KinarArga

KinarArga
Berbohong saja



Arga sedang berlari menghindari kejaran Pak Satpam yang melihatnya manjat pagar belakang. Kebiasaan lamanya terulang lagi, walaupun ia anak baru. Bukan berarti ia akan menjadi anak baik. Arga tetap Arga, yang namanya Arga tidak akan mungkin melupakan pagar belakang sekolah. Ia rindu pagar belakang SMA Cayaha Pratama, karena pagar itulah yang merelakan dirinya supaya Arga tak terhukum. Maka walaupun ia tidak terlambat hari ini, Arga mem-flashback masalalunya. Terkadang kenyataan selalu berbanding terbalik dengan keinginan seseorang. Seperti Arga, kekonyolannya malah menyebabkan ia terkena masalah karena dikira terlambat.


"Pak, istirahat dulu Pak. Saya cepek!"


Nafas Arga terdengar memburu. Ia memegang lututnya dengan nafas yang berkejaran.


"Kamu ikut saya ke ruang BK!" kata Pak Satpam berkecang pinggang dihadapan Arga.


"Pak, berapa kali saya bilang. Saya ngak terlambat!" elak Arga. Ia heran saat ia berbohong, semua orang akan percaya. Tapi saat ia berkata jujur tidak ada yang percaya padanya.


"Kalau kamu ngak terlambat, ngapain kamu lewat dipagar belakang?"


"Bapak sih ngak ngerti. Pagar belakang itu udah kayak pacar saya Pak. Dia yang selalu melindungi saya dari para guru yang tidak punya hati mengukum saya seganteng ini. Dia selalu yang membantu saya saat Pak Satpam dengan kejam menutup gerbang. Dan cuma pagar belakang yang mengerti perasaan saya," ucap Arga drmatis.


Tak satupun kalimat Arga dapat dicerna dengan baik oleh Pak Satpam. Laki-laki berkepala gundul itu bertambah bingung dengan curhatan Arga yang tak berfaedah.


"Ngomong apa sih kamu? Dibilang bucin, tapi gesrek juga otaknya," cela Pak Satpam menatap sinis. Ia menarik lengan baju Arga dengan kasar.


"Jangan bawa saya ke ruang Bk dong Pak. Saya anak baru Pak," kata Arga memesang puppy eyes dengan wajah memelas.


Seperti apapun Arga memohon, Pak Satpam tetap teguh pendirian.


"Kalau tau anak baru, ngapain nyari masalah?"


Arga menggaruk tejungkuknya dan berkata. "Saya ngak cari masalah. Tapi kalau masalah yang cari saya, saya bisa apa?"


Pak Satpam tidak menjawab. Sepertinya ia mulai sadar jika otak Arga setengah waras. Setengahnya lagi di ragukan terkena gangguan kejiwaan.


Arga mengeluarkan permen karet dari sakunya dan menyondorkan didepan Pak Satpam. "Saya kasih cangcimen mau?"


Pak Satpam memberikan plototan lebar. "Kamu kira saya anak TK yang disogok pake permen?" bentak Pak Satpam tapi ditanggapi dengan enteng.


"Yeilah, sayakan cuma nawarin. Kalau ngak mau buat saya aja." Lalu Arga memasukkan permen karet itu kedalam mulutnya.


"Saya sarankan bapak konsultasi ke Dokter deh Pak," ucap Arga menyarankan, membuat Pak Satpam menjadi heran.


"Untuk apa?"


Dengan tidak berdosa Arga menjawab. "Kayaknya Bapak ngak normal deh. Firasat saya Bapak pms!"


Karena terlanjur geram, Pak Satpam menjitak kepala Arga dengan keras. Anak ini memang tidak tahu sopan santun sama sekali.


"Kamu kira saya cowok apaan?" bentak Pak Satpam dengan amarah yang semakin menjadi.


"Bahkan saya mengira Bapak bukan seseorang laki!"


Pak Satpam mengertakkan giginya. Ia sudah tidak tahan lagi dengan Arga yang berani mencaci makinya. Ia menarik lengan baju Arga semakin keras untuk di bawa ke ruang BK.


"Astaga!!!!!" teriak Arga membuat Pak Satpam menghentikan langkah karena terkejut.


"Kamu kenapa?"


Arga menutup mulutnya seolah diharapannya adalah sesuatu hal yang baru. "Ya ampun Pak, rambut Bapak ilang!!" katanya dengan sedramatis mungkin melebihi drakor.


Seakan takut dengan kata kehilangan yang Arga ucapkan. Pak Satpam melepaskan tarikannya dan langsung memengang kepala untuk memastikan kata-kata Arga. Pada detik itu juga, Arga memanfaatkan kesempatan segara kabur dari sana.


Pak Satpam menepuk jidat menyadari kebodohannya sendiri. "Aduh, bodoh. Saya kan emang ngak punya rambut!" Kemudian dengan ambisius ia mengejar Arga.


Kalau Pak Satpam berhasil menangkap Arga, maka ia bersumpah akan menjadikan Arga kue adonan. Anak itu harus dikasih pelajaran.


"Ampun deh, gue dikejar mimi peri!"


Arga celingak-celinguk mencari tempat persembunyian. Ia tidak mau laki-laki berkepala botak itu juga akan menjadikan kepala Arga ikut gundul jika ia tertangkap.


Sampai mata Arga mendapati toilet disampingnya. Ia bergegas masuk tanpa melihat tertera simbol wanita disana. Setelah merasa cukup aman, Arga bernafas lega dan mengelus dadanya. Sepertinya Tuhan begitu menyayangi orang ganteng sepertinya, karena Tuhan masih membiarkannya berwajah genteng walau keringat sekalipun.


Suara ganggang pintu salah satu toilet dibelakang Arga terdengar. Saat Arga menoleh, ia memegang jantungnya yang hampir copot karena teriakan seseorang yang luar biasa aduhai.


"Astaga, gue kira setan!" ucap gadis itu saat menyadari kehadiran Arga.


Arga melihat gadis itu dari ujung kaki sampai kepala. Kinara memakai baju olahraga dengan seragam putih abu-abu yang ia penggeng didepan dadanya.


"Lo ngapain ada disini?" tanya Arga keheranan.


Justru pertanyaan itulah yang ingin Kinara ajukan. Dan pertanyaan itu lebih pantas ditanyakan kepada Arga.


"Lo yang ngapain disini? Ini toilet cewek! Lo waria?" kata Kinara beruntun.


Mendengar ucapan Kinara, Arga segera mencari simbol yang biasa tertempel di ambang pintu. Arga cengengesan ketika mengetahui ia yang salah.


"Heh, lo belum jawab gue. Ngapain disini?" tanya Kinara tetap sinis.


Arga dibuat bingung sendiri. Kalau ia bilang sedang bersembunyi. Maka Kinara adalah orang pertama yang akan menjerumuskan Arga ke ruang BK. Serta laki-laki botak yang dicurigakan sedang PMS itu akan menjadikan Arga sambal ulegnya. Dan Arga tidak mau jika Kinara menghancurkan reputasinya sebagai orang ganteng.


"Lo budeg? Lo ngapain ada di toilet cewek?"  tanya Kinara curiga.


Arga tak punya pilihan lain selain menjawab. "Ngintipin lo!"


"APA?"


"Ngintipin lo!" ulang Arga dengan nada seolah itu bukan kesalahan besar.


Terlihat wajah Kinara menjadi merah padam. Emosi didalam dadanya hampir meledak. Ia menatap Arga bagai binatang buas yang kelaparan. Dengan penuh ambisi, Kinara memukul Arga menggunakan sikat wc yang ada disana.


"Kurang aja lo, cowok brengsek. Dasar cowok ngak punya otak!!!"


Pukulan Kinara terhenti saat Arga berhasil menghindari pukulannya karena melindungi tubuhnya dengan cara memegang sapu yang lebih panjang.


"Astagaaa, Kinara Kinara," gelengnya semakin suka melihat Kinara penuh amarah. "Walaupun dari luar tubuh lo kayak pensil 2B. Tapi dari dalam, Masyaallah.. Ternyata nikmat Tuhan itu emang nikmat."


Kinara minumpuk wajah Arga dengan sikat wc. Semakin Kinara geram, semakin Arga bersenang hati.


"Cowok mesum lo!"


Arga mengelus-elus kepala, tersenyum genit kepada Kinara. "Oh ya, gue tadi vidioin juga loh!"


Kinara kembali melebarkan matanya bahkan yang Arga takutkan akan melomat dari sarangnya.


"Anjing!!!"


Arga telah melewati batas. Arga telah mencoreng nama baik berserta harga dirinya. Sampai kapanpun Kinara tidak akan pernah memaafkannya.


"Hapus sekarang juga!!" perintah Kinara lebih galak dari anjing yang menggonggong.


"Kalau gue ngak mau gimana?"


"Gue akan kaduin lo ke guru BK. Gue pastiin dalam semenit lo keluar dari sekolah ini!"


"Owww, adek takut!" kata Arga bersikap unyu tapi nyebelin di mata Kinara.


"Kaduin aja kalau ngak sayang nyawa. Berani lo sebut-sebut nama gue ke BK, gue juga akan berani menyebarkan vidio lo yang sedang ganti baju dengan manja."


Kata-kata Arga sukses membuat Kinara bungkam dengan emosi yang menumpuk banyak. Namun tak ada yang bisa ia lakukan selain menyimpan amarahnya.


"Bye bye, Nona Manis. Bang toyib merantau mencari sesuap nasi dulu ya," ujarnya ngaco seraya melambai-lambai kepada Kinara.


Kinara mengepalkan tangannya erat. Sekarang gantian, biasanya Arga yang ditinggal Kinara lebih dahulu. Tapi kali ini terbalik. Kinara memandangi punggung cowok berotak mesum itu sampai hilang tak tersisa. Apa Arga bilang, semua orang akan lebih percaya padanya ketika ia berbohong. Maka akan lebih baik ia selalu berbohong agar semua orang percaya, termasuk Nona Manis.


*****



Kalau gue jujur lo ngak percaya, kalau gitu gue boong aja.  Gue benci lo Ra! —Arga.


*****