
Berada di dalam bar. Taehyung kembali meneguk gelas yang telah disugukan dihadapannya oleh pelayan bar, bukan karna sedang ingin bermabuk-mabukan ria. Taehyung justru tidak pernah bisa meminum minuman alkohol itu sama sekali, toleransinya terlalu rendah terhadap alkohol, dan Taehyung membenci dirinya sendiri karna hal itu. Karna terkadang orang lain bilang alkohol itu dapat melupakan segala rasa sakit yang tengah kita rasakan. Dan Taehyung sangat ingin sekali melupakan segalanya, kalau bisa mencuci otaknya sekalian.
Sesaat baru akan kembali meneguk lagi, tangan Taehyung tercegat, seseorang tengah menghentikan pergerakan tangannya. "Hentikan itu, Tae!" cetus orang itu seraya juga mengomeli Taehyung.
Taehyung tersenyum getir saat menoleh, tentu ia sangat mengenali suara siapa itu, dan siapa orang yang tengah mengganggunya kini.
Seorang wanita yang terlihat begitu anggun berada tepat di samping kanan Taehyung, dengan balutan pakaian wanita kantor yang membuatnya terlihat semakin anggun--rok hitam, kemeja peach lalu blazer putih yang menjutai hingga selutut. Seorang wanita yang telah berhasil mencuri hati Taehyung begitu saja tanpa ada keinginan untuk bertanggung jawab, setidaknya untuk mengembalikannya atau setidaknya membalas perasaan Taehyung seutuhnya, membuat Taehyung merasa begitu frustasi karnanya.
"Darimana kau tau aku disini?" tanya Taehyung terdengar seperti dirinya telah mabuk, tidak Taehyung belum mabuk, tidak sepenuhnya mabuk karna bahkan Taehyung terus memuntahkan apa yang ia telah teguk sejak tadi.
Hanya saja, Taehyung ingin diperhatikan. Terutama oleh wanita dihadapannya ini.
Wanita itu berdecak. "Ayo kita bicara!"
Malas, tanggapan Taehyung begitu sangat malas. Tentu, karna pembicaraan mereka tak akan pernah berujung sesuai dengan ekspetasi keinginan Taehyung. "Tidak mau." jawab Taehyung lalu kembali mencoba meneguk cairan keras itu kembali, namun lagi-lagi terhalangi.
"Hentikan!. Aku bilang jangan seperti ini!. Kau bukan anak kecil lagi!" maki wanita itu pada Taehyung, merasa benar-benar tengah sesak menghadapi tingkah Taehyung yang belum juga mengerti. "Apa kau tidak muak?!" cecar wanita itu pada Taehyung. Matanya menyalang kesal sekali.
Taehyung yang merasakan kemarahan wanita itu hanya tertawa, bukan berniat untuk meremehkan, tapi Taehyung-pun juga merasakan hal yang sama sangat muak, sangat sekali, terasa begitu sesak. "Haha.. Lalu kau ingin aku bagaimana?" jawab Taehyung masih dengan kepura-puraanya, berpura-pura bahwa dirinya tengah mabuk.
Wanita itu mengarahkan tangannya pada pergelangan Taehyung, mencoba menariknya. "Kita bicara, tidak disini. Terlalu bising." ucapnya melembut, setidaknya ia memang harus menyelesaikan apa yang belum selesai dengan Taehyung, tapi berada di dalam sini dengan suara music yang keras hanya akan membuatnya mengeluarkan tenaga ekstra yang sia-sia karna sulit sekali berbicara di tengah suara music yang keras ini.
Tentu, Taehyung menuruti. Pria itu begitu lemah ketika berurusan dengan sang pujaan hatinya. Bahkan kelewat lemah. Taehyung hanya mengikuti langkah kaki wanitanya itu, tak lupa dengan tangan mereka yang masih menyatu atau lebih tepatnya tangan Taehyung lah yang masih di tarik oleh wanita itu.
Mereka sampai di parkiran mobil yang lumayan cukup luas untuk para tamu-tamu bar, tak ramai disini, cukup sepi mengingat sekarang pukul 12 malam, dan tidak terlalu bising seperti didalam sana, sangat cukup sekali untuk melakukan percakapan serius tanpa gangguan.
"Putuskan aku.. Lepaskan aku.. Lupakan aku.." ujar wanita itu tepat memandang manik mata Taehyung.
Taehyung cukup tercengang, namun tidak terkejut sama-sekali, benar---wanita dihadapannya kini adalah tunangannya, dan wanita ini pula telah mengatakan hal itu berkali-kali pada Taehyung, meminta mereka berpisah berulang kali, terus-menerus, hingga hampir membuat kepala Taehyung rasanya ingin sekali pecah dibuatnya.
"Kau mengatakan hal itu lagi.." jawab Taehyung kali ini sudah dengan kesadarannya. Sejujurnya Taehyung sedang berusaha menghindari wanita itu, setelah tunangannya itu kerap kali mengatakan dan meminta perpisahan, berharap wanita itu akan jengah dan berubah fikiran, sejujurnya Taehyung sangat ingin mempertahankan, tidak ingin berpisah dan tidak ingin mengikuti permintaan wanitanya itu.
"Iya. Karna, aku akan terus mengatakannya sam.. "
"Sampai kapan?!" tantang Taehyung mulai geram. "Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini!" sela Taehyung yang mulai tersulut emosi, mengingat dirinya sangat mencintai wanitanya itu tapi malah wanitanya menginginkan sebuah perpisahan darinya.
"Tae. Dengar.."
"Dengar apa?!. Apa yang harus ku dengar lagi?. Apa kau tidak lelah? Huh?. Aku sungguh lelah. Mendengarmu terus meminta perpisahan dariku. Apa kau tidak terluka?. Aku terluka setiap kali mendengar ucapan itu darimu!" cerocos Taehyung dengan lagi-lagi menyela, mencecar, meluapkan segala beban isi hatinya. Benar, seharusnya inilah yang harus Taehyung lakukan sejak awal, berhadapan langsung pada permasalahan, bukan terus-terusan menghindarinya.
"Tidak bisakah kau tetap disisiku?, bersama ku?. Atau setidaknya tetaplah berdiri dipihakku. Kau tau? hanya dirimu lah yang telah menjadi kekuatanku selama ini!. Apa kau masih belum cukup mengerti juga?" Taehyung mengucapkan dengan sejujur-jujurnya. Apa yang telah ia pendam.
Wanita itu tercenung, sisi hatinya teriris mendengar suara prianya yang begitu lirih, pria yang pernah sangat ia cintai lebih dari dirinya sendiri sebelumnya, pria yang sempat begitu berarti, satu-satunya pria yang menepati singgah-sana hatinya yang paling tinggi.
Air wajah wanita itu berubah, tak lagi sekeras tadi. Menarik nafas begitu dalam lalu membuangnya, hingga merasa kembali cukup tenang dan bisa memulai kembali. "Tae.. Cukup membuat seolah-olah aku yang bersalah atas hubungan kita, kau tau hubungan ini sudah tidak lagi sehat, sudah sangat hancur bahkan, dan tidak bisa di perbaiki lagi bukan?" mencoba bersikap kembali tenang, wanita itu mencoba menjelaskan, menjabarkan satu per satu pemikirannya.
Taehyung memejamkan matanya, ingin rasanya menangis, dan meraung sekarang. Sejujurnya yang Taehyung inginkan tidak lebih dari mempertahankan. "Aku mencintaimu, kau juga tau itu bukan." jawab Taehyung tanpa memperdulikan penjabaran barusan.
Wanita itu mengangguk, tak lupa ia menarik sudut bibirnya, mengukir senyuman. "Aku tau. Akupun." balas wanita itu menyetujui. "Tapi itu terjadi sebelum saat Yujin ada didalam hatimu juga." tersirat pilu dalam nada suara wanita itu.
"Hanya karna wanita itu pergi, Tae!. Kumohon sadarlah!" cecar wanita itu kembali, membuat Taehyung bungkam. "Bagaimana jika suatu saat wanita itu muncul lagi?. Aku hanya tak mau kembali terluka, bahkan jika hal itu terjadi kau bisa bayangkan akan sebesar apa lukaku nanti. Aku hanya manusia biasa yang egois, Tae. Aku hanya tak ingin diriku kembali terluka." jelas wanita itu membela dirinya. Menekankan seberapa terluka dirinya saat Taehyung bahkan mencintai wanita lain saat masih bersamanya dengan begitu dalam.
"Baiklah.." Taehyung pasrah, tak akan lagi mempertahankan keras-kepalanya, Menghela nafasnya yang berat, jujur iapun juga sama terluka melihat wanita yang dihadapannya terluka. "Akan ku pertimbangkan untuk menemui orang tuamu, biar aku saja yang menjelaskan pada mereka." ujar Taehyung membuat kedua bola mata wanita dihadapannya menjadi berbinar. Seolah putus dengan Taehyung adalah suatu kelegaan dan kebahagiaan meski sejujurnya lukanya begitu dalam tertoreh.
Tak memperjuangkan, bahkan melepaskan, entah bisa sembuh atau tidak, setidaknya tidak semakin dalam.
Senyum dengan penuh rasa syukur terukir jelas diwajah wanita itu, jujur sisi hatinya bahkan telah hancur lebur rasanya hingga bahkan ia sendiri tak yakin akankah bisa kembali terbentuk utuh lagi nantinya atau tidak. Kemudian ia menatap Taehyung dengan sorot mata berkaca-kaca, jika andai saja ia bisa menangis dan meluapkan untuk segala rasa sakitnya, mungkin tidak akan menjadi sesesak ini. "Tae. Terima kasih.." ujarnya.
Memilih bertahan hanya akan menumbuhkan luka antara keduanya saja, meski berpisah adalah jalan yang menyakitkan tapi wanita itu yakin entah kapan tapi Taehyung dan dirinya bisa segera menemukan kembali kebahagiaan lain dengan cepat setelahnya, menyembuhkan ataupun memulihkan luka mereka dengan mencari obat penawar untuk diri masing-masing, dan pilihan berpisah dirasa sudah cukup tepat sekarang.
Taehyung mengangguk-angguk, ia juga tak ingin wanita yang ia cintai semakin terluka terlebih karna dirinya. "Tapi aku masih ingin kau berjanji satu hal padaku." sela Taehyung, iya dia juga masih harus menjaga meski sekarang melepaskannya.
"Apa itu?"
Taehyung mengukir sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman, terlihat memaksakan sekali saat sorot matanya bahkan mencerminkan bahwa ia juga terluka. Namun senyumnya itu selalu saja berhasil membuat wanitanya, tunangannya itu selalu kembali jatuh-cinta padanya. "Jika suatu saat kau menemukan pria yang dapat menggantikan posisiku dihatimu, temui aku padanya ya. Han Jein, Berjanjilah padaku untuk satu hal itu." pinta Taehyung begitu terdengar tulus meski bahkan hatinya telah remuk seperti kaca yang terjatuh, berantakan.
Jein hampir menangis ketika mendengar kalimat itu, kenapa juga Taehyung harus mengatakan hal itu di saat Jein bahkan tak tau apa ia bisa kembali mencintai orang lain selain pria dihadapannya kini, atau bisakah ia bisa mencintai orang lain sama besarnya dengan rasa cintanya pada pria dihadapannya kini.
Merasa harus juga mengatakan suatu hal yang menunjukkan bahwa ia akan baik-baik saja meski berpisah. Jein pun menyetujui. "Aku berjanji, maka bawalah Yujin juga kehadapanku ketika hal itu terjadi." Tak mau kalah Jein melakukan hal yang sama kini.
Akankah keduanya tidak lagi sama-sama terluka saat hal itu terjadi nantinya.
***
"Yak! Kenapa kau menelponku selarut ini Jim!" maki Jeon pada temannya itu. Tidak terkejut sama sekali saat Jimin belum tertidur di jam sepertiga malam seperti sekarang.
"Jeon, aku melihat Taehyung.. Dia berada di bar ku bersama seorang wanita." sahut Jimin, bercerita dengan heboh seolah dirinya adalah ibu-ibu komplek yang gemar sekali bergosip.
Jeon memutar bola matanya, sungguh Jeon bahkan tidak perduli jika Taehyung berada di bulan sekalipun. "Aku akan menutup telpon mu sekarang!" ucap Jeon dengan malas dan sangat ingin segera melanjutkan tidurnya, jujur hari ini pekerjaan dikantor teramat banyak dan tengah membuatnya begitu lelah.
"Tunggu! Tunggu!. Jeon kau harus mendengarkanku dulu!" sergah Jimin menahan.
"Apalagi?!" cecar Jeon tak sabaran.
"Dia bersama wanita.."
"Lalu? Apa hubungannya denganku? Mau dia bersama wanita manapun. Aku tidak perduli Jim!. Tidak juga bahkan dengan apapun yang berhubungan dengan Taehyung. Kau mengerti!" cetus Jeon geram sekali.
"Aku tau, tapi dia sedang bersama wanita itu!. Guru ahra!. Nona Han!" kata Jimin langsung menembak tak memperdulikan ocehan Jeon tadi.
"Kau bilang apa Jim?!" tiba-tiba mendadak pendengaran serta otak Jeon menjadi melemah, seolah ia adalah komputer yang sedang terkena serangan virus dan harus segera di bersihkan.
"Ya.. Wanita itu nona Han Jein, guru ahra!. Kau dengar!" ulang Jimin kembali dengan menyebutkan nama guru tersebut dengan lengkap.
Jeon mendadak terdiam.
***