
Musim terus saja berganti seiring berjalannya waktu yang entah kenapa sekarang menjadi terkesan begitu amat cepat, kini musim semi lah yang telah tiba, bergulir dan terus berganti, cukup menemani---menjadikan saksi bisu perjalan mengenai segala kejadian yang telewati begitu saja.
Berharap setelah melewati banyaknya pergantian musim, serta merta luka yang pernah terjadi di musim semi sekalipun, masih berharap musim semi kali ini yang akan menjadi saksi bisu perjalanan kisah lain yang jauh lebih membahagiakan bagi Jeon, menjadi penawar setelah semua hal yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Sepekan sudah Jeon hampir selalu memikirkan dan terus-menerus berusaha memberikan perhatiannya secara penuh pada Jein, ingin merebut serta-merta mengambil hati wanita itu seutuhnya. Tidak merelakan sekaligus membiarkan wanita itu akan kembali pada sang kakak tirinya, Jeon bersumpah tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Jeon bahkan telah memutuskan, untuk segara melamar Jein, ingin segera mengikatnya saja kalau bisa detik ini juga ia lakukan. Dengan niat begitu penuh, ia mempersiapkan segalanya, membeli sebuah cincin, merencanakan sebuah kencan namun ia akan tetap mengajak Ahra putrinya nanti.
Merealisasikan segala niatnya, hal gila yang sebelumnya pernah ia katakan secara terang-terangan namun masih terdengar seperti orang gila saat itu pada Jein---tentang sebuah pernikahan yang ingin ia lakukan bersama Jein, tentu Jeon bersungguh-sungguh saat mengatakan hal itu, hanya saja sepertinya wanita itu tak menganggap serius sama sekali ucapan Jeon yang benar-benar ingin menikah dengannya. Tapi, Jeon tak memperdulikannya. Ia hanya akan membuktikan kesungguhannya.
Sekarang Jeon berada tepat di depan sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Jein. Jeon sempat menanyakan perihal rencana makan malam bersama sebelumnya, memastikan kapan Jein bersedia untuk meluangkan waktunya. Tipekal basa-basi dalam hal mengajak wanita berkencan, Jeon terlalu kuno sekali bukan. Dan kini mereka akan melakukannya. Makan malam bersama, bertiga bersama dengan pula Ahra. Manis sekali bukan, mereka akan terlihat seperti keluarga bahagia yang begitu harmonis, setidaknya itu menurut pandangan orang lain saat melihatnya.
Menunggu wanita itu untuk segera keluar dari rumahnya Jeon lakukan dengan bersandar pada mobilnya, sementara Ahra menunggu di dalam mobil, Jeon pun menunggu dengan sesekali melirik pada Jam tangan yang ia kenakan di pergelangan sebelah kirinya. Tipekal sama seperti kebanyakan orang lainnya yang akan berkencan, seperti layaknya tradisi, atau aturan yang ditetapkan yaitu menjemput sang wanita yang begitu amat lama untuk sekedar berdandan.
Cukup lama Jeon menanti hingga akhirnya Jein pun keluar juga, menampakan dirinya yang begitu terlihat berbeda sekali malam ini, sampai-sampai membuat Jeon kelimpungan sendiri saat melihatnya---begitu terpanah pada pesona seorang Jein.
Dress sepanjang lutut warna softpink dengan model bahu terbuka, sepatu heels, rambutnya yang terurai, tas kecil yang menggantung di bahu kirinya, tak melupakan riasan wajah tipis yang semakin membuat Jein terlihat begitu anggun sekali malam ini.
Sangat cantik.
Sebelumnya Jein sempat memikirkan dan menerka, apakah Jeon sedang mencoba mengajaknya berkencan dengan sungguh-sungguh, hingga kemudian ia kembali mengingat perihal janjinya dengan Taehyung mengenai 'menemukan penggantinya', ada hantaman sedikit cukup keras membentur relung hatinya. Tidak cukup kuat namun cukup membuatnya sadar. Sadar apakah dirinya sanggup membuka hati seutuhnya jika Jeon adalah orangnya?
Jeon sendiri tak kuasa saat melihatnya, hingga tak sadar bahwa dirinya tak henti-hentinya terus menatap ke arah Jein, terlihat terpanah sekali, hingga bahkan tak menyadari bahwa Jein kini sudah berada tepat berdiri di hadapannya, menunggu Jeon untuk mengatakan sesuatu. Seperti menyapanya.
"Jeon-ssi.." Jein mencoba melambaikan tangannya tepat di depan wajah Jeon, mencoba menyadarkan Jeon yang sedang melamun.
Dan detik berikutnya Jeon mengerjapkan matanya, beberapa kali setelah tersadar apa yang baru saja ia lakukan adalah hal yang cukup memalukan sekali. Yaampun, apa ini yang dinamakan ungkapan dari Jika kita jatuh cinta pada seseorang maka kita tak akan melihat siapapun lagi, kecuali orang itu saja. Benar, mata serta pikiran Jeon bahkan sudah dipenuhi oleh Jein seorang sekarang, Jeon sampai merasa dirinya pasti sudah gila.
Jein jadi terkekeh saat melihat Jeon tersenyum begitu kikuk terlihat sekali menahan rasa malunya, "Aku begitu cantik ya? Sampai-sampai kau seperti ini." gurau Jein. Berbicara dengan asal---tak benar-benar serius, ia bahkan tak pernah sepercaya diri ini sebelumnya, mendeklarkan seolah membanggakan kecantikan, jujur Jein sendiri bukanlah tipekal orang yang memiliki karakter seperti itu, ia benar-benar hanya berniat bercanda saja untuk memecahkan suasana yang menjadi begitu canggung.
Tersadar dan merasa malu karna jelas sekali tertangkap basa telah memandangi Jein seperti terpanah. Tidak membuat Jeon merasa gugup sama sekali, malah semakin membuatnya gemash, dan tertantang. "Whoa, bagaimana ya? Kau memang benar-benar cantik malam ini. Aku sampai tidak percaya bahwa ini adalah dirimu." seru Jeon memuji sekaligus merayu bersamaan.
Bug. Jein melakukan pukulan kecil pada bahu Jeon, membuat sang empuh mengaduh padahal Jein hanya memukulnya pelan. "Ouch.. Galak sekali. Tapi aku tetap suka."
Jein yang mendengar itu hanya memutar bola matanya. Malas sekali kembali mendengar bualan Jeon untuk kesekian kalinya, merasa bahwa Jeon terlalu berlebihan sekali sekarang.
"Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini terus, sih?" gerutu Jein kemudian memilih mengabaikan, berjalan melewati Jeon untuk membuka pintu mobil, ingin segera mengakhiri percakapan melantur Jeon ini.
Tapi sebelum Jein berhasil masuk, satu tangan Jeon tiba-tiba saja mencegahnya, mengampit lengan Jein, membuat sang empuh menoleh. "Ada apa?" tanya Jein.
Bukan mendapati sebuah jawaban, terlihat Jeon malah melepaskan Jasnya begitu saja dengan kemudian mengenakannya pada Jein, guna menutupi bahu terbuka yang sengaja Jein perlihatkan. "Aku tak akan membiarkan orang lain melihat ini." ujar Jeon sukses membuat Jein membeku dibuatnya, begitu terpaku, masih mencoba berusaha untuk mencerna kalimat Jeon. Menatap air wajah pria itu begitu terlihat cukup serius sekarang, cukup dekat sekali jaraknya.
Apakah Jeon sekarang sedang memerankan diri sebagai seorang pria yang menjaga wanitanya?---Jein bermonolog di dalam kepalanya.
Meski sebenarnya tentu Jeon senang sekali melihat Jein begitu cantik, tapi ia tidak merelakan sedikitpun jika ada orang lain yang juga melihat bahu cantik Jein.
Mengacak lembut rambut Jein lalu berujar, "Sungguh cantik." memberikan senyuman mautnya dengan lalu meninggalkan Jein begitu saja memasuki mobil ke sisi kemudi, sementara Jein masih mematung di buatnya.
Jein menjadi berdebar sendiri setelah melihat Jeon, merasa bahwa pria itu begitu terlihat serius dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Sementara sang pria sudah lenggang begitu saja masuk kedalam mobil membiarkan Jein masih terpaku setelah memberikan perlakuan kelewat manisnya itu, apa ia tak menyadari bahwa tindakannya itu telah berdampak pada Jein sekarang.
***
Jeon telah memesan tempat di sebuah restoran yang memiliki privat room, yang bahkan sudah di dekorasi secara khusus dengan memperlihatkan berbagai hiasan bunga, serta-merta pemain biola sebagai hiburan. Tentu saja Jeon mempersiapkannya dengan di bantu oleh sang kakak siapa lagi kalau bukan Seokjin yang selalu siap bersedia untuk dipersulit oleh Jeon.
"Jeon, tidakah ini berlebihan?" Jein kembali berujar saat melihatnya secara langsung.
Merasa bahwa pria yang pernah menjadikan dirinya sebuah tameng, mendeklarkan dirinya menjadi pelindung untuk Jein dimasa kecil ini sedang cukup serius, serius menunjukan keinginannya untuk menjalin hubungan. Meski, masih ada perasaan ragu yang menyelami hati Jein. Bukan-bukannya ragu terhadap Jeon, justru Jein melihat jelas dan dapat merasakan keseriusan pria itu begitu nyata, yang Jein ragukan adalah dirinya sendiri.
Jeon benar-benar menyiapkan segalanya dengan baik.
Menerima pertanyaan Jein mengenai dekorasi yang terlihat berlebihan, Jujur bahkan Jeon masih merasa ini sangat kurang, sebenarnya Jeon ingin makan malam di sebuah restoran yang terdapat pantai---di dekat pantai, di dalam bayangannya melamar Jein di latari dengan view pantai akan menjadi kesan yang tak terlupakan, ingin membuat kenyataan yang berbeda dengan yang ada di dalam mimpinya, melamar Jein dengan cara yang sewajarnya. Tapi apa daya mereka begitu amat sibuk dan tak memiliki waktu yang cukup untuk pergi sejauh itu, serta merta membawa Ahra, akan membuat Ahra merasa kelelahan.
Jeon menggidikan bahunya santai. "Kau suka?"
"Jujur saja, aku seringkali melihat hal seperti ini di dalam series drama, serangkaian bunga-lilin diatas meja- serta merta pemain musik, saat sepasang kekasih melakukan dinner. Aku suka, tapi aku tak menyukainya secara langsung, sebab itu Taehyung tak pernah berani melakukannya." jelas Jein tanpa sadar malah kembali menyebutkan nama seseorang yang seharusnya tak ia sebutkan. Sukses memberitahukan secara tidak langsung pada Jeon, bahwa Taehyung sepengertian itu padanya, membuat Jeon meruntuki dirinya sendiri sekarang.
Menyadari kesalahannya saat melihat air wajah Jeon, Jein mencoba kembali menjelaskan maksud ucapannya. "Jeon, maaf aku tidak bermak--"
"Tidak--t--tidak masalah sama-sekali, ini salahku. Seharusnya aku bertanya terlebih dahulu padamu." Jeon menarik senyumnya yang di buat seolah baik-baik saja saat mendengar hal itu. "Maaf ya.." ujar Jeon dengan kikuk menggaruk tekuk lehernya, menyembunyikan rasa gugupnya. Niat hati ingin membuat suatu hal yang sangat romantis tapi malah gadisnya tak menyukai hal itu.
Mendapati sikap gugup Jeon, Jein cepat-cepat menggelengkan kepalanya, pria itu sudah berusaha tidak seharusnya Jein malah mematahkannya. "Tapi Jeon, aku sungguh berterima kasih. Aku menyukainya." jawab Jein lagi dengan sungguh-sungguh, membuat kelegaan langsung memasuki relung hati Jeon setelah hampir saja ia memaki dirinya sendiri.
Sorot mata Jeon menjadi berbinar, seolah mendapati titik cahaya, "Benarkah?" tanya Jeon memastikan, "Ku harap kau tidak berbohong hanya untuk membuatku senang." sambungnya menebak.
Jein menjadi terkekeh sendiri, geli sekali seolah Jeon itu sedang merajuk padanya, tidak memiliki rasa malu dengan putrinya sendiri yang masih ada bersamanya. "Pengecualian! aku senang menerima hal ini darimu. Aku sungguh menyukainya." entah untuk apa tapi Jein merasa harus mengatakan hal ini, agar sahabatnya itu tak menjadi kecewa mungkin.
Menikmati pemusik biola, memakan makanan dengan hikmat, bercanda gurau serta-merta bersama Ahra sesekali. Jein lakukan, tapi entah kenapa ia mendadak menjadi sangsi sendiri pada sikap Jeon, seperti pria itu telah benar-benar terbentur sesuatu, karna sikapnya membuat Jein menjadi canggung sekali malam ini, terkesan merasa serba-salah sekali untuk melakukan sesuatu.
Sampai dimana saat dirinya masih mengunyah--memakan fresh meat dengan begitu hikmat tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang aneh, seperti benda keras yang asing telah masuk kedalam mulutnya. Membuatnya mendelik seketika, dan mengeluarkan benda itu cepat-cepat dari mulutnya, tercengang kemudian saat ia mengetahui benda yang baru saja hampir terkunyah.
Cincin, sebuah cincin.
Tercengang sekali, bukankah ini terlalu klasik?
Sontak saja Jein langsung menoleh kearah Jeon yang duduk bersebrangan dengannya. Masih dengan menggenggam cincin ditangannya. Ingin meminta suatu penjelasan.
"Jeon? Apa ini?" tanya Jein menunjuk langsung pada benda kecil itu, berpura seolah tak mengerti maksudnya.
Berharap pemikirannya telah salah saat beberapa lalu terlintas. Berfikir, bahwa Jeon sedang mencoba melamarnya.
"Saem.." panggil Ahra secara tiba-tiba mengintrupsi agar di perhatikan. Jein yang semula melihat kearah Jeon, jadi mengalihkannya pada Ahra yang berada tepat disebelahnya.
"Kenapa sayang?"
Ahra mengarahkan sebelah tangannya demi menggenggam tangan Jein, memandang ke arah sang guru kemudian, dengan tatapan serius, "Saem, Aku pernah meminta satu permintaan pada appa, dan appa ingin mewujudkannya. Tapi,"
"Tapi?" Sambung Jein ingin Ahra melanjutkan ucapannya.
Takut-takut Ahra kembali menatap gurunya itu, merasa ragu untuk mengucapkan. "Hanya Saem yang bisa membantu appa."
Jein tertegun, bingung juga, seperti apa permintaan Ahra itu pada Jeon, hingga Jeon membutuhkan dirinya untuk mewujudkannya.
"Memangnya apa yang Ahra inginkan? Eum.." tanya Jein lagi, melembutkan suaranya. Menunjukan kesan seorang wanita dalam dirinya yang cukup manis saat berbicara pada anak kecil.
"Ingin Saem menjadi ibuku." ungkap Ahra yang membuat tubuh Jein langsung membeku seketika.
Belum sempat menetralkan keterkejutannya karna ucapan Ahra, Jeon menambah dengan melancarkan aksinya, dengan tindakan Jeon yang tengah berdiri, berjalan menghampiri tempat bangku Jein dengan kemudian mengambil cincin yang ada ditangannya, dan berlutut setelahnya menghadap Jein, wanita itu hanya tetap terdiam memperhatikan saja tanpa ada keinginan untuk membuka suaranya.
Jein tak memungkiri saat melihat tatapan mata Jeon, sorot matanya begitu memancarkan ketulusan. Melihat bagaimana pria itu begitu sangat memperlihatkan keseriusan dengan kegugupan yang berusaha ia sembunyikan, membuat Jein tak kuasa untuk mengatakan apapun selain menunggu apa yang akan Jeon sampaikan padanya.
"Mungkin akan terlihat seperti pengecut yang tidak berani untuk menyampaikan seorang sendiri karna aku menggunakan Ahra untuk mengajukan pertanyaan yang seharusnya aku sendiri yang menyatakannya, memohon, meminta kesediaanmu,
Bahkan bisa dibilang terlalu memaksakan perasaanmu agar luluh karna Ahra yang memintanya darimu,
Tapi, sungguh aku hanya ingin kau mengetahui seberapa seriusnya aku saat ini. Aku.. Ingin kau berada disisiku selamanya, itu kesungguhanku. Aku mencintaimu. Han Jein." ungkap Jeon menahan sedikit lebih lama untuk waktu yang tepat, menunggu Jein dapat mencerna semua perkataannya dengan baik. Kemudian kembali memulainya.
Dengan satu tarikan nafas Jeon mengucapkannya. "Jein-ah.. Marry me, please." pinta Jeon saat berlutut tepat di hadapan Jein.
GILA.
Jeon, benar-benar serius melamarnya sekarang.
***