
Jeon terkena tipus, yang mengharuskannya menjalani rawat inap mungkin sekitar 3 sampai 7 hari kedepan. Mengingat Jeon tak memiliki kerabat yang dapat menjaganya ketika dirumah, Jeon pun tak menolak untuk menjalani perawatan, menolak pun Seokjin akan dengan senang hati untuk langsung kembali bersuara memarahinya-mengoceh karna Jeon keras kepala. Namun bagi Jeon sebenarnya melihat Ahra yang menangis saat melihatnya kesakitan jauh lebih buruk daripada ia melakukan perawatan beberapa hari saja. Seokjin pun berjanji akan menangani Ahra selama Jeon berada di rumah sakit.
Seokjin itu terkadang menjadi sangat menyebalkan bagi Jeon, bos yang sangat menjujung tinggi ketampanannya itu terkadang harus membuat Jeon terus memutar otak dikala Seokjin bersenang-senang dengan para wanita dan Jeon lah yang malah harus menangani para investor. Membuat Jeon seolah adalah kepala Perusahaannya, Direktur Utama, CEO-nya. Meski sebenarnya Jeon sendiri adalah seorang wakil Direktur, tapi Jeon lah yang mengerjakan semua tugas dari seorang Direktur, yang sebenarnya adalah tugas Seokjin.
Seokjin itu pintar, selain wajahnya yang sangat tampan rupawan, otak Seokjin itu juga sangat cerdas menurut Jeon meski kelakuan Seokjin diluar batas orang normal tapi Seokjin mempunyai pemikiran yang lebih dari sekedar brilliant, hanya saja Tuhan itu adil bukan, terkadang Seokjin menjadi orang yang sangat brengsek dan sekaligus tak punya hati, memberi harapan palsu pada gadis-gadis adalah keahlian lain dalam dirinya, termasuk mengencani satu per satu wanita.
Seokjin menyukai kencan dengan wanita yang berbeda disetiap akhir pekan, bisa di bilang player sebut saja brengsek. Tak pernah ada satupun wanita yang pernah Seokjin anggap secara khusus, semua sama. Jangan menganggap Seokjin tak bercermin saat ia mendeklarkan bahwa ia mendukung Jeon untuk melawan sang Ayah, Seokjin berbeda, jelas berbeda. Seokjin tak pernah secara khusus menyatakan cinta pada gadis-gadis itu, yang Seokjin kencani adalah gadis yang hanya menyukai uang dan ketampanannya saja, bukan siapa diri Seokjin sebenarnya. Hubungan yang Seokjin jalani dengan wanita-wanita itu tidak bisa di bilang pengkhianatan, karna mereka bersama menyetujui hanya untuk perihal bersenang-senang saja. Menjalani hidup layaknya manusia normal.
Sungguh Jeon tak main-main atas penilaianya mengenai Seokjin, hanya saja Seokjin tak pernah menggunakan otaknya itu dengan baik, memilih bersenang-senang dan malah memberikan segala tugasnya pada Jeon.
Pernah sekali saat perusahaannya hampir terkena tuduhan penggelapan dana pajak, Seokjin langsung saja mengambil alih semuanya, memasang badan layaknya panglima perang dan seolah menjadi pelindung bagi 25.000 orang karyawannya agar tidak kehilangan pekerjaan. Bekerja mengumpulkan segala bukti-bukti, hampir tidak tidur selama 3 hari berturut-turut, tidak bisa tidur secara nyenyak hampir sepekan Seokjin alami, bahkan ketika itu ia tak lagi memikirkan bagaimana ia akan bersenang-senang. Jeon sendiri tak dapat membantu banyak kala itu karna ia juga harus menjaga Ahra, Seokjin sendiri tak banyak membebani Jeon, hanya meminta bantuan ketika Seokjin sangat memerlukan.
Jeon merasa Seokjin sangat hebat. Panutan pemimpin yang hebat, Jeon ingin bisa menjadi seperti Seokjin. Menjaga kepercayaan para karyawan serta membangun bisnis dengan bersih. Hanya itu, Jeon tak berniat untuk mengikuti bagaimana cara hidup Seokjin untuk bersenang-senang.
"Kau dengar! Kau harus beristirahat, makanya ku bilang serahkan saja pekerjaanmu pada Pak Hyun!" cerocos Seokjin kala melihat Jeon terbaring mengenakan infus di tangan kirinya, tak lupa selang oksigen yang kini terpasang karna Jeon sempat mengeluh sedikit kesulitan bernafas karna suhu badannya yang cukup panas.
Pak Hyun sendiri adalah orang kepercayaan Seokjin di perusahaan setelah Jeon. Sekaligus Pengacara Seokjin. Pak Hyun itu berumur sekitar 45 tahun, tidak dapat dibilang muda tapi belum setua itu. Pak Hyun hebat dalam perihal memberi masukan, ia sangat pintar dalam berbisnis. Tak jarang Seokjin selalu mengandalkan Pak Hyun untuk memilih sebuah proyek baru yang menguntungkan, dan kemudian proyek itu selalu sukses besar.
Jeon hanya mendesis, menghela nafasnya. Tak ada niatan sama sekali untuk berdebat, "ini semua salahmu Hyeong."
"Aku?! Kenapa aku?"
Seokjin berdiri mondar-mandir, seperti dirinya adalah sebuah setrikaan panas. Sejujurnya Seokjin hanya ingin menghilangkan rasa cemasnya, setelah Dokter mengatakan Jeon terserang tipus lalu pergi meninggalkan ruangan Jeon. Kini ia menjadi begitu cemas meski Jeon bisa sembuh, tapi ia tak bisa melihat orang-orang yang berada di dekat nya itu sakit.
"Kau selalu saja meninggalkan perusahaan sesuka hatimu, akibatnya mereka semua selalu mencariku untuk segala penanganan. Dan hal itu membuatku terbebani." jawab Jeon tak benar-benar serius.
Seokjin sedikit tertampar mengingat ia memang sudah sering sekali meninggalkan perusahaan, hanya untuk hal-hal yang ia senangi. Tapi ia tak merasa menyesal. "Iya baiklah, aku akan kembali ke perusahaan." seru Seokjin terpaksa.
"Tapi Hyeong jangan lupakan janjimu, Ahra aku menitipkannya untuk beberapa hari."
"Iya. Iya. Hal itu juga, akan ku lakukan. Kau puas?!" oceh Seokjin kesal. Lebih dari itu Seokjin hanya kesal harus terjun dalam kerumitan pengurusan perusahaan lagi. "Ah.. Aku lupa, jam berapa Ahra pulang sekolah?" tanya Seokjin mengingat mungkin sekarang sudah sangat siang, bahkan menjelang sore karna proses pemeriksaan Jeon yang cukup panjang tadi.
"Hyeong! Ahra seharusnya sudah pulang sejak jam 1 siang!" pekik Jeon ketika ia terikut melihat kearah pandang Seokjin-Jam dinding dan waktu sudah menunjukan pukul 3 sore.
"AKU AKAN PERGI SEKARANG JUGA." dengan kepanikan Seokjin langsung saja mengambil kunci mobilnya, berlari sekencang mungkin.
***
Guru Han tersenyum begitu ramah. "Tidak masalah. Sudah seharusnya sebagai guru untuk menjaga muridnya."
"Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu nona Han." guru Han mengangguk.
Beberapa saat kemudian Ahra baru saja keluar dari kamarnya. "Paman Jin!" Seru Ahra berlari memeluk sang paman.
"Kau baik-baik saja?. Maafkan paman lupa menjemputmu ya." sangat manis Seokjin terlihat seperti seorang paman sungguhan.
"Bagaimana kondisi ayah Ahra?" tanya guru Han.
Seokjin menjadi terdiam sesaat mengingat kini Ahra mungkin saja menatapnya-mengintimidasi Seokjin. "Tidak cukup baik, sehingga dokter mengharuskannya di rawat beberapa hari di rumah sakit," ingin menjawab yang sebenarnya, namun Seokjin tau Ahra pasti akan sangat mencemaskan Jeon, dan kemudian bersedih. "Ahra menginap di rumah paman ya?" tanya Seokjin kemudian, melihat mimik wajah Ahra, memastikan dari ekspresi wajah Ahra apakah anak itu bersedih.
Mendapati berita tersebut, entah kenapa guru Han terikut cemas. Mengingat separah apa kondisi yang ia lihat pagi tadi, Jeon nampak sangat pucat sekali, bahkan untuk menyapa guru Han, Jeon tak sanggup dan hanya tersenyum. Ia sungguh berharap Jeon akan kembali pulih.
"Saya harap Tuan Jeon akan segera kembali pulih." Seokjin tersenyum mendengar itu, jelas itu hal yang sama yang Seokjin inginkan.
"Terima kasih." jawab Seokjin.
"Baiklah, saya permisi pulang kalau begitu." ujar guru Han bersiap-siap merapihkan beberapa isi tasnya--dokumen yang sengaja ia keluarkan untuk mengisi waktunya.
Seokjin hendak mengantar guru Han setidaknya hanya sampai depan pintu guna perihal kesopanan yang selalu Jeon eluh-eluhkan padanya sekarang sedang ia coba terapkan. Namun beberapa saat kemudian guru Han mendadak tiba-tiba saja berhenti, langkah kakinya tak lagi bergerak, berhenti tepat di sudut meja yang berisikan berbagai frames photo. Meja berbentuk persegi panjang dimana yang menjadi tempat sebuah pajangan frames kenangan yang dengan sengaja Jeon letakan di dekat pintu, agar saat dirinya melewati pintu ia dapat melihat frames tersebut.
Seokjin melihat kemana arah guru itu memandang, sebuah satu frame berisikan Jeon semasa sekolah dasar memakai seragam yang memiliki lambang sekolah yang sama dengan Ahra.
"Siapa anak laki-laki yang ada di photo itu?" tanya guru Han dengan nada suara yang cukup tenang, namun seperti memperlihatkan hal yang tak biasa dalam melihat photo tersebut.
Seokjin yang masih setia berdiri dibelakang sang guru, sekilas melirik menerka apa yang special dari photo Jeon semasa kecil itu. "Tentu saja itu Jeon memangnya siapa lagi." sahut Seokjin begitu santai.
***