru ingat gue, ternyata elo!" bentak Kinara menyesali keputusannya mengapa ia harus menolong cowok itu.


Kalau Kinara tahu, lebih baik ia menginjak Arga dengan motornya sampai mati.


"Dasar laki-laki gila!"


"Ha? Saya Arga, bukan Mila!"


Laki-laki itu membuatnya semakin kesal. Kinara menentang matanya. Dengan berkecak pinggang ia bertanya.


"Lo waras?"


"Saya Arga, bukan Laras!"


"WARAS WOI WARAS!!!!" ucap Kinara membenarkan. Ia semakin geram karena Arga yang tak nyambung diajak bicara.


Arga mengangguk-angguk, ia merasa cukup menjadi pendengar yang baik. Walau headset yang menempel ditelinganya belum ia lepaskan.


"Ohhh.. Beras? Maap nona saya ngak jual beras!"


Emosi Kinara hampir meledak. Arga bukan hanya nyebelin, tapi ia juga budeg setengah mati. Kinara bergidik ngeri saat membayangkan kotoran yang ada dalam telinga Arga hingga menyebabkan pendengarannya tersumbat.


Kinara melirik jam yang menunjukkan hampir pukul tujuh. Daripada membuang waktunya percuma, Kinara berbalik arah dan memasuki mobilnya dengan kesal.


"Dasar cowok stes. I hate you," ucap Kinara dengan nada diatas rata-rata.


Arga melambai-lambai sambil memberikan ciuman jarak jauh.


"I Love you too nona manis."


Walau Arga tidak benar-benar serius. Namun ia akui nona itu memang memiliki wajah yang cukup manis. Kurangnya cuma senyum.


Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Bukankah Kinara sudah bilang jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan? Kalimat "I Hate You" yang Kinara ucapkan dengan mudahnya suatu hari nanti akan menjadi bomerang bagi dirinya sendiri. Walau ia bersumpah akan membenci Arga mulai detik ini. Maka detik ini juga akan menjadi sejarah yang akan Kinara sesali karena telah bersumpah.


*



Nanas ya —Orang ganteng.


*****