Jeon Appa

Jeon Appa
Sweet Night



"Jeon kau bilang apa tadi?" Jein masih membeku di tempat, masih begitu amat terkejut setelah semua perkataan yang Jeon katakan pada Taehyung tadi.


Sebelumnya Jein sudah mengetahui semua perihal mengenai Taehyung, semuanya tanpa terkecuali, siapa Taehyung dan bagaimana sekarang Taehyung mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Bagaimana Taehyung dilahirkan dari hubungan di luar pernikahan, bahkan Jein sempat mengenal mendiang sosok ibu Taehyung semasa di Daegu sebelum akhirnya ibunya itu juga meninggal dunia, dan hanya menyisahkan Kakek Taehyung. Membuat Taehyung terpuruk dan memilih mengambil keputusan mengikuti sang ayah yang berada di Seoul, meninggalkan Jein di Daegu, melakukan hubungan jarak jauh, untuk mengambil alih perusahaan ayahnya itu. Hanya sampai disitu. Jein tak pernah mengetahui perihal apa Taehyung memiliki saudara atau tidak, karna Taehyung pun tak pernah menceritakan bahwa ayahnya itu juga mempunyai anak lain, mengenai anak lain ayahnya, saudaranya Taehyung, dan orang itu adalah Jeon.


Jeon menghela nafasnya, menatap nanar ke arah Jein, benci sekali mengakui segalanya. "Ya, aku mengenalnya. Aku juga sudah mengetahui kau adalah mantan tunangan Taehyung." ungkap Jeon begitu saja.


Wow, Jein sungguh cukup terkejut mengenai hal itu, tak menyangka pula bahwa Jeon akan mengucapkan hal itu begitu saja dengan mudahnya, dari mulutnya sendiri. Sebegitu jujurkah Jeon pada Jein.


Tapi, ada hal lain yang membuatnya penasaran. "A-apa kau terluka?" entah bagaimana kata itu keluar begitu saja dari mulut Jein, bukan--Jein bukan menanyakan terluka atas hubungan dirinya dan Taehyung, jelas bukan itu, karna mereka hanya teman, dan yang Jein maksudkan adalah mengenai perselingkuhan yang ayahnya lakukan. Jein sangat tau perasaan seperti itu, sakit sekali sebagai yang di selingkuhi apalagi Jeon yang sebagai anak.


Semasa kecil Jein hanya selalu mendengar bagaimana sosok mendiang sang Ibu Jeon, Jeon selalu menceritakan bagaimana mendiang sang Ibu pada Jein, terdengar dan teringat begitu membekas di benak Jein bahwa Jeon itu sangat terlihat begitu mencintai ibunya, sebab itu Jeon jadi anak yang pendiam, dingin, penyendiri. Amat menyedihkan jika Jein kembali mengingat fakta di balik anak malang itu. Tak dapat membayangkan pula bagaimana bisa Jeon menjalankan kehidupannya dengan menyimpan luka seperti itu sendirian.


Jeon hanya terdiam, mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak menjawab sama sekali pertanyaan Jein.


"Jeon.." panggil Jein begitu lembut.


Detik berikutnya Jein mendekatinya, menghimpit jaraknya, kemudian memeluk Jeon begitu saja, perasaan serta nalurinya menuntun dirinya melakukan hal seperti itu. Jeon hanya terdiam saat Jein melakukan hal itu, seolah ada perasaan nyaman tersalurkan, meringankan beban hatinya.


"Jeon dengar," Jein semakin memeluk Jeon dengan sangat kuat, mempererat tangannya di pundak Jeon. "Kau punya aku bukan? Kau bisa mengatakan apapun padaku seperti dulu eum.. Seperti saat kita masih kecil, ceritakan semuanya padaku. Jangan pernah menyimpan lukamu lagi sendirian seperti ini ya?" pinta Jein dengan penuturan begitu amat lembut, seperti seorang teman yang tak akan pernah meninggalkan temannya. Membuat reluang hati Jeon semakin begitu menghangat, merasa seperti lukanya bisa pulih begitu saja karna Jein.


Jeon mengurai pelukan Jein, melepaskannya dengan kemudian di ganti membalas pelukan Jein dengan posisi depan yang terlihat saling memeluk satu-sama lain. "Asalkan kau ada, itu sudah cukup. Aku tidak akan pernah merasakan sakitnya begitu dalam lagi." ujar Jeon di dalam pelukannya. Membuat Jein semakin mempererat pelukannya. Kenapa rasanya sakit serta memilukan sekali ketika Jeon memintanya seperti itu, meski tanpa Jeon meminta Jein pun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meninggalkan Jeon lagi.


"Aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap berada disisimu." entah atas dasar apa Jein mengatakan hal itu.


"Berjanjilah untuk hal itu, berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan aku seperti dulu." pinta Jeon membuat Jein sedikit tertawa saat mendengarnya, merasa kepergian Jein dulu juga membuat Jeon begitu merasa kehilangan. Mungkin saja terluka.


Di dalam pundaknya Jein mengangguk, Jeon dapat sekali merasakannya. "Aku janji." jawab Jein membuat Jeon mempererat pelukannya.


Merasa terlalu begitu nyaman sampai akhirnya Jein mulai merasakan perutnya begitu lapar, ia melupakan tentang makan malam sejak Taehyung menghubungi tadi. Dengan kemudian ia mengurai pelukannya, menatap Jeon kemudian. "Jeon. Aku lapar sekarang." kata Jein begitu kelewat polos membuat Jeon jadi menahan tawa geli saat melihat ekspresi wajah Jein. Bisa-bisanya gadis itu menghancurkan suasana harunya dalam sekejap.


"Baiklah, kita pesan makanan saja. Kau ingin makan apa?" tanya Jeon setelah dengan sigap langsung mengambil ponselnya yang berada di kantung saku.


Melihat-lihat berbagai menu makanan, semakin membuat Jein bingung dan malah bertambah lapar. "Kau saja yang tentukan ya? Aku bingung sekali." ujar Jein setelah melihat semua menu yang Jeon tunjukan begitu cukup banyak sekali, dan pada akhirnya memilih dipilihkan saja. Ciri khas wanita sekali.


"Aku pilih bulgogi dengan saus asam manis ya?" tanya Jeon saat akan menunjukan layar ponselnya, namun tanpa perlu melihat Jein yang mendengarnya sudah mengiler sekali dan langsung mengangguk menyetujui begitu saja.


Dengan lihai, Jeon langsung mengklik semuanya dengan cepat memesan. "Sudah, kita tunggu 30 menit. Kalau begitu aku akan mengambil cola untuk kita minum selagi menunggu." ujar Jeon segera bangkit dan menuju ke dapur.


Namun, tidak sampai 30 menit, mungkin sekitar 25 menit makanan sudah tiba dengan kurir yang begitu amat ramah ketika Jeon menerima makanan, diikuti dengan Jein yang tak sabar sekali dan jadi membututi Jeon dari belakang saat mengambil makanan meski hanya di depan pintu. "Apa kalian pengantin baru?" tanya sang kurir melihat serta merta Jeon dan Jein bergantian.


Jein yang begitu terkejut ketika mendengar itu langsung menyela. "Ah.. Bukan, kami hanya teman." jawab Jein yang langsung mendapati tatapan mencuriga dari sang kurir. Lucu sekali, seolah telah terlihat sedang mengelak. Tapi hanya Jein saja yang mengelak, Jeon bahkan tak memperdulikan sama sekali.


"Hanya teman?" kurir itu kembali membuka suaranya, ketika merasa amat bingung terlihat berbeda sekali dengan fakta yang ia lihat. Sambil menyelesaikan kartu pembayaran yang Jeon lakukan.


Kurir itu pun tertawa mendengarnya, bukan tawa yang meremehkan, karna ia sudah terlihat cukup tua untuk itu mungkin juga sudah menikah, namun belum terlihat paruh baya. "Ya.. Terserah kalian saja, pengantin baru bebas mengatakan apapun. Aku juga dulu seperti itu dengan istriku, dia tak mau mengakuiku di depan pria tampan sebagai suaminya, ckck.." kata sang kurir disertai dengan curhatan pengalamannya, namun terlihat seperti sekali memojokan bahwa Jein berbohong padahal Jein mengatakan yang sebenarnya.


Apa paman itu sedang merasa dirinya tampan? Sehingga Jein terlihat seperti harus berbohong dan mengatakan Jeon bukan suaminya, apa Jein itu nampak terlihat berpura-pura belum menikah. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Paman itu salah paham membuat Jein sangat dongkol mendengarnya.


Jeon yang mendengarnya hanya terkekeh ria. Lucu sekali melihat wajah Jein yang kini sudah mengerucut sebal. "Baiklah.. Terima kasih paman." seru Jeon ketika pembayaran mereka selesai, dan segera menutup pintunya juga setelah memberi salam dan sang paman kurir telah pergi.


"Sudahlah jangan terlalu didengarkan paman itu." tutur Jeon yang masih disertai kekehan.


Jein memincingkan matanya saat menatap Jeon, seperti siap sekali untuk juga memaki pria itu karna sudah berbicara seenaknya tadi. "Kau! Kau juga ikut andil tadi! Siapa? yang mengatakan dan menyetujui paman itu kalau aku ini istrimu?! Aish... Menyebalkan." gerutu Jein masih sebal.


Bukan--bukannya Jein tak terima dengan pernyataan itu, tapi Jein hanya tak suka di sebut seperti berbohong, Jein itu seorang guru dan panutan yang tidak boleh berbohong. Sebal saja rasanya di kira sedang berbohong seperti itu.


Melangkahkan kaki ke ruang tengah, meninggalkan Jein yang masih juga berdiam diri di dekat pintu. "Kau ini seperti tidak terima saja dan sangat terlihat tidak mau sekali menjadi istriku sebegitunya ya? Baiklah besok saat aku akan memesan lagi, aku akan jelaskan pada paman itu bahwa kita bukan suami istri." jawab Jeon terdengar seperti menyindir Jein. Tersirat sekali nada kekecawaan, berfikir seperti Jein sangat terlihat sekali tidak mau menjadi istrinya, meski hanya dalam perkiraan orang lain sekalipun, padahal Jeon merasakan hal sebaliknya.


Berpindah ke ruang makan, membuka seluruh kotak makan yang sudah di pesan tadi, Jein sendiri sudah siap sekali untuk memakan segala hal yang ada dihadapannya, rasa laparnya sudah tak dapat lagi ditahan, setelah mendapatkan miliknya ia segera saja membuka dan memakannya begitu saja. Memasukan satu suapan lalu mengunyahnya dengan hikmat, "wuuahhh, ini sangat lezat." puji Jein terlihat begitu menyukainya sekali.


"Benarkah?" tanya Jeon sorot matanya cukup berbinar saat Jein mengatakannya. "Suapi aku, mau mencoba juga." seru Jeon meminta milik Jein.


Jein hanya memincingkan matanya menatap Jeon dengan curiga. "Bukankah punya kita sama? Makan saja milikmu." balas Jein merasa Jeon sedang curang dan ingin menghabiskan makanan miliknya.


Jeon berdecak. "Tidak. Punya kita berbeda, aku tidak asam manis, aku yang pedas manis." ujar Jeon mematahkan kecurigaan Jein.


Sedikit merasa bersalah akhirnya Jein pun memilih mengisi sendoknya, kemudian mengarahkan itu pada Jeon---menyuapi Jeon. "Buka mulutmu." pinta Jein, dan Jeon dengan senang hati melakukannya, senyum terukir begitu sangat lebar di wajah Jeon. Manis sekali, ingin terus seperti ini bersama Jeinnya. Selamanya. Jeon rasa itu cukup, tidak memerlukan apapun lagi di dunia ini.


"Bagaimana? Enakkan?"


"Sangat lezat, ditambah memakannya dari tanganmu."


"Aish.. Membual!"


Jeon hanya terkekeh mendengar makian Jein, meski sejujurnya tidak lucu sama sekali namun bagi Jeon itu menggemaskan, bagaimana wanita itu sejak tadi terus saja marah-marah, mendeklarkan seolah ia sangat tidak ingin bersama dengan Jeon, tapi masih saja bersikap manis sekali. Bukankah itu lucu? Membuat Jeon jadi tersenyum sendiri memikirkannya.



Merasa tidak pernah sebahagia ini, sedamai, dan senyaman ini, Jeon ingin rasanya menjadi egois, bisakah dan bolehkah ia menjadi egois, setidaknya untuk pertama dan terakhir kali di dalam hidupnya, ia ingin menjadi egois, sekali saja. Karna terlalu nyaman dengan sosok yang sedang ada dihadapannya, tertawa bersama, menghabiskan waktu. Bisakah hal ini terjadi selamanya? Bolehkah.


Bolehkah Jeon menjadi egois dengan menjerat serta menahan Jein agar tetap selalu di sisinya tidak memperdulikan apa wanita itu menginginkannya atau tidak. Bolehkah seperti itu. Memeluknya, merengkuh, menjadi manusia egois. Jeon rasa ia akan segera melakukannya.


***