Jeon Appa

Jeon Appa
After 6 years



After 6 years..


Setelah 6 tahun berlalu. Ahra kini sudah tumbuh menjadi lebih besar dari sebelumnya, menjadi anak manis yang sudah sangat pintar sekali berbicara, berjalan, berlari, bahkan bertanya mengenai banyak hal. Sampai-sampai terkadang Jeon kelimpungan bagaimana menjawab pertanyaan putrinya itu, seperti pertanyaan mengenai hal-hal dewasa yang menurutnya Ahra belum boleh mengetahuinya.


Jeon sungguh-sungguh merawat anak perempuan yang ia temukan 6 tahun lalu itu dengan sangat baik.


Awalnya Jeon tentu sangat kesulitan saat pertama kali merawat Ahra hingga akhirnya ia memutuskan untuk meperkerjakan seorang baby sitter, tanpa memusingkan bagaimana pendapat para tetangga sekitar mengenai Jeon yang membawa bayi padahal dirinya belum menikah, tak tanggung-tanggung ia bahkan tak pernah merasa malu sekalipun belum menikah saat merawat Ahra dan membawa Ahra berjalan-jalan kemana pun. Jeon bahagia semenjak Ahra hadir dalam hidupnya, anak kecil itu begitu lugu, lucu, dan manis. Sehingga Jeon tak pernah menyesal sekalipun untuk merawat bayi itu.


Ahra baru saja keluar dari kamarnya, berjalan dengan gontai menuju meja makan layaknya anak kecil yang baru saja terbangun dari tidurnya dan masih dalam kondisi mengantuk. Tapi Ahra itu sungguh luar biasa pintar dan sangat baik, dia sudah terbiasa bangun sendiri untuk pergi ke sekolah tanpa Jeon harus membangunkannya lagi seperti beberapa bulan lalu, awal-awal Ahra mulai memasuki sekolah. Putrinya itu harus di bujuk berkali-kali dulu dengan makanan hingga akhirnya mau untuk pergi ke sekolah, entah kenapa itu menjadi pengalaman yang sungguh menyenangkan bagi Jeon.


Jeon benar-benar telah belajar banyak dalam hal merawat anak.


"Kau ingin sarapan apa? Sayang. Appa akan buatkan untukmu." tanya Jeon seraya mengecek lemari kabinet, melihat bahan makanan apa yang bisa ia siapkan untuk sarapan Ahra.


Ahra hanya duduk dengan manis di sisi sebrang kursi yang biasa ia tempati di meja makan. "Appa!" panggil Ahra sambil menunggu Jeon. Suaranya terdengar sedikit lesu tidak seperti biasanya yang selalu antusias dan begitu ceria.


"Nde?" Jeon akhirnya menemukan pasta dan saus instan dalam kabinet, mengambilnya dan kemudian berniat memasak itu saja. "Appa masakan pasta ya?" tanya Jeon.


Ahra mengangguk "Nde. Apa saja aku suka." jawab Ahra, namun Jeon merasa Ahra sedang tidak bersemangat hari ini sejak tadi suara putrinya itu terdengar begitu sangat lesu.


"Eumm.. Ada apa dengan putri appa hari ini?" Jeon mencoba bertanya dengan manis meski dirinya sedikit merasa cemas karna ia tau putrinya itu adalah anak yang sangat aktif dan ceria.


Ahra menggeleng. "Appa. Boleh aku bertanya?"


Jeon mengerutkan dahinya sejenak menerka hal apa yang akan ditanyakan Ahra dan menebak hal itulah yang telah menyebabkan Ahra kehilangan semangatnya, sedikit kembali menegang karna biasanya Ahra akan menanyakan sesuatu yang akan membuatnya kembali pusing untuk mencari sebuah jawaban yang tepat dan pantas untuk di pahami anak seusianya.


"Baiklah, tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan sayang. Appa akan mencoba menjawabnya." ujar Jeon


"Apakah Ahra memilki ibu?" tanya Ahra tiba-tiba membuat pergerakan tangan Jeon terhenti saat baru saja akan menyalahkan api kompor.


Jeon tertegun seketika, sepintar itukah Ahra sekarang?. Hingga bisa menanyakan ibunya, sejujurnya hal ini pernah Jeon takutkan sejak dulu hingga ia selalu memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan semacam ini suatu saat nanti. Tapi tidak menyangka Ahra menanyakan hal itu begitu cepat.


Jeon tersenyum melihat Ahra yang memandanginnya seperti sedang berharap, namun air wajahnya itu terlihat menunjukan kesedihan. Jeon menghela nafasnya. "Tentu saja kau punya!" jawab Jeon begitu saja.


Mata Ahra langsung berbinar saat mendengarnya. "Benarkah appa?"


Jeon mengangguk, membenarkan, tentu saja Ahra memiliki ibu hanya saja Jeon tidak tau siapa ibu kandung Ahra yang sebenarnya, sambil berfikir tangan Jeon masih lihai untuk menyiapkan bahan-bahan, memotong bawang serta merebus pasta. "Eumm.."


"Lalu, dimana Eomma berada?"


Lesu. Ahra kembali kehilangan semangatnya. "Jadi appa tidak tau dimana eomma?" tanya Ahra lagi seperti menyimpulkan sendiri, anak itu sudah benar-benar pintar berasumsi.


Baiklah kali ini Jeon akan mencoba sedikit jujur, meski tidak sepenuhnya. "Iya, appa tidak mengetahuinya." sesal Jeon. "Tapi Ahra, appa berjanji akan mencari keberadaan eommamu." dan juga keluarga kandungmu. Jeon bermonolog di dalam benaknya.


Ahra tersenyum mendengar itu, "lalu bagaimana sekarang ahra akan merayakan hari ibu di sekolah?" tanya Ahra lagi membuat Jeon bungkam seribu bahasa.


Benar, Jeon telah melupakan hal itu.


Dulu saat masih kecil dan bersekolah Jeon tak pernah sekalipun ikut dalam perayaan hari ibu, ia terbiasa tumbuh tanpa sosok seorang ibu, hanya ada pengasuh yang selalu menjaganya selama ini, memenuhi segala kebutuhannya, tapi tidak dengan kasih sayang seorang ibu, Jeon tidak pernah merasakan hal itu.


Melihat Ahra sekarang menjadi mengingatkannya dengan masa-lalunya itu, sungguh mirip, hanya saja Ahra kini memiliki dirinya sebagai orang tua tunggal. Jeon bahkan siap menjadi sosok ibu yang 24 jam menjaga Ahra, Jeon begitu sangat menyayangi Ahra, meskipun Ahra bukan anak kandungnya.


Apa Jeon sudah benar-benar menjadi sosok orang tua yang baik bagi Ahra?


Jeon selalu menanyakan hal itu pada dirinya sendiri, apa ia sudah menjadi ayah yang baik bagi Ahra, karna Jeon sendiri tidak dapat membayangkan suatu saat nanti jika Ahra tak lagi bersamanya, atau Ahra bertemu dengan keluarganya yang sebenarnya. Apa ia akan sanggup kehilangan Ahra saat itu. Tapi ia telah berjanji akan menemukan siapa ibu kandung Ahra.


Jeon meninggalkan masakannya itu begitu saja lalu berjalan mendekat pada Ahra, berlutut mensejajarkan dirinya dengan Ahra yang sedang duduk di kursinya, Ahra sendiri hanya terdiam dan memandangi pergerakan Jeon yang kini mulai membelai rambutnya dengan begitu lembut, dengan penuh kasih sayang Jeon tersenyum menatap Ahra, putri kecilnya yang manis.


"Bukankah masih ada appa?. Bagaimana kalau appa saja yang datang ke sekolahmu?" ucap Jeon menggenggam kedua tangan putrinya, memberikan kekuatan agar putrinya tidak lagi merasakan sedih, memberitahukan secara tidak langsung bahwa dirinya akan selalu ada bersamanya.


Ahra merasa bingung dan tak mengerti. "Apa bisa begitu, appa menjadi eommaku juga?" tanya Ahra penuh keheranan.


Jeon mengangguk antusias. "Tentu saja!. Appa ini juga eommamu!, appa akan merangkap menjadi eomma juga untukmu." jawab Jeon penuh penekanan agar Ahra tak meragukan jawabannya.


Ahra pun tersenyum mendengar itu. "Jadi ahra bisa merayakan hari ibu?" tanya ahra kembali, sorot matanya kembali berbinar.


"Bisa!. Sangat bisa!. Rayakan bersama appa. Ahra mengerti?" jawab Jeon selalu begitu manis hanya untuk putrinya.


Memeluk Jeon dengan begitu senang ahra lakukan, begitu erat karna merasa senang saat ia bisa merayakan hari ibu seperti teman-temannya yang lainnya, ahra bahagia sekali. "Appa yang terbaik. Aku menyayangi appa. Appaku yang terbaik!" rapal ahra terus mengutarakan rasa sayangnya pada Jeon.


Benarkan?. Benarkan Jeon ayah yang baik bagi ahra?.


"Nde. Appa juga sangat sayang pada ahra."


***