
Ahra begitu sangat merindukan Jeon, terbukti ketika Jeon sampai ke rumah--baru saja memasuki beberapa langkah Ahra begitu saja berlari menghambur ke pelukan Jeon, menangis dan terus-menerus merapalkan bahwa dia sangat merindukan ayahnya itu---membuat serta merta yang melihatnya tertawa karna kelucuan bocah itu seperti sudah setahun tak bertemu sang ayah padahal hanya tidak bertemu selama 6 hari saja.
Seokjin tak membohongi Jeon sama-sekali, ia sangat menepati janji menjaga Ahra begitu baik, meski tidak sebaik Jeon karna Seokjin pasti juga ikut turut sibuk menangani perusahaan karna Jeon sedang tidak bisa menangani--bahkan tidak dibolehi oleh Seokjin sendiri, meminta Jeon fokus pada pemulihannya.
"Ahra itu tidak pernah berhenti menanyakan kapan kau pulang, kau tau." seru Seokjin memecahkan suasana.
Setelah mendengar penuturan itu, sungguh Jeon jadi semakin merasa bersalah pada putrinya sendiri, bagaimana Jeon meminta Seokjin agar Ahra tak melihatnya saat sakit, tak membiarkan Ahra menjenguknya atau Ahra akan merasa sangat sedih sekali dan akan mungkin membuatnya tak bersemangat untuk sekolah, sungguh Jeon itu terlalu memikirkan Ahra.
Melepas pelukannya, kemudian mengukir senyumnya manis ketika melihat persis pada wajah Ahra. "Jangan menangis lagi ya? eum.. Appa sudah di rumahkan sekarang, jadi Ahra tidak boleh merasa sedih lagi, mengerti?" Ahra mengangguki lalu kembali bersikap manja memeluk Jeon lagi.
Jimin, Seokjin, maupun Jein yang melihat hal itu hanya turut terdiam, tak bisa berkata apa-apa, merasa haru tengah melanda diri mereka masing-masing.
Terlalu lama menangis, Ahra pun kemudian tertidur, Jeon sempat mengangkat Ahra untuk ke kamar memeluknya disana dan terus memeluk putrinya itu. Jimin maupun Seokjin sudah pamit untuk pulang, tidak mungkin menginap lagi, ataupun berlama-lama karna kesibukan telah sangat menanti mereka, Jimin harus segera kembali menangani Bar-nya karna akan ada tamu special yang akan datang katanya, Seokjin-pun besok ia juga akan menghadiri acara pergantian karyawan baru bukan sepenuhnya baru tapi menyambut beberapa karyawan yang baru saja berganti Jabatan ke tingkatan yang lebih tinggi, tentu hal itu sudah menjadi tradisi sejak lama di perusahaan Seokjin, dirinya tentu sangat tidak boleh melewatkannya sebagai seorang pemilik perusahaan.
Jeon baru saja keluar kamar setelah merasa Ahra sudah tertidur sangat lelap, melihat Jein masih ada disana---terduduk diruang tengahnya sambil menonton siaran telivisi, mungkin saja juga merasa jenuh karna Jeon-lah yang telah meminta Jein menunggunya tidak mengizinkan Jein untuk segera pulang.
"Apa kau ingin makan malam?" tanya Jeon mengejutkan Jein, tentu karna sepertinya Jein terlalu fokus menonton hingga tak menyadari kini Jeon sudah berada di belakangnya.
Jein menoleh, senyumnya terukir ketika ia pula melihat wajah Jeon. "Ahra sudah tidurnya?" Jein bertanya dan dijawab anggukan oleh Jeon.
Kemudian ia beralih untuk mengambil posisi duduk di samping Jein. "Aku bertanya kau ingin makan malam apa?" tanya Jeon sekali lagi, mengingat sekarang sudah pukul 9 malam dan mereka belum juga makan.
Buru-buru Jein menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku juga akan segera pulang" jawabnya.
Ganti Jeon yang kini menatap Jein penuh. "Siapa yang mengizinkanmu untuk pulang?" satu tangan Jeon meraih sebelah tangan Jein, menggenggamnya kemudian. "Tidak boleh, aku sudah mengatakan itu tadi." seru Jeon membuat Jein sukses melongo. Apa-apaan Jeon ini, apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu.
Jein berdesis. "Jeon ini sudah malam, terlalu malam bahkan." mengingatkan Jeon seolah pria itu telah lupa waktu dan juga melupakan bahwa Jein adalah perempuan.
"Lalu kenapa?" tanya Jeon begitu tenang.
Ganti Jein yang kini semakin heran. "Kau bilang kenapa? Jeon.. aku ini wanita. Bahaya sekali untuk seorang wanita pulang di malam hari, terlebih jika aku tidak pulang sekarang." jelas Jein, entah untuk apa juga ia menjelaskan hal seperti itu yang ia rasa juga Jeon telah sangat paham.
Jeon menghela nafasnya, masih dengan menatap Jein, sedikit terkekeh sebelumnya. "Aku tak mengatakan kau boleh pulang, menginaplah disini. Besok baru aku akan mengantarkanmu." jawab Jeon kelewat begitu santai, seolah tak ada yang bermasalah soal hal itu, seolah Jein akan selalu menyetujuinya.
Pikiran Jein pun jadi kemana-mana, mengingat terakhir kali saat dirumah sakit Jeon mengatakan hal itu, mereka malah tertidur bersama--satu ranjang, tidak melakukan hal yang macam-macam hanya tertidur saling berpelukan. Tidak menolak sama sekali, karna Jein pun merasa sangat membutuhkan Jeon kala itu, berada di pelukan Jeon membuatnya sangat merasa tenang sekali, jadi ia tak merasa masalah jika itu terjadi saat itu. Tapi untuk sekarang berbeda, ia sudah baik-baik saja.
Menarik tangannya dari genggaman Jeon tapi tetap menatap matanya, membuat Jeon merasa cukup bingung dengan sikap wanita itu. "Aku tidak mau menginap" jawab Jein begitu saja, membuat ada sedikit rasa kecewa melintas pada diri Jeon ketika mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Jeon, nada suaranya tentu tersirat kekecewaan.
Pandangan Jein tak lagi menatap Jeon, bahkan terlihat jelas sangat menghindari kontak mata. Memejamkan mata lalu menghela nafas beratnya, entah apalagi yang akan Taehyung pikirkan jika saja melihat hal seperti ini, bisa-bisa benar ia berfikir bahwa Jein telah menemukan penggantinya. Jein jadi teringat pesan yang ia terima sore tadi, belum sama sekali ada niatan untuk membalasnya sama sekali, membuatnya merasa terbebani saja.
Baru saja Jein akan membuka mulut untuk kembali berbicara tapi terhenti ketika ponselnya tiba-tiba saja berbunyi, cukup mengejutkan mengingat suasananya bersama Jeon sudah teramat canggung.
Jein dengan cepat memeriksa isi tasnya, mencoba mencari ponselnya, setelah ketemu mendadak ia jadi terdiam ketika melihat nama yang tertera pada layar---menunjukan siapa yang kini tengah menghubunginya. Jeon sendiri hanya memperhatikan pergerakan Jein.
Taehyungie is calling~
Seluruh tubuh Jein mendadak membeku.
Jein tersadar begitu saja mendengar pertanyaan Jeon, bingung sekali apa yang harus ia lakukan, menjawab atau mematikan ponselnya. "Ah.. Iya, aku akan menjawabnya." ujar Jein kikuk, merasa seperti sedang melakukan suatu kesalahan dan harus disembunyikan.
Jein pun menggeser tombol hijau, kemudian meletakan benda persegi itu di telinganya. "Ya? Ada apa." ucap Jein setelah mengangkat panggilan tersebut.
Terdengar decakan di seberang sana, seperti merasa kesal. "Kenapa lama sekali menjawabnya? Kau dimana sekarang? Aku sudah menunggu di rumahmu sejak tadi." seru Taehyung begitu saja, sangat santai seolah antara dirinya dan Jein belum pernah terjadi sesuatu hal yang buruk. Seolah semuanya kembali baik-baik saja.
Jein yang mendengar hal itu mendadak jadi panik sendiri, sangat takut untuk menemui Taehyung, Taehyung lah yang seharusnya sangat ia hindari saat ini. "Tidak, aku tidak akan pulang. Lebih baik kau kembali saja, dan.. Jangan pernah temui aku lagi." jawab Jein, tanpa ia sadari suaranya terdengar begitu bergetar sangat ketakutan, seolah Taehyung adalah ancaman besar.
Jeon yang berada disebelahnya pun turut mendengar dan merasakan pula bahwa Jein tidak baik-baik saja saat menerima telpon, merasakan suara Jein yang sedang gemetar.
Taehyung pun tak tinggal diam mendengar penuturan Jein, ia tak bisa kehilangan wanita itu begitu saja. Tak akan membiarkan wanita itu pergi begitu saja dari hidupnya. "Jein-ah.. Apa maksudnya itu? Tidak! Kau tidak boleh seperti ini. Katakan kau dimana sekarang? aku akan menjemputmu saja dan kita bicara ya." pinta Taehyung sekali lagi, suaranya dibuat begitu lembut sekali.
Jein membelalakkan matanya, terkejut sekali, takut jika Taehyung akan benar-benar menghampiri, padahal pria itu hanya baru saja berucap. Tapi Jein tau Taehyung itu kelewat nekat, ia bisa sangat mudah mengetahui keberadaan Jein hanya melalui ponselnya, Jein melupakan bahwa Taehyung selalu dapat mengetahui keberadaan Jein dimanapun melalui Gps. Memilih keras kepala dan tidak mau menemui Taehyung, akan membuat masalah untuk dirinya sendiri, Taehyung akan dapat menemukannya di apartemen Jeon dengan mudah, dan bisa saja membuat kekacauan disini, lalu akan terjadi sesuatu yang sangat Jein tidak inginkan. Itu cukup bahaya. "Tidak! Kau tidak perlu menjemputku. Aku akan segera pulang." jawab Jein setelah pemikiran panjangnya.
Kemudian terdengar suara tertawa cukup renyah Jein dengar. Membuat Jein sendiri menghela nafas yang berat sekali. "Begitu lebih baik. Aku akan menunggumu sayang." tutup Taehyung kemudian.
Ingin muntah rasanya saat Taehyung mengucapkan kalimat itu lagi sekarang. Bagi Jein, Taehyung begitu memuakan sekali. Tidak bisa di beri pengertian.
Baru saja merasakan kelegaan karna sudah tak lagi mendengar suara Taehyung, kini Jein harus dihadapi dengan tatapan Jeon yang seperti sedang mengintimidasi dirinya. Sungguh melelahkan sekali bagi Jein harus menghadapi orang-orang ini.
"Aku tak akan membiarkanmu pulang." ujar Jeon tepat saat Jein baru saja berniat untuk berpamitan, seolah Jeon sudah tau apa yang Jein akan katakan. Menjawab sebelum Jein berbicara. "Berikan ponselmu." pinta Jeon terdengar lebih seperti memerintah.
Tanpa Jein mengatakan apapun, Jeon sudah mengetahui bahwa Taehyung lah yang telah menghubunginya, dan juga Jeon dapat melihat dengan jelas bahwa Jein sangat terlihat ketakutan. Tapi Jeon masih berpura-pura seolah tak mengetahui apapun.
"Jeon, begini.. ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Sepertinya cukup penting, jadi ku mohon biarkan aku pulang ya." Jein mencoba beralasan. Meski sebenarnya sangat menutupi.
Jeon yang mendengar itu hanya menaiki sebelah alisnya, jujur ia sangat kesal, sebenarnya untuk apalagi mereka itu bertemu bukankah mereka sudah putus, dan kenapa juga harus Jein berbohong pada Jeon. Merasa cukup kesal karna Jein tak kunjung mendengarnya Jeon menarik paksa ponsel Jein begitu saja, membuat sang empuh cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba Jeon. "Jeon apa yang kau lakukan?!" pekik Jein saat melihat Jeon mengechek-ngechek ponselnya setelah berhasil merebutnya. "Jeon! Kau mau apa?!" berusaha meraih ponselnya Jein melakukannya. Tapi tak cukup tenaga untuk mengalahkan Jeon, karna Jeon sudah memegangi tangan Jeon begitu saja menyuruhnya untuk diam karna Jeon yang akan bertindak kali ini.
Apa yang Jeon lakukan jelas, Jeon kembali melakukan panggilan pada nomor yang baru saja mengganggu ketenangan Jein. Menunggu beberapa saat sampai nada sambung pertama berbunyi dan tak terduga sangat cepat sekali di jawabnya. "Ya? Kenapa lagi, apa kau berubah fikiran dan ingin aku jemput sekarang, sayang?" suara di seberang sana berhasil membuat Jeon mengumpat di dalam hati, jijik sekali mendengar kalimat sayang pada mulut Taehyung, jelas-jelas mereka sudah putus.
Kepala Jeon itu sudah memanas, menatap tajam kearah Jein, karna wanita itu tetap mencoba menarik paksa ponselnya lagi. "Dengarkan aku tuan Taehyung yang terhormat." ucap Jeon dengan nada suara begitu menohok tajam.
Membuat Jein sempat melongo, terkejut bagaimana bisa Jeon mengetahui nama mantan tunanganya itu. Ah.. Jein lupa mungkin saja karna Jeon telah melihat nama kontaknya.
Sementara Taehyung yang mendengar suara laki-laki mendadak badannya menegang seketika, memanas, darahnya mendidih, serta-merta rahangnya telah mengeras. "Siapa kau?! Dimana tunanganku?!" ujar Taehyung begitu sangat dingin. Merasa kesal seketika, sial sekali, rasanya Taehyung ingin mendatangi dimana Jein berada dan menghajar pria yang kini tengah berani-berani bersamanya.
Jeon tersenyum asimetris mendengar suara Taehyung yang terdengar sudah sangat cukup kesal sekali. Seru juga ternyata berhadapan langsung dengan sang anak haram ayahnya yang sama sekali belum pernah ia temui itu, merasa ada sesuatu yang membuat diri Jeon sangat tertantang. "Aku? Kau ingin mengetahui siapa aku?" tanya Jeon terkesan meledek, nada suaranya ia buat begitu jenaka, lucu sekali jika ini adalah sebuah komedi, mungkin yang menontonnya sudah habis tertawa terbahak-bahak karna Jeon.
Taehyung merasa amat dongkol sekali mendengarnya, merasa sangat dipermainkan, sialan siapa yang tengah berani mempermainkannya kini. "Jangan bermain-main padaku. Cukup katakan siapa kau? Dan apa yang kau lakukan bersama dengan tunanganku?!"
Baiklah, cukup bermain-main. Bahkan Jeon sendiri sudah muak sejak awal setelah mendengar kata sayang dari mulut Taehyung kepada Jein. "Baiklah, dengarkan aku baik-baik. Aku. Adalah. Jeon Jungkook. Satu-satunya Putra sah pemilik perusahaan Jeon Corporation. Pewaris satu-satunya yang sah, yang kini tengah kau rebut." jelas Jeon, membuat Taehyung yang seratus persen menjadi bungkam. Begitupun dengan Jein yang menatap Jeon dengan tidak percaya. "Kau tidak perlu bersusah payah menyingkirkanku, dan menyia-nyiakan tenagamu itu. Karna kau tau bahwa posisi anak sah itu tidak akan pernah bisa di gantikan dengan siapapun termasuk dirimu." jelas Jeon kini melempar sindiran keras, mungkin lebih terdengar sangat mengancam.
Namun, Jeon melupakan keberadaan Jein ketika ia merasa sedang asik mengancam musuh secara langsung. "Dan satu lagi, jangan pernah kau ganggu Jein-ku lagi, atau.. Kita yang tidak pernah bertemu, akan berhadapan secara langsung." setelah mengatakan hal itu Jeon langsung saja mematikan panggilan ponselnya. Menghela nafas karna merasa cukup muak sudah.
Jeon benar-benar telah menunjukan taringnya. Taring yang selama ini ia sembunyikan.
***