
I purple u~ Readers.
💜💜💜
Happy Reading
***
Belum selesai Jeon dengan menata pikirannya yang telah kacau sekali karna mimpi itu, membuat dirinya bahkan terkesan seperti memaksa Jein sekali. Meski sebenarnya tak ada maksud lain dari Jeon, Jeon hanya ingin Jein tak pergi lagi dari hidupnya, ingin selalu bersama dengan Jein. Namun saat sebelum ia menyelesaikan ucapan gilanya pada Jein, Jeon malah kembali mendapati kabar dari Seokjin---mendapati telpon tiba-tiba.
Dan hal itu yang membuat Jeon kini berada disini sekarang, meninggalkan Ahra, menitipkannya pada Jein sementara. Disini Jeon berada sekarang, di kediaman Kim Seokjin, sebuah rumah yang lebih tepat disebut dengan mansion. Cukup luas jika mengingat hanya Seokjin yang tinggal seorang diri disini, setelah kepergian kedua orang tuanya ke surga.
"Hyeong.. Sekarang jelaskan padaku semuanya." ujar Jeon setelah menduduki dirinya tepat di sofa yang berseberangan dengan Seokjin.
Seokjin langsung menghubungi Jeon saat setelah ia mendapatkan berbagai macam bukti kembali dari informan yang pernah ia perintahkan atas dasar permintaan Jeon sendiri, mendapati sebuah e-mail yang berisikan beberapa bukti akurat mengenai siapa wanita yang pernah menjadi selingkuhan Taehyung sehingga mengkhianati Jein.
Tanpa mengatakan apapun, Seokjin langsung melempar Ipad yang sejak tadi ia pegang dengan begitu saja tepat ke sebelah Jeon dan hampir mengenainya, membuat Jeon sontak sedikit terkejut dengan ulah boss-nya satu ini, dengan lagi-lagi menunjukan sikap sesuka hatinya, meski iya Jeon paham betul Seokjin bahkan bisa setiap hari menggonta-ganti benda yang harganya tidak seberapa itu untuknya, membeli pabriknya pun ia tentu sangat mampu jangan diragukan lagi. Tapi Seokjin terlalu angkuh sekali hari ini, seperti bukan dirinya.
"Apa ini?" tanya Jeon masih begitu kebingungan karna Seokjin bahkan tak menjelaskan apapun.
Terlihat sekali wajah frustasi Seokjin, menghela nafas, kemudian menyilangkan kedua kakinya---menatap Jeon seperti tak berniat sekali untuk menjelaskan apapun. "Buka kiriman e-mailnya. Ada photo wanita itu." titah Seokjin kemudian membuang pandangannya kearah lain. Terlihat ada rasa kesal yang tersirat pada dirinya, bukan kesal pada Jeon jelas bukan, tapi Seokjin kesal pada bukti itu.
Jeon mengikuti perkataan Seokjin dengan membuka kolom paling atas dengan nama e-mail yang terlihat sekali disamarkan, begitu aneh. Konyol, kekanak-kanakan. Apa begini cara kerja detektif agar tidak mudah diketahui banyak orang?
Melihat serta merta mencermati dengan jelas sebuah photo yang tertera Jeon lakukan hingga kemudian ia sadar, begitu amat mengenal wanita yang berada di dalam photo sedang beradegan pelukan bersama Taehyung. "Hyeong! Ini?" mendadak otak Jeon berhenti bekerja. Tak mampu mengatakannya bahkan, karna jelas dirinya sekarang tau apa yang telah menyebabkan perubahan sikap Seokjin pagi ini, berubah menjadi begitu angkuh sekali.
"Benar! Wanita itu Park Yujin. Saudara perempuan satu-satunya Park Jimin. Dan sialnya, dia juga yang mencampakanku untuk menikah dengan pria sialanya yang tidak pernah aku ketahui siapa itu. Haha, ini lucu. Sial sekali aku harus tau sekarang karna hal ini." cerocos Kim Seokjin dibuat-buat seolah dirinya tengah baik-baik saja, jelas Jeon tau, Seokjin itu masih begitu membenci Yujin karna memutuskan hubungan mereka begitu saja tanpa kejelasan, kemudian pergi hingga membuat Seokjin menjadi gila dengan mempermainkan begitu banyak wanita sekarang. Yujin penyebab Seokjin berubah menjadi pribadi yang terkesan amat biadab sebagai seorang laki-laki.
Diawal Jeon memang merasa bersalah karna dirinya Seokjin jadi kembali mengingat wanita itu, tapi setelah kembali memikirkan sesuatu Jeon menarik kembali rasa bersalahnya, menurutnya ini sudah tepat sekali, mengingat Jimin sempat menyampaikan bahwa Yujin akan segera kembali dari Jepang. Tepat sekali untuk mempertemukan keduanya setelah sekian tahun berlalu.
Tunggu, bukankah ini benar-benar tepat, Jeon ingat sekali pernikahan Taehyung itu jelas sudah batal sehingga membuat hubungannya dan Jein sempat membaik, tapi kemudian kembali putus karna wanita itu hamil.
What?! Jeon baru mengingat hal itu. Yang artinya, Taehyung jelas sangat brengsek. Kemudian, jika saja Seokjin masih mencintai Yujin dan mau menerima anaknya, tak ada masalah kalau mereka kembali bersama.
"Hyeong!" panggil Jeon kembali. Berusaha membujuk Seokjin agar menatapnya.
"Tidakah kau ingin kembali padanya?" Dengan satu tarikan nafas Jeon berhasil mengeluarkan sebuah kalimat kramat yang bahkan pantang sekali untuk dikatakan pada Seokjin, Jimin serta-merta teman-teman Seokjin yang lain tak pernah ada yang berani untuk membahas secara langsung sang mantan Seokjin itu apalagi menanyakan perihal berhubungan kembali, gila saja Seokjin bisa mencak-mencak seketika, hanya Jeon lah yang baru berani mengatakan hal itu dan tak takut sama-sekali dengan amukan Seokjin sewaktu-waktu. Ingin sekali rasanya mengembalikan sosok Seokjin yang dulu, yang hanya setia pada satu wanita saja.
Sontak saja Seokjin menoleh pada Jeon, tertegun bukan hanya karna keberanian Jeon, jelas sekali karna pertanyaan Jeon yang kelewat santai, tidak berfikir sekalipun bahkan Seokjin tak pernah ingin melihat wajah wanita itu lagi.
Seokjin menyeringai, lalu tertawa geli. Seperti seorang yang suka sekali berganti-ganti ekspresi wajah begitu cepat. "Apa kau sudah gila? Hahaha.. Yang benar saja Jeon." pelik Seokjin masih tertawa cukup geli.
Jeon hanya dapat memandang iba pada Seokjin, miris sekali, jelas sekali bahwa Seokjin masih amat mencintai cinta pertamanya itu meski bahkan waktu telah begitu lama berlalu, meski semuanya sudah berakhir 7 tahun lalu. Tapi Jeon tau, perasaan Seokjin tak pernah berakhir untuk Yujin.
"Yujin yang mengejar-ngejar dirimu dulu, menyukaimu bertahun-tahun meski kau bahkan selalu menyakitinya. Kau tau bahwa Yujin terlalu mencintaimu, hingga ia tak memperdulikan rasa sakitnya sendiri. Mungkin saja ia sudah terlalu lelah kala itu, Yujin juga manusia biasa. Hyeong.. Tidakah kau ingin melakukan apa yang Yujin juga lakukan? Berjuang untuknya sekali saja. Mengejarnya?" cecar Jeon entah kenapa menjadi menggebu sekali, sangat terlihat sekali ingin membela Yujin. Meski bahkan Jeon tak mengenal dekat Yujin tapi ia tau, kakak Park Jimin itu begitu tulus mencintai Seokjin sejak semasa SMA. Mengejar-ngejar Seokjin, merubah dirinya menjadi apa yang Seokjin sukai, hingga bahkan menyingkirkan beberapa gadis yang terus mengganggu Seokjin, dalam artian yang benar-benar mengganggu bukan yang menyukai Seokjin, Yujin itu gadis yang cukup bijaksana perihal memilah, jelas sekali ia bahkan mendukung para penggemar Seokjin karna jelas pria itu begitu fenomenal akan ketampanannya, tapi Yujin tidak mendukung para fans kriminal yang suka mengorek segala privasi Seokjin, Yujin selalu berhasil membasmi para pengganggu layaknya malaikat penjaga.
Tak memungkiri bagi Seokjin, Yujin adalah gadis yang tahan banting meski sudah disakiti dirinya ratusan kali dengan perkataan keji. Seperti, 'wanita tidak tau malu', 'jangan pernah muncul lagi di hadapanku', atau 'kau hanyalah pengganggu di hidupku, enyahlah'. Jelas Seokjin mengatakan hal itu karna mengira sebelumnya Yujin mendekatinya hanya karna mengetahui bahwa Seokjin akan mewarisi harta yang begitu amat banyak, tidak mencintai dengan sungguh-sungguh.
Tapi setelah ia mendapati satu ginjal milik Yujin, Seokjin menyadari ia sudah salah besar, wanita itu begitu tulus mencintainya. Mengalami kecelakaan hingga terjadi kerusakan pada ginjalnya, membuat Seokjin diharuskan mendapati donor sesegera mungkin, dan saat itu tanpa pikir panjang Yujin adalah orang pertama yang langsung menawarkan diri untuk melakukan pemeriksaan pencakokan ginjal, beruntung ginjalnya cocok hingga Seokjin pun berhasil diselamatkan. Hanya saja sangat disayangkan kedua orang tua Seokjin tak berhasil di selamatkan kala itu.
Meski kisah cinta mereka tak berlangsung lama, hanya sekitar beberapa bulan. Sampai dimana Yujin mengkhianati Seokjin, ingin menikah dengan pria lain yang akan memberikan segalanya pada Yujin. Menyisahkan luka dalam yang bahkan Seokjin sudah bermimpi untuk membangun rumah tangga yang bahagia sekali bersamanya, mengingat kedua orang-tuanya yang telah tiada dan hanya menyisahkan satu-satunya wanita itu disisinya, menggantungkan segala kebahagiaan pada wanita itu, hingga berakhir dengan kekecewaan.
Tidak, setelah Seokjin mengembalikan kesadarannya secara utuh sekarang. Ia sadar---menyadari bahwa ia sangat membenci Yujin, benci sekali. Sampai bahkan tak bisa memaafkan wanita itu sama sekali.
Mungkin benar yang telah dikatakan oleh banyak orang, bahwa jika kita terlalu besar mencintai seseorang, maka besar kemungkinan pula akan lebih banyak menyakiti diri sendiri, begitu lebih banyak ketika merasakan kekecewaan, dan mulai membencinya.
Bukankah cinta itu harusnya lebih bertoleran, memaklumi, dan menerima. Tidak menuntut, bahkan memaksa.
Lalu, Seokjin ditahap yang mana? Mungkinkah di tahap yang terlalu besar mencintai seseorang?
Terlihat sangat jelas berusaha untuk membenci sekali.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Seokjin memilih bangkit, berdiri dari tempatnya. "Aku tidak tau," sanggahnya menjawab pertanyaan tentang apakah ia bisa dan mau kembali mengejar Yujin. "Ah.. Kau bawa saja Ipad itu, jika sewaktu-waktu mereka mengirimkan bukti kembali, aku jadi tak harus repot-repot memanggilmu kemari." sambung Seokjin kemudian lenggang meninggalkan Jeon begitu saja.
Entah karna tak ingin kembali membahas wanita itu, ataukah Seokjin menjadi ragu dengan perasaannya sendiri.
***