Jeon Appa

Jeon Appa
Baby Ahra



Suara dentuman music yang keras, orang-orang yang menari dengan bebas, serta lampu yang berkelap-kelip. Jeon menepikan dirinya kembali dalam dunia gelap yang sebelumnya coba ia tinggalkan, meninum, meneguk, mengenyam cairan keras yang memabukan adalah obat baginya selama ini, obat untuk melupakan segala rasa sakitnya. Lukanya yang begitu terlalu dalam menancap di dinding otaknya dan relung hatinya, termasuk dengan fakta bagaimana ibunya meninggal dunia.


Luka terbesar Jeon, yang membuatnya sulit sekali untuk bangkit bahkan sangat sulit untuk mempercayai orang lain.


"Hey!. Jeon kau datang?"


Samar-samar Jeon menoleh ke arah sumber suara, matanya sulit sekali untuk melihat dengan jelas sekarang karna ruangan yang begitu redup di tambah kondisi tubuhnya yang sudah terpengaruh oleh alkohol.


"Kau... Jimin?" tanya Jeon memastikan. Selain suara yang Jeon sangat kenali, wajah serta tinggi Jimin juga masih dapat Jeon ingat dengan baik.


Orang yang Jeon sebutkan sebagai Jimin tadi Jeon lihat dia mengangguk. "Ya. Aku Jimin, apa kau benar-benar mabuk sekarang?" tanya Jimin lagi.


Jeon bahkan sudah menghabiskan lebih dari satu botol, mungkin 3 atau 4 yang sudah ia habiskan, bisa di bayangkan seperti apa kondisi Jeon sekarang. "Lama tidak bertemu ya." ucap Jeon sambil tertawa renyah, ucapannya seperti orang yang sedang meracau sekarang, sangat kacau sekali.


"Kau saja yang sudah tidak pernah kemari. Apa kau lupa bahwa aku pemilik bar ini?" pernyataan retorik Jimin pada Jeon yang kemudian dibalas senyum asimetris oleh Jeon, benar Jeon lupa bahwa Jimin adalah pemilik bar ini, Jimin itu kaya raya sama seperti dirinya.


Jimin kini mengambil posisi duduk disamping Jeon. "Kau kalah?. Tidak berhasilnya?" tanya Jimin setelah ia juga mendapatkan satu gelas minuman yang disediakan pelayan untuknya.


Jeon hanya terdiam. Memandangi gelasnya saja. Tak menjawab apapun pertanyaan Jimin, tak berniat membahas apapun masalahnya kini.


"Aku masih sahabatmukan Jeon?. Ya aku tau kau ingin berubah, ingin meninggalkan dunia gelap ini. Aku tau. Tapi kau tidak boleh menyingkirkan aku juga." cerocos Jimin lalu meneguk minumannya.


Jimin dan Jeon sudah bersahabat sejak smp, sangat baik. Bahkan Jimin yang akan selalu ada dikala Jeon merasa kesulitan, termasuk dalam kondisi terpuruk, Jimin yang selalu siap hadir untuk Jeon. Hanya saja beberapa bulan belakangan Jeon bilang ia ingin berubah, karna merasa sang ayah mulai mempercayainya, membanggakannya sebagai putra kandungnya dan tidak lagi menyebut-nyebutkan nama anak haramnya. Jeon bahkan bersedia menjadi lebih baik hanya untuk menunjukan pada ayahnya.


Namun, semuanya berubah hanya dalam satu hari, usahanya selama berbulan-bulan lenyap begitu saja, sekejap berubah menjadi gelap gulita yang bahkan sebelumnya hampir saja menjadi terang-benderang.


"Apa itu penting?, Jim." tanya Jeon tiba-tiba. Sementara Jimin mulai kebingungan apa yang Jeon sedang maksudkan, masalah mana yang sedang ia bicarakan.


"Jeon. Dengar, apapun itu tentu semua hal di dunia ini penting." jawab Jimin sekenanya. Jujur Jimin hanya sedang mencoba membuat suasana hati Jeon membaik, yang Jimin tau Jeon adalah sosok yang begitu rapuh meski dia terlihat sangat keras.


"Jadi menurutmu begitu?"


Jimin mengerenyit, semakin heran. Apa yang Jeon maksudkan. "Memang menurutmu bagaimana?" tanya Jimin kembali, mungkin dengan cara memancing ia bisa tau apa yang sedang Jeon tanyakan sebenarnya.


"Meninggalkan semua ini? Dunia gelap ini?. aku pikir dengan aku melakukan itu ayahku akan menjadi luluh. Tapi, tidak." Jeon terdiam, mengingat bagaimana kejadian pagi tadi, dimana saat ia diberitahu mengenai posisinya yang sudah digantikan. Merasakan harga dirinya telah benar-benar dijatuhkan.


Jimin menggidikan bahunya. "Kau bertanya pada orang yang jelas tidak bisa meninggalkan dunia itu Jeon, tentu kau tidak akan mendapat jawaban yang sesuai dengan ekspetasimu. Sebaiknya tanyakan hal itu pada dirimu sendiri." Jawab Jimin dengan jujur, tersenyum dengan menaikan satu sudut bibirnya. Jelas Jimin tidak mungkin meninggalkan dunia gelapnya yang sudah ditakdirkan padanya sejak ia lahir, orang tuanya yang mendirikan serta menjalankan bar ini selama berpuluh-puluh tahun, kehidupan Jimin sepenuhnya dipenuhi melalui jalannya bar ini. Meski sepenuhnya mengetahui ini hal yang tidak baik, Jimin tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang telah menjadi takdirnya.


***


Jeon dengan terpaksa membuka kedua matanya tepat saat setelah mendengar suara yang begitu teramat keras mengusiknya tidurnya, menyadari kondisi dirinya yang kini tertidur di sofa ruang tengah ketika terbangun, Jeon meyakini pasti dirinya sudah tidak kuat untuk pergi kekamarnya karna semalam terlalu mabuk.


Kepalanya merasa begitu sangat pusing, ditambah mendengar suara keras bayi menangis, membuat isi kepala rasanya hampir pecah. Tunggu, yang Jeon tau para tetangganya tidak ada yang memiliki seorang bayi, lalu bagaimana ada suara bayi yang sekarang bisa terdengar begitu keras menangis.


Merasa semakin pusing dan kesal, Jeon memutuskan untuk mengecheck keluar, ingin mengetahui bayi siapa yang menangis diluar apartemennya dan sudah mengganggu tidurnya. Ingin sekali memaki dan segera mengusirnya jika bayi itu tak kunjung bisa diam.


Ceklek..


Jeon tertegun, terdiam seketika saat setelah membuka pintunya, melihat sekitaran tidak ada satupun orang yang berdiri disana dengan membawa ataupun menggendong bayi. Yang Jeon lihat hanya sebuah keranjang yang tergeletak begitu saja tak jauh dari pintunya dan tempatnya berdiri.


Suara bayi itu terus semakin kencang, sehingga menyadarkan Jeon.


Ada seseorang yang telah membuang bayi. Itu yang ada di pikiran Jeon sekarang.


Jeon mencoba mengecheck isi keranjang tersebut, saat melihat ada secarik kertas yang terlihat sengaja di tinggalkan sebagai pesan. Dengan terburu-buru Jeon segera membuka lipatan surat serta membaca isinya.


ΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠΠ



Siapapun yang membaca surat ini, dan menemukan bayiku. Tolong jaga bayi ini, kumohon, aku hanyalah seorang ibu yang sedang tidak berdaya untuk menjaga serta membesarkan bayiku sendiri.



Jadi kumohon.. Bisakah jaga dia sampai hari dimana aku bisa kembali dengan baik dan menjaganya lagi. Tolong aku.. Ku mohon.. Tolong jaga putriku, aku sangat mencintainya.. Kumohon.



°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Jeon menepuk keningnya namun tidak cukup keras, hanya saja ia tak habis fikir, ada bayi yang baru saja di buang oleh ibunya sendiri tepat di depan apartemennya.


Jeon melirik bayi itu sekilas, masih menangis sama seperti sebelumnya, bayi itu mengenakan selimut berwarna pink, serta topi yang bewarna senada, bahkan terdapat tas kecil yang berisikan perlengkapan susu sang bayi Jeon temukan di dalam keranjang. Ibunya benar-benar telah mempersiapkannya.


Apa ibunya benar-benar dalam kesulitan?. Benak Jeon bermonolog. Jeon merasa iba saat melihat wajah bayi kecil itu yang terlihat begitu bersih dan polos, menunjukkan ia belum memiliki dosa apapun. Melihat bayi tersebut mengingatkan Jeon pada mendiang ibunya yang harus mengandung Jeon selama 9 bulan sendirian sementara sang ayah sibuk berselingkuh. Apa nasib ibu bayi ini sama seperti mendiang ibu Jeon?. Entahlah Jeon tidak ingin berfikir terlalu jauh.


Jeon mencoba menggendong bayi itu, mencoba mendekapnya, entah apa yang sedang ia lakukan saat ini, ia hanya mengikuti nalurinya, bahkan rasa sakit kepala yang ia rasakan saat bangun tadi seperti sudah tak lagi terasa.


Ini lucu, tapi Jeon sendiripun tak mengerti. Bayi itu langsung terdiam setelah beberapa saat berada didalam dekapan Jeon. Membuat Jeon tersenyum sendiri.


"Kau merasa nyamanya?" tanya Jeon pada sang bayi, seolah bayi itu akan menjawab pertanyaannya.


Kemudian yang Jeon lihat bayi itu tersenyum padanya. "Kau menyukaiku?. Apa wajahku lucu?" tanya Jeon lagi pada bayi itu.


Hingga detik berikutnya Jeon berfikir kembali, apa sebaiknya ia rawat saja bayi itu seperti isi pesan yang telah ia baca tadi, ataukah ia serahkan saja pada polisi dan menelusuri siapa jati diri ibu bayi ini yang telah tega membuangnya, tetapi jika sampai tidak di temukan maka nasib bayi ini akan berakhir dipanti asuhan. Jeon tidak ingin hal itu terjadi, bayi ini akan semakin sulit untuk bertemu ibunya nanti.


Tunggu, bagaimana jika surat yang ibu bayi ini tulis benar adanya, jika sang ibu bayi ini memang dalam masa kesulitan dan tidak berdaya?, bukankah disurat itu tertulis bahwa ia akan kembali lagi suatu hari entah kapan. Bagaimana jika nasib ibu bayi ini sama dengan nasib mendiang ibu Jeon. Jeon tak rela jika bayi ini tak bisa melihat serta mengenali wajah sang ibu sama seperti dirinya, Jeon tak ingin apa yang terjadi padanya terjadi juga pada bayi ini.


Jeon ingin bayi ini dapat bertemu kembali dengan sang ibunya.


"Ahra.." ucap Jeon memandang bayi itu, kini ia telah memutuskan untuk merawat bayi itu, "Mulai sekarang, aku akan menjadi ayahmu."


Jeon membawa bayi itu, serta-merta keranjang bayinya untuk masuk kedalam apartemennya.


Bayi yang mengingatkan dirinya dengan mendiang ibunya, ia putuskan untuk memberikan nama yang sama dengan ibunya juga. Kini bayi itu bernama Jeon Ahra.


***