Jeon Appa

Jeon Appa
Affection



Sebelumnya saat berangkat sekolah di pagi hari, ahra terlihat begitu sehat, begitu ceria seperti biasanya. Tak lupa Jeon yang tak pernah sekalipun absen untuk selalu mengantar ahra berangkat ke sekolah. meski terkadang ketika menjemput ahra, Jeon lebih banyak meminta Jimin ataupun Seokjin yang melakukannya ketika ia harus lembur dan tidak bisa meninggalkan pekerjaanya.


Namun kali ini Jeon meninggalkan segala pekerjaannya itu, hanya demi ahra-putrinya. Sejak mendapatkan kabar bahwa ahra pingsan di sekolah saat jam pelajaran sedang berlangsung, secepat itu pula tanpa berfikir panjang Jeon langsung berlari seolah ia harus segera melihat kondisi ahra detik itu juga, mengebut saat menyetir, begitu tergesah, rasa khawatir serta cemas tak lagi dapat terbendung. Bahkan Seokjin yang melihat bagaimana Jeon keluar dari ruangannya seperti orang kesetanan yang berlari begitu saja tanpa mengidahkan panggilan Seokjin yang turut ikut mengikuti kemana perginya Jeon.


Sesampai di Sekolah ahra Jeon langsung menuju ke ruang kesehatan tempat dimana ahra berada, masih juga dengan Seokjin yang turut membututinya. Untungnya sekolah ini memiliki fasilitas kesehatan yang begitu cukup bagus, dengan adanya dokter jaga, dan juga suster meski hanya satu atau dua orang yang berjaga namun terasa cukup guna menangani kasus darurat semacam ahra ini.


"Jeon!. Tenanglah.." seru Seokjin menyamai langkah besar Jeon. Mereka sama-sama kehilangan kontrol nafas yang normal, nafas mereka begitu memburu sekali.


Jeon tak menjawab ucapan Seokjin sama sekali, di isi kepalanya hanya ada ahra saja. Sampai saat ia memasuki kamar dimana ahra terbaring Jeon segera berlari kembali menghampiri, serta memeluk putrinya itu dengan matanya masih terpejam.


"Maaf, apa sebelumnya ahra memiliki alergi terhadap sesuatu makanan?" tanya seseorang seperti suster penjaga.


Jeon melirik ke arah suster tersebut, sedikit berfikir apa yang sebenarnya dialami putrinya itu, ahra bahkan tak pernah mempunyai alergi khusus pada suatu makanan. "Ada apa dengannya Sus?" tanya Jeon masih terasa begitu panik.


Suster tersebut menghela nafas, "begini, Tuan. Sepertinya tubuh ahra sedang bereaksi terhadap suatu makanan. Ahra mengalami alergi." jelasnya.


Jeon mulai mengingat-ingat apa yang ahra makan pagi tadi sebelum ia berangkat. Namun, tak merasa ada sesuatu yang salah dengan makanan yang telah ia buat untuk ahra, karna jelas ahra sudah terbiasa menyatap sandwich. "Tidak. ahra terbiasa dengan makanan yang selalu kubuatkan, ia juga tidak pernah mengalami ini sebelumnya." jawab Jeon dengan pasti, benar ia sangat memperhatikan segala apapun yang ahra makan tentunya.


"Sepertinya ahra alergi pada bekal buatanku."


Semua mata kini tertuju pada orang itu, guru ahra, yang baru saja datang tepat di depan pintu ruang kesehatan. Raut wajahnya jelas menunjukkan rasa bersalahnya. "Han-ssi.." tutur sang Suster terkejut dengan kedatangan guru Han.


Begitupun Seokjin dan juga Jeon yang sama terkejut.


"apa isi yang ada di dalam bekal anda?. Han-ssi.." tanya sang suster.


Guru Han mengingat-ingat apa saja resep yang ia masukan kedalam nasi gulung yang ia buat--yaitu bibimbap. "Bibimbap. Aku memasukan sayuran, dan juga ada beberapa daging ikan maupun udang di dalamnya, entah ahra telah alergi karna makan yang mana tetapi ahra sudah memakan semuanya." jelas guru Han dengan sebenar-benarnya.


Suster itu tersenyum. Merasa sudah tau apa yang selanjutnya harus ia lakukan. "Baiklah, kami akan mengambil darah ahra untuk sampel pemeriksaan. Tidak perlu cemaskan hal ini, kita hanya perlu mengetahui ahra alergi terhadap apa supaya kejadian ini tak lagi terulang." jelas sang suster yang langsung di setujui begitu saja oleh Jeon. Serta-merta langsung menyiapkan peralatan untuk mengambil sampel darah ahra suster itu lakukan.


Guru Han kini menghampiri ranjang ahra, masih terdapat Jeon dan juga Seokjin yang masih setia berada disana. "Tuan Jeon. Saya meminta maaf untuk kesalahan ini. Karna saya ahra menjadi hampir celaka, maafkan saya." sesal sang guru dengan membukuk 90° pada Jeon, serius guru Han benar-benar sangat menyesal.


Namun tak ada jawaban apapun, Jeon bahkan tak memandang ataupun melirik pada guru Han, yang Jeon lakukan hanya menatap kosong pada Ahra.


"Nona Han.." panggil Seokjin mengingat nama guru itu sebelumnya di sebutkan berkali-kali oleh suster.


"Nde?"


"Pergilah, tinggalkan ahra dan biarkan Jeon sebagai ayah yang merawatnya." sungguh saat Seokjin melihat Jeon, ia tau sahabatnya itu telah sangat kecewa pada seseorang, dan sangat jelas itu terlihat pada Guru Han, Jeon bahkan tak ingin melihat ke arah guru itu sama sekali. Daripada membuat semuanya bertambah kacau, Seokjin memilih menyuruh guru Han menepi sementara, sampai rasa kecewa Jeon pulih dengan sendirinya.


Guru Han tercenung, mencoba menelaah apa yang dikatakan oleh pria yang berada tepat di belakang Jeon, menelaah dan mencoba mengerti. "Ah.. Baiklah, saya permisi kalau begitu." pamit guru Han setelah mengerti apa yang dikatakan oleh Seokjin.


Belum sampai lima langkah. Jeon menghentikan pergerakan guru Han. "Tunggu."


Guru Han sedikit terkejut begitupun Seokjin yang merasa aneh pada Jeon hari ini. "Ada apa Tuan?" tanya guru itu setelah menunggu Jeon melanjutkan ucapannya.


Dan Jeon membutuhkan itu, sangat membutuhkan seseorang untuk menjaga ahra ketika Jeon sendiri berada jauh dari ahra.


***


Kondisi ahra mulai membaik, setelah selama hampir 3 hari di izinkan untuk beristirahat di rumah, untung saja kondisinya tidak terlalu parah hingga sekarang kondisinya telah benar-benar sudah pulih kembali seperti sedia kala.


Melakukan aktivitas seperti biasanya, mulai dari sarapan, tertawa dengan Jeon dan menceritakan banyak hal mengenai apa saja yang ahra rindukan ketika di sekolah, membuat Jeon merasa ahra itu terlalu menyukai sang guru.


"Appa.. Ahra masuk dulu ya." pamit ahra tepat di depan gerbang sekolah, Jeon baru saja mengantar ahra kembali sekolah.


"Belajar yang rajin, nde.." seru Jeon mengusak rambut putrinya itu dengan begitu gemas seperti biasa.


Namun tak jauh dari jarak pandang ahra, ia melihat guru Han sedang berjalan, sepertinya guru Han baru saja tiba juga.


"Saem!" panggil ahra dengan begitu bersemangat melambaikan tangannya pada guru Han agar tingginya yang tak seberapa terlihat. Membuat Jeon mau tak mau juga mengikuti arah pandang ahra.


Dan yang Jeon lihat adalah, guru Han baru saja terlihat telah mengganti gaya rambutnya, sebelumnya guru Han memiliki model gaya rambut yang panjang dan di kuncir secara rapih, sekarang yang Jeon lihat adalah bagaimana guru itu mengubah gaya rambutnya menjadi sependek bahu, membuat wajahnya menjadi berbeda begitu terlihat cerah dari sebelumnya, sangat cantik.


Guru Han yang melihat ahra pun membalas lambaian serta merta senyuman. Begitu riang hingga berlari kecil menghampiri ahra. "Ahra-ya.. Kau sudah sembuh?!" sapa sang Guru ketika ia sudah berada tepat di depan ahra, melihat Ahra dengan takjub tak lupa dengan senyuman yang masih terukir.


Ahra mengangguk-anggukan kepalanya menjawab pertanyaan sang guru, melakukan hal yang sama dengan tersenyum begitu gembira. "Syukurlah, Saem sangat senang ahra bisa kembali bersekolah lagi." ujar sang guru hingga kemudian mendengar suara deheman yang membuatnya sadar ada keberadaan orang lain.


Guru Han hampir meruntuki dirinya sendiri, ia melupakan pria yang sedang berdiri di samping ahra. "Ah.. Tuan Jeon, apa kabar.." sapa Guru Han terdengar sekali nada suaranya sangat kikuk. Merasa bingung harus seperti apa menyapa orang tua muridnya ini.


Jeon yang merasa di sapa hanya menjawab dengan senyuman, sangat sekilas, seperti tak berniar bercakap-cakap panjang dengan sang guru, membuat mental Guru Han sendiri menciut.


"Ahh.. Kalau begitu kami pamit untuk masuk ke sekolah, Tuan Jeon." ujar Guru Han menggandeng tangan ahra begitu saja, berniat menghindari suasana yang membuatnya tak nyaman.


Jeon pun hanya mengangguk. Sungguh, Jeon tak berniat sama sekali mengeluarkan suaranya. Entah ada apa dengan dirinya.


Hingga saat setelah ahra maupun guru Han menghilang dari pandangan Jeon, sesaat Jeon baru akan memasuki mobilnya. Jeon kembali mendengar ibu-ibu bergosip, sama seperti Jeon ibu-ibu itu baru saja mengantarkan putra-putri mereka untuk masuk ke sekolah.


"Wah.. Mereka keluarga yang sangat harmonis ya."


"Bahagia sekali, jika aku juga memiliki suami yang tampan dan anak yang lucu seperti guru itu."


"Hey!. Berhenti berkhayal!"


"Anak mereka juga sangat mirip dengan ayahnya, yaampun.. Aku iri sekali."


Seperti itulah kira-kira yang Jeon dengar ketika ia baru saja melewati kerumunan para ibu-ibu, membuat Jeon kembali membuang nafasnya karna merasa pengap. Andai saja setiap orang dibekali kemampuan menerawang mungkin saat mereka melihat sesuatu hal dapat melihat pula fakta apa yang terjadi sebenarnya, mungkin hal itu akan lebih baik dibanding harus berasumsi seenaknya.


***