Jeon Appa

Jeon Appa
Promise



I purple you


💜💜💜


But, aku mau tau dong. Dari semua karakter di Jeon Appa. Karakter siapa yang paling kalian suka?


Kalu aku pribadi, jujur aku suka karakter Taehyung.


Lho kak Taehyung brengsek bgt loh disini, kakak masa suka sama yang brengsek?


Etsss... Ceritanya belum selesainya guys, kalo kalian baca sinopsis yg di depan awal bgt, yang letaknya ada di bawah cover cerita ini loh, kalian akan ngerti di titik mana ada kalimat yang ngegambarin Taehyung. Coba di check ya. Dan kasih tau aku kalimat mana menurut kalian yg ngeggambarin Taehyung di cerita ini tebak ya. Kalo berhasil aku folback! dan namanya akan aku cantumin di bab selanjutnya!.


Kuy merapat. Dan..


Happy Reading ya!


***


Jeon kembali meminta Jein untuk menginap di rumahnya, bahkan Jeon bilang Jein bisa menganggap apartemennya sebagai rumahnya sendiri mulai sekarang, sementara Jein merasa begitu tidak enak ketika akan menolak. Bukan pada Jeon, tentu karna Jein selalu bisa mengutarakan apapun yang ia rasakan pada Jeon, tapi Jein merasa tidak enak pada Ahra, takut anak kecil itu merasa kecewa, anak itu begitu berharap banyak pada Jein, mengingat bagaimana permintaannya saat makan malam--meminta Jein menjadi ibunya, membuat dunia yang berputar di kepala Jein seakan terhenti, membayangkan bagaimana jika saja Jein menolak dan membuat Ahra kecewa, mungkin saja ia juga akan kehilangan Jeon sebagai sahabatnya.


Benar, yang kini Jein rasakan adalah kegelisahan. Begitu amat gelisah sekali, memikirkan apakah keputusannya sudah tepat atau tidak, sampai-sampai tersadar setelah mendengar suara pintu kamar terbuka, menampakan Jeon baru saja keluar dari kamar Ahra, Jeon bilang Jein bisa menggunakan kamarnya dan Jeon bisa tidur di kamar Ahra ataupun ruang tamu.


Namun, saat baru saja berniat mengambil minum Jeon cukup terkejut mendapati Jein malah terduduk di sofa ruang tamu, dan bahkan belum tertidur.


"Kau belum tidur?" tanya Jeon menghampiri Jein, sedikit merasa cemas melihat bagaimana Jein tengah nampak memikirkan sesuatu.


Jein menggeleng saat Jeon mengambil posisi duduk tepat di sebelahnya, tangannya mengarah pada pucuk kepala Jein lalu mengusap dengan lembut sekali. "Ada apa? Eum.." suara Jeon terdengar begitu lembut sekali saat bertanya, membuat Jein sendiri tak kuasa menatap Jeon, tatapan mata Jeon begitu teduh sekali terasa meski penerangan ruangan tidak terlalu terang sekalipun.


Mengambil tangan Jeon yang ada di kepalanya, lalu menggenggamnya, Jein melakukan itu dengan masih menatap mata Jeon. Dilihatnya lamat-lamat Jeon terasa begitu tulus sekali, Jein bahkan bisa menyadari hal itu, Jeon itu pria yang sempurna untuk dinikahi dan dijadikan seorang suami. "Jeon.. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." ujar Jein terasa begitu ragu untuk mengucapkan sesuatu, seperti ada yang perlu ia tahan agar tak terjadi kesalah pahaman.


Jeon mengukir senyumnya, terdengar lucu sekali, merasa Jein seperti bersikap tidak biasanya, berfikir mungkin ini adalah efek dari lamaran nya tadi, dan membuat Jein jadi bersikap sok jaim. Jeon memilih menghela nafasnya sebelum kembali berujar. "Kau tidak perlu meminta izin begitu, katakan saja seperti biasa." jawab Jeon seolah dirinya menjadi bijak seketika, seolah selalu siap mendengarkan keluh kesah wanita dihadapannya yang kini telah menjadi miliknya.


Jein merasa Jeon sedang menyadari kegugupannya, ya Jein begitu gugup entah kenapa bahkan tangannya mengeluarkan keringat dingin. Meski udaranya sendiri cukup hangat terkesan normal sekali padahal. Tapi tidak, pemikiran Jein sulit sekali di jelaskan terasa panas namun juga terasa membeku terlebih ketika menatap mata pria dihadapannya, membuat relung hatinya merasakan perasaan yang tak biasa. "Jeon, bolehkah aku berkata jujur?" dengan begitu pelan Jein sedang mencoba mengumpulkan keberaniannya.


Jeon tertegun saat kata itu keluar dari bibir Jein, entah bagaimana firasat buruk tiba-tiba berdatangan di benaknya, ketakutan serta mencoba menerka apa yang sedang Jein ingin sampaikan. Jeon mengangguk, "Ya, katakan." seru Jeon pelan, senyumnya tak lagi bertengger, merasa begitu tegang sekali.


Samar-samar tatap mata Jein berubah menjadi begitu sendu, seolah menyembunyikan sesuatu. "Jeon, A--aku merasa pilihanku belum tepat saat ini." ujar Jein, nada suaranya terdengar cukup bergetar, sontak sukses membuat kedua mata Jeon melebar, tertegun jelas sekali, bahkan Jeon merasa jantungnya berhenti berdetak beberapa saat, seolah sudah merasa paham maksud dari wanita ini.


Memejamkan mata merasakan aliran darah yang terasa tak stabil, Jeon lakukan sebelum akhirnya kembali menatap Jein. "Apa kau terpaksa menerimaku karna Ahra?" tebak Jeon begitu terdengar lirih, kelewat santai to the point, seolah sudah tau apa yang ada didalam pikiran wanita itu, meski ya rasa nyeri terasa di hatinya sudah tak tertahankan, seolah baru saja kebahagiannya telah melambung tinggi namun sekejap kemudian lenyap terjatuh dengan begitu amat cepat. Merasa telah begitu dipermainkan, namun cepat-cepat ia sadar bahwa ini adalah kesalahannya, jelas membawa serta-merta Ahra bersamanya adalah idenya. "Ini salahku, maaf ya." sambung Jeon, dengan kemudian tersenyum miris.


Seharusnya Jeon bisa menyadari hal ini sejak awal bagaimana Jein terus menerus menghindarinya bahkan tak ingin sekali menjalin hubungan yang serius dengan Jeon, Jein hanya selalu menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih. "Jika kau ingin membatalkannya, tidak apa." Ujar Jeon begitu pasrah terdengar, ia tak ingin memaksa Jein begitu jauh, terlebih menerima dirinya hanya karna Ahra semata.


Detik berikutnya, Jein menggelengkan kepalanya cepat-cepat sorot matanya terlihat kepanikan. "Tidak! Bukan begitu!" sergah Jein cepat-cepat setelah merasa Jeon telah salah paham. "Aku tidak bermaksud membatalkannya, dan aku tidak merasa terpaksa."


Jeon mengerenyitkan dahinya, bingung melanda dirinya sekarang. Pikiran buruknya seakan menggantung, antara masih berharap ada sebuah titik cahaya, berharap Jein juga memiliki perasaan yang sama. "Lalu? Apa maksudmu?" tanya Jeon seolah sedang mengharapkan sesuatu untuk Jein katakan kembali.


Wanita itu kembali menghela nafasnya, jujur ada perasaan tertahan yang belum sepenuhnya ia ungkapan pada Jeon, ada sisi lain dalam dirinya yang membuatnya begitu gelisah dan merasa bersalah sekali. Melihat bagaimana Jeon sekarang kemudian ia memulainya, "Aku merasa senang saat kembali bertemu denganmu setelah sekian lama, sungguh aku senang sekali.. Jujur saja aku juga merasa begitu beruntung karna kau begitu terasa tulus sekali padaku, Terima kasih, Jeon." ungkap Jein begitu amat serius bahkan membuat kedua mata Jeon terlihat berbinar saat mendengarnya, ingin rasanya memeluk Jein seketika itu juga, kenapa wanita ini senang sekali mempermainkan perasaannya sih. "Tetapi, aku juga merasakan--perasaan bersalah padamu secara bersamaan, Jeon." sambung Jein semakin membuat Jeon penasaran.


Jeon mengambil satu tangan Jein kembali, hingga kedua tangan mereka sama-sama menyatu, seolah Jeon ingin menyalurkan perasaannya yang begitu amat serius pada wanita ini. "Dengarkan aku, Jein-ahh.. Katakan apapun yang mengganggu pikiranmu padaku, apapun itu katakan saja." sela Jeon berusaha agar Jein mau mengatakan hal apa yang kini tengah menganggu pikiran wanita itu.


Mata Jein berubah menjadi berkaca-kaca sekarang, seperti rasa pilu tengah menyambar dirinya. "Kau tau sebelumnya ada pria lain yang pernah mengisi hatiku begitu sangat lama bukan? Mengenai Taehyung." Jeon memejamkan matanya saat mendengar itu, rasa kesal menguasainya seketika namun ia masih berusaha-keras menahannya. "Taehyung, sampai sekarang perasaanku padanya belum sepenuhnya hilang, Jeon. Itulah alasan ku mengapa merasa bersalah padamu, aku merasa tak adil padamu. Bukankah aku tidak pantas mendapatkan dirimu?"


Ganti Jeon yang menggelengkan kepalanya, merasa kejujuran wanita itu bahkan sudah lebih dari cukup untuknya, itu artinya Jein sangat menghargai perasaan Jeon, memikirkan bagaimana perasaan Jeon sebagai pasangannya, menginginkan Jeon tau segalanya. "Jangan katakan hal seperti itu, kau lebih berarti dari apapun juga bagiku. Jadi jangan katakan atau merasa bahwa dirimu tidak pantas, mengerti? Aku tidak suka mendengarnya."


Merasa lega karna bahkan Jein sedang berusaha menerima Jeon, membuat Jeon merasa perlu mengatakan sesuatu yang selama ini ia pendam. "Jein-ahh.. Kau tau? Sepanjang hidupku aku tidak pernah memikirkan gadis lain selain teman masa kecilku yang pernah hilang, kau tau sepanjang hidupku aku hanya memikirkannya seorang, memikirkan bagaimana bisa ia akan baik-baik saja di sekolah barunya, apa ia akan sering kembali menangis saat ada yang mengganggunya lagi? Atau apakah akan ada yang membantunya menggantikanku? Dan apakah ia masih mengingatku? Seperti apa ia sekarang. Memikirkan bagaimana cengengnya temanku itu sepanjang waktu sudah cukup menghabiskan seluruh waktuku disisah hidupku.." Jeon bernarasi terdengar amat tulus sekali. Seolah memberikan alasan mengapa selama ini ia tidak pernah menikah dan hidup seorang diri, bahkan memilih mengangkat seorang putri.


Sontak rasa bersalah Jein menjadi semakin membesar, membayangkan bagaimana bisa Jeon begitu memikirkan dirinya sedalam itu, amat kehilangan dirinya sebesar itu. Membuatnya jadi menyalahkan dirinya sendiri.


"Entahlah, hanya saja gadis itu yang selalu memenuhi isi kepalaku, aku begitu merindukannya setiap waktu, setiap kali. Hanya kepadanya aku bisa tertawa begitu lepas, hanya bersama dirinya membuatku merasa nyaman seperti merasa ibuku masih ada bersamaku." sambung Jeon, senyumnya terukir jelas saat menceritakan hal itu di dalam pelukan meski Jein bahkan tak melihatnya sekalipun.


"Jein.. Berjanjilah satu hal padaku."


Lamat-lamat Jein menetralkan nafasnya, sejujurnya sejak tadi Jein telah menangis, bahkan Jeon menyadari isakan Jein, merasa gemas dan khawatir, gadis itu masih saja cengeng sekali padahal hanya mendengar ucapan Jeon saja. "Apa itu Jeon?" sela Jein di isak tangisnya.


"Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku ya? Aku mau kau berjanji." jawab Jeon kamudian merasakan pergerakan kepala Jein yang mengangguk kecil di bahunya.


"Iya Jeon, aku janji."


***


BONUS PICT BUAT KALEAN GUYS.


Sosok Han Jein... Guru cantiknya Ahra.


MODE pas ketemu Jeon, auranya lembut..



MODE pas ketemu Taehyung, auranya males ngeliat..



MODE pas kencan sama Jeon. Sayang banget lah.







MODE pas lagi cuddling sama Jeon..




MODE ganteng Jeon pas di depan Jein..