Jeon Appa

Jeon Appa
Heartace



Jein pulang ke rumahnya dengan membawa mobil Jeon. Bukan semata-mata materialis ataupun memanfaatkan kekayaan Jeon, sungguh Jein bahkan telah menolak ratusan kali dan berdebat dengan Jeon mengatakan bahwa ia terbiasa menaiki kendaraan umum, tidak ingin membawa mobil Jeon sama sekali, tapi bukan Jeon namanya kalau tak berhasil memaksa. Bahkan Jeon sendiri yang telah meminta secara khusus pada Seokjin untuk mengantarkan mobilnya ke rumah sakit. Jeon bilang ia tak ingin Jein kelelahan karna harus bolak-balik dengan kendaraan umum, dan Jeon ingin Jein berjanji untuk terus datang setiap hari menjenguk Jeon, dengan pula memakai mobil Jeon. Sebab itu Jein setuju, tak ada salahnya.


Di Seoul Jein tinggal seorang diri, baru sekitar 2 tahun lalu ia berpindah karna ia memilih menjadi seorang guru, berpindah dari desa asal orang tuanya Daegu, tempat dimana awal mula ia bertemu dengan kekasih lamanya Taehyung. Huh sangat disayangkan cinta mereka harus kandas begitu saja, padahal Jein sudah memikirkan banyak hal yang begitu indah akan terjadi di masa tuanya bersama Taehyung. Memiliki anak, hingga sampai memiliki cucu, menua bersama, menghabiskan waktu, menunggu rambut memutih, kulit mengeriput, dan pula perut yang membuncit. Ingin sekali menjadi saksi perjalanan menua bersamaan.


Hingga saat Jein sampai pada perkarangan rumahnya yang tidak seberapa luas itu, tapi cukup untuk memarkirkan satu mobil saja. Sepasang bola matanya menangkap sosok yang sejak tadi ia pikirkan. Taehyung, jelas itu Taehyung.


Mematikan mesin setelah merasa telah memarkirkan secara pas, mencabut kunci begitu saja. Sejujurnya ingin rasanya Jein kabur saja dari hadapan Taehyung sekarang, kenapa pula ia harus datang semalam ini. Meski iya Taehyung memang dulu selalu datang saat malam hari, tapi sekarang berbeda, mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun. Dan kedatangan Taehyung hanya akan menjadi sia-sia saja, hanya akan menghasilkan luka yang sangat menyakitkan untuk keduanya lagi.


Taehyung ada, bersandar di dekat pintu masuk seolah menunggu Jein untuk pulang seperti ia telah datang sejak tadi entah sudah berapa jam ia telah menunggu. Sementara Jein berpura-pura tak memperdulikan, berjalan menuju pintu begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Taehyung. Ingin rasanya Jein mempunyai kekuatan menembus agar tak perlu lagi membuka kunci pintu dan menghabiskan waktunya untuk berhadapan dengan Taehyung lagi.


"Darimana saja kau? Kencan?" Ucap Taehyung begitu sarkas, memulai pembicaraan dengan begitu panas, melihat bagaimana gadis itu pulang dengan tiba-tiba membawa sebuah mobil yang bahkan gadis itu tak pernah ingin mengendarai mobil sebelumnya, lebih suka menaiki kendaraan umum, ingin berbaur dengan orang lain.


Namun Jein tak memperdulikan, menganggap omongan Taehyung adalah angin lalu, dan masih memfokuskan diri membuka kunci rumah, yang entah kenapa menjadi sangat sulit sekali di putar. Sementara Taehyung terus memperhatikannya, merasa kesal juga karna Jein sudah mengabaikannya.


"Mobil pacarmu ya?" Tebak Taehyung begitu saja.


Sungguh sebenarnya apa yang Taehyung lakukan itu sedang mengiris perasaanya sendiri, atau sedang mencoba menyiram cuka di atas lukanya. Kenapa tidak sekalian saja meminum racun, agar perasaanya sembuh dari luka, bahkan tak akan pernah lagi merasakan sakitnya luka kembali.


Dan apakah Taehyung tak menyadari sedikitpun, bahkan ucapannya itu berhasil membuat pergerakan tangan Jein terhenti. Jein juga terluka, sama terluka. Apa Taehyung sekarang menjadi sebodoh itu hingga tak dapat lagi menyadari situasi.


"Pulanglah.. ini sudah malam." Jein mengatakan secara halus, tak ingin lagi berdebat, sungguh ia sudah merasa sangat lelah, Jein hanya ingin sedikit bernafas dari penatnya hubungan ini, meski secara tidak langsung perkataannya itu mengisyaratkan bahwa dirinya mengusir Taehyung.


Ada perasaan begitu kecewa di hati Jein, terpukul lebih tepatnya, bagaimana bisa Taehyung mengatakan hal itu dengan mudah, bagaimana bisa. Setelah bertahun-tahun, apa menurutnya Jein akan dengan mudah melupakan semua hal lalu mendapati orang lain, apa pemikiran Taehyung serendah itu terhadap Jein. Jein kesal sekali tapi tak juga ingin menanggapi ucapan menyakitkan Taehyung lainnya. Lelah rasanya mendengar tuduhan seolah mereka masih memiliki hubungan, padahal telah usai.


Tapi malam ini Taehyung terlihat begitu kacau sekali, wajahnya terlihat berantakan, tidak seperti biasanya namun tetap saja ketampanannya itu tak pernah pudar. Jein sempat memperhatikan tapi tidak secara penuh, bagaimana Taehyung terlihat kacau tak sanggup sekali melihat Taehyung, tak ingin menoleh sama sekali rasanya atau perasaan lemahnya akan kembali lagi. Tidak boleh! Jein harus menguatkan dirinya. Cukup sudah untuk segala luka yang telah tertoreh begitu dalam.



"Aku merindukanmu." Jein membeku, pergerakan tangannya terhenti saat ia akan memutar kenop pintu setelah berhasil membuka kuncinya. Sekarang seperti mungkin jantungnya telah benar-benar berhenti berdetak. Pilu sekali.


Tetapi, hatinya sudah lama sekali hancur, sangat hancur, begitupun kepercayaannya.


Taehyung itu sangat ahli sekali dalam mengobrak-abrik perasaan Jein, lihai dan juga pintar berkata-kata manis. Begitu pula saat mereka menjalani hubungan jarak jauh selama beberapa bulan, Taehyung di Seoul dan Jein di Daegu. Tak pernah terlupakan bagaimana Taehyung mengelabuhi Jein dan menyelingkuhinya. Bagaimana saat ketika Jein berkunjung ke Seoul tujuh tahun lalu, berniat memberi kejutan dan melihat Taehyung sedang akan melaksanakan sebuah pernikahan, yang bahkan Jein tak mengetahui hal itu sama sekali, dimana posisi Jein masih sebagai tunangan Taehyung secara sah saat itu. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Jein kala tak sengaja menemani teman ke sebuah acara undangan pernikahan, dan malah mendapati bahwa yang menikah adalah tunangannya sendiri. Ini gila, memang kejadian gila.


Tak berniat menoleh sama sekali, masih dengan memunggungi Taehyung, bahkan masih mencoba mengabaikan. Meski sebenarnya air matanya telah jatuh tanpa mendapati persetujuan, perasaannya sudah kembali runtuh. "Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya, sekarang pergilah." Pinta Jein sekali lagi.


Namun Taehyung itu bebal, keras kepala. Batu sekali tidak juga mau pergi sebelum mendapati tujuannya. "Jadi kau sudah benar-benar menemukan penggantiku?!" Nada bicara Taehyung tiba-tiba saja naik beberapa oktaf tapi tidak terdengar seperti berteriak, hanya ingin memancing Jein. "Berapa banyak yang pria itu berikan padamu? Huh?.. Mobil? Uang? Katakan padaku?. Aku bisa memberikan lebih daripada itu asal kau kembali padaku."


Detik berikutnya,


PLAK!


"CUKUP!" pekik Jein penuh amarah.


Satu tamparan keras Taehyung dapati. Setelah mendengar penuturan Taehyung yang keterlaluan membuat Jein mendadak mendidih. Muak dan begitu memanas. Hancur, sakit sekali.


Pemikirannya semakin picik dan kotor sekali, Jein benci. Sangat membencinya.


Jangan pernah salahkan Jein, karna sebenarnya ia juga sudah pernah memberikan kesempatan pada Taehyung, kesempatan kedua. Setelah pernikahan itu gagal, hubungan mereka kembali membaik, Jein berusaha memendam lukanya sendirian, mencoba melupakannya. Namun sebuah berita kembali hadir, dimana Jein tau bahwa wanita yang sempat Taehyung nikahi itu tengah hamil, bahkan mungkin sudah melahirkan, entah sudah sebesar apa anaknya sekarang. Dan perasaan Jein kembali hancur untuk kedua kalinya. Bahkan sudah tak lagi berbentuk. Menyesakan sekali. Seharusnya Taehyung mencari wanita itu saja, bukan malah terus-menerus mengejar Jein.


Sangat Brengsek sekali!


Jein sudah tak tahan lagi, sangat menyesakan sekali seperti ini sungguh, ia sangat membenci situasi yang membuat dirinya lemah, menghela nafas kasar, matanya menyalang kesal sekali menatap Taehyung, hatinya sudah sungguh memanas jika bisa mungkin sudah mengeluarkan uap.


"Iya benar! Aku Sudah mendapatkan penggantimu! Kau puas?!" cetus Jein berbicara secara asal tidak perduli bahwa ia sedang berbohong, matanya masih menyalang dengan tatapan kemarahan. Sangat begitu kesal, merasa telah direndahkan.


"Dan hal itu tentu sudah bukan menjadi urusanmu lagi. Jadi bisakah kau pulang sekarang? Karena aku akan segera beristirahat." sambungnya yang dirinya sendiri juga tak menduga akan bisa mengatakan hal itu. Hal semenyakitkan itu untuk dirinya maupun untuk Taehyung.


Kedua mata Taehyung melebar, tak percaya, merasa sangat tidak mungkin Jein dapat bisa secepat itu melupakan dirinya, Jein pasti berbohong. "Itu tidak mungkin! Jangan mengatakan omong kosong dan berharap aku akan mempercayainya." Ujar Taehyung masih berusaha menenangkan dirinya.


Tapi Jein itu lebih gila, tidak perduli lagi dengan rasa sakitnya yang sungguh sudah menjadi besar. "Aku tidak perduli kau percaya atau tidak, aku hanya akan mengatakan apa yang ingin aku katakan." Dan pernyataan itu berhasil membuat Taehyung bungkam, itu artinya Jein tak main-main. Jein telah menemukan penggantinya, tapi kenapa bisa secepat ini.


Jein bahkan tak memperdulikan kehadiran Taehyung lagi, ia memilih membuka pintu lalu segera menutupnya, merasa tidak lagi ada yang harus dibicarakan semuanya telah usai, lembaran mereka telah lama tertutup harusnya bahkan tak boleh dibuka kembali, meninggalkan Taehyung seorang diri yang sedang mematung.


***