Jeon Appa

Jeon Appa
JEON PROBLEM



Jeon baru saja terbangun, disaat waktu sudah menunjukan pukul 9 pada jam dinding yang terpasang di kamar Jeon, dan itu berarti Jeon juga telah sangat terlambat menghadiri sebuah rapat, tipekal ketua yang sangat disiplin. Ckckck.


Meruntuki kebiasaan dirinya sendiri yang memang sangat sulit untuk bangun ketika sudah tertidur dengan sangat pulas. Sudah sering ia lakukan. Namun baginya masih dalam batas wajar karna ia harus bekerja sampai larut untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor yang tidak selesai, kemudian baru tertidur hampir saat matahari akan terbit, tidak mungkin baginya sanggup untuk kembali bangun sekitar setengah jam setelah ia memutuskan untuk memejamkan matanya. Tentu itu tidak mungkin, meski bahkan dirinya tidur dengan cukup waktu dengan 8 jam saja Jeon masih suka sulit untuk terbangun apalagi jika seperti saat ini dimana kelelahan melanda, dan rasa kantuk yang sangat tak tertahankan.


Jeon baru saja akan kembali melanjutkan tidurnya, dan bersikap seolah ini adalah hari liburnya, begitulah Jeon. Selalu seenaknya. Namun, ponselnya berdering dengan cukup mengangetkannya ketika ia baru saja kembali memejam sekitar 5 detik.


Drrrrrrr......


Sekertaris Yoon~


Sekertaris Jeon menelpon, Jeon itu selalu mempekerjakan sekertaris laki-laki tidak pernah perempuan karna ia takut akan ada rumor yang tidak-tidak nantinya seperti kebanyakan kasus sekertaris perempuan bermain api dengan atasannya, lebih baik Jeon bermain biliar saja atau bowling ketimbang bermain api yang Jeon tau akan membuatnya juga terbakar. Dan sekarang sekertarisnya itu menelpon yang Jeon tau pasti kini dirinya akan mendapat masalah, tidak hadir untuk rapat dalam keputusan pengambilan proyek baru, tidak ada kabar dan bertindak seenaknya. Itu telah menjadi masalah untuknya, begitulah hidup, tak pernah lepas dari masalah.


"Hallo.."


"Tuan Jeon.. Ya Tuhan akhirnya kau mengangkat telponmu juga."


Terdengar helaan nafas lega di seberang sana. Membuat Jeon menaikan sebelah alisnya merasa heran dan aneh, seperti sekertarisnya ini tidak biasa saja dengan Jeon yang kadang memang sulit dihubungin.


"Aku terlambat untuk rapat, tolong katakan pada mereka aku sedang tidak sehat, lalu buat ulang jadwalnya besok.." kata Jeon kembali memerintah seperti biasa.


"T-tapi Tuan.. Begini, sebenarnya kami tetap menjalankan rapatnya---"


"Apa?!.. Bagaimana bisa kalian rapat tanpa aku!" matanya menbelalak sempurna.


Benar!. Tidak mungkin karyawan mengadakan rapat proyek tanpa persetujuan dari ketua, tidak mungkin itu terjadi. Siapa yang akan mengambil keputusan mengenai proposal yang akan di jalankan, seharusnya itu adalah tanggungjawab Jeon sebagai ketua. Jeon yang selalu mengambil keputusan dalam segala hal.


"Tuan sebenarnya ayahmu datang saat rapat tadi.."


DAMN!


Jeon mengumpat dalam hatinya. Kenapa ayahnya malah datang disaat yang tidak tepat, kenapa malah datang disaat Jeon terlihat sangat tidak bertanggungjawab begini. Maksudnya meskipun benar tapi Jeon sejujurnya sedang berusaha untuk menjadi lebih baik untuk mengurus perusahaan milik ayahnya itu.


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi!. Aku akan ke kantor sekarang!" geram Jeon. Kakinya baru saja menginjak dinginnya lantai tapi sekertarisnya kembali menginstrupsi.


"Tidak perlu tuan.."


"Apa maksudmu tidak perlu?" Beberapa saat lalu Jeon langsung menghentikan langkahnya saat akan menuju ke lemari pakaian, dahinya mengerenyit bingung.


"Ayahmu memecatmu saat rapat tuan, dan akan menggantikanmu hari ini juga dengan tuan Taehyung."


BOOM!


Kepala Jeon rasanya telah meledak seketika itu juga saat mendengar pemecatan dirinya. Sialnya itu semua karna kesalahan dirinya sendiri, dan Jeon pun tak bisa memerintah sekertarisnya dalam masalah seperti ini untuk membantunya memaki sang ayah.


"Baiklah Yoon. Apa sekarang ayahku masih di sana?"


"Tidak tuan, ayah anda sedang dalam perjalanan ke apartemen mu."


TRIPLE SHIT! FOR THE BAD DAY! JEON


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, kini Jeon langsung sibuk merapikan beberapa barang miliknya yang berserakan. Seperti orang yang kesetanan, kalang-kabut dan sangat terburu-buru.


Benar, apartemen Jeon benar-benar sangat berantakan sekarang, dan jika ayahnya sampai tau hal ini juga maka tamatlah dia, Jeon akan benar-benar habis.


***


Ayah Jeon sampai tepat saat Jeon telah selesai membereskan segala hal yang berantakan di apartemennya, membuka pintu untuk sang ayah dengan kemudian mengeluarkan segudang pernyataan serta pertanyaan yang kini tersusun begitu rapi di otaknya sejak sekertarisnya itu menghubunginya.


"Ayah!. Bagaimana bisa kau menggantikanku begitu saja?!. Itu tidak adil!" Jeon sedang mencoba bernegosiasi meskipun dengan sang ayah sendiri.


Sang ayah mendesis, merasa geram dan kesal karna ulah anak laki-lakinya satu ini. "Lalu apa menurutmu aku harus membiarkan saja perusahaanku hancur berantakan karna diurus oleh orang yang tidak bertanggungjawab begitu?"


Jeon tertegun, ucapan ayahnya sungguh sangat keterlaluan, meski sebenarnya bahkan Jeon sudah bekerja sangat keras.


"Ayah aku sedang tidak ingin berdebat. Aku hanya ingin meminta kemurahan hatimu untuk memaafkan kesalahan ku kali ini. Ku mohon, serahkan perusahaan itu kembali." membuang segala harga dirinya yang selama ini selalu angkuh Jeon bersedia berlutut hanya karna tidak merelakan perusahaan itu jatuh ke tangan anak selingkuhan sang ayah. Taehyung.


Sang ayah menghela nafas beratnya, ia sangat tau bagaimana Jeon sangat membenci Taehyung, sangat membenci, mengetahui bagaimana perselingkuhan itu berjalan bahkan saat Jeon belum lahir dan masih dalam kandungan. Hingga sang ibu meninggal karna depresi yang tak kuat menerima kenyataan suaminya berselingkuh begitu lama di belakangannya hingga menghasilkan seorang putra bernama Taehyung bahkan sebelum dirinya mengandung Jeon.


Jeon membenci Taehyung, ia bersumpah.


Tentu ayahnya juga sangat menyesalinya, tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain membuat kedua putranya itu berbaikan. Beliau sangat ingin anak-anaknya akur seperti kebanyakan saudara lainnya.


"Tidakah kau bisa memaafkan Ayahmu juga?, dan berbaikan dengan saudaramu sendiri?"


Mata Jeon menyalang, amarahnya kini terbakar. Rasa hormatnya pada sang ayah seketika lenyap kembali. Jeon menunjukan senyum asimetrisnya, seperti meremehkan. "Dengan memanipulasi putramu sendiri begitu?" Jeon tertawa sinis. "Hanya untuk mendapatkan maafku, kau ingin membuangku kembalikah, begini caramu mengancamku rupanya dengan menggunakan anak harammu itu sebagai umpan.. Cih.." sungut Jeon kelewat kurang ajar, kesopanannya benar-benar telah lenyap.


"Hentikan ucapanmu!. Jungkook!" pekik sang ayah.


Ayah Jeon masih terlihat begitu tenang--kelewat santai bahkan, menyadari yang ia lakukan memanglah kesalahan fatal yang begitu besar dan tak termaafkan, wajar Jeon tak memaafkannya tak apa, tapi Taehyung tak bersalah di sini, ia hanyalah anak yang terlahir karna sebuah takdir, meskipun dari kesalahan sang ayah tapi tetap saja Taehyung tak berdosa untuk kesalahan ini.


"Tarik kata-katamu kembali." ujar sang ayah.


"Ayah?!" Jeon menaikan sebelah alisnya. Apa ia tidak salah mendengar, apa sekarang ayahnya mulai kembali berpihak pada anak haramnya. Ia merasa tak terima, sungguh sangat tak bisa menerima ini.


"tarik kata-katamu kembali!" tuan Jeon mulai sedikit meninggikan nada suaranya. "Taehyung bukan anak haram!. Dia anakku!. Dan dia juga kakakmu!" dengan penekanan tajam sang ayah menatap tepat di manik mata Jeon.


Baik, Jeon bahkan menahan nafasnya ketika mendengar itu. Memejamkan mata hingga kemudian Jeon mengeluarkan segalanya yang sudah ia tahan sejak tadi.


"DIA BUKANLAH SAUDARAKU!"


BOOM!


Setelah berteriak Jeon memutuskan untuk sejenak memberikannya ruang pada pemikirannya dengan memilih berjalan keluar dari apartemennya sendiri meninggalkan sang ayah sendirian, bahkan saat sang ayah masih mencoba memanggil-manggilnya.


BLAM!


Membanting pintu dengan begitu keras ketika keluar.


Memikirkan segila apa tindakan sang ayah sekarang, memecatnya dengan tidak hormat dan sekarang menggantikan posisi tertinggi begitu saja dengan anak haramnya itu. Tentu saja Jeon tidak bisa menerimanya, sangat tidak terima sama sekali. Amarahnya bahkan sering kali memuncak saat nama anak haram itu di sebut-sebutkan. Taehyung. Cih.. Baginya dia adalah anak satu-satu ayahnya tidak ada anak lainnya, tidak perduli fakta apapun termasuk dunia yang sudah mengetahui perilaku bejat sang ayah dan anak haramnya itu, dan Jeon tidak ingin disangkut pautkan dengan mereka.


Benci sekali, sangat.


***