
Happy Reading.
***
So, are you happy now?
Finally happy now.
Taehyung kembali mendatangi sebuah Bar, sebuah tempat yang terkadang sangat ingin ia datangi sendirian dikala dirinya dalam keadaan hancur. Berbeda dengan masalah-masalah sebelumnya, kali ini lebih daripada itu, Taehyung sungguh terlihat begitu hancur---frustasi---berantakan, merasa bahwa sisi jiwanya telah hilang. Toleransinya yang rendah terhadap alkohol sudah tak dapat terbendung lagi--tidak diperdulikan bahkan sekalipun ia kembali memuntahkannya, seolah ia terbiasa meneguk semua cairan nista itu untuk masuk ke dalam dirinya, menjadikannya menyiksa dengan menghabiskan beberapa botol yang sudah ia pesan. Rasa pait serta-merta tenggorokan yang terikut perih tak lagi begitu terasa, seperti telah mati begitu saja.
"Taehyung-ssi.. Hentikan itu! Kau sudah mabuk." maki seorang wanita yang datang entah darimana menghampiri yang lalu berdiri tepat di samping Taehyung.
Samar-samar mendengar, membuat Taehyung menoleh---kepalanya begitu berat sekali terasa, menjadi linglung akan dunia, bahkan tak menyadari keberadaanya, menandakan cairan alkohol telah bekerja dengan begitu baik. Dalam benak Taehyung menertawakan dirinya sendiri, seperti seolah menyesal kenapa tidak sejak dulu ia menyicipi serta memaksa tubuhnya untuk terbiasa akan cairan nista yang pahit itu, lucu rasanya, kenapa rasa cairan itu begitu sama dengan kehidupannya, terasa pait--dan mencekik.
"Kau siapa?" tanya Taehyung tak lagi bisa mengenali wajah wanita yang baru saja menghampirinya, mengenalnya saja bahkan tidak. Berharap wanita itu adalah Jein juga tidak mungkin, jelas meski dalam keadaan mabuk sekalipun Taehyung itu akan dapat langsung mengenali wanitanya itu--Jein, Taehyung terlalu hafal dengan aroma parfum--suara--serta gaya bicara Jein begitu dalam, begitu mencintainya, hingga rasa cinta dalam dirinya tak tersisah lagi bahkan hanya untuk sekedar mencintai dirinya sendiri, sebab wanita itu sudah berada terlalu lama disisinya---mengisi seluruh lembaran hidupnya selama hampir 8 tahun.
Berdecak dengan kemudian menghempaskan tangan Taehyung saat pria itu akan kembali meneguk cairan dari dalam botol secara langsung, dilakukan wanita itu. "Yak! Jeon Taehyung." omelnya pada Taehyung, yang masih juga tak mau mendengarkan.
Seketika membuat Taehyung jadi memanas, merasa begitu terganggu sekali padahal tak mengenal. "Berikan botolnya!" protes Taehyung menjadi sebal, berbicara dengan meracau ciri khas orang mabuk, tak suka sekali dilarang. Dengan seberapa detik yang telah berlalu kemudian tersadar bahwa baru saja wanita itu sempat menyebutkan namanya. "Tunggu. Kau mengenalku?" menoleh pada wanita itu sekali lagi dengan tatapan memincing, menerka dan melihat samar-samar wajah wanita itu. Namun tak juga cukup berhasil karna penglihatan Taehyung tengah kabur, alkohol telah mempengaruhi.
Wanita itu menghela nafasnya, menatap nanar pada Taehyung--keadaanya benar-benar buruk. "Ini aku. Yujin." ujar wanita itu memperkenalkan dirinya.
Perubahan langsung terlihat jelas, setelah mendengar itu Taehyung membeku, air wajahnya menjadi kaku, lamat-lamat pemikirannya melambat untuk mencerna segalanya merasa sistem kerja otaknya sedang tidak berfungsi secara normal sekarang. "Y-Yu-jin?" terdengar sekali suara Taehyung bergetar, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat--wanita yang begitu percaya diri ini kembali.
Wanita itu benar Yujin, Park Yujin. Sumber api dari permasalahan dirinya dan Jein.
Setelah sekian tahun, setelah pernah meninggalkan Taehyung begitu saja, setelah semua hal yang terjadi secara acak, wanita itu kembali. Kembali tepat berada dihadapan Taehyung, dengan masih menampakan dirinya yang tak berubah sedikitpun, dengan keberaniannya itu yang tak pernah luntur sedikitpun. "Kau kembali?" Taehyung berujar seperti kesadarannya telah menjadi utuh, setelah berhasil mencerna semuanya, tertawa begitu miris sekali, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri, meski sebenarnya ia merasa kepalanya begitu terasa amat berat sekali, begitu tak tertahankan.
Lucu sekali saat mereka malah kembali bertemu setelah sekian tahun, Taehyung tentu tidak terkejut sama sekali mereka kembali bertemu di Bar ini, jelas saja Taehyung tau Yujin ikut andil dalam mewarisi Bar ini.
Wanita itu mengangguki, menjawab pertanyaan Taehyung yang jelas sekali sudah ada di depan matanya. "Eum.. Lama tidak bertemu ya." sapa Yujin dengan kemudian mengambil posisi duduk di samping Taehyung.
Namun bukan hal itu yang terpenting, bukan tentang wanita itu telah kembali, bagaimana dan kapannya, tapi bagaimana Taehyung berhasil menghadapi segala hal setelah kepergiannya, melihat bagaimana keadaan Taehyung kini, begitu berantakan, dengan Jas yang sudah tak terpasang--dasi yang hanya menggantung--dan kancing kemeja atas yang sudah terlepas dua menampakan sedikit dadanya seolah sengaja sekali untuk diekspos, melihatnya semakin menumbuhkan rasa bersalah dalam diri Yujin. "Dia pergi darimu?" tanya Yujin begitu saja---kelewat to the point mengingat perihal Taehyung tak pernah sekalipun mau meminum alkohol sejak dulu, melihat bagaimana pria itu sekarang Yujin menyakini bahwa perubahan besar dalam diri pria itu penyebabnya adalah wanita itu, wanita yang ia percayai bahwa Taehyung amat mencintainya hampir setengah mati.
Jelas saja, Yujin telah mengetahui segalanya. Seberapa besar cinta Taehyung pada wanitanya itu, seberapa bodohnya Taehyung juga karna terlalu sangat baik sekalipun mengorbankan dirinya sendiri. Terkadang Yujin merasa seperti sedang bercermin saat dirinya melihat Taehyung, karna apa yang mereka lakukan tak berbeda jauh. Terlalu mencintai seseorang hingga tak ada lagi yang tersisah dalam diri mereka.
"Siapa yang kau maksud?" gumam Taehyung nyaris seperti berbisik, suaranya lirih sekali.
"Han Jein. Tunanganmu." shoot point kembali terlontar dari Yujin, membuat senyum terukir asimetris di bibir Taehyung saat mendengarnya, perih bercampur lucu ia rasakan, bukan senyum yang menunjukan bahwa ia sedang dalam keadaan bahagia, jelas bukan itu, tapi senyum yang menunjukan bahwa ia menyesal sekarang, melupakan bahwa Yujin adalah sosok wanita yang akan selalu berbicara dengan begitu jelas--gamblang kelewat terbuka sampai-sampai tak memperdulikan untuk menjaga perasaan lawan bicaranya, jujur saja Taehyung sempat kagum pada hal itu--pada Yujin yang selalu bisa mengatakan segala hal dengan begitu jujur. Seharusnya Taehyung sudah tau kearah mana pembicaraan ini. Jelas siapa lagi yang akan mereka bicarakan.
"Bagaimana dengan dirimu? Apa jika sudah dikhianati kau masih mau untuk kembali?" balas Taehyung merasa tak tau harus menjelaskan seperti apa hubungan yang kini ia jalani. Mengatakan yang sejujurnya akan terdengar begitu menyedihkan sekali, bahkan Taehyung sendiri sedang berusaha untuk melupakan kesedihannya itu.
Yujin menggidikan bahunya, terkesan terlalu acuh. Jujur saja ia tak pernah dikhianati, tak pernah merasakan ada di posisi seperti itu, malah sebaliknya, meski begitu rasa hancur yang ia rasakan jauh lebih besar. "Ketika aku mencintainya, aku rasa aku tidak akan perdulikan apapun."
Taehyung menjadi terkekeh sendiri saat mendengar hal itu, satu hal lagi yang telah ia lupakan, tentu saja karna Yujin tidak pernah mencintai orang lain selain satu orang dalam hidupnya. Meski terlihat begitu amat tangguh bahkan tak gentar sekalipun dengan ancaman sang kakek namun wanita itu terlalu naif sekali mengenai cinta, sayangnya Taehyung harus terlibat di dalamnya menjadi peran antagonis yang siap memberi guncangan pada cerita cinta di kehidupan pemeran protagonis.
Tak mendapati jawaban Taehyung malah terkesan sekali pria itu tak ingin menjawab membuat Yujin memilih menyimpulkan--berasumsi seorang diri. "Terdengar sepertinya dia tidak memaafkanmu ya?" tebak Yujin, ia bahkan mengatakannya dengan masih sama, begitu terlewat santai. Seakan semuanya bukan lagi masalah besar baginya, mendapati kehilangan sudah merupakan suatu hal biasa. Hingga bahkan melupakan sejauh apa telah melangkah, penuh luka, lelah, bahkan berjuang. Merasa seakan duri telah tumbuh begitu dalam menancap lalu mengikis.
Taehyung sudah sering kali merintuki dirinya, mendengar ucapan Yujin malah semakin membuatnya sadar akan kesalahannya, menyudutkan dan memperjelas kesalahannya. Tentu saja karna ia sudah menorehkan luka yang begitu dalam pada Jein, melihat gadisnya itu kerap-kali menangis, melukai begitu dalam, berkhianat, menjelma menjadi pria terbrengsek di dunia. Meminta maaf untuk semuanya tidak akan mengembalikan segala hal yang telah hancur.
Tanpa menatap Taehyung, Yujin memandang ke satu sudut arah, seolah fokus menatap meski kenyataannya isi pikirannya telah melalang-buana ke segala arah, sadar sekali ia telah menjadi penyebab hancurnya hubungan Taehyung, memisahkan dua orang yang saling mencintai, itu terdengar sangat kejam--meski sejujurnya Yujin bukanlah orang yang seperti itu, ia memiliki tipekal yang sangat mempercayai akan sebuah cinta sejati. "Maafkan aku, ini semua salahku. Tidak seharusnya aku melibatkanmu dalam masalahku." kata itu terucap begitu saja oleh Yujin disertai dengan senyum kecut yang terukir diwajah manisnya, menunjukan sebuah penyesalan---untuk pertama kali dalam hidupnya Yujin merasakan penyesalan bertubi-tubi sejak delapan tahun lalu hingga kini. Merasa begitu sesak hingga tak berdaya.
Taehyung menggelengkan kepalanya, menyalahkan Yujin atas segalanya bukanlah hal yang tepat, wanita itu juga sudah banyak mengalami kesulitan, mengingat bagaimana ia mengetahui sebesar apa cinta Yujin untuk pria itu--Kim Seokjin. Memilih menyelamatkan Yujin dan membantunya adalah sepenuhnya kesalahan Taehyung. Menghela nafas kemudian menghadap Yujin kembali dengan berujar. "Tidak. Ini semua adalah keputusanku sendiri untuk membantumu. Jadi jangan pernah salahkan dirimu lagi." ucap Taehyung dengan kembali meneguk cairan alkohol, menyesap dan merasakan pahitnya.
Ya, Taehyung merasakan semua hal itu, merasa bahwa dunia tidak pernah adil terhadapnya. Seharusnya ia tak perlu ikut campur ke dalam lingkaran masalah orang lain, sekalipun keadaan memaksanya setidaknya bersikap berpura-pura tidak tau saja, tapi ia malah bertindak sebaliknya seolah seperti pahlawan yang siap melawan musuh demi menolong yang lemah, tapi pada akhirnya yang terluka bahkan hancur adalah dirinya sendiri. Taehyung tidak pernah tau, bahkan tidak pernah terlintas difikirannya sekalipun bahwa kehancurannya itu saat Jein pergi dari sisi hidupnya dan tak akan pernah kembali.
Yujin jadi merasa kesal sendiri, Taehyung sekarang jadi terlihat sama persis dengan pria bodoh yang hanya bisa frustasi tanpa keinginan untuk memperjuangkan. "Perlukah aku menemuinya? menjelaskannya pada Jein secara langsung?" ucap Yujin menggebu sekali, ia sudah kembali sekarang dan memperjelas masalah pada Jein dirasa itu bukan satu hal yang sulit bagi Yujin, meski semuanya telah hancur setidaknya penjelasannya akan dapat membantu Taehyung.
Namun yang Yujin dapati adalah. "Kau tidak perlu melakukannya. Itu hanya akan menjadi percuma." ujar Taehyung tersirat pilu sekali, sesak mengingat bagaimana Jein menjatuhkan air mata karnanya, terluka atas pernikahan yang hampir saja ia lakukan, meski ya Taehyung tetap mengejarnya dengan tidak tau diri, tapi setidaknya Taehyung mencoba untuk tidak lagi menambah luka Jein dengan menyebut-nyebutkan perihal pengkhianatannya itu, Taehyung ingin menjaga perasaan Jein yang sudah begitu hancur karnanya.
"Taehyung-ssi.. Kau tau? Kau terdengar seperti orang dungu yang melepaskan cintamu begitu saja." sindiran keras Yujin dikala ia mulai merasa muak, cintanya sudah tak berhasil dan melihat orang lain merasakan hal yang sama membuatnya merasa kesal sekali.
Geram merasa di remehkan, tapi tak memungkiri memang Taehyung terlihat seperti sangat bodoh. Taehyung menjatuhkan satu botol ke lantai, hingga terdengar suara yang berbunyi nyaring dan memancing perhatian beberapa orang sekitar, tak kala sontak membuat Yujin terkejut. "Taehyung-ssi! Apa kau sudah gila?!" cetus Yujin.
Taehyung malah tertawa mendengar seruan kesal dari Yujin, seperti sengaja memancing amarah wanita itu. Dan sekarang mereka satu sama. Menatap ke arah Yujin dengan mengintimidasi Taehyung lakukan. "Kau pikir apa?! Dengan menjelaskan semuanya akan mengembalikan air mata serta semua luka yang aku torehkan begitu dalam padanya?! Huh? Katakan!" ucap Taehyung naik beberapa oktaf, meski matanya dipenuhi kemarahan tapi sorotnya tak bisa berbohong, Taehyung terluka--matanya berkaca-kaca.
"Taehyung-ssi.." panggil Yujin nyaris tidak percaya saat Taehyung jadi membentaknya. "Maafkan aku." sesal Yujin saat setelah Taehyung membuang pandangannya kearah lain dan tak lagi menghadap Yujin.
Lamat-lamat Taehyung memejamkan matanya, merasakan sesak di dadanya, darahnya berdesir, kemudian menyesali perbuatannya yang telah membentak Yujin barusan. "Sudahlah. Jein juga sudah tidak akan pernah kembali lagi padaku, mungkin saja sudah bahagia bersama pria itu. Jungkook." gumam Taehyung seolah bernarasi, berbicara pada Yujin sekaligus untuk menyadarkan dirinya agar merelakan. Meski tentu Taehyung tak akan bisa dengan mudah.
Yujin mendadak membeku, kedua matanya melebar meski Taehyung tak melihat kearahnya setelah satu nama itu terlontar. "Kau bilang Jungkook?.... Jeon Jungkook?" ulang Yujin mempertanyakan, ingin memperjelas pendengarannya.
Taehyung mengangguki. "Iya, saudara tiriku." serunya begitu saja seolah tak ada masalah dengan hal itu.
Mendengar itu Yujin kini menyimpulkan, bahwasannya Jein kini telah bersama dengan Jungkook, yang Yujin kenal sebagai sahabat baik adiknya sekaligus saudara tiri Taehyung, namun entah bagaimana hal itu bisa terjadi.
***
Hey.. guys.. Bagaimana? Pusing gak guys?