
Sekolah Ahra telah di penuhi berbagai dekorasi bunga yang begitu cantik, di mulai dari pintu masuk kedatangan hingga aula tempat acara, dimana nanti akan ada sebuah sesi penyerahan bunga untuk setiap ibu dari para murid. Acara yang paling ditunggu-tunggu dan telah menjadi puncak acara setiap tahun.
South Korea, School.
Ahra terlihat berjalan mondar-mandir, kesana-kemari di depan aula, terlihat sangat gelisah menunggu seseorang, hingga kemudian ia lelah dan memilih berjongkok di tempat tak jauh dari sisi pintu acara hingga seorang guru yang sejak tadi memperhatikannya datang menghampiri.
Guru itu ikut berjongkok di depan ahra, menyamai posisinya.
"Kau disini?. Menunggu ibumu ya?" tanya seseorang itu begitu lembut, guru wanita yang cukup cantik dengan rambut yang di kucir kuda dan tertata rapi, kemeja putih membalut tubuhnya yang ramping serta roknya yang berwarna peach begitu terlihat sangat cocok dengan kulit putihnya. Tipekal guru muda yang sungguh menawan.
Ahra menggeleng lemah, membuat sang guru mengerenyitkan keningnya. "Ibumu tidak datang?" tanya guru itu lagi cukup terkejut.
Bukan. Bukan ibunya yang akan datang, tentu karna bahkan ahra tidak mengetahui siapa ibunya, bagaimana mungkin ahra menantikan kedatangannya, dan yang ahra tunggu adalah sang ayah, bukan ibunya yang entah siapa dia. "Bukan, Saem." ucap Ahra yang bingung harus menjawab apa.
"Bukan ibumu yang datang?. Ibumu sibuk ya?" tanya sang guru mencoba menerka namun hal itu malah membuat Ahra semakin berkecil hati, andai jika kenyataanya seperti itu mungkin setidaknya akan lebih baik, sebetulnya sudah sejak tadi ahra merasa sedih karna melihat beberapa temannya yang bergandengan bersama ibunya, berharap ia bisa seperti teman-temannya itu.
Beberapa saat kemudian sudut pandang ahra menangkap sosok yang sangat ia tunggu-tunggu sejak tadi, tatapannya yang semulai sendu kini berubah, membuatnya kembali bersemangat terlihat dari sorot matanya yang mulai berbinar.
"Appa!" panggil ahra.
iya Jeon telah datang setelah meminta izin untuk bekerja setengah hari hanya untuk menghadiri acara yang cukup penting bagi putrinya.
Ahra berlari ke arah Jeon dan Jeon menangkap serta menggendong putri kesayangannya itu dengan begitu bahagia. "Menunggu lamanya?" tanya Jeon, kemudian ahra menggeleng.
"Jadi yang datang adalah ayahmu?. Ahra sudah menunggu anda sejak tadi." jawab seseorang yang menghampiri kedua anak dan ayah ini mewakili ahra, siapa lagi kalau bukan guru yang tadi telah memperhatikan ahra.
Jeon lalu melirik pada ahra. "Maafkan appa membuatmu menunggu." sesalnya, sungguh Jeon telah terjebak macet karna banyak acara yang diadakan saat hari ibu seperti saat ini membuat beberapa jalan jadi di penuhi banyak orang.
"Tidak appa.. Ahra senang appa sudah datang." ucap ahra membuat Jeon merasa gemas.
Guru tersebut pun ikut tersenyum melihat tingkah manis kedua ayah dan anak ini. "Apakah ibu ahra sibuk? Sampai anda yang harus menghadiri acara ini. Tuan Jeon?" tanya guru ahra memanggil dengan sopan sesuai dengan nama marga ahra yang tertera di baju seragam anak itu.
Jeon terdiam sebentar memikirkan jawaban tepat apa yang akan ia katakan sekarang, sekilas memandang ahra dan menerka seperti apa perasaan putrinya itu saat mendengar pertanyaan ini, mungkin saja ahra terluka, atau bahkan merasa sedih sekarang. Sampai akhirnya Jeon berdeham. "Maaf. Ahra Saem, ahra tidak memiliki orang tua lain selain saya" jelas Jeon teramat singkat, namun sudah dapat menjelaskan seluruhnya membuat guru ahra sadar seketika, menyadari bahwa maksud dari ucapan Jeon adalah ahra tidak memiliki seorang ibu.
Guru ahra membelalak membulat sempurna, merasa bersalah sekaligus cemas mengingat ucapanya beberapa saat lalu bisa saja telah melukai perasaan ahra. "Ya Tuhan, Tuan Jeon.. Maafkan saya yang tidak mengetahuinya. Mungkin juga ahra merasa sedih atas ucapanku beberapa saat lalu padanya. ahra.. Maafkan atas ketidaktahuan Saem." guru itu langsung membukuk melakukan permintaan maaf, menunjukan rasa bersalahnya.
Ahra beserta Jeon saling berpandangan menatap guru ahra yang begitu perhatian ini, bahkan merasa bersalah pada hal kecil yang ia sendiri tidak ketahui sebelumnya. Cukup baik----itu penilaian pertama dari Jeon.
"Baiklah, mari biar saya antar untuk mencari tempat duduk yang nyaman, sebagai permintaan maafku." sebagai gantinya guru cantik itu menawarkan dengan baik dan ramah. Jeon hanya mengangguk, kemudian mengikuti langkah guru itu.
Acara berjalan begitu baik, sekolah yang Jeon pilihkan untuk ahra adalah tempat dimana ia bersekolah dulu, ia ingin berbagi kenangan lama bersama putri kecilnya ini, sama seperti tahun-tahun dimana Jeon bersekolah dulu, bahkan sekolah ini menyajikan acara yang sama persis seperti dulu, hanya saja dengan perbedaan banyak orang yang telah terganti, hanya ada satu-dua guru saja yang masih tersisah bahkan sudah terlihat sangat tua dimata Jeon, mereka seharusnya sudah pensiun dan duduk manis di rumah, Jeon berani bertaruh mereka tidak dapat mengenali Jeon sama sekali, atau bahkan tidak mengingat Jeon.
Sampai dimana penyerahan bunga untuk para ibu, dan Jeon harus ikut naik ke atas panggung, menggantikan sosok ibu untuk ahra. Hal itu cukup mengherankan bagi beberapa orang namun Jeon tak memperdulikannya. Jeon suka menjadi hal yang berbeda dari yang lainnya, seperti dulu saat acara sekolah ini diadakan setiap tahun ayah Jeon bahkan tidak pernah sekalipun datang hanya untuk menghadiri apalagi menggantikan posisi ibunya, ayahnya tak pernah seperduli itu padanya, yang Jeon ingat dirinya hanya bisa duduk hingga acaranya ini berakhir, dan bunga yang ia pegang hanya bisa berakhir di tempat sampah saja. Menyedihkan sekali.
Tapi hari ini sungguh berbeda dengan hari itu, hari ini ia memiliki ahra yang akan memberikannya bunga, yang sangat menyayanginya, Jeon bahkan tak pernah terpikirkan hal ini sebelumnya. Bagaimana dirinya akan bisa merayakan hari ibu tanpa seorang ibu. Tapi Jeon bisa, ia merayakannya bersama ahra sekarang.
Jeon melihat barisan para murid mulai mensejajarkan diri mereka dengan para orang tua, dimana dalam barisan itu ahra berada, kemudian mereka berdiri menghadap para orang tua dengan tangan yang siap berisikan bunga mawar putih.
"Appa, saranghae.." seru ahra mengikuti murid-murid lain yang juga mengatakan hal yang sama pada ibu mereka, kemudian menyerahkan bunga yang mereka genggam. Jeon menerimanya dengan baik, kemudian mengelus kepala putrinya itu dengan begitu lembut.
"Nado.." balas Jeon hampir menangis, entah apa yang ia rasakan.
Hingga kemudian murid-murid kembali di persilakan turun untuk kembali duduk ke tempat duduk mereka masing-masing, seperti semula, kemudian di susul oleh para orang tua mereka juga, yaitu sederetan para ibu, hanya Jeon sendirilah yang hadir sebagai ayah.
Samar-samar saat berjalan kembali ke tempat duduknya Jeon mendengar para ibu-ibu yang membicarakannya tentangnya. Bergosip ria.
"Beruntung sekali ya ibu ahra, istrinya sungguh beruntung!"
"Tuhan menciptakannya dengan sangat baik."
"aku yakin, ibu ahra itu pasti juga sangat luar biasa cantik."
"Huh.. Kenapa dia yang hadir dalam acara hari ibu, apa istrinya itu sangat sibuk!"
"Pasti mereka adalah keluarga yang harmonis, istrinya beruntung memiliki suami yang pengertian seperti tuan Jeon, aku jadi iri!"
Sementara Jeon hanya berjalan begitu santai dan matanya tak lepas menatap ahra yang tersenyum kearahnya. Tidak memperdulikan para ibu-ibu yang sedang bergosip dan hanya melihat dari sisi sudut pandangnya saja tanpa tau yang sebenarnya terjadi. Yang bahkan Jeon belum pernah menikah dan memiliki seorang istri, keberuntungan macam apa yang mereka katakan itu sia-sia saja. Jeon tidak pernah berniat untuk menikah.
"Kajja kita pulang sekarang." ajak Jeon pada Ahra.
Ahra mengangguk dan kamudian mengambil tas ransel miliknya yang ia letakan di sebelah tempat duduknya.
Jeon dan ahra berjalan kembali melewati dereta ibu-ibu tadi yang masih menatapnya dengan decak kagum karna ketampanan Jeon yang di atas rata-rata tetapi sudah memiliki seorang anak, dasi hitam, kemeja biru muda, jas serta celana yang berwarna hitam begitu sangat pas sesuai pada porsi tubuh Jeon, sangat disayangkan seharusnya ia bisa menjadi seorang aktor dan mendapatkan jumlah pundi-pundi yang tentunya tidak sedikit dan yang akan selalu tampil setiap hari berwara-wiri di siaran televisi drama kesayangan para ibu-ibu itu. Benar-benar sangat disayangkan.
***
Sesampainya didalam rumah, Jeon melihat ahra sibuk mengeluarkan sebuah kotak coklat yang dihiasi pita putih dari tas ransel yang sudah sepenuhnya di acak-acak bocah itu dengan tidak sabaran. Membuat Jeon mengerenyit heran, karna sebelumnya ahra tidak membawa itu.
"Apa itu?" tanya Jeon
Ahra pun membukanya. "Coklat.. Dari Han Saem." jelas ahra.
"Gurumu? Yang mana?" tanya Jeon kembali, mengingat-ingat beberapa guru ahra yang sebelumnya ia lihat tadi.
"Yang tadi di depan aula appa." jawab ahra lagi, Jeon pun langsung teringat pada seorang guru wanita yang cukup cantik menurutnya.
Mengingat bagaimana sikap baik dan perhatiannya pada ahra membuat Jeon sedikit penasaran. "Apa dia sangat baik padamu?"
Ahra mengangguk. "Han Saem yang paling baik, dia sungguh baik pada semua murid."
Ah.. Jeon mengerti sekarang.
"Benarkah?, bukankah kau pernah bilang appa yang terbaik?" tanya Jeon seolah dirinya tak mau terkalahkan termasuk dengan guru ahra itu.
Menimang-nimang nampak berfikir, mana yang lebih baik, ahra tentu sulit memilih, membuat Jeon tersenyum geli ketika melihat putrinya itu dalam kebingungan hingga akhirnya. "Iya, setelah appa. Han Saem yang terbaik."
"Pintar sekali putri appa ini..." ucap Jeon bangga sekaligus mengusak-usak kepala ahra dengan gemas.
Tidak bisa memilih yah antara ayah atau gurumu.
"Appa bagaimana jika Saem yang menjadi ibu ahra?" ucap ahra tiba-tiba membuat pergerakan tangan Jeon di kepala ahra terhenti.
"Kau sangat menyukai gurumu ya?" tanya Jeon. Senyumnya tak lepas ataupun pudar sedikitpun pada wajah Jeon ia selalu saja merasa antusias ketika berbicara dengan putrinya itu.
Ahra mengangguk antusias. "Iya. Suka sekali!" jawabnya lantang membuat Jeon semakin terdiam dan hanyut dalam fikirannya sendiri. Putrinya ini begitu terlalu polos untuk mengucapkan apa yang ia inginkan dengan begitu mudah, ahra ingin memiliki seorang ibu dan sepertinya ahra berharap sosok ibunya dapat sebaik gurunya itu, atau kalau bisa gurunya saja yang menjadi ibunya, ya kira-kira seperti itu.
***